
Abian tak lepas memandang Delia, ucapan papanya yang mengatakan untuk segera membawa Delia kerumah sakit membuatnya bertanya-tanya.
"Abian, didalam perut Delia ada sesuatu, jadi mama minta kamu untuk segera membawa Delia kerumah sakit, segera lakukan pemeriksaan." Begitulah kata papa.
"Ada apa Bi?" Delia merasa risih dipandang seserius oleh suaminya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang Delia?" Abian meremas kedua pundak Delia, menatap khawatir manik cokelat sendu istrinya.
Delia menggeleng bingung "Emang papa bilang apa?"
"Mama minta aku segera membawamu kerumah sakit, ayo jangan ditunda lagi. Kamu jangan pura-pura tidak apa-apa."
"Tapi memang aku tidak apa-apa Bi."
Abian tidak mengindahkan ucapan Delia, dia langsung membopong Delia.
"Capt, mau kemana?" Cecilia bertanya.
"Aku mau kerumah sakit, kabari yang lain aku nanti kembali." Abian segera berlalu, menuju parkiran, tentu saja aksi Abian menjadi perhatian orang-orang yang berada disana, pilot penyelamatnya menggendong seorang pramugari yang diduga terluka.
"Itukan pilot yang tadi?"
"Omaigat, dia ada hubungan sama pramugarinya?" ada saja yang mengomentari, tanpa tahu status mereka yang sebenarnya.
"Aku mau jadi mbanya, digendong mas pilot." Dan berbagai komentar lainnya.
"Pak, bukakan pintunya, antarkan kami kerumah sakit terbaik disini," ucap Abian mengabaikan pandangan orang kepada mereka, supir taksi itu mengangguk, membukakan pintu belakang.
"Delia, katakan ada apa sayang? Tadi kamu bilang ada sesuatu aneh yang tumbuh diperut kamu, dan mama juga minta kamu segera diperiksa. Katakan sama aku, jangan bikin aku khawatir?" Abian membawa Delia kedalam pelukanya, Delia masih kebingungan sebenarnya, tapi dia menurut saja dulu, entah mengapa mama sampai meminta Abian membawanya kerumah sakit? Daripada dia menerka-nerka lebih baik lihat pemeriksaan nanti saja hasilnya apa.
"Atau mama sudah curiga kalau aku ..." Delia menerka.
"Iya Bi, emang ada sesuatu yang aku rasain didalam perut aku, tapi aku seneng." Delia ingin bermain-main dulu, gemas melihat wajah khawatir Abian.
Abian mengerutkan kening "Kok seneng sih? Sayang, kalau bahaya gimana? Jangan yang aneh-aneh."
"Kamu takut aku kenapa-napa Bi?"
"Jangan tanya itu Delia," Abian mulai kesal, mana mungkin dia tidak takut, membawa pesawat saja dia ingat ada istrinya, mencoba tenang dan sebisa mungkin bisa mendarat dengan selamat.
Delia tersenyum, "kamu bentak aku Bi? Aku nggak suka."
"Pertanyaan kamu nggak lucu sayang, maaf aku terbawa suasana," Abian mengecup rambut Delia, mengusap lembut pundak istrinya.
"Pak, kita sudah sampai. Ini rumah sakit terbaik disini." Abian ingin membayar taksi tersebut. "Tidak usah Pak, Pak pilot tadi yang membawa pesawat itukan?" Saya lihat diberita, dan tadi saya sempat lihat Pak pilot keluar dari pesawat. Anggap ini sebagai hadiah dari saya Pak, terimakasih sudah membawa pesawat mendarat selamat, keluarga penumpang pasti senang." Sang supir menolak, menahan uang yang diberikan Abian.
Abian dan Delia mengharu mendengar kebaikan Pak supir itu. Delia menegakkan duduknya, saling pandang dengan Abian.
"Tidak apa-apa Pak, saya tidak mau Bapak menolak ini, anggap ini rejeki untuk keluarga Bapak." Abian malah menambahkan ongkos yang seharusnya "Doakan saja istri saya sehat selalu, dan kami bisa segera diberi momongan." Lanjut Abian.
"Pak pilot dan mba pramugari suami-istri?" tanya supir itu, dia memutar badanya kebelakang "MasyaAllah, serasi sekali, selamat ya Pak, Mba, kalian orang-orang baik, insyaallah disegerakan ya Pak keinginannya."
"Aamiin, semoga doa Bapak dikabulkan." Abian mengepalkan uang itu ditelapak tangan pak supir.
"Nggak usah, kamu pasti capek, aku jalan sendiri."
"Ahhh kelamaan." Tanpa aba-aba Abian segera menggendong Delia ala bridal style. Supir yang melihat itu tersenyum senang, kemudian dia membuka genggaman tangannya, matanya membola, ketika melihat lima lembar kertas uang merah.
"Ya Allah, banyak sekali, ya Allah semoga mereka segera diberi momongan, dan rumah tangganya dilimpahkan keberkahan." Supir itu menagis, pas sekali, dia memang sedang membutuhkan uang untuk biaya masuk sekolah anaknya.
"Bi, langsung keruang obigyn aja, aku maunya diperiksa disana, bukan ke UGD." Langkah Abian yang sedang menaiki undakan tangga menuju lobby rumah sakit seketika mengehentikan langkahnya. "Aku udah telat tiga minggu Bi," lanjut Delia seraya mengembangkan senyumnya, tak tahan untuk tak mengatakan yang sebenarnya.
"Apa? Really?"seketika jantung Abian seperti Maraton. Senyum sumringah langsung terbit dibibir Abian, dia yang tadi sempat ngos-ngosan saat menaiki anak tangga, kini rasanya tak terasa, Abian melupakan rasa lelahnya saat berhadapan dengan cuaca buruk dan keadaan yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga.
Delianya telat tiga bulan? Berarti ada bayi kecil didalam perut Delia? Bagaimana keadaanya didalam? Abian ingin segera mengetahui yang sebenarnya. Mereka telah melewati masa sulit selama penerbangan, dia mampu menyelamatkan banyak nyawa, akan sangat merasa bersalah jika tak bisa menyelamatkan anaknya.
"Sus, sus, tolong utamakan istri saya, periksa istri saya sekarang." Abian berteriak-riak sambil tetap menggendong istrinya mengejar perawat yang kebetulan lewat.
"Pilot?" gumam siperawat, dia merogoh ponsel di kantong seragamnya, melihat wajah pilot yang ada diportal berita "Benar," dia kemudian mendongakkan kepala "apa anda salah satu pilot yang ada dalam pesawat itu?"
"Iya, ayo sus, cepat periksa istri saya."
"Apa dia mengalami luka-luka?" tak mungkin kan kalau dia luka-luka pihak bandara tak menyediakan tim khusus?
"Istri saya hamil, saya harus tau kondisi anak saya." Ucap Abian yakin.
"Ahhh iya, mari ikut saya, kebetulan dokternya baru selesai operasi." Abian mengikuti langkah perawat itu menuju ruang khusus pemeriksaan kehamilan.
"Dok, ini pilot yang membawa pesawat yang kecelakaan tadi, istrinya sedang hamil." perawat itu tanpa mengetuk pintu langsung masuk, sang dokter wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Hah! Ayo baringkan disini," dokter tersebut bangkit dari duduknya, menunjuk tempat tidur untuk pemeriksaan, "kita langsung USG untuk mengetahui keadaan kandunganya." Dokter itu begitu bersemangat, suatu kehormatan baginya bisa bertemu pilot yang baru saja mampu menyelamatkan pesawat dari maut.
Abian segera meletakkan Delia diatas tempat tidur, tanganya tak lepas menggenggam tangan Delia, harap-harap cemas menunggu pemeriksaan, "semoga dia benar sudah ada didalam sayang," gumam Abian, dia sampai menitikkan airmata, padahal Delia belum juga mendapatkan pemeriksaan, dan belum tahu hasilnya. Abian mengecup kening Delia mesra.
Dokter dan perawat itu tersenyum melihat keposesifan Abian, "anak pertama ya Capt?" tebaknya tepat sasaran. Tangannya cekatan untuk melakukan pemeriksaan kandungan Delia.
"Iya Dok, kami sudah setahun lebih menikah." Delia menjawab.
"Kita lihat ya, semoga kandunganya baik-baik saja."
Semua kini tertuju pada layar disamping brankar tempat Delia berbaring, dokter memggeser alat bernama tranducer diatas perut Delia.
"Benar ada ya, lihat ini yang ... eh sebentar-sebentar," dokter memajukan duduknya, membenarkan letak kaca matanya. "Ini ada dua embrio, lihat ya Pak, Bu, kantung kehamilanya juga ada dua, detak jantungnya juga sudah terdeteksi ada dua, dan alhamdulillah semuanya sehat."
"Dok, ini tidak salahkan Dok?" Abian kembali memastikan mata dan telinganya masih berfungsi dengan baik, genggaman tangannya semakin erat.
"Iya Pak, ini kembar, usia kandunganya sudah memasuki delapan minggu, itu artinya istri anda sudah hamil dua bulan."
"Dua sayang, dua! Kita dikasih dua sekaligus. Aku tokcer Delia, aku lebih perkasa dari Rendy dan Daniel. Kamu percaya akukan?" Abian dan Delia terbawa suasana, keduanya berkaca-kaca mendengar kabar ini. Sampai Abian tak bisa mengontrol kata-katanya, Abian langsung mengecup kening Delia, "Terima kasih sayang, terima kasih sudah sabar menungguku, selalu setia disampingku, percaya jika aku juga bisa menjadi laki-laki yang memberimu keturunan."
Delia tak bisa berkata apa-apa lagi, semuanya tak bisa diungkapkan, melihat Abian sampai menitikkan airmata, sungguh membuat hatinya berdenyut haru.
Ayah, aku hamil yah, Delia hamil.