Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Bonchap 3. Happy Ending



Tak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan yang dirasakan oleh Delia saat ini, dia tak henti-hentinya menyeka air disudut matanya. Setelah acara doa untuk kedua anaknya, agar anaknya menjadi anak sehat, menjadi kebanggaan kedua orangtuanya, serta berguna untuk orang banyak. Bersama ratusan anak kurang beruntung, kini giliran Abian keluar dengan dandanan badut, suaminya bahkan tampil sangat totalitas, hidung yang diberi sponge merah khas badut, rambut wik warna-warni, serta perut besar dengan kostumnya.


Abian ternyata tidak sendirian menjadi badut, dia ditemani oleh dua kakak iparnya dan juga Rendy. Keempat laki-laki tampan nan gagah itu menghibur didepan lima ratus anak yatim yang hadir dalam syukuran baby Awan dan Angkasa.


Bukan tanpa alasan Abian berdandan seperti itu, semua ia lakukan sebagai bentuk rasa cintanya terhadap sang istri yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.


"Kita bukan kayak suami istri ya Bi, tapi kayak ibu dan anak." Itulah ucapan istrinya saat melihat tampilanya yang tampan dan gagah ketika menggunakan setelan koko putih yang serasi dengan gaun yang dipakai Delia.


Padahal menurut Abian, Delia masih tetap cantik walau tubuhnya tidak seperti dulu, namun wanita selalu rempong jika sudah menyangkut berat badan.


"Awas ya Capt, bayaran saya nggak murah pokoknya." Gerutu Rendy tak iklas atas permintaan Abian.


"Yang ikhlas dong Ren, bayarannya tak ternilai uang pokoknya, lihat tawa anak-anak kurang beruntung itu," Abian menunjuk para anak yatim dengan dagunya "hidup lo berguna dikit kek, itung-itung nebus dosa lo yang sering ke gunung kawi."


Rendy mengikuti arah pandang Abian, hatinya tersentuh melihat tawa tulus dari anak-anak itu.


"Baiklah Capt." Ujarnya kali ini penuh semangat.


"Hei kalian berdua, jangan ngobrol terus, ayo bagiin hadiahnya sekarang, udah gerah nih." Sambung suami Arumi.


"Kita bagi tugas deh, kita berdua yang bagiin kadonya, kalian berdua yang joget-joget." Suami Arini memberi ide.


"Hah! Kita joget-joget, nggak ahh, nggak mau, saya sama Captain Abian aja yang bagiin kadonya, abang berdua yang joget." Protes Rendy.


"Nggak bisa, kalian berdua yang lebih muda, harus ngalah." Suami Arini tak setuju.


"Ehhh yang punya hajat yang ngatur, kenapa jadi kalian saling ngatur?" Abian mencoba menengahi, namun bukannya menjadi damai, keempat laki-laki gagah itu malah saling dorong dan terjatuh. Dan hal itu membuat pecah tawa para anak yatim, dan juga para tamu undangan yang lainnya.


Atas permintaan Abianlah mereka semua memakai costum ini. Padahal tadi mereka datang menggunakan setelan jas rapi dan klimis, tapi kini berubah menjadi penghibur dadakan.


"Astaga, nggak nyangka kalau para suami kita punya bakat terpendam," Arumi geleng kepala "kalau ada acara ulang tahun anak teman-teman, jangan lupa rekomendasiin suami-suami kita."


"Hahaha," Voni tergelak, menepuk pundak Arumi, hingga Arumi terdorong kedepan "lumayan ya Kak, buat nambah uang popok."


Arini yang mendengar keributan keempatnya mengambil alih menjadi MC dadakan juga, dia memanggil Arumi, Voni, Dania dan Delia untuk membantu membagikan kado untuk para anak yatim, sedang keempat laki-laki kurang bahagia itu menghibur diatas panggung, dengan menjadi pesulap dadakan, ataupun melakukan atraksi semampu mereka.


"Baru nih ada sultan bikin pesta nggak modal." Bisik Cecilia yang baru datang bersama seorang laki-laki.


"Cecilia," Delia memeluk teman seperjuanganya.


"Congratulation my bestie, ikut seneng atas kebahagiaan kamu."


"Makasih Cil, makasih juga udah nyempatin dateng ke acara anak aku."


"Harus donk, pokoknya aku mau kasih stempel anak kalian, kalau nanti aku punya anak, dan anak aku cewek, mau aku jodohin, nggak boleh kasih sama Voni,"


"Anak aku udah jelas cewek, lah kamu? Calon aja belum punya, udah mikir punya anak." Voni menimpali.


"Hehehe, maaf lupa, kalau udah kumpul gini nih, maaf sayang," Cecilia menarik tangan laki-laki yang sejak tadi anteng dibelakangnya "kenalin dia calon aku." Cecilia menggamit lengan kekasihnya posesif.


"Bukanya ini cameramen kamu Cil?" Tanya Delia dan Voni serempak.


"Ternyata jodoh aku ada disamping aku sendiri ya?" Cecilia geli sendiri dengan kisah cintanya. Ternyata cameramennya selama ini memendam rasa terhadapnya, dan langsung melamar Cecilia, ketika Cecilia


"Eh kalau mau direstui, harus gabung dulu dengan para laki-laki," Delia memanggil suaminya "Bi, anggota baru, kasih kostum." Mau tidak mau, suka tidak suka, calon suami Cecilia mengikuti ide gila itu, mengganti pakaiannya yang sudah dipersiapkan sebaik mungkin dari rumah, namun harus sia-sia.


Kebahagiaan juga dirasakan oleh mama papa Abian yang bertugas menjaga kelima cucunya, walau kerepotan inilah keinginan mereka, menghabiskan waktu tuanya bersama anak cucu.


Mama Delia yang membantu besanya menjaga cucu sedang menepi karena harus melakukan pada Denisa.


"Iya sayang, nanti Mama bersama kakak dan adik kamu pasti datang keacara wisuda kamu nak, Mama akan menetap disana sama kamu, Dania mau kost dijakarta, dia mendapat beasiswa diuniversitas negeri."


Lama perbincangan mereka, hingga panggilan itu terputus, mama Delia menyeka air matanya, rasa rindu tak bisa terbendung lagi.


Disebalik pintu, ada sepasang telinga tengah mencuri dengar apa yang diucapkan mama Delia, walau tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan, namun sedikit informasi itu bisa menjadi angin segar untuk orang yang telah berjasa dalam hidupnya, dan membuat ia sadar atas perbuatannya selama ini.


*


*


*


Dua tahun berlalu, berkat tekat dan kegigihanya, kini tubuh Delia sudah kembali seperti sedia kala. Kedua putranya sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Delia masih menjadi yang paling cantik dirumah.


"Biiiii, ihhhh sebel deh, ini semua gara-gara kamu." Rajuk Delia.


"Ada apa sih sayang?" Abian datang setelah memandikan kedua putranya. Ya, setiap pagi, Abian yang mengatur tugas agar dirinya yang memandikan kedua putranya, dan Delia fokus untuk memasak sarapan mereka.


"Gara-gara kamu waktu itu keluarin didalam, ini hasilnya." Delia menunjukkan lima alat tes dari merek yang berbeda, namun kelimanya menunjukkan hasil yang sama, garis dua.


"Sayang, ini serius?"


"Menurut kamu aku ngeprank?"


"Alhamdulillah, yes, semoga kembar lagi ya Allah." Abian menengadahkan tanganya keatas.


Melihat wajah sang suami dan dengan doa yang begitu menyentuh hati, tidak mungkin Delia tidak ikut bahagia, dia memang kesal karena perbuatan suaminya, apalagi dia yang baru saja berhasil mengembalikan bentuk tubuhnya, namun nyatanya Tuhan kembali mempercayai mereka untuk menjadi orang tua. Tidak mungkin dia menolak ini.


"Padahal aku minum pil Kb rutin ya Bi, kok bisa kebobolan."


Abian melampirkan senyum devilnya "Aku menggantinya dengan obat penyubur sayang."


"Astaga Abian."


"Iya Delia Anggraini, selamat sayang." Abian menggendong tubuh istrinya, memutar-mutar tubuh ramping yang kini kembali mengandung benihnya.


"Sayang, anak-anak lagi anteng habis mandi sama mba, aku mau jemgukin adik Awan dan Angkasa boleh?"


Delia mendelik "Nggak, nggak mau Bi."


"Mau ya?"


"Nggak."


Dan hasil akhir perdebatan itu selalu dimenangkan oleh Abian.


Di depan rumah mereka, tak jauh dari sana, terparkir mobil yang didalamnya terdapat seorang laki-laki yang sudah dua bulan lalu keluar dari tempat masa hukumannya. Sudah sebulan ini dia mengintai rumah pasangan berbahagia itu, namun tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan anak maupun mantan istrinya.


"Dimana mereka menyembunyikan Denisa?" ujarnya memukul stir mobil. Attaya pun tak mampu mengikuti Delia saat Denisa wisuda, Delia seperti sangat tahu jika ada yang mencari tahu keberadaan adiknya.


...Last bonchap...


...Makasih semua yang udah setia sama cerita ku sampai akhir, aku terharu atas dukungan kalian semua. Tetap dipaporit ya untuk tahu pengumuman selanjutnya. ...


...Love you All, jaga kesehatan selalu ya 🥰😍😘❤...