
Kota Zürich, Swiss.
Meski bukan merupakan ibu kota Swiss, namun Zürich mendapat julukan kota terbesar di Swiss, kota yang identik dengan perbankan keuangan ini dialiri sungai Lammat, sungai kecil yang berasal dari danau Zürich dan bermuara di sungai Aree. Kota ini juga termasuk kota dengan biaya hidup terminal didunia, namun memiliki kualitas hidup terbaik didunia. Kota yang memiliki keberuntungan karena salah satu kota yang tak tersentuh oleh dahsyatnya perang dunia kedua.
Keempat pasangan yang sedang berlibur bersama ini menghabiskan waktu mereka untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Zürich, memulai mengelilingi kota tua, mengunjungi toko cokelat terbesar yang ada di kota itu.
Mata Delia dan Voni berbinar saat melihat air mancur coklat setinggi sembilan meter yang menyambut kedatangan mereka, apalagi saat melihat banyaknya varian coklat, mereka berdua sampai kalap membeli berbagai jenis coklat yang ada di toko sekaligus museum coklat tersebut.
"Del aku mau coba yang ini." Voni berlari kecil saat melihat tumpukan coklat, dia seperti lupa jika dia sedang hamil muda.
"Hati-hati perut kamu Von." Ingatkan Delia.
"Hihihi aku lupa."
"Tapi kalau lagi main kuda-kudaan kamu selalu inget yank, aku disuruh pelan-pelan larinya." Protes Rendy yang berjalan dibelakang mereka.
"Ish kamu tuh, malu sama Captain Abian." Voni menyomot mulut Rendy gemas.
Mereka terus berkeliling mesuem itu, karena takut kelelahan, Rendy akhirnya menyewa kursi roda untuk Voni, walau keadaan Voni terlihat baik-baik saja, namun dikehamilanya yang masih di trimester pertama ini masih terbilang rawan.
Delia dan Voni juga mencoba membuat permen sendiri karena kebetulan saat jam mereka berkunjung, sedang ada kelas pembuatan coklat. Belum puas, mereka naik kelantai dua untuk menikmati sajian lezat menu dicafetaria yang disediakan mesuem coklat tersebut.
Dari belakang, Abian ikut tersenyum melihat kebahagiaan istrinya yang ia bawa kesini, mengajak serta Voni, membuat bulan madu mereka tidak terasa membosankan. Jika tidak, sudah Abian pastikan, dia akan mengurung Delia dikamar hotel, membuat istrinya agar cepat berbadan dua.
Setelah puas mengelilingi museum itu, dan mencoba kini mereka berpindah ke dermaga Schipfenya, untuk melintasi sungai Limmat, mereka menaiki kapal kecil untuk bisa menikmati keindahan kota Zürich melalui wisata air.
"Kamu senang sayang?" Abian mengecup rambut Delia.
Delia yang menyandar di bahu suaminya mendongak "Seneng donk Bi, apalagi jalan sama kamu." Delia mengeratkan gamitan tangannya, berpindah menatap Voni dan Rendy yang duduk berseberangan dengan mereka, Rendy sedang mencium perut Voni yang sudah terlihat menonjol "Dan juga mereka."
Abian ikut melihat arah istrinya "Habis ini mau kemana lagi?"
"Nggak tau, aku kasihan sama Voni, takut dia kecapean. Selama dua tahun menjadi pramugari, aku belum pernah dapat jadwal ke Swiss Bi, aku pengen kebukit Uetliberg. Melihat kota Zürich dari ketinggian."
"Kita bisa kesana."
"Voni?"
"Kita bisa naik kereta, atau biarkan mereka naik kereta, kita bisa berjalan sekalian hiking."
"Boleh."
Dan Akhirnya Abian dan Delia berjalan untuk menaiki bukit Uetliberg itu, sedang Rendy dan Voni naik kereta. Disaat sudah setengah perjalanan, Delia merasa kelelahan. Dia harus istirahat dulu, tak pernah olahraga membuatnya gampang kelelahan. Abian bersimpuh didepan Delia, menyuruh istrinya untuk naik ke punggungnya.
"Nanti berat Bi."
"Udah ayo naik, kamu belum setengahnya dari beban hidupku jika sedang bersama Rendy." Delia tertawa menepuk punggung suaminya. Dan Abian menarik tangannya untuk dia segera naik.
Rasa lelah seketika terbayar sudah ketika mereka sampai di atas bukit, dari sini mereka melihat panorama keindahan alam kota Zürich dan danau Zürich terbentang bak lukisan.
Delia tentunya tak akan menyia-nyiakan waktu liburan mereka, dia mengambil banyak foto untuk dijadikan kenang-kenangan mereka kelak.
Delia merentangkan tangan, begitu menikmati liburanya "Biiiii, indah banget." Delia begitu kagum dengan tata letak kota Zürich yang begitu teratur. "Nanti aku mau bawa mama kesini."
"Bi, kenapa kamu jadi suka sama aku?" Pertanyaan yang sangat ingin Delia tahu jawabannya.
Abian mengecup leher Delia sebelum menjawab "Entahlah, mungkin karena kamu tidak profesional jadi pramugari."
"Ish Bi." Abian terkekeh.
"Nggak ada alasan buat aku suka sama kamu Delia, untuk sekarang, kamu segalanya buat aku. Maaf jika sebagai laki-laki aku tidak bisa merangkai kata indah untuk bisa mengungkapkan isi hati ku, walau sebenarnya itu perlu dalam setiap pasangan. Tapi aku hanya ingin membuktikan, kalau aku akan berusaha membahagiakan kamu, dan keluarga mu selama hidup aku."
Delia terenyuh atas jawaban Abian yang juga ingin membahagiakan keluarganya, seketika dia menjadi melow, dan jadi teringat pada ayahnya.
Abian memejamkan mata, menikmati kenyamanannya "Terima kasih sudah bersedia menerima aku tanpa syarat Delia, aku yang begitu banyak kekurangan dan kesalahan selama kamu mengenal aku. Kedekatan kita berbeda dari yang lain, kamu menerima segala sikap egois ku. Aku beruntung bisa mendapatkan kamu, dibalik begitu banyak laki-laki yang ingin memiliki kamu, namun takdir dengan mudah menyatukan kita. Padahal bisa saja takdir mempersulit keadaan karena keegoisanku, tapi, ya, untuk apa dipersulit jika akhirnya bisa bersatu. Artinya aku harus bersyukur dengan segala kemudahan yang aku dapat. Proses hidup orang 'kan berbeda-beda. Ada yang sulit, dan ada yang mudah."
Delia mengharu, matanya sudah memanas karena ucapan Abian, baru kali ini dia mendengar ungkapan hati suaminya sedikit panjang.
"Bi, kamu nggak cocok manis begini, kamu lagi nggak kesambet jin penghuni bukit disini kan?"
Abian gemas dengan yang dikatakan Delia, padahal dia sedang menikmati momen ini, namun Delia mengacaukanya. "Kamu mengacaukan suasana hatiku sayang." Abian menggigit leher Delia, lalu menghisapnya kuat.
"Bi, nanti berbekas, kamu gila." Delia menarik lehernya, Abian tertawa, dan mengeratkan lingkaran tangannya diperut istrinya yang memberontak minta dilepaskan.
Tak lama datang Rendy dan Voni yang datang untuk mengajak camping, dan mereka camping disana hingga sore. Saat turun dari bukit dan akan kembali ke hotel, mereka menggunakan kereta, sebab Abian maupun Delia sudah tak kuat untuk menuruni jalur hiking itu. Sialnya saat didalam kereta, Rendy kelepasan buang angin, hingga membuat seisi kereta mual, karena bau yang dihasilkan dari gas yang dikeluar Rendy, merupakan kotoran beberapa hari yang tidak bisa keluar, ditambah Rendy habis makan semur jengkol yang dibawakan Voni dari tanah air.
"Setan emang Rendy, Astaga ini satu gerbong bisa mati karena menghirup gas beracun Rendy." Maki Abian. "PAK MASINIS, BUKA PINTU KERETANYA, BIAR AKU TENDANG SETAN GUNUNG KAWI INI DARI SINI, BIAR DIA KELINDAS KERETA." Yang mendapat perhatian banyak orang, heranya, para penumpang kereta yang lain, tak merasa terganggu dengan bau tak sedap ini.
Delia sudah tidak bisa membuka mulut, rasanya isi perutnya bergejolak minta dikeluarkan
"Mungkin ini setan atau sejenis dedemit yang ada ditubuh aku keluar sobat, mereka nggak mau pulang ke gunung kawi, betah mereka tinggal di Swiss." Seloroh Rendy dengan tawa tanpa berdosa, tidak memikirkan nasib istrinya yang sedang mengandung buah hatinya, sedang mati-matian menahan agar tak menembak isi perutnya saat ini juga.
Dalam hati Delia, Voni begitu kuat, mungkin jika dia yang sedang hamil dia akan mati saat ini juga.
* * *
Jika Delia, Abian, Voni dan Rendy sedang menikmati liburanya, berbanding terbalik dengan Denisa, dia yang diajak jalan-jalan ke puncak oleh orang tua Abian, beserta kakak-kakak dan juga keponakan Abian, tidak bisa sama sekali menikmati liburanya, gadis cantik itu lebih banyak diam, melihat begitu baiknya keluarga suami kakaknya pada mereka, membuatnya menyesali tindakan cerobohnya, karena begitu mudah memberikan apa yang seharusnya tidak ia berikan pada laki-laki yang bukan menjadi pasangannya.
Seketika air mata Denisa lolos begitu saja membasahi pipinya, saat melihat tingkah lucu Arsyi dan Almira yang sedang asik bermain diwahana yang ada dihotel tempat mereka menginap. Denisa meremas perutnya, apakah nanti akan ada tumbuh benih Daniel dalam perutnya? Akankah dia membiarkan benih itu tumbuh atau malah dia akan membuangnnya? Seketika Denisa tak tega jika harus membuang sesuatu yang telah tumbuh akibat kesalahannya sendiri.
Hal itu tak luput dari perhatian Amanda dan Dania.
Dania menghampiri Denisa, ikut duduk melipat kedua lututnya didepan. "Kakak kenapa jadi banyak bengong?" Denisa segera menghapus air matanya. "Kakak ditolak Kak Daniel ya?"
"Anak kecil mau tau aja."
"Kita tuh lagi liburan, jadi Kakak nggak usah banyak bengong, nggak enak sama keluarga kak Abian, yuk kita berenang aja." Dania berdiri, dan menarik tangan Denisa.
Mau tak mau Denisa mengikuti ajakan adiknya, karena dia juga tak mau Dania jadi curiga padanya. Kemudian Dania memanggil Almira dan Arsyi untuk ikut berenang bersama.
Sedang Daniel tak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya, dia terlihat begitu sangat kacau, padahal dia sedang dikejar-kejar banyak laporan yang menggunung, sebab akan ada kunjungan dari pihak pemerintah.
Dia tak bisa membayangkan jika Denisa hamil anaknya, apa tanggapan Delia nanti? Apalagi Abian. Daniel tak bisa membayangkan itu.