Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Hal yang tidak terduga.



Cecilia bukan tak tahu jika Daniel menyukai Delia, dulu dia pernah mengira jika Daniel dan Delia memiliki hubungan khusus dan dia sempat menjuluki keduanya double D. Namun seiring merebaknya goha (gosip halim), Cecilia baru tahu, jika Delia dan Abian berpacaran.


Dan mengajak Daniel ke apartemen Delia, bukannya dia untuk mendekatkan Delia pada Daniel, melainkan dia yang ingin menunjukkan pada laki-laki itu, jika Abian dan Delia sudah sangat dekat, tak bisa terpisahkan lagi. Sekaligus dia ingin tebar-tebar pesona pada Daniel, laki-laki yang memiliki jabatan penting di Airlanngga Airlines.


Konon katanya, jika orang yang sedang patah hati, akan cepat sembuh jika kita mencari pengganti yang baru. Ini yang sedang Cecilia lakukan, dia tak memikirkan akibat yang ditimbulkan dari usahanya ini.


Kini mereka sedang mengantri diloket pembelian tiket.


"Mau nonton film apa?" Daniel menoleh pada Delia yang berdiri dibelakangnya.


"Aku ikut Cecilia aja. Dia yang lagi galau." Delia menoleh pada Cecilia yang berdiri disampingnya, seraya tersenyum mengejek.


Cecilia mendorong bahu Delia "Apa sih Del," dia bersemu malu, kemudian melirik Daniel "Aku ikut Pak Daniel aja, horor, romantis, action, aku suka semua, apalagi kalau dibawa ke KUA, aku juga suka," Cecilia nyengir dengan gombalanya sendiri.


"Apa si!" Daniel berdecak tak suka "Saya suka film yang Delia suka, kamu yang pilih ya Del?" pinta Daniel.


"Mmm film action aja kalo gitu, nggak mungkin kan film romance, kan ada yang lagi patah hati." Delia terkekeh pada Cecilia. "Kalo berdebat mau nonton apa, yang ada nanti nggak selesai-selesai."


Wajah Daniel terlihat kecewa dengan film pilihan Delia, dia berharap Delia memilih film horor atau romance. Film action, rak ada serunya, gerutu Daniel dalam hati, tak ada adegan yang bikin baper, atau adegan yang membuat Delia takut.


Delia mengambil jalan tengah, jika acara menonton ini bersama Abian, dia pasti akan memilih film horor, Delia penasaran, sehoror apa jika dia menonton dengan laki-laki yang selalu mesum dengannya itu?. Dalam otak Delia muncul ide, suatu saat dia akan mengatur jadwal untuk nonton berdua, apa Abian berani atau takut?.


Beruntung film yang dipilih Delia sebentar lagi akan tayang, jadi mereka tak perlu menunggu lama, setelah cukup membeli camilan dan minuman, mereka segera masuk kedalam ruang bioskop.


Film bergenre action itu jarang diminati, jika memang belum terkenal, jadi kursi penonton cukup lengang, Delia memilih kursi tengah, Daniel yang merupakan laki-laki satu-satunya diantara mereka, memilih duduk diantara Delia dan Cecilia.


Sepanjang menonton, Daniel mencuri-curi pandang dan kesempatan untuk bisa memegang tangan Delia, dia sama sekali tak menyimak film yang mereka tonton, matanya sibuk melirik Delia yang fokus pada ponselnya.


Wajah Delia yang terpantul cahaya hape, terlihat sangat cantik, tampilan sederhana tanpa make up, membuat Delia terlihat semakin cantik.


"Kamu hubungi siapa?" tanya Daniel.


"Abian, hapenya nggak aktif, mungkin dia lagi terbang. Aku belum izin keluar, dia pesan hari ini aku nggak boleh keluar. Aku takut dia marah."


"Nggak perlu takut," Daniel mengusap tangan Delia yang berada di sandaran pembatas kursi. "Katakan saja, kamu pergi bersama teman, apa dia akan marah?, jika dia benar-benar sayang sama kamu, dia tidak akan marah, Delia. Kita hanya teman, aku yang akan bertanggungjawab." Hibur Daniel, walau dalam benaknya berharap Abian marah, dan membuat hubungan mereka akan renggang.


"Walau kalian sudah bertunangan atau apalah yang terjadi diantara kalian, Abian tak berhak terlalu mengatur hidup kamu, kamu juga berhak atas kebebasan untuk kamu sendiri, nikmati masa lajang kamu, sebelum janur kuning melengkung,"capnya lagi. "Dan aku akan berusaha sebelum janur kuning itu berkibar," gumam Daniel dalam hati.


Delia mengulas senyum, dia menarik tangannya yang kini digenggam Daniel.


"Ehh, sorry, Delia."


"Ya ampun, film luar tuh nggak pernah gagal emang ya?, tapi mereka tuh sadar nggak sih?, kalau mereka ngajarin gimana cara jadi penjahat?, tuh lihat, itu tutorialnya ditunjukin secara mendetail. Gimana nggak makin banyak pencuri coba?," Cecilia mulai mengomentari film yang dia tonton, seperti emak-emak yang berisik setiap nonton sinetron kesukaan mereka.


"Ember," jawab Delia.


"Ssstt Cill, kecilin suara kamu, ini di bioskop bukan dirumah. Lihat, orang-orang pada ngeliat arah kita" Daniel meletakkan jari telunjuknya di bibir, kesal pada Cecilia.


"Hehehe iya Pak Daniel, maaf." Cecilia menunduk malu saat ia lihat orang-orang menatap kearah mereka.


"Kamu bakal jatuh cinta nggak sih Del, kalau pencurinya ganteng begitu?" tanyanya berbisik, agar tak mengganggu penonton lain. Dia memajukan duduknya agar bisa melihat Delia yang terhalang Daniel "Mirip Pak Daniel." Cecilia melirik Daniel.


Daniel yang dipuji hanya memutar bola mata kesal, jika saja yang memujinya Delia, dia pasti senang.


Delia yang mendengar pujian Cecilia pada Daniel tertawa "Aku nggak tau, kalau pencurinya Abian, aku pasti jatuh cinta, karena dia sudah mencuri hatiku," Delia mencium cincin yang ada di jari manisnya, membuat hati Daniel berdenyut ngilu.


"Cihhh, yang lagi jatuh cinta. Tapi emang sikap Captain Abian sweat sih, bikin cewek klepek-klepek. Dia nggak ngapa-ngapain aja bikin para cewek-cewek belingsatan."


Cecilia memiringkan tubuhnya dan mencondongkan kearahah Delia, membuat jarak diantara dia dan Daniel begitu dekat, hingga Daniel refleks mamundurkan badanya dan menahan nafas.


Hingga film berakhir, suasana menonton itu sangat membosankan untuk Daniel, karena didominasi oleh celotehan Cecilia, tapi tidak untuk kedua wanita itu.


Daniel mengajak Delia untuk makan terlebih dahulu, tapi Delia menolak, hari sudah menunjukkan hampir jam tiga sore, Delia berharap bisa sampai apartemen lebih cepat, karena dia harus bersiap sebelum Abian pulang.


"Kamu jangan terlalu menyiksa kebebasan kamu Delia, nikmati hari libur mu, Abian pasti akan mengerti."


Daniel menghela nafas, dia kalah dalam hal ini, dan akhirnya menurut, sebenarnya dia ingin mengulur waktu, agar bisa agak lama bersama Delia.


"Aku jadi merasa bersalah Del, harusnya aku nggak ajak kamu keluar." Sesal Cecilia yang baru menyadari kesalahannya.


"Santai aja Del,"


Saat keluar dari studio, mereka berpapasan dengan Attaya, dia baru selesai, dari acara gala premier dari film yang diperankanya, walau dia bukan pemeran utama dari film tersebut.


"Hai Daniel," sapa Attaya "Wow, i did'n think we'd meet here," (tak disangka kita bertemu disini). "Aku pikir kamu pengusaha yang sibuk, nggak akan ada waktu buat menonton," Attaya melirik Delia sekilas "Ahhh, i see, i support your efforts," (aku tahu, aku dukung usahamu), dia mengedipkan mata pada Daniel.


"And you" tunjuknya pada Delia "Bukannya kamu habis dapat pelecehan bukan?, aku pikir kamu bakal malu, dan akan mengurung diri, ternyata_"


"Ternyata apa?, aku nggak punya malu?, apa ada masalah?" potong Delia, "Tak ada undang-undang yang menuliskan kalau orang yang habis mendapatkan pelecehan dilarang keluar."


"Kamu yakin Abian nggak akan marah, kalau tahu kamu ternyata jalan sama laki-laki lain, saat dia sedang kerja?, pasti kamu dianggap selingkuh."


"Jaga ucapan kamu Attaya, aku dan Delia hanya berteman, dan kami tidak hanya jalan berdua. Ada Cecilia juga."


"Iya, kami jalan bertiga, lagian Pak Daniel juga tahu, jika Captain Abian dan Delia sudah bertunangan." Cecilia mengangkat tangan Delia, menunjukkan jari Delia yang sudah tersemat cincin di jari manisnya "Kamu pasti iri, karena selama pacaran sama Captain Abian tak diperlakukan spesial seperti Delia," sambung Cecilia, sebab dia juga ikut bertanggung jawab atas Delia.


"Oh ya?" Attaya mengangkat sebelah alisnya tak percaya "Daniel dan dia berteman?, apakah sepolos itu kalian, tak bisa membedakan antara teman, atau teman?" Attaya mengangkat dan menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya, "teman dalam tanda kutip," Ucapnya sebelum pergi berlalu meninggalkan Delia, Cecilia dan Daniel.


"Pak Daniel pacar saya," ucap Cecilia, membuat langkah Attaya terhenti, dan kembali menoleh kebelakang.


"Of to you, kita buktikan, semarah apa Abian nanti, jika aku kirimkan foto ini." Attaya menunjukkan foto saat Daniel menggenggam tangan Delia dari handponya, membuat ketiganya terbelalak.


Dan lagi, Attaya salah dalam menilai Delia, dia kira Delia takut, namun justru Delia maju menghampirinya.


"Lakukan, jika kamu mau berakhir di dalam hotel prodeo dan menginap disana selamanya, karena sudah membuat tiga anak menjadi yatim, dan membuat seorang wanita menjadi janda," ucap Delia tegas, dan setengah berbisik, agar tak didengar orang lain, dengan tatapan tajam "Aku pikir kamu akan merasa bersalah dan bertobat saat kami tidak menuntut dan melepaskan mu begitu saja, ternyata aku salah."


Delia hendak mengambil ponsel Attaya, tapi wanita itu langsung menarik, dan menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya.


"Harusnya Abian juga sudah melaporkan itu, tapi kenapa dia tidak melakukannya?, karena dia masih sayang sama aku, dan kamu hanya dijadikan pelarian." Attaya mendengus, dengan sebelah bibirnya yang terangkat.


"Dia akan melaporkannya, jika sudah mendapat izin dari keluarga ku. Tapi aku yakin, kamu pasti akan menaggung akibat dari perbuatan mu sendiri, maka berhati-hatilah dalam bertindak."


"Jangan mengancam ku, aku tahu dunia pramugari juga tak sesuci yang orang kira, bukan rahasia umum, jika pramugari banyak yang menjadi simpanan, dan aku tahu kamu dan Abian sering check in di hotel," Attaya memajukan tubuhnya menantang, tubuhnya dan Delia sama-sama tinggi, hingga wajah mereka saling berhadapan.


"Satu yang tak kamu ketahui, Abian tak pernah menyentuh aku sedikit pun, dia bilang karena dia sangat menghargai aku sebagai wanita, tapi ..." Attaya memperhatikan penampilan Delia dari bawah hingga atas "Jika Abian melakukan itu padamu, aku yakin, kamu hanya dijadikan pemuasnya saja." Attaya tersenyum licik.


Delia hampir saja terpancing dengan ucapan Attaya, namun dia menahan itu, sebisa mungkin dia menyembunyikanya dari Attaya, gengsi sekali rasanya jika dia sampai emosi.


"Kamu lupa cincin ini, kami sebentar lagi akan menikah. Walau begitu, kami tak pernah melewati batas."


Kini justru Attaya yang terpancing, dia yang berjuang mati-matian untuk dinikahi Abian, tapi tak sedikitpun ada usaha Abian untuk segera membawanya ke pelaminan.


Sial.


.


.


.


.


.


Maaf upnya telat, tapi tetap jangan lupa tinggalkan jejaknya, yang masih punya tiket vote nya, boleh disumbangkan hehehe, karena insyaallah, diakhir cerita ini othor mau berbagi rejeki, sebuah tas sederhana yang mungkin bermanfaat, untuk pendukung dari nomor satu sampai tiga.