
Denisa benar-benar membutakan mata hatinya, entah apa yang gadis sembilan belas tahun ini pikirkan?. Dia dibuat terhanyut oleh ciuman Daniel yang semakin dalam dan menuntut. Jantung Denisa berdegup kencang kala tangan Daniel merengkuh tubuhnya untuk semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Denisa sampai harus turun dari bangku tingginya untuk menyeimbangi Daniel yang sudah penuh kabut nafsu. Denisa merasakan gelenyar aneh keluar dari perutnya yang menjalar ke hati terus naik kekepalanya.
Sekujur tubuh Denisa meremang, dan bergetar.
Ini ciuman pertama bagi Denisa, tapi dia tidak terasa kaku, karena Denisa melakukannya dari hati, ia mengikuti gerakan bibir Daniel, membalas belitan lidahnya, dia juga sampai memiringkan kepalanya mengikuti gerak ciuman Daniel semakin liar.
Saat seorang barista menawarkan kunci kamar hotel, bukan Daniel yang mengambil kunci, tapi justru Denisa. Dengan arahan Daniel, Denisa menuntun laki-laki itu untuk naik keatas, menuju kamar yang ada didalam tempat hiburan malam itu. Gadis polos itu begitu pasrah, saat Daniel membaringkanya ditempat tidur dan mengungkungnya, lalu melucuti setiap inci tubuhnya, ia kesampingkan rasa perih dihatinya, saat Daniel menyebut nama kakaknya dalam racauanya.
Wanita mana yang tak ingin disetuh lebih jauh oleh laki-laki yang ia inginkan? Denisa mau, Denisa tak ingin kesempatan ini terbuang sia-sia. Ia sudah berani sejauh ini, maka ia ingin Daniel menyentuh bagian tubuh lainnya. Dengan tangan gemetar dan jantung yang terus berdegup kencang, Denisa mengarahkan tangan Daniel menuju kedua gundukan dadanya, memijatt lembut, dan memainkanya.
Tubuh Denisa melengking, bergerak tak beraturan saat Daniel mengangkat pakaiannya, dan meraup kedua aset kembarnya, lama Daniel bermain disana, hingga tangan Daniel melepas kain penutup dibawahnya.
"Aku mau Delia." Bisik Daniel ditelinga Denisa. Tenggorokan Denisa tercekat, dadanya sesak. Tetap yang ada dipikiran Daniel adalah Delia.
Namun bodohnya, kepala Denisa mengangguk walau ada rasa sesak menyerang dadanya. Membuat Daniel tersenyum melihat anggukan kepala Denisa. Ya, dalam penglihatan Daniel, Delialah yang berada dibawah kungkunganya, bukan Denisa, mereka memang memiliki wajah yang hampir sama persis, kulit putih yang sama warisan sang mama. Hanya saja, tubuh Denisa lebih berisi dengan dada penuh, rambutnya berbeda, jika rambut Delia panjang sampai punggung dan hitam, rambut Denisa sebahu sedikit kecoklatan. Iris mata Delia coklat warisan ayahnya dengan alis tipis namun rapi, sedang iris mata Denisa hitam pekat, warisan mamanya, dengan alis sedikit tebal.
Perlahan penyatuan itu terjadi, tak ada penolakan sama sekali dari Denisa, dia ingin tahu rasanya seperti apa? Dia yang mengambil ilmu kedokteran jurusan kedokteran umum, juga ingin tahu rasa seperti ini, bukan hanya teori, tapi juga praktek. Walau Daniel melakukannya sangat lembut dan penuh kehati-hatian, tetap saja Denisa tak dapat menahan air asin yang keluar dari sudut matanya.
Denisa mencengkeram sprei kasur yang mereka pakai, saat sesuatu dibawah sana terasa dirobek paksa. Daniel menghentikan aksinya sejenak, saat dai tahu dia telah merobek milik gadis dibawahnya.
"Abian belum menyentuh kamu Delia?" Tanya Daniel, tak ada jawaban dari Denisa, dia sakit, sungguh dia sakit, tak ada sedikitpun namanya keluar dari bibir Daniel, namun lagi-lagi dia mengangguk karena tak mungkin dia mundur, dia sudah merasakan nikmatnya.
"Ternyata aku orang beruntung menjadi laki-laki pertama yang menyentuh mu?" Lagi-lagi Denisa hanya mengangguk samar sebagai jawaban.
Selama penyatuan itu terjadi, Denisa sangat menikmatinya, namun tetap banyak sekali rencana yang telah dibuatnya, setelah ini dia akan langsung pulang sendiri, membuat alasan pada Dania, dan tak akan menceritakan hal ini pada siapapun, jika pun nanti dia hamil, Denisa akan berusaha menggugurkan kandunganya, tanpa sepengetahuan siapapun.
Dia akan menaggungnya sendiri, tanpa melibatkan orang lain, dan membuat kekacauan. Termasuk Daniel, sebab yang terjadi padanya, adalah kesalahannya sendiri, dia tak ingin memaksakan Daniel mengakuinya.
* * *
"Denisa belum angkat panggilan kamu?" Tanya Abian, dengan tangan yang sudah bergerilia dibawah sana.
Delia menggeleng "Udah dua hari kita tinggal, aku belum tanya kabar mereka."
Mata Abian sudah terpejam menikmati permainanya sendiri "Denisa sudah besar, dia pasti bisa jaga diri."
"Eunggh Bi." Delia tak kuasa jika Abian sudah bermain ditempat favoritnya. Delia hendak menjauhkan kepala Abian yang berada didadanya, sebab ia masih mau bercerita., namun Abian malah mengencangkan kulu manya.
"Cerita saja Delia, aku dengar." Ucapnya tak urung, karena tahu apa yang sedang istrinya risaukan.
"Aku curiga Bi, dari tadi aku telepon Dania ingin bicara sama Denisa, tapi dia seperti menghindar. Panggilan Video ku juga nggak diangkat, eunggg, ahhhh, Bi."
Abian tak bisa menghentikan aksinya "Mama kayaknya percuma kasih kado pakaian seperti ini."
BRettttt.
Abian ingin melakukan hal ekstrim dengan merobek kain tahu pemberian mamanya.
"Biiiii, kenapa dirobek? Ini dari Mama!" Pekik Delia terkejut.
Abian mengangkat kepalanya yang kini sudah berada dibawah pusat Delia.
"Nanti aku ganti model yang sama. Disana sudah malam sayang, kita berbeda lima jam lebih lambat, mungkin mereka sudah tidur." Abian mengambil ponsel yang ada didalam genggaman Delia, melemparnya sembarang.
"Mama sudah disana, aku yakin mama bisa menjaga adik-adik kamu. Ayo nikmati bulan madu kita." Abian membungkam mulut Delia yang sudah ingin melayangkan protes. Delia pasrah dan memejam saat suaminya mulai memamcing titik-titik sensitifnya, dan dia kini berbalik, berada diatas perut suaminya, sudah saatnya dia menjadi pemimpin dalam menyelami samudera percintaan mereka. Ia ingin memberikan service terbaik untuk sang suami.
Namun pikirannya tak lepas memikirkan Denisa, walau terlihat penurut, Denisa memiliki sifat yang sedikit memberontak, Delia takut adiknya itu malah menyalah gunakan kepercayaan mamanya, dan mereka saat ini tanggung jawabnya.
* * *
"Pulang larut naik taksi, Kakak nggak mikirin aku disini yang terus mengalihkan perhatian mama Kak Abian? Kakak dari mana sih?" Kesal Dania.
"Mainlah." Jawab Denisa santai, mencoba baik-baik saja, nyatanya dia sangat gugup, dengan jantung yang bertalu, ini pembohongan terbesar selama hidupnya.
Dania menyipitkan matanya "Yakin? Sama kak Daniel? Kak Denisa teleponin aku terus sejak tadi Kak!"
"Terus kamu bilang apa sama kakak?" Denisa mengabaikan pertanyaan Dania yang ingin tahu, dia sedikit sensi pada kakak tertuanya, karena Delia selalu bisa mengalihkan perhatian orang-orang terdekat mereka, dulu ayahnya yang begitu menyayangi Delia, sekarang Daniel, laki-laki itu juga seperti menganggap Delia segalanya, sampai selama permainan itu terjadi, Daniel tak henti menyebut nama kakaknya.
"Aku bilang, Kakak keluar sama teman kuliah Kakak yang tinggal disini. Terus aku dimarahin sama kak Delia, karena nggak ikut Kakak pergi, jangan diulang lagi Kak pergi sendiri, kak Delia bisa marah besar."
"Iya-iya, udah yuk ahh kita tidur, udah malem, kamu jangan cerewet kayak mama, bawel terus dari tadi." Denisa menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut, dia menangis, baru menyesali kebodohannya, dia bisa menyembunyikan sakit dipangkal pahanya, tapi tak bisa menyembunyikan rasa penyesalan yang baru datang terlambat.
"Maafkan Denisa ayah, ma, kak Delia, Dania."
Dania, si bungsu, si cerewet, si bawel, si paling peka yang merasa paling memiliki ikatan batin dengan saudaranya tau, jika Denisa dibawah selimut sana sedang menangis, namun dia membiarkan itu, biarlah, nanti juga Denisa akan menceritakanya sendiri, jika saudaranya itu sudah siap.
Amanda, yang tidur dikamar tamu diatas tahu, jika Denisa baru pulang, namun dia membiarkan itu, dia tak ingin terlalu cerewet, dia akan melakukan pendekatan kepada adik-adik secara bertahap, agar mereka bisa dekat dan terbuka.
* * *
Suara telepon membuat Daniel terbangun, dia tersentak kaget, ia segera membuka mata, mengangkat panggilan itu.
"Daniel, diaman kamu?" Suara keras diseberang sana membuat Daniel menjauhkan ponsel dari telinganya.
Papa.
Degh, hari sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Daniel kamu dengar Papa?"
"Iya Pa."
"Baru sehari kamu masuk sekarang mau libur lagi?"
"Nanti Daniel masuk Pa."
"Ini sudah kam berapa, Papa tidak bisa mentorerir kamu lagi, banyak masalah yang kamu buat. Cepat datang, hari ada kunjungan dari kementerian, kamu jangan enak-enakan main sesuka kamu. Jika kamu tidak serius dalam bekerja, Papa nggak segan-segan penat kamu, dan ganti dengan yang lebih kompeten."
Daniel mendesah, bisa-bisanya dia bangun kesiangan, padahal dia juga sudah berencana, menata hatinya, mencoba melupakan Delia dengan menyibukkan diri bekerja, namun dia malah kembali membuat masalah. Namun Daniel terkejut saat menyadari doa tidak menggunakan sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, Daniel menyibak selimut, mencoba mencari jawaban atas kekhawatirannya, benar saja,Daniel langsung melemas, melihat noda merah yang ada disana, dia mengingat bahwa semalam dia bertemu dengan Denisa.
"Astaga Denisa," Daniel menarik rambutnya frustasi "Kamu menghancurkan hidup aku."
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, kalau suka ceritanya. Makasih yang udah dukung cerita ini. 😍🥰