
"Ayo Bi, abisin asinanya, ini mama yang bikin loh, kamu nggak menghargai buatan mama, nanti Mama ngambek mau?" Arini sedang memaksa menyuapi Abian dengan asinan yang dibawa mamanya.
Abian menutup mulutnya dengan telapak tangan "Nggak mau, aku nggak suka baunya," tolak Abian menggeleng keras.
"Ehh kemaren-kemaren, pagi-pagi maunya makan asinan, rujak, kenapa sekarang setelah Delia udah ketahuan hamil nggak mau lagi?" Arini tak putus asa, mengerjai adiknya adalah hal yang menyenangkan untuknya dan Arumi, sayang sekarang Arumi tak ada karena harus menjaga bayinya dirumah.
"Mana aku tahu, tapi Kak, beneran aku nggak mau." Tangan Abian menyingkirkan sendok itu dari depan mulutnya.
Delia yang melihat keusilan kakak iparnya memiliki ide untuk membantu memegang tangan suaminya.
"Sini Kak, aku pegangin tangannya." Delia mendekat, ingin mengambil tangan Abian.
"Jangan sayang, ini bahaya untuk perut kamu." Abian memperingati dengan menyingkirkan tangannya.
"Kalau gitu mama aja yang pegangin." Amanda bangkit dari duduknya, ingin membantu Arini.
"Saya juga ikut bantu kalau begitu." Mama Delia ikutan.
"Kayaknya seru, Papa bantu pegangin kakinya." Papa juga ikut-ikutan.
"Eh kenapa jadi keroyokan gini? SAYAAAANG TOLONG AKU." Teriak Abian, Abian malah jejingkrakan seperti cacing kepanasan saat tangan dan kakinya akan dipegangi. Sebisa mungkin dia tak tertangkap "Sayaaang please, aku nggak bohong, aku beneran sekarang nggak suka." Abian terus mengibas-ngibaskan tangannya, dan menendang-nendang saat kakinya akan dipegangi, tapi sudah pasti dia kalah, tiga lawan satu, kalah jumlah meski lawanya nenek-nenek dan aki-aki, Abian bukan kalah tenaga, tapi dia tak mau menyakiti para orangtua yang sedang berbahagia itu.
Delia hanya tertawa, tak bisa menolong juga, dan Arini tak mau membuang kesempatan ini, saat Abian berteriak, dia memasukkan asinan buah kedalam mulut adiknya. Saat asinan itu berhasil masuk, para nenek-nenek dan kakek itu melepaskan pegangan mereka, dan Abian langsung lari terbirit-birit ke kamar mandi, membuang asinan didalam mulutnya.
"Gila!! Jahat semuanya, kalian mau aku mati ya? Ini nggak lucu." Wajah Abian memerah menahan marah, setelah mencuci mulutnya, tanpa menoleh pada keluarganya, Abian langsung naik kekamar dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku boxer rumahanya.
"Dih baperan dia, ini pasti bawaan hormon bapak-bapak hamil," tuding Arini tak gentar atas sikap Abian, dia sudah hapal luar dalam sifat adiknya itu.
Delia menatap punggung Abian yang semakin menjauh, lalu suaminya menoleh, menatap sendu padanya seperti memohon, Delia mengernyit tak paham, Abian yang melihat raut wajah tak paham istrinya kesal, namun kepalanya membuat gerakan agar Delia mengikutinya. Delia yang paham, langsung terkekeh, dia kemudian beranjak hendak menyusul, namun ditahan Arini.
"Biarin aja Del, kamu disini aja, doyan asinan kan? Yuk makan bareng-bareng, jarang-jarang kita kumpul begini." Cegah Arini.
"Hmmm, enak ini, seger," ujar Delia setelah menyendok asinan kedalam mulutnya.
"Saya tapi jadi nggak enak sama nak Bian." Ucap mama Delia jujur akhirnya.
"Nggak papa Bu, tuh anak pasti cuma mau modusin istrinya doang, minta disusulin istrinya, nggak betah dia tuh kumpul begini. Abian itu bukan tipe seperti itu, cuek saja Bu, ehh ayo kita makan asinan buatan mama, seger Bu." Cerocos Arini, membuat mama Delia membatin,
"Beruntungnya anakku masuk ke kekeluarga yang baik, terimakasih ya Allah." gumam mama Delia.
Setelah lebih dari tiga puluh menit Abian dikamar, dia uring-uringan karena Delia tak juga mengikutinya, dia mengacak-acak rambut frustasi, dan melempar selimut kesana kemari.
"Duhhh dasar para cewek nggak peka, nggak mungkin kan aku turun lagi? Awas ya kak Arini, pasti dia dalang Delia nggak naik, sayang banget Almira nggak ikut, bisa aku kerjai balik dia." Abian memukul-mukul ranjangnya, tak lama perutnya berbunyi "jadi laper sih." Abian menderita sendiri.
Tak lama terdengar langkah sendal mendekat, Abian menajamkan pendengaran, pasti ini Delia, pikirnya. Buru-buru Abian merapikan kamar, dia berbaring menutup penuh tubuhnya dengan selimut. Kemudian terdengar pintu terbuka, Abian tersenyum membuat jantungnya berpacu cepat, dia memejam keras, lalu terasa kasur sisi kasur bergerak.
"Bi, udah tidur?" Suara Delia bertanya, kemudian hening, tak ada usaha Delia membuka selimutnya, menanyakan keadaanya.
Ini aku laper, loh Del.
Benar-benar hening, lama Abian menunggu, tak ada lagi suara atau pergerakan. Karena penasaran, perlahan Abian membuka selimutnya, terlihat Delia yang sudah meringkuk menghadapnya, wanita cantik itu sudah terpejam.
"Kamu pasti kelelahan, belum istirahat sama sekali." Abian membelai lembut pipi istrinya, wanita itu makhluk sensitif, pergerakan sedikitpun, atau sentuhan haluspun bisa membangunkanya, perlahan mata Delia terbuka, mata cantik itu mengerjap lembut, kemudian tersenyum.
"Aku bangunin kamu?" Tanya Abian kemudian, paling tak bisa hanya diam jika didekat istrinya.
"Kamu tadi kenapa? Beneran nggak bisa makan asinan?" Abian mengangguk, Delia tertawa "kok bisa? Itukan makanan kesukaan kamu."
"Nggak tau, tapi beneran aku nggak suka lagi, aneh ya?" ucap Abian jujur sambil terus membelai pipi istrinya.
"Kamu belum makan apa-apa, mau aku ambilin makan? Mau makan apa?"
"Makan kamu boleh?"
"Jangan sekarang, aku takut ganggu dede kembar yang ada didalam."
"Bener juga ya? Nggak papa deh aku puasa sampai trimester pertama kamu, asal anak kita nggak apa-apa, sampai mereka benar-benar kuat."
Delia tertawa, "kamu kuat?"
"Kuat dong, demi anak kita."
"Kalo aku yang mau?"
"Ish, inituh bukan aku yang mau, tapi kamu. Turun aku lagi nggak mau." Wajah Abian kecewa, tapi dia memikirkan bayi yang ada dalam kandungan Delia, lagipula Delia belum istirahat barang sekali.
Abian kembali berbaring disamping istrinya, "aku laper sayang, kamu udah makan?"
"Tadi makan asinan yang dibuat mama, kasian kalau nggak ada yang makan. Kamu beneran laper? Aku ambilin." Delia bangkit, kaki sebelah kirinya sudah menyentuh lantai, namun Abian menahanya.
"Aku aja yang ambil, kamu nggak boleh naik turun, harus banyak istirahat, kamu tunggu disini aja," secepat kilat Abian melesat turun kebawah, dia benar-benar sudah lapar, entah sudah berapa hari dia tidak makan nasi, kali ini dia akan balas dendam, jika tidak keluar lagi yang dia makan, dia akan menambah sebanyak-banyaknya.
Saat didapur dia bertemu Arini.
"Lo makam nasi Bi?" tanya Arini terheran, namun Abian bergeming. "Ini buat lo apa buat Delia? Banyak amat."
"Berisik, bukannya pulang lo Kak?" usirnya, "udah malem, maaf ya rumah ini bukan penginapan, nggak nerima orang nginep. Lagian kamar disini cuma tiga, satu buat mama sama papa, satu lagi buat mama Delia."
"Lo ngusir gue? Tapi sayang, nanti suami gue juga mau kesini, kita nginep disini."
"Nggak bisa, aku nggak mau. Pulang sonoh ahh, lo suka berisik. Lagian kalo laki lo juga nginep disini, mau tidur dimana?"
"Udah diatur, mama sama papa tidur dikamar bawah, gue sama Delia, lo sama laki gue didepan tivi, mama Delia tidur sendiri."
"Nggak bisa, nggak bisa pokoknya, gue nggak bisa tidur kalo pisah sama Delia."
"Lebbayy."
"Maaa usir ini anaknya, jangan suruh tidur disini," teriak Abian mengadu "lagian lo tega sih ninggalin Almira sendiri, dia bukan anak pungutakan?"
Plakkkk
Tangan Arini mendarat mulus dibahu Abian "Kalo ngomong suka bener, Almira minta tidur sama Arsyi. Gue kesepian kalo dia nggak ada dirumah."
"Bikin lagi donk, apa mau gue ajarin bikin sekali dua?"
"Suommbong. Asinan noh makan, apa mau gue paksa lagi?"
Abian menatap awas pada Arini "Jangan macem-macem ya Kak, aku beneran nggak suka sekarang, sumpah itu rasanya nggak enak."
"Aneh dasar, ini cobain dulu." Arini kembali menyendok asinan yang ada didekatnya
Abian menjaga jarak, langsung menjauh dari Arini"Jangan macem-macem ya, Arini gue beneran nggak suka, jangan sampai nih nasi melayang dimuka lo."
"Cobain dulu Bi." Abian langsung berlari, sungguh dia menjadi takut melihat asinan sekarang. Arini tertawa terpingkal-pingkal, "Dasar bocah aneh." Arini menggeleng.
"Maklum ya besan, anak-anak walau sudah pada tua, kalo kumpul suka kayak anak kecil lagi." Ucap Amanda pada mama Delia.
"Nggak papa besan, saya malah senang melihatnya, mereka akur." Jawab mama Delia apa adanya.
"Bagaimana kabar Denisa dan anaknya, sehat?" Kini papa Abian yang bertanya.
"Sehat-sehat, anak ibunya juga sehat. Dia mau ikut kesini, tapi saya larang, dia belum lama melahirkan." Ujar mama Delia.
"Iya tidak apa-apa. Yang terpenting anak dan Ibunya sehat, nanti jika ada waktu luang, kami pasti menjenguk anak Denisa." Amanda menjawab.
Tapi Denisa akan dipindahkan jauh oleh Delia. Gumam mama Delia. Mama Delia hanya tersenyum, kemudian mereka melanjutkan mengobrol ringan seputar anak cucu mereka.
* * *
"Apa yang buat kamu berubah pikiran kuda Voni? Bukannya kamu sudah memasukkan surat ke pengadilan?." Rendy dan Voni mengobrol ditempat tidur, dengan anak mereka berada ditengah.
Voni nampak berpikir "Karena aku sayang." Jawab Voni apa adanya.
"Bener?" Voni mencebikkan bibir, "gimana papa? Nanti kamu jadi anak durhaka."
"Papa sudah memaafkan, Papa ngelakuin ini semua karena dia takut kamu selingkuhi aku, dan papa dendam, karena kamu ambil aku dari dia dengan cara yang nggak baik, coba kamu sabar, pasti papa restu. Tapi yasudahlah, semua sudah berlalu. Kita sekarang diberi anak perempuan, semoga kelak tidak akan terjadi di kita." Jelas Voni "terus papa mau jodohin aku sama anak tetangga, katanya biar bisa memantau, ehh nggak taunya anak tetangga kesayanganya malah digerebek."
"Hah, serius?"
Voni mengangguk "Lagian aku takut kehilangan kamu, aku nggak mau nanti kamu nemu gunung kawi lain," ucap Voni kemudian membuat Rendy nyengir, dan matanya langsung tertuju pada dada istrinya.
"Gunung kawi udah lama nggak ditengok, nanti dia meletus, aku tengok sekarang ya," Rendy menyingkirkan anaknya, memindahkan anak mereka kepinggir ranjang, namun masih diposisi aman.
Rendy langsung menyerang istrinya, lama pisah ranjang membuat keduanya rindu, dan mereka melepaskan rasa rindu dengan malam yang panas dan panjang. Beruntung anak mereka pengertian, bayi itu seakan paham, dan memberi waktu untuk kedua orangtuanya.