Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Akhir Cerita Mengudara



Dan pagi ini, setelah kemarin Abian kembali mengizinkan untuk terbang lagi, Delia lupa akan tes yang seharusnya dia lakukan. Dia sibuk mempersiapkan semua keperluan dia dan Abian.


"Sayang, gimana penampilan aku udah rapi nggak?" Delia membalikkan badanya dari depan kaca meja rias, dia seperti terbang untuk pertama kalinya.


Abian yang sudah lengkap dan rapi dengan seragamnya mendekat seraya membawa dasi yang tinggal dipakaikan. Abian menarik pinggang Delia, mengecupi bibir yang nyaris bengkak akibat ulahnya semalam dan kemarin, yang tak ingin lepas sebab dua hari tak bertemu.


"Kamu selalu cantik, dan pagi ini amat sangat cantik," Abian melepaskan pelukanya ,memberikan dasi pada Delia, lalu dia berdiri tegak agar Delia bisa memasangkan dasi itu dilehernya.


Delia yang kini sudah terbiasa memasangkan dasi, tak mengalami kesulitan memasangkan dasi tersebut, hanya saja, dia kesulitan karena Abian terus menjahilinya karena mengecup pipi dan bibirnya terus.


"Bi, rese deh, nanti nggak selesai-selesai, kita bisa telat."


"Abisnya bibir kamu bikin candu."


"Terus deh, dari kemaren sampai semalam nggak puas-puas."


Abian terkekeh, menghapus lipstik Delia yang sedikit berantakan "Beneran sayang, andai aja aku nggak janji sama yang lain buat izinin kamu terbang untuk terakhir kalinya, aku milih libur dan ngabisin waktu sama kamu."


"Udah selesai," Delia mengusap dasi itu "kamu kok ganteng sih? Aku nggak rela deh kamu dilihatin sama cewek lain selain aku."


"Yaudah, kamu kurung aku dirumah terus juga nggak papa."


"Iya, kita nggak makan," keduanya tergelak "aku penasaran Bi, siapa yang mau ketemu sama aku?"


"Yang pasti dia orang yang istimewa."


"Hmmmm jadi penasaran."


* * *


Pagi ini mereka menuju bandara menggunakan mobil jemputan, Abian selalu menyender dibahu istrinya, tiba-tiba dia kembali merasa mual. Dan Delia baru teringat jika seharusnya dia tes pagi tadi, tapi firasatnya mengatakan jika dia tengah berbadan dua, hal itu diperkuat Abian yang seperti wanita ngidam saat hamil.


Namun, Delia masih menahan untuk tidak mengatakan pada Abian, dia ingin memastikan terlebih dahulu apakah dia benar hamil atau tidak?


Delia terus mengusap rambut Abian, dan mengecup kening suaminya. Saat sudah sampai dibandara, mereka sudah disambut oleh Dewi, Cecilia, Captain Ridwan, dan pasti mines Captain Rendy. Sebab laki-laki itu masih galau karena sudah lama tak berkomunikasi dengan istri dan anaknya.


"Cecilia! Bi, jadi maksud kamu orang yang mau ketemu aku Cecilia?" Abian mengangguk, menggenggam tangan Delia, keduanya berjalan bergandengan.


"Delia, ihh kangen deh sama kamu." Cecilia langsung memeluk Delia, membuat tautan tangannya dengan Abian terlepas.


"Aku juga Cil, kamu masuk kesini lagi?"


Cecilia mengangguk "Aku dengar kamu mau resign, jadi aku minta sama Captain Abian buat kasih kesempatan terbang bareng kamu." Cecilia kini menatap Abian "Makasih ya Capt, udah izinin Delia terbang lagi, walau hari ini hari perpisahan kita."


"Semua ini aku lakuin buat istri ku tercinta, aku yakin dia pasti senang."


Cecilia mendengus "Iya, iya Captain Abian yang bucin"


Dewi dan Captain Ridwan menghampiri mereka "Kami juga senang Delia, bisa terbang bareng kamu, walau untuk yang terakhir kalinya, kamu masih ingatkan, awal kamu terbang sama saya, jadi terbang untuk yang terakhir ini, sama saya lagi."


Delia tertawa "Iya Capt, pasti saya ingat, Captain Ridwan yang baik, ramah, bijaksana, membuat kesan pertama saya kerja menjadi nyaman dan menyenangkan, tidak seperti Captain disebelah saya ini, sombong, arrogant, dan pasti membuat saya dulu ingin cepat-cepat pensiun jadi pramugari." Delia melirik Abian disebelahnya, terlihat Abian kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal membuat semua yang mendengar tertawa.


"Emang kesan pertama aku buat kamu gitu ya?" tanyanya seperti tak bersalah.


"Tapi jodoh loh, sampe bikin iri pramugari lain." Ya, Dewi seringkali mendengar para crew lain yang menggosipkan pasangan ini, ada saja yang bilang,


'Pasangan sempurna, sayang nggak punya anak'


'Captain Abian sayang banget nikah sama Delia, coba kalau sama aku, udah pasti punya anak dua kali sekarang'


'Aku mau, jadi tempat pembuahan sementara Captain Abian, ikhlas banget malah'


Dan Dewi sudah menyingkirkan para wanita itu semua, amat sangat disayangkan, pramugari yang suka nyinyir itu merupakan anak baru.


"Eh Captain Rendy mana?" tanya Abian saat Rendy tak ikut bergabung dengan mereka "Kita akan makan pagi bersama dulu sebelum terbang, ada yang lihat Rendy?"


Abian yang paham dengan situasi Rendy langsung menghampiri temannya. "Kalian tunggu disini, makan saja dulu, ada yang ingin aku bicarakan sama Rendy."


Abian berjalan menuju tempat Rendy menyendiri, sesekali dia melihat Rendy menyeka matanya, entah apa yang terjadi? Namun Abian menebak jika temannya sedang dalam masalah berat.


"Ren," Abian menepuk pundak Rendy lalu menarik kursi besi bulat disebelahnya dan duduk, Abian sempat melihatlayar ponsel Rendy, laki-laki itu sedang melihat potret anaknya yang sedang tengkurap, "kita sudah mau on board, makan dulu yuk, bareng anak-anak yang lain."


"Capt, Voni sudah memasukkan surat cerai dipengadilan agama, sebentar lagi saya jomblo plus duda Capt," Rendy terlihat begitu sedih, airmatanya mengalir deras, Rendy seperti berada dititik terendahnya.


"Kamu sudah coba hubungi Voni? Ajak dia bicara dari hati ke hati, ini bukan salah kamu Ren."


"Sudah Capt, tapi Voni tak ada pilihan lain, dia tetap kekeh ingin berpisah, demi baktinya pada bapaknya."


"Masih ada mediasi, jadi masih ada kesempatan, manfaatkan kesempatan itu."


"Delia hari ini jadi datang Capt?" Tanyanya.


Abian terkekeh "Jadi donk, sempat-sempatnya ya menanyakan istri orang."


"Bukan begitu Capt, kita ini seperti saudara, jadi jika ada yang mau resign, kita harus melepas mereka suka cita, walau saya sedang galau, tapi saya tetap solid sesama teman."


Abian berdehem, "oke, yuk makan dulu, galau juga butuh tenaga kan?"


Dimeja makan, mereka berbicara apa saja, Delia menjadi topik pembicaraan, sebab ini hari terakhirnya bertugas.


"Kemarin aku ketemu pilot dari negara tetangga, dia lihat id card yang aku pakai, terus dia tanya, kenal nggak sama Delia Anggraini?" ucap Rendy seperti biasa, suka asal tanpa tahu kondisi "Namanya siapa ya?" Rendy nampak berpikir.


"Delon?" spontan Delia menjawab sebab terbawa suasana pembicaraan.


"Nah iya, ganteng ya Del, kebule-bulean. Tinggi, wang_"


Prangg


Cerita Rendy terhenti ketika mendengar sendok yang dibanding diatas piring, Abian geram dengan obrolan Rendy dan Delia yang seperti menganggapnya tak ada. Dan baik Rendy maupun Delia dibuat terkatup mulutnya, sebab merasa bersalah. Sedangkan yang lain hanya saling lirik, tapi dibawah meja, Cecilia menendang tulang kering Rendy.


"Bi, tadi_"


"Sudah waktunya kita keruang flops, kita sudah terlalu lama disini." Ucap Abian dingin, dia berdiri meninggalkan Delia yang merasa bersalah, namun seketika Abian kembali berbalik, dia merasa seperti kekanak-kanakan, itu hanya cerita masa lalu Delia, kini Delia telah seutuhnya miliknya. Abian tersadar dan tak enak pada Captain Ridwan yang usianya diatasnya.


"Sayang ayo, oh ya, bungkuskan aku acar nanasnya ya, buat makan setelah landing nanti." Abian bicara pada Delia dengan senyum dibuat setulus mungkin, membuat suasana kembali mencair.


Didalam ruang flops, setelah mengisi dokumen, Abian membaca prakiraan cuaca, sedang Delia bersalaman dengan crew yang lain berpamitan. Setelah semua personil lengkap, mereka masuk ke mobil yang akan membawanya ke pesawat.


Semua crew cabin disibukkan dengan tugas mereka masing-masing, Delia begitu menikmati hari terakhirnya sebagai pramugari. Hingga tak lama Abian bertepuk tangan meminta agar crewnya mendekat untuk melakukan breifing.


"Hai, selamat pagi semua, sebelumnya maaf ya Captain Ridwan, saya yang mengambil alih breifing hari ini," Abian menghormati Captain Ridwan, dan Captain Ridwan mengangguk menyetujui dan saling menghormati.


"Seperti biasa, apa semua ready?"


"Ready Capt," jawab crew secara serempak.


"Oke, saya harap tidak ada yang terlewat sedikitpun, karena kesalahan kecil dapat berakibat fatal untuk kita semua, kita akan melakukan penerbangan jarak dekat sebenarnya, namun hari ini kita akan mengalami sedikit kendala, dan akan mengalami turbulensi, dan kalian para bidadari-bidadari langit ku, tugas kalian membuat penumpang tenang saat guncangan itu terjadi. Okeh sampai disini paham?"


"Paham Capt." Lagi jawab crew serempak.


"Anggap saja hari ini kita liburan, personel kita lengkap, eh tapi minus Voni saja ya? Dan kita sedang reunian untuk teman kita yang hari ini merupakan tugas terakhirnya terbang, ya aku tak mau tak mengakui jika dia istriku," Abian terkekeh dan mendapat sorakan dari para crew, dan Delia tak dapat menahan rona merah dipipinya, malu.


"Sudahlah, kita langsung berdoa saja, semoga perjalanan kira lancar, tak ada kendala apapun. Berdoa mulai." Seketika suasana hening, para awak cabin menundukkan kepala berdoa.


Dan setelah melakukan doa, mereka kembali ke tugas mereka masing-masing, Abian duduk dibangku kendali, disusul Captain Ridwan yang duduk sebagai co pilot, Rendy masih berada di lorong penumpang, membantu pramugari mengatur penumpang, dan mencarikan tempat duduk penumpang yang telah ditentukan.


Saat semua penumpang sudah masuk, dan Rendy menegur penumpang yang masih menggunakan ponsel, dia menghubungi ruang pilot, jika mereka sudah siap untuk take off.


Delia ditugaskan untuk melakukan announcement, setelah tugasnya selesai, dia membagikan makanan pada penumpang, saat berada ditengah lorong, tak lama guncangan itu terasa, awalnya guncangan itu tak begitu terasa, hingga sampai dimana pesawat seperti kendaraan yang melewati bebatuan besar, dan tiba-tiba saja pesawat seperti menukik, membuat Delia dan yang lainnya terseret dan terbentur kursi penumpang.