
Jika sebuah musibah bisa mendatangkan keberuntungan, apa yang akan kalian pilih? Menerima cobaan hidup, lalu mendapat musibah, kemudian mendapat keberuntungan dari musibah tersebut. Atau ... ingin hidup yang lurus-lurus saja tanpa hambatan?
Sebenarnya, mau hidup biasa-biasa saja, ataupun hidup yang penuh lika-liku, itu tergantung bagaimana kita menyikapi setiap masalah yang datang. Terkadang, kita merasa hidup kita paling berat mendapat cobaan, namun, saat kita tahu cerita hidup orang lain, ternyata ada yang lebih berat jalan hidupnya.
Voni berkaca-kaca membaca berita mengenai pesawat Airlanngga Airlines yang selamat dari maut, ini merupakan peringkatan untuknya, jika Rendy memiliki kesempatan hidup kedua, berarti, dia juga punya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya.
Teringat lagi, perjuangan Rendy untuk mendapatkan hati papanya, mereka sampai melakukan jalan pintas agar mendapat restu. Voni tahu itu salah, tapi Rendy sat set sat set, tak mau tertikung lagi, makanya dia melakukan itu, memang terdengar lucu, tapi Rendy sudah membuktikan ketulusan cintanya, walaupun suaminya itu terkadang selengean dan tidak serius dalam berucap, tapi Rendy adalah laki-laki yang bertanggung jawab.
Voni menyesali keputusanya yang menuruti apa kata papanya, entah apa salah Rendy pada papanya, sehingga sang papa berlaku dzalim terhadap suaminya.
Sambil mengusap airmatanya, Voni mengemasi pakaiannya dan anaknya kedalam koper.
"Kamu mau kemana Von?" Papa Voni terkesiap melihat Voni memasukkan pakaiannya kedalam koper.
Voni terkejut, dia lupa menutup pintu kamar saking terburu-burunya, Voni memutar tubuh untuk melihat Papa yang berdiri diambang pintu.
"Pa, maaf Voni harus kembali sama Rendy, Rendy nggak salah apa-apa Pa, dia udah berusaha melakukan yang terbaik untuk Voni, dan juga keluarga kita."
"Kamu mau jadi anak durhaka hah? Silahkan kamu keluar dari rumah ini. Tapi jangan anggap Papa orang tua kamu lagi."
"Pa, cukup! Apa salah Rendy? Kenapa Papa menghukum dia kayak gini? Dia udah menuruti yang Papa mau, beliin sawah, memenuhi kebutuhan Voni. Apalagi yang kurang?" Ujar Voni menghapus airmata dengan punggung tangannya.
"Memang sudah semestinya dia memenuhi kebutuhan kamu. Papa tidak suka punya menantu pilot, dia suka selingkuh, makanya Papa meminta ini itu, biar kamu nggak rugi, jadi wanita itu harus cerdas, sebelum laki-laki itu melakukan kejahatannya, Papa minta kamu meninggal dia. Seharusnya kamu berterima kasih sama Papa, Papa sudah menyelamatkanmu dari kesakitan Von."
"Astaga Pa, mau pilot, penguasa, petani, pedagang, pengangguran sekalipun, kalau dia mau selingkuh, selingkuh aja. Nggak semua pilot kayak gitu."
"Papa nggak percaya, lagi pula, banyak gosip seperti itu, lagipula, punya suami pilot itu risikonya tinggi, kamu nggak tahu? Barusan ada kabar pesawat yang hilang, kamu mau menjadi janda usia muda?"
Voni menggeleng "Voni nggak ngerti sama jalan pikiran Papa. Pa semua orang itu bakal mati, nggak mandang profesi, kenapa pikiran Papa jadi kolot begini? Dan yang di dalam pesawat itu ada Rendy Pa, dia selamat dari maut, itu artinya apa? Tuhan nunjukin ke Voni, kalau masih punya kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kami lagi."
"Ada apa sih ribut-ribut? Ya Tuhan, Pa, Voni, malu didengar tetangga," Mama Voni yang mendengar keributan anak dan suaminya dari dapur, langsung datang menghampiri keduanya.
"Lihat anak kamu ini, dia mau nyusulin suaminya lagi. Padahal kita sudah memasukkan surat ke pengadilan."
Mama Voni menghela nafas, "Pa, biarlah Voni menyusul suaminya, Papa itu nggak takut Tuhan apa? Nyuruh anaknya pisah, padahal anaknya nggak ada masalah? Sama aja Papa itu menghancurkan satu rumah Allah jika minta anaknya pisah. Kecuali emang Rendy sudah ketahuan selingkuh, sekarang nohh, Papa lihat, anak yang mau Papa jodohkan sama Voni digrebek warga lagi ina inu sama perempuan lain. Tuhan udah nunjukin keburukanya sebelum cerai itu terjadi."
"Apa Ma? Kamu salah berita pasti."
"Terserah Papa, Papa tuh takut punya mantu jauh, pilot, takut anaknya diselingkuhi, takut nggak bisa mantau menuntunnya, tapi belum apa-apa udah kecolongan."
"Nggak mungkin Ma?" Papa Voni masih belum percaya, "dia itu udah tau kalau mau dijodohin sama Voni,"
"Beritanya masih anget Pa, rumahnya masih rame, anaknya juga mau diarak, Papa lihat sendiri sana, biar tau."
Papa Voni langsung bergegas keluar, memastikan berita yang dibawa istrinya benar atau tidak.
"Kamu beresin saja pakaian kamu, maaf Mama sudah sempat mendukung Papa kamu buat pisah sama Rendy. Kamu jangan salah paham ya Von, kamu anak satu-satunya, jadi wajar jika Papa berusaha melindungi kamu." Mama Voni mengusap lengan putrinya.
"Iya Ma, Voni paham, tapi Rendy laki-laki baik kok." Mama Voni mengangguk, menghampiri cucunya yang sedang memasukkan jempol kedalam mulutnya.
"Nenek pasti kangen sama cucu Nenek yang paling cantik ini." Diciuminya gemaspipi bayi itu yang mulai berisi.
"Dijual aja kalau engga Ma, sawah sama rumah disini, ikut Voni pindah, jadi ada yang jagain anak Voni, soalnya Voni mau kerja lagi, kasian Rendy kerja sendiri, kami baru ambil kreditan rumah sama mobil."
"Nanti Mama omongin sama Papa dulu ya! Semoga Papa mau, salam untuk Rendy, nanti Mama ajak Papa kerumah kamu, untuk minta maaf secara langsung."
"Iya, Ma Voni mau langsung pulang sekarang, Rendy baru aja selamat dari maut pesawat yang hilang Ma, Voni mau kasih kejutan buat dia, kalau kita nggak jadi pisah."
* * *
Kabar tentang selamatnya pesawat yang dibawa Abian sudah tersebar diseluruh portal berita online, Arumi dan Arini tak dapat membendung rasa bahagianya. Amanda yang baru selesai membuat kue lapis serta berbagai macam rujak dan asinan untuk Abian memeriksa ponselnya. Digrup arisan, dan grup lainnya sudah ramai membahas tentang hilangnya pesawat yang dikendalikan anaknya, dia terus menscroll kebawah pesan yang sudah mencapai ratusan chat itu dengan dada yang sudah tak karuan.
Hingga tibalah dia pada isi berita jika pesawat itu sudah mendarat dengan selamat walau berkali-kali diterpa cuaca buruk dan berkali-kali juga gagal mendarat. Amanda menitikkan airmata, sungguh sejak tadi dia tidak tahu jika anaknya sedang menghadapi maut.
"Minahhh, Ya Tuhan, Minahhh Abian Minahhh."
Minah yang sedang mencuci peralatan dapur bekas majikannya memasak langsung berlari tergopoh-gopoh mendengar teriakan Amanda.
"Iya Bu, ada apa?" Minah panik mendapati mama Abian yang sudah berderai air mata.
"Abian, Minah, coba kamu baca sendiri, anak dan menantuku baru saja selamat dari maut Minah," suara Mama bergetar, semua bercampur aduk, sedih, senang, haru dan entah apa lagi, semua tak bisa dijabarkan satu persatu, hati seorang ibu yang mendapat kabar anaknya selamat dari kejadian buruk dan mendapat keajaiban membuat segala macam berkecamuk didadanya.
"Minah, jika sudah siap bacanya, siapin kue san asinan tadi, kita langsung kebandara, panggil Mul, suruh dia siap-siap." Perintahnya cepat.
"Ba-baik Bu, ya Allah den Bian," Minah sebenarnya ingin menangis haru, tapi dia harus bergegas menyiapkan apa yang diminta majikannya, dia pun tak sabar ingin tahu keadaan Abian dan Delia.
"Bagaimana kandungan Delia ya Minah? Apa mereka sudah tahu?"
"Semoga baik-baik saja ya Bu." Minah pun tak kalah cemas, tak bisa membayangkan bagaimana keadaan keduanya saat ini, apalagi saat mereka mengahadapi maut itu diatas, pasti sangat panik, walau dia tak pernah naik pesawat, tapi Minah suka menonton berita tentang beberapa kali pesawat jatuh.
Amanda segera menghubungi suaminya, untuk segera membawa Delia kerumah sakit terdekat, agar Delia segera diperiksa.
* * *
Abian yang khawatir dengan keadaan Delia bergegas turun dari pesawat, tapi dia tak bisa lolos begitu saja, tak mungkin juga dia harus menolak salaman dari para penumpang.
"Terima kasih Pak pilot, kita semua selamat."
"Iya sama-sama, semua ini karena kita semua masih diberikan kesempatan hidup lagi. Maaf tidak bisa mengantarkan sampai kebandara tujuan."
"Tidak apa Pak pilot, ini saja kita sudah sangat bersyukur Pak. Semoga Pak pilot sehat selalu ya Pak,"
"Aamiin, terima kasih semua doanya, semoga bisa segera bertemu keluarga tercinta ya."
"Pak pilot, I love you." Abian melambaikan tangan. Dia berjalan cepat, menghampiri dimana Delia berada.
Delia dibawa keklinik bandara, tak hanya Delia seorang, tentu saja ada beberapa penumpang terluka juga dibawa kesana. Abian mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Delia, ternyata saat ini Delia tengah diperiksa oleh seorang dokter muda, laki-laki, dan lumayan tampan. Laki-laki itu bertanya ramah pada Delia, kemudian menyentuh kening Delia yang memar. Membuat hati Abian tak terima.
"Selain disini, ada lagi yang terasa sakit?" tanya dokter itu, dia nampak meletakkan salap dijari telunjuknya, dan kemudian hendak mengoleskan ke kening Delia.
Delia menggeleng "Tidak ada dok."
"Dok, biar saya yang mengolesi." Abian menyela.
Dokter tersebut mengerutkan kening "Saya suaminya," jelas Abian mengurai kebingungan.
"Oh, silahkan," dokter bergeser, memberi ruang untuk Abian "Selamat ya Capt, anda hebat bisa membawa penumpang mendarat dengan selamat walau diterjang cuaca buruk. Jam terbang dan pengalaman anda sepertinya sudah tinggi."
"Terima kasih dok, keberuntungan dan keajaiban sedang berpihak pada kami semua, bukan hanya saya, tapi juga para penumpang, dan keluarganya, sehingga masih diberikan kesempatan untuk berkumpul." Abian tersenyum, menatap sekilas dokter itu "sayang, mana lagi yang sakit?" Abian bertanya pada Delia.
"Semuanya," jawab Delia.
"Hah? Dibagian mana? Kamu terluka parah? Apa ada benturan?" Abian memeriksa wajah Delia, kemudian tangan dan kaki Delia pun tak luput dari jangkauannya.
Dokter itupun terkejut, tadi saat dia bertanya, Delia menjawab tidak ada, sekarang dia menjawab semuanya. "Dasar." Gumamnya dalam hati. Karena sepertinya Delia baik-baik saja, dokter itupun meninggalkan keduanya.
Dari jauh, Cecilia yang juga sedang diperiksa hanya bisa tertawa dalam hati, dalam keadaan seperti ini, sempat-sempatnya Delia membalas Abian, dengan sengaja meminta diobati dokter laki-laki, padahal Abian sendiri tidak ada salah apapun.
"Apa ada yang aneh yang kamu rasakan sayang?" Abian kembali bertanya.
"Ada, perut aku rasanya aneh, aku rasa ada yang tumbuh didalam perut aku."
Abian spontan ingin membuka seragam Delia "Bi, kamu mau apa?" Tahan Delia tangan Abian.
"Ingin periksa perut kamu, katanya ada yang aneh."
"Kamu nggak bisa periksa itu, cuma alat canggih yang bisa mendeteksi apa yang tumbuh didalam sini." Delia mengarahkan tangan Abian diperutnya.
"Delia jangan bikin aku khawatir, apa yang terjadi?"
"Semua salah kamu Bi, kamu yang buat semuanya." Delia semakin mendramatisir, membuat Abian semakin cemas.
Datang seseorang petugas bandara yang mengenal Abian "Maaf Capt mengganggu, pak Philips Hamzah meminta anda segera mengaktifkan ponsel, ada hal penting yang ingin disampaikan."
"Oh iya, terimakasih." Abian mengambil ponsel yang ada disaku seragamnya. Menonaktifkan mode pesawat, dan segera menghubungi nomor papanya yang sudah disetting, hanya dengan menekan tombol angka satu.
"Iya Pa."
"...."
Abian langsung menatap serius Delia setelah mendengarkan penuturan papanya dari seberang sana.