Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Ujian Menahan Diri



Bibir yang masih bertaut, tubuh yang sudah sama-sama basah dan menempel, tak membuat keduanya merasa dingin, justru mereka merasakan suhu tubuh yang semakin naik. Kancing seragam Delia sudah terbuka sempurna, dan tangan Abian sudah berada di belakang siap untuk membuka pengait penutup dada itu, dan hanya sekali tarikan, pengait itu terlepas juga.


Sesaat mereka sama-sama menahan nafas dengan detak jantung yang saling bekejaran. Ciuman mereka terlepas, nafas keduanya terengah, meraup oksigen sebanyak mungkin seakan mereka tak akan kebagian lagi. Dengan kening yang masih saling menempel, Abian menurunkan pandanganya, ia melihat indahnya pemandangan yang ada dihadanya ini, Abian menelan ludahnya, ia tak mungkin bisa lagi menahan diri, pesawat tempurnya dibawah sana sudah sangat mengeras siap keluar dari sarangnya, dan akan mengeluarkan rudalnya.


"Aku mau sekarang Del," bisiknya parau. Abian mengusap pipi Delia yang basah, lalu tangan kananya bergerak melepaskan kemeja yang masih menggantung di lengan putih mulus Delia.


Delia diam, memejam mengahalau air yang terus menimpa kepalanya, rasanya dia sudah putus asa, dari pada orang lain yang melakukannya, lebih baik dia menyerahkan pada Abian. Delia tetap diam, membiarkan apa yang akan Abian lakukan selanjutnya, badanya meremang, satu persatu pakaiannya telah jatuh mengenai kakinya, kini bagian atas tubuh Delia sudah tak tertutup apa-apa lagi.


Abian mengusap wajahnya yang teus terkena air, matanya sudah berkabut, jantungnya berdetak tak normal, untuk pertama kalinya dia melihat bagian tubuh wanita yang tak tertutup apa-apa, dia tahu ini salah, tapi dihadapkan dengan tubuh semolek dan semenawan Delia, Abian tak bisa menahan diri, susah payah dia menelen ludahnya hingga jakunya naik turun.


"Jangan Abian," Delia menahan tangan Abian, dia malu, dia malu pada dirinya sendiri.


Seketika kesadaran Delia mengingatkan, ini tak benar, dia kembali menolak Abian, Delia tau ini tak adil untuk Abian, dia hanya diam saat orang tak dikenalnya menyentuhnya, tapi saat Abian, laki-laki baik yang berkali-kali memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya, dia kembali menolak, Delia berperang pada pikirannya sendiri.


"Kenapa?" tanya suara serak itu.


"Aku ini wanita kotor Bian, aku nggak layak buat kamu." Delia kembali terisak, dia menyilangkan tanganya didepan dada, sebisa mungkin menutup apa yang bisa ditutupnya, walau percuma, karena Abian juga sudah melihatnya.


"Kamu jangan seperti ini Delia, semua yang terjadi di luar kendali kamu, jangan menyalahkan diri sendiri." Abian meremas kedua pundak Delia, menatap Delia yang kini menunduk memejamkan mata.


"Seharusnya aku bisa melawan sebelum dia sentuh aku Bi, seharusnya aku bisa menghindar, tapi dia sudah sentuh aku, aku ini kotor Abian, aku kotor. Aku pramugari bodoh yang tidak bisa mengendalikan penumpangnya. Aku ini pramugari bodoh,"


"CUKUP DELIA," Abian memegang dagu Delia, mengangkat wajah Delia agar melihatnya "ini bukan salah kamu, jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu sudah melakukan yang terbaik, memang dasar pikirannya saja yang kotor, mau dihadapkan dengan wanita yang seperti apa juga, dia tetap akan melakukan itu. Aku sudah membalasnya untuk kamu Delia, dia akan mendapatkan hukumanya."


"Kamu nggak jijik sama aku Bi?"


Abian menggeleng "Bagaimana pun kamu, aku tetap sayang kamu Delia," Abian menarik tubuh Delia dalam dekapanya, sekuat tenaga Abian menahan diri, bukan saatnya dia melakukan ini pada Delia.


"Cepat selesaikan mandinya, kalau nggak? nanti aku yang mandiin kamu. Buang semua apapun yang kamu pakai hari ini, termasuk pakaian dalam kamu." Abian melepaskan pelukanya, dia cepat membalikkan badan agar tak melihat tubuh Delia lagi yang begitu menggoda, Abian mengambil handuk yang berada dilemari yang sudah dia siapkan.


Berlama-lama dengan Delia membuat Abian seolah menjadi setan yang bisa menghancurkan hidup gadis itu dalam sekejap, apalagi Delia yang baru saja mendapat perlakuan tak menyenangkan, ini sama saja dia dengan laki-laki brengsek itu.


Setelah makan malam dalam diam, kini Delia sudah terlelap, dia bahkan tidak bertanya sekarang dia berada dimana?. Sepertinya Delia sangat kelelahan.


Abian duduk disisi kiri Delia, melihat wajah tenang itu yang terlelap, Abian memasangkan sebuah cincin pada jari manis Delia tanpa sepengetahuan wanita itu, cincin yang bisa melindungi Delia dari laki-laki manapun. Termasuk itu Daniel.


Padahal ingin sekali Abian masuk kedalam selimut yang sama dengan Delia, melingkarkan tangannya, memeluk erat Delia dari belakang, tapi biarlah itu hanya angan untuk sementara. Abian mengambil selimut dari lemari, lalu dia mengambilkan bantal untuk dibawanya ke sofa depan, Abian memilih untuk tidur di sofa saja, walau dia rindu tidur seraya di usap-usap oleh Delia.


Ponsel Abian berdering, nama papanya muncul disana, Abian dengan cepat menjawab panggilan dari papanya.


"Iya, Pa."


"Kamu lagi dimana?" namun yang terdengar malah suara mamanya. Abian menggaruk telinganya karena terkejut.


"Awas ya kamu buat yang macam-macam sama Delia, Mama sunat lagi kamu."


Abian bergidik mendengar ancaman itu "Nggak Ma, Abian cuma nenangin Delia, Delia masih segel, utuh, nggak diapa-apain."


"Bagus, ini papa kamu mau ngomong," wanita itu menyerahkan ponsel suaminya. "Makasih ya Mama cantik," terdengar suara gombalan dari seberang, Abian memutar bola mata malas dengan tingkah orang tuanya.


"*Sama-sama Pa, nanti kita lanjut ya."


"Nanti Abian pengen Ma, jangan keras-keras ngomongnya, dia lagi sama anak gadis orang, bisa bahaya."


"Ngerokin Pa, emang papa pikir apa*?"


Papa Abian nyengir, lalu dia meletakkan ponsel di telinganya. "Abian."


"Iya."


"Papa sudah dapat kabar, jika laki-laki yang melecehkan Delia juga sedang dalam pengaruh obat, Papa rasa dia akan mendapatkan hukuman yang berat. Perusahaan sudah menunjuk pengacara untuk mengurus masalah ini, dan dari rekaman suara yang diambil Dewi, Delia tak perlu untuk bolak-balik ke pengadilan, keluarga laki-laki itu juga sudah datang, mereka tak menuntut balik, malah memasrahkan semuanya pada pihak berwajib."


Abian menarik nafas lega "Terima kasih Pa, Abian pikir masalah ini akan sedikit sulit, laki-laki itu seperti psyco, dia berbahaya."


"Iya, ingat. Sebagai lelaki kamu harus menjaga kepercayaan mama kamu, jangan mengecewakanya. Bawalah Delia kerumah jika dia sudah siap. Dan teruskan niat baik kamu yang ingin meminang Delia. Kenapa belum juga ada kemajuan, kamu terlalu lama bergerak."


Abian melongok pintu kamar Delia, memastikan aman jika dia sedang membicarakan wanita itu. "Delia masih ragu Pa, Abian harus bisa menyakinkan Delia dulu, Abian tak bisa memaksakan."


"Kamu benar, walau Delia kadang terlihat dewasa, tapi tetap umur tak bisa membohongi, Papa rasa Delia ingin mengeklpor pengalaman lebih banyak, kamu harus sabar, dan bisa menahan diri, tuntun dia. Menikah bukan hanya bisa melepas hasrat Abian, banyak faktor didalamnya. Pastikan semuanya telah siap, baik dari kamu ataupun Delia, jangan menikah karena terdesak, karena tekanan dari manapun, juga bukan karena emosional semata."


"Iya Pa."


"Kamu sudah mendapatkan restu dari Papa ataupun Mama, bukan berarti kamu bisa berbuat seenak kamu. Ingat saudara mu banyak perempuan."


"Iya Pa."


"Jangan iya-iya saja kamu sejak tadi, tapi harus dijalani."


"Baik, Pak komandan, siap laksanakan."


Papa Abian terkekeh diseberang sana "Papa izin buat bikin adik baru ya?, karena Papa rasa kamu dan Delia masih agak lama." Belum sempat Abian menjawab ucapan papanya, panggilan itu diputus secara sepihak begitu saja oleh papanya.


Abian meremas ponselnya, walau ucapan papanya bercandaan, tapi Abian tak bisa membayangkan jika itu terjadi, dia seakan sedang diuji berat, belum bisa menunjukkan kesaktian pesawat tempurnya, kini dia seperti diajak bersaing dengan papanya dalam menguji kesaktian rudal miliknya.