Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Tak Tik Abian



Tepat pukul delapan malam Abian sudah sampai dibandara, dan disaat bersamaan Delia juga sedang berjalan bersama para crew menuju parkiran taksi.


"Ayang udah jemput tuh," goda Cecilia menyenggol lengan Delia.


Delia melihat arah yang ditunjuk mata Cecilia, dilihatnya Abian berdiri di badan mobil, melambaikan tangan padanya. Malam itu Abian terlihat sangat tampan dimata Delia, hanya memakai kaos navy polos, dipadukan dengan celana jeans biru standar, Abian tak lupa memakai topi hitam dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


"Aku duluan ya Del, ayang aku juga udah jemput."


"Iya, hati-hati Cil," ucap Delia, hari ini mereka dijadwalkan terbang bersama.


"Udah dari tadi?" tanya Delia saat Abian mengambil koper ditangannya, memasukkannya ke dalam mobil belakang.


"Nggak, baru lima menit," Abian segera membukakan untuk Delia.


"Silahkan my wife" Abian tersenyum menggoda, mengedipkan matanya.


"Ih genit," Abian terkekeh kemudia menutup pintu mobil itu.


Setelah duduk dibalik setir, Abian segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota metropolitan, kebetulan ini malam minggu, rasanya Abian ingin bisa menghabiskan waktu hanya berdua dengan Delia.


"Jangan pulang ke apart ya?, kita nginep di hotel lagi?" tanya Abian di saat mereka sudah keluar dari area bandara.


"Kok ke hotel, Abian jangan bilang kamu mau menunjukkan itu kamu?"


"Itu apa, hemm?" goda Abian menaik turunkan alisnya.


"I-itu, ya itu kamu," Delia menggigit bibirnya, Delia jadi malu sendiri, membuat Abian terkekeh karena Delia terlihat menggemaskan.


"Aku cuma pengen abisin waktu berdua aja sama kamu Del, kita sekarang udah jarang ada jadwal terbang bareng, aku merasa susah sekali kalau mau ketemu kamu, mumpung sekarang kita bisa bolak-balik pulang ke ibu kota, kalau kita sampai nginep di luar kota kan, kapan aku bisa ketemu kamu?" Abian mengusak rambut Delia.


"Aku kayak cewek open beo sering nginep di hotel sama kamu, Bian,"


Abian menoleh, diambilnya tangan wanita yang ia cintai itu untuk dikecupnya. "Kamu ngerasa begitu?" tanya Abian, dan Delia menggeleng "Yaudah, jangan mikir yang macam-macam, ini hanya demi kedekatan hubungan kita," setelah mengecup tangan Delia, Abian meletakkan tangan itu di atas pahanya. "Mau makan diluar apa di hotel aja?"


"Di hotel aja deh, aku udah ngantuk." Abian mengangguk, dia terus mengusap lembut punggung tangan Delia, membuat Delia meremang, dia merasa merinding dengan apa yang selalu Abian lakukan padanya, sentuhan-sentuhan lembut Abian pada tubuhnya membuat Delia tak kuasa untuk menolak.


Saat sudah sampai dikamar hotel, Delia segera membersihkan tubuhnya, melakukan perawatan wajah malam, dan langsung menyantap makan malam yang telah Abian pesan.


"Sini duduk sini" perintah Abian menepuk sofa disebelahnya, saat Delia selesai membereskan peralatan makan mereka. Delia menurut dan mendekati Abian, namun saat dia melewati laki-laki itu Abian menarik tangan Delia, membuat Delia jatuh ke pangkuanya.


Abian langsung menahan pinggang Delia, dia meletakkan kepalanya di bahu wanita itu "Begini dulu Delia, aku kangen saat-saat begini," Abian mengeratkan pelukanya, memejamkan mata mersakan nyamanya.


"Setelah aku berkunjung kerumah kamu, dan terjadi kesalah pahaman itu, kita belum pernah membahas hubungan kita selanjutnya, aku ingin kita segera menikah Delia, aku juga sudah membuktikan bukan?, kalau aku tidak bersalah, jadi aku ingin kita segera meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, mama menanyakan kamu terus, dan aku juga sudah katakan padamu, kalau aku nggak mungkin bisa menahan diri untuk tidak menyentuh kamu Delia, aku laki-laki dewasa dan normal,"


Delia terdiam, mencerna setiap ungkapan hati Abian, sampai dia menarik nafas, dan mengutarakan keraguanya.


"Abian, awalnya aku merasa sangat bahagia, saat kamu meminta aku untuk menikah dengan mu malam itu, tanpa berpikir panjang lagi, tapi saat aku pulang, dan melihat keadaan keluarga ku, aku jadi ingat jika aku bisa seperti sekarang ini, karena ayah juga, aku bekerja disini masih terlalu awal, umurku juga masih sangat muda, aku ingin membantu ibu dan adik-adikku dulu, serta membahagiakan mereka. Aku takut jika suatu saat nanti aku menyesal dengan keputusan ku, aku ingin masa mudaku aku habiskan dengan hal-hal yang produktif, Bian."


Abian membuka mata dan menangkat kepalanya mendengar jawaban Delia yang panjang lebar, ditatapnya lamat-lamat wajah cantik Delia dari samping.


"Apa itu artinya kamu menolak ku Delia?, kamu tidak mencintai aku?"


"Bukan begitu, Bian_"


"Kamu tetap bisa membahagiakan keluarga kamu Delia saat sudah menikah dengan ku, aku akan bertanggung jawab atas hidup kamu, kamu masih bisa bekerja setelah kita menikah. Dan kamu bisa memberikan semua gaji mu pada mereka," potong Abian ucapan Delia, dia sangat tidak suka dengan jawaban Delia, apapun alasan gadis itu, disaat diluar sana banyak wanita yang mengantri ingin dinikahinya, Delia malah menolak keseriusanya.


Abian pikir Delia bisa berpikir lebih dewasa darinya, nyatanya Delia sama seperti abege lainnya, masih plin plan, disaat hanya ada sedikit kerikil yang diantara hubungan mereka.


"Pikirkan lagi sayang, tanyakan ini pada ibumu, aku siap menunggu jawaban kamu," akhirnya Abian mencoba mengerti keadaan Delia sekarang, ini hanya pengalihan Abian saja, agar dia dan Delia bisa selalu bersama, walau apapun nanti jawaban wanita itu, Abian akan tetap berusaha agar dia dan Delia segera bisa menikah.


Pandangan keduanya bertemu, Abian menyelipkan helaian rambut Delia ke belakang telinganya.


"Bolehkan aku cium kamu?" tanya Abian, yang membuat Delia membeku, lidahnya kelu untuk menjawab ia, Abian yang biasanya langsung saja menyerangnya, namun laki-laki itu kini malah meminta izin terlebih dahulu, tentu saja membuat Delia bingung. Apa karena kemarin membuat Abian harus izin dulu?.


"Bolehkan?" tanyanya ulang karena Delia hanya diam. Abian seperti bisa membaca pikiran Delia, karena diam itu artinya ia, maka Abian langsung menautkan bibir mereka.


Abian terus menekan tengkuk Delia untuk memperdalam ciumanya, dan Delia dengan senang hati untuk malam ini membalas ciuman itu, Abian tersenyum senang, disaat Delia juga mengalungkan tangan di lehernya, berarti Delia tak menolak ciumanya kali ini.


Tak tik Abian tidak salah untuk mengajak Delia menginap di hotel, nyatanya usahanya ini membuahkan hasil, dia yang begitu merindukan bibir manis Delia, kembali bisa ia rasakan malam ini, dan saat itu juga pengaruh setan sangat kuat, Abian berdoa, agar Delia malam ini terbuai dengan perlakuan lembutnya, hingga Delia mampu menyerahkan mahkotanya secara sadar tanpa pengaruh obat ataupun paksaan, dan membuat Delia mau tak mau harus menikah dengannya.


Abian tahu jika Delia sudah seperti kehilangan oksigen karena ciumanya, namun Abian tak ingin melepaskan barang sedikitpun bibir Delia, tapi dia juga tak ingin Delia mati karena kehabisan nafas, maka dia sedikit memberi jeda untuk Delia bernafas, lalu kembali dia meraup bibir merah muda itu.


Lama-lama suara lenguhan halus lolos begitu saja dari bibir Delia, yang terdengar seperti melodi yang merdu bagi Abian. Kali ini Abian akan membuat tangannya tak menganggur, disaat tangan kananya menahan tengkuk Delia, tangan kirinya ia beri tugas baru, yaitu menyelinap masuk kebelakang kaos Delia yang sudah dia beli sebelum kebandara tadi, membuka pengait bra Delia, seperti sudah terbiasa, dengan sekali tarikan pengait itu terlepas.


Perlahan tapi pasti, tangan itu berpindah ke depan, Abian meraba perut rata Delia membuat Delia seperti terserang aliran listrik tegangan tinggi, lalu tangan itu semakin naik, meraba tulang rusuk Delia tanpa melepaskan ciumanya, Abian penasaran, bagaimana rasanya jika tangannya bisa meremat benda kenyal yang selama ini belum pernah ia rasakan.