Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Kodrat Anak laki-laki



Hari ini Abian benar-benar memanjakan keluarganya, setelah berbelanja, Abian mengajak seluruh keluarga menonton di bioskop, sudah pasti yang mereka tonton adalah film tentang keluarga, dimana mengisahkan keluarga yang memiliki orang tua yang kolot, dan banyak mengangkat latar budaya. Saat keluar dari bioskop, semua dibuat terheran dengan tiga orang tua yang sudah bercucu itu.


"Ini nenek-nenek kenapa pada nangis sih?" Arini melihat Amanda yang masih sesenggukan saat keluar dari bioskop.


"Mama pikir ini film komedi, ternyata ini film yang banyak mendidik, Mama sebagai orang tua rasanya masih sangat kurang dalam mendidik anak Mama."


Srotttt ...


Amanda membuang cairan dari hidungnya.


"Papa juga, Papa rasanya masih kurang menjadi sosok ayah buat anak-anak Papa." Sambung papa ikut menimpali.


"Abdi oge tos sepuh, Abdi salaku kolot. Teu ngajar budak oge ngeunaan budaya sorangan." (Saya juga besan, sebagai orang tua, tidak mengajari anak dengan baik tentang budaya sendiri).


Mama Delia juga memberi penilaian tentang film yang habis ditontonya, saking menghayati film tersebut, dia sampai terbawa keluar, dan berniat mengajak Delia menggunakan bahasa daerahnya untuk berbicara sehari-hari.


Sontak Abian, Arini dan suaminya yang baru menyusul bersama Arsyi dan Almira, mama juga papanya saling pandang, tak paham dengan yang diucapkan oleh mama Delia.


"Delia, ti ayeuna, ajak salaki anjeun nyarios basa urang. Engke mun aya nu nyarita make basa urang. Manehna moal bageur siga ayeuna, jeng moal katipu." (Delia, mulai sekarang, ajaklah suamimu bicara menggunakan bahasa kita. Biar dia tahu bahasa kita, nanti kalau ada yang ngomongin dia pakai bahasa kita, dia tidak planga-plongo seperti sekarang, dan tidak tertipu) Sambung mama Delia lagi, sambil mengusap bahu anaknya yang duduk dikursi roda.


Semua kembali dibuat melongok dengan yang diucapkan mama Delia, tapi tidak dengan Delia, dia sampai menahan tawa melihat ekspresi wajah suaminya yang tak paham.


"Enya Ma, engke Delia ngajar Abian basa urang, tapi kunanaon Abian mah teu ngarti, jadi Delia ngutuk sasukana lamun Delia kesel." (Iya Ma, nanti Delia akan ajari Abian bahasa kita, tapi nggak papalah Ma Abian nggak ngerti, jadi Delia bisa memaki sesuka hati jika Delia sedang kesal).


Delia terbahak setelah mengatakan itu, membuat Abian membuang nafas kesamping, lalu bertolak pinggang, "Kamu sedang ngomongin aku sayang? Kamu curang, kamu durhaka jika ngomongin suami didepanya, kalau berani ngomong dibelakangnya."


"Mampus kamu Bi, Delia mulai mengeluarkan jurusnya, siap-siap aja kamu sering diomongin." Arini sang kakak yang tidak ada akhlak mengompori.


"Sayang, kamu berniat seperti itu?" Delia dan mamanya terkekeh, "kalau begitu kamu dorong sendiri kursi rodanya, aku nggak mau." Abian pura-pura pergi membuat drama suami yang tersakiti.


"Ma, Mama masih buka lowongan buat cari mantu lagi nggak? Disini kayaknya banyak cowok tajir dan mapan buat Delia." Ucap Arini pada mama Delia, mengerjai adiknya dengan tertawa geli. Abian yang sudah agak jauh menghentikan langkahnya, berbalik dan kembali berdiri dibelakang kursi roda yang diduduki istrinya.


"Disini nggak ada yang dipihak aku," sungutnya "anak bungsu dimana-mana disayang, tapi aku malah dibully," ucap Abian mencurahkan isi hatinya "bang, apa kamu nggak berniat membelaku?" Abian minta pertolongan pada kakak iparnya.


Suami Arini melirik istrinya, dan mendapat plototan dari Arini "Kayaknya tidak untuk sekarang ya my brother-in law, aku nggak bisa tidur diluar, bisa-bisa aku langsung masuk angin." Jawab suami Arini diplomatis, dan mendapat tepukan sayang dari Arini dipipinya.


Semua tertawa senang melihat Abian tertindas, sampai akhirnya Abian pun menyerah, dia lebih baik mengajak kedua keponakanya bermain diwahana permainan anak-anak ditemani sang istri, membiarkan para orangtua mengisi amunisi mereka dengan mencari mi gomak yang entah mereka bisa temukan atau tidak didalam mall ini.


Delia padahal meminta Abian agar dia jalan kaki saja, dia merasa malu dan risih menjadi pusat perhatian. Tapi Abian tidak mengizinkan, dia tidak ingin Delia sampai kelelahan, dan berbahaya untuk kandunganya.


"Bi, nanti jangan lupa beli susu ibu hamil," Delia mengingatkan, keduanya memantau keponakanya dari jauh.


"Iya, biar Arini yang beli sekalian. Kamu mau rasa apa?" tanya Abian.


"Jangan nyuruh kak Arini, nggak enak. Aku mau semua rasa dari semua jenis susu ibu hamil yang ada. Aku mau merasai semua, biar anak aku sehat."


Delia sambil mengusap perutnya, Abian jika sudah membahas anak mereka selalu mengharu, dia yang sedang berdiri dibelakang Delia kini bersimpuh didepan istrinya.


"Anak kita senang diajak jalan-jalan?" Abian mengusap perut Delia.


"Mereka senang, apalagi kita jalan bersama keluarga besar," Delia merapikan rambut Abian "makasih ya Bi, aku sendiri saja belum pernah ajak mama jalan-jalan seperti ini, tapi kamu udah nyenengin mama."


"Lain kali kita ajak Denisa dan Dania juga, kita juga belum lengkap, Arumi tidak ikut, tapi wanita itu tidak mau rugi sayang, dia sudah membuat list minta dibelanjakan," Abian mendongak, menunjukkan pesan dari kakak tertuanya. Delia tersenyum membaca deretan permintaan Arumi, dari makanan, tas dan juga sepatu lengkap ia kirimkan beserta fotonya.


"Kamu tidak marah?" tanya Abian.


"Kenapa harus marah?"


"Itu cara mereka mengungkapkan rasa sayangnya Bi, kamu nonton kan film tadi? Orang yang sayang dengan kita belum tentu bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan kata-kata, atau menyatakannya, tapi mereka mengungkapkan rasa sayangnya dengan perbuatan. Contohnya kak Arumi dan Arini memberikan kita kado pernikahan honeymoon ke Swiss. Kamu sudah belikan pesanan kak Arumi?" Abian menggeleng "Kenapa?"


"Karena aku belum izin padamu,"


"Kenapa harus izin? Itukan uang kamu."


"Kamu istri aku sayang, uang aku uang kamu, harta aku harta kamu, jika ingin memberi mama atau papa uang saja aku harus izin padamu, kamu yang mendampingi aku sekarang. Rizki ku tergantung bahagianya kamu."


"Tapi kodrat laki-laki seperti itu Bi, anak laki-laki seutuhnya milik ibunya, sebuah cerita Bi, jika seorang ibu meminta uang pada anak laki-lakinya untuk makan, tak perlu izin dari istrinya, karena itu tidak seberapa dibanding uang pengeluaran ibumu membeli susu waktu kamu masih kecil."


"Iya, aku tahu sayang, tapi aku sadar, wanita juga lahir dari rahim seorang ibu. Sama sayang, kalian juga sama dibesarkan dari bayi sampai besar, dari yang tidak bisa apa-apa menjadi bisa segalanya. Apa kamu lahir langsung sedewasa ini? Tidakkan? Akan sangat egois jika aku melakukan itu, aku telah mengambil anak perempuannya, membawanya pergi jauh untuk mengurusi dan mengabdikan hidupnya untuk berbakti pada suaminya, tapi aku tidak menghargai perasaanya."


"Dan lagi sayang, membahagiakan anak itu tanggung jawab orang tua, jadi sudah semestinya mereka melakukan itu, tanpa meminta timbal balik dengan meminta balas budi dikemudian hari. Itu yang akan aku terapkan nanti pada anak-anak kita. Mereka bisa ada didunia bukan untuk aset atau investasi, kita yang menginginkan kehadiran mereka."


Delia berkaca-kaca mendengar pendapat suaminya, dia bersyukur memiliki suami seperti Abian. "Pendapat kamu akan bertentangan dengan banyak pendapat orang Bi."


"Tidak masalah sayang, mama yang mengajarkan aku seperti itu, mama juga perempuan, jadi dia sangat mengerti dan paham perasaan menantunya."


"Om Biannn, Ooommm." Arsyi datang sambil menangis sambil memegangi pantattnya, membuat Abian dan Delia melihat itu khawatir.


"Ada apa Arsyi?" Tanya Abian menghampiri keponakanya.


"Almira tarik celana aku sampai robek." Adunya masih terus menangis.


"Astaga." Abian melihat bagian celana yang robek itu cukup panjang. Kemudian melirik Almira yang berjalan tanpa merasa bersalah.


"Almira nggak tarik om, celana Arsyinya aja yang udah jelek minta diganti, itukan celana lebaran dua tahun yang lalu." Jawabnya polos.


"Astaga, kok kamu bisa tahu kalau celana yang dipakai Arsyi celana dua tahun yang lalu?" Abian mengangkat sebelah alisnya, tak habis pikir dengan alasan yang dibuat Almira.


"Tahu aja." Jawab Almira bersedekap.


"Om beli celana baru, tadi Arsyi lihat ada celana bagus, Arsyi suka. Arsyi masih ingat kok tokonya."


Abian menarik nafas panjang menyadari ucapan Arsyi, ini bukan robek karena ditarik, entah apa yang dilakukan kedua keponakanya hingga celana Arsyi bisa robek seperti ini.


"Kalau begitu jahit saja sampai dirumah nanti, nggak perlu beli baru." Ucap Abian.


"Nggak mau, malu." rajuk Arsyi.


"Om gendong."


"Om kan harus dorong kursi tante yang kasih Om bayi." Jawab bocah itu lagi.


"Astaga, sayang urungkan niat kamu buat beli susu hamil, aku tidak mau anak kita terlalu pintar menjawab perkataan orang tua."


Delia benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan tawa, sungguh kasihan nasib suaminya, dan akhirnya tawa itu pecah.


"Ada apa ini?" Arini muncul.


"Celana Arsyi robek Ma." Almira menjawab.


"Oke, ajak Om beli celana yang kamu tunjuk tadi, masih ingatkan tempatnya?" Tanya Arini pada anaknya.


"Ayo Om, nanti celananya keburu diambil orang, tadi kan om cuma beliin tas." Arini dan Arsyi kompak memegang jari kanan kiri Abian, membuat Abian pasrah.