
Malam dimana Abian habis menemui Attaya, dia langsung menuju bandara untuk menjemput Delia, Abian ingin memberi kejutan untuk wanita yang telah merebut hatinya itu.Tapi, saat telah sampai dibandara, dari kejauhan dia melihat Daniel menarik koper Delia untuk dibawa ke mobilnya. Sial, dia terlambat pikirnya, Abian memukul stir mobil kesal.
Saat Abian akan menghubungi Delia, hapenya kehabisan daya, Abian mendesah pasrah, ditambah dia tak membawa kabel pengisi baterai, lengkap sudah kesialan Abian, pasti tadi Delia menghubunginya. Abian memutuskan untuk mengikuti saja mobil Daniel dari jauh, ingin melihat apa yang akan laki-laki itu lakukan pada Delia. Saat mobil Daniel berhenti di restoran, Abian juga masih memantau dari jauh, sebab yang dilihatnya Daniel turun sendiri, dan tak lama Daniel keluar dengan membawa tentengan yang sudah dipastikan isinya makanan.
Abian terus mengikuti mobil Daniel yang ternyata langsung mengantarkan Delia ke apartemen, ada sedikit lega karena Daniel tak membawa Delia me tempat lain. Saat Daniel sudah pergi, Abian segera memakirkan mobilnya, dan segera membeli tissu basah di mini market yang terdapat di lobby apartemen itu. Langkah Abian cepat menyusul Delia, dan beruntung lift yang akan mengantar Delia kelantainya masih belum tertutup sempurna dan hanya ada Delia sendiri.
Tangan Abian segera menghalangi pintu itu agar dia bisa masuk berdua saja hanya Delia, Abian langsung menatap tak suka pada bungkusan makanan yang dibawa Delia dan memintanya untuk membuang makanan itu, tapi Delia membantah, gadis itu sering kali membantahnya.
Baru pada Delia saja Abian memiliki rasa tak suka yang berlebihan, jika ada laki-laki laij yang berani menyentuh wanitanya, semua yang Abian lakukan murni karena dia begitu menyayangi Delia. Abian mengelap koper dan tangan Delia dengan tissu basah, juga pada seragam Delia.
Abian tak mengerti, kenapa jika dia berdekatan dengan Delia, dia tak bisa menahan diri untuk tak merasakan bibir manis calon istrinya itu, apalagi ditambah dia yang sedang marah, sebab Delia tak pernah mau menolak jika Daniel mengantarnya pulang, padahal Abian sudah memperingatkan jika Daniel bukanlah laki-laki yang baik.
Namun tak Abian sangka, jika Delia menendang adik kesayanganya, senjata kebanggaan yang akan dia sombongkan pada Delia nanti jika sudah saatnya dia tunjukkan pada Delia. Sudah pasti Abian marah, bukan karena rasa sakitnya, rasa sakit itu tak seberapa, melainkan hal ini Delia lakukan setelah Delia di antar pulang oleh Daniel.
Selama ini Delia tak pernah menolak jika dia menciumnya, kecuali saat pertama kali, dan itupun menyebabkan dia terjerembab di kolam dan berakhir Abian yang masuk angin. Dan Delia malah berkilah jika semua yang Abian lakukan padanya, pasti dia lakukan juga pada Attaya, pintar sekali Delia memutar balikan fakta.
Kecewa, itulah yang Abian rasakan, dan dia memutuskan untuk membuat Delia merasa bersalah serta introspeksi diri jika yang dilakukannya sudah kelewatan.
Lebih baik dia pulang, walau sebenarnya dia ingin sekali malam-malam seperti ini makan mi instan rebus panas berdua dengan Delia, pasti sangat romantis, pikir Abian, namun semua itu harus pupus.
Puluhan panggilan dan pesan dari Delia pun ia abaikan, Abian ingin tahu, seberapa besar usaha Delia untuk meminta maaf padanya, selama mereka tahu jika mama Abian meminta Delia untuk dijodohkan dengannya, Abian lah yang selalu berusaha mendekati Delia, sedang Delia sendiri bersikap acuh, seperti tak menginginkan perjodohan ini.
Dan pagi itu, Abian dibuat tersenyum senang dengan Delia, wanita itu pagi-pagi sudah menunggunya di bandara demi bisa minta maaf padanya, dan yang tak Abian duga, Delia membawakan bekal untuknya, Abian menutupi rasa bahagia itu dengan kaca mata hitamnya, dan menyembunyikan senyum itu, dia tetap harus memasang wajah sebalnya.
Abian ingin sedikit memberi pelajaran pada Delia, tak semudah itu dia memaafkan kesalahan Delia. Abian pun pergi dengan sengaja menyenggol bahu Delia, agar gadis itu tahu, jika dia benar-benar marah, namun Abian menangkap suara laki-laki yang sangat dibencinya belakangan ini memanggil nama Delia, dan yang membuat Abian kesal, Daniel mengetahui jadwal Delia, ditambah lagi dengan mudahnya, Delia memberikan bekal buatnya pada laki-laki itu.
Rahang Abian mengeras, dia tak terima ini, Daniel bisa besar kepala jika menyangka bekal itu untuk dia, padahal bekal itu untuknya. Abian tak apa jika dia harus menjilat ludahnya lagi, yang penting Delia tak dekat dengan Daniel. Persetan dengan harga diri.
Abian cepat menghampiri Daniel dan Delia, dan mengambil tempat bekal itu dari tangan Daniel, membuat keduanya berjengit kaget.
"Sayang, ini tadi kamu bawa buat aku kan?" Abian merangkul pinggang Delia, dan mencium kening serta bibir Delia sekilas didepan Daniel.
"Bian!" Delia terbelalak heran dan kebingungan, sedang Daniel membuang muka tak suka. "Ini udah aku kasih_"
"Maaf sayang, aku tadi sedikit marah, yuk kita ke kantin, kamu tadi mau nyuapain aku makan kan?" Abian memotong ucapan Delia, "oh ya Daniel maaf ya, tadi kami hanya sedikit bertengkar, biasalah pasangan yang akan menikah ada saja cobaannya," ucap Abian, dia memandang wajah Daniel, ingin tahu reaksi laki-laki itu.
Daniel mendengus "Santai saja Abian, aku juga maklum, tapi hati-hati, sedikit masalah itu akan membuat pernikahan seseorang gagal," sengaja Daniel memancing Abian
Abian memasang wajah tak suka pada Daniel, lalu dia memutar tubuhnya dan Delia dengan tangannya masih berada di pinggang Delia, membuat Daniel tertawa mencibir, Abian sangat konyol mengambil sesuatu yang sudah ditangannya, baiklah, Daniel masih banyak seribu rencana untuk bisa terus bersama Delia.
Delia ingin melihat kebelakang, dia tak enak pada Daniel, namun Abian menahan kepalanya.
"Suapi aku," pinta Abian memaksa, saat mereka sudah berada di kantin bandara. Abian mendudukkan Delia di bangku besi bulat berwarna hitam, dan meletakkan tempat bekal diatas meja bulat didepan Delia. "Ini hukuman buat kamu, karena kamu sudah memberikan milik aku pada orang lain."
Delia menatap Abian, melipat tangannya di dada. "Bukannya kamu masih marah?"
"Iya, makanya suapin aku sekarang, Ini hukuman buat kamu, karena kamu sudah memberikan milik aku pada orang lain."
"Kamu kan nggak mau,"
"Delia-" Abian bingung harus mengatakan apa, Delia benar-benar tak peka padanya. "Sudahlah, jangan bikin aku tambah marah sama kamu, ingat, katamu banyak nyawa yang bergantung padaku, jadi nggak baik aku terbang dalam keadaan lapar dan mood tak baik."
"Katanya kenyang"
"Sekarang sudah lapar, aaaaa" Abian sudah membuka mulutnya.
Jika sudah begini Delia tak bisa menolak, dia gemas saat Abian manja seperti ini.
"Kamu nggak malu?, disini kan banyak yang kenal sama kamu." Delia mulai memasukkan mi goreng dengan potongan telur dadar ke dalam mulut Abian.
"Kenapa harus malu, mereka semua harus tau, kalau aku milik kamu, kamu milik aku, kamu bisa nggak sih jangan dekat sama kuda nil itu?," ucap Abian dengan mulut sambil mengunyah.
"Namanya Daniel Abian"
"Kasihan tau dia, udah ngambil bekal itu, kamu ambil begitu aja."
"Terus kamu nggak kasihan sama aku?" Abian menggeser bangkunya, menyenderkan kepalanya di bahu Delia.
"Nggak kamu kan tukang marah, Bian Ihh kamu tuh risih tau." Delia sedikit menggerakkan badanya agar Abian menjauhkan kepalanya, dia mulai tak enak, karena banyak yang melihat kearah mereka.
Bukannya menjauhkan kepalanya, Abian justru mendekatkan bibirnya pada leher Delia, mengecup leher putih jenjang Delia.
yt33ý
"Bian" bentak Delia tertahan "Mau aku tampar lagi?"
"Mau pake bibir kamu"
"Ihh makin nggak jelas, yaudah sana, nanti kamu telat"
"Delia"
"Hmmm"
"Anu aku abis kamu tendang agak aneh," ucap Abian masih dengan menyender di bahu Delia.
"Aneh gimana?"
"Entah, pulang nanti kamu harus liat,"
"Liat gimana?, Abian aku nggak mungkin lakuin itu"
"Ck, inikan semua gara-gara kamu," Abian menegakkan tubuhnya, dia berdiri, memakai topi pilotnya, lalu memakai kaca mata hitamnya. "Kamu harus tanggung jawab"
"Abian jangan bercanda!"
"Yuk, aku udah pesan taksi buat kamu, langsung pulang ya" Abian menggandeng tangan Delia menuju parkiran taksi, dia harus memastikan jika Delia masuk taksi, dan langsung pulang.
Setelah memastikan Delia sudah masuk taksi, Abian tidak langsung menuju ruang flops, melainkan dia menuju ruangan Daniel. Daniel menjabat sebagai Direktur Strategi Pengembangan, saat Abian masuk keruanganya, Daniel sedang sendiri menatap pada layar didepanya.
Daniel langsung mendongak saat pintu ruanganya di buka tanpa permisi. Daniel sudah membuka mulutnya ingin marah, namun saat tau jika itu Abian.
"Waww, suatu kehormatan buat aku seorang Captain Abian datang ke ruangan ku,"
Abian mendengus "Aku kasih tau sama kamu, jangan pernah dekati Delia lagi" Abian mencondongkan tubuhnya, meletakkan tangannya di meja kerja Daniel.
Daniel terlihat lebih santai menanggapi Abian "Delia belum sah menjadi milik siapa-siapa, jadi sah-sah saja dia dekat dengan siapapun,"
"Bedebbah, jangan main-main Daniel, Delia tak lama lagi akan sah menjadi milikku"
"Orang yang sudah resmi saja bisa berpisah, apalagi yang masih otewe," Daniel tertawa mengejek, memancing amarah Abian sangatlah mudah, dan Daniel selalu tau kelemahan Abian.
Benar saja, tangan kiri Abian sudah mencengkram kerah baju
Daniel dan tangan kanan yang sudah mengepal. Namun Abian masih bisa mengontrol, dia menghempaskan Daniel yang langsung terduduk di kursi kebesaranya.
"Jika kamu bermain-main, aku tak akan mengampuni Daniel, ingat itu," setelah mengatakan apa yang ingin dia sampaikan Abian langsung pergi, sejak lama dia sudah menahan untuk mengatakan pada Daniel agar tak mengganggu Delia.
.
.
.
Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir batin. Maaf ya jika banyak salah dan kata. 🙏🙏