Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Flight Attendant Story (III)



*Maaf jika part ini banyak kata-kata kasar.


Tapi tetap like dan komennya jangan lupa Ya... Hehehe*


Tak sulit untuk Abian bisa menemukan nomor kendaraan dan kemana arah mobil milik laki-laki yang telah melecehkan Delia. Abian menghubungi papanya, meminta bantuan Korlantas (Korp lalu lintas) untuk mengecek semua CCTV jalan agar bisa mengarahkanya, kemana mobil dengan pdl395 lat yang telah Abian sebutkan itu.


Abian tak bisa menunggu pihak berwajib bertindak, itu akan memakan waktu, bukan dia tak mematuhi peraturan, tapi dia tak bisa membiarkan orang itu lolos begitu saja, sedikit waktu lengah, Abian yakin, jika orang itu akan melarikan diri. Melihat dari kendaraan yang dia pakai saja, Abian yakin jika laki-laki itu bukan orang biasa.


Dengan mengikuti arahan, Abian mengetahui jika mobil laki-laki itu telah masuk tol arah pelabuhan, Abian terus melajukan mobilnya secepat mungkin, menyalip mobil-mobil didepanya. Hingga terlihat oleh Abian, mobil sedan berwarna hitam dengan plat yang sama.


Sengaja Abian menyerempet bagian kanan badan mobil itu, agar membuatnya menepi, dan benar, mobil itu menyalakan lampu kiri untuk menepi di bahu kiri jalan.


Abian mengirim pesan pada papanya, jika dia sudah menemukan orang itu, dan meminta agar pihak berwajib menuju ke lokasi yang telah Abian kirim. Abian keluar dari mobilnya, berlagak tak sengaja dan meminta maaf jika dia tak sengaja menabraknya.


"Maaf Bang, aku nggak sengaja tadi, lagi ngantuk," Abian mengeles, dia membenarkan kerah kemejanya dengan santai.


Laki-laki yang bertubuh sama tingginya dengan Abian itu langsung melihat badan mobilnya yang sudah lecet dan sedikit penyok.


"Lo sengaja ya Bang, lo yang tadi diparkiran kan?, gue inget. Lo dendam sama gue?"


Abian menyeringai "Iya, lebih tepatnya dendam sama yang lo lakuin sama cewek gue"


BUGGHHH


BUGGHHH


Dua kali Abian menghantam wajah Rico, hingga membuat cairan asin keluar dari sudut bibirnya. Rico berpegang pada bagian depan mobilnya, ia meringis, merasakan nyeri saat ibu jarinya menyentuh bagian yang berdarah.


"ANJINGG, gue nggak kenal sama cewek LO."


"Lo nggak perlu kenal sama dia, dia nggak pantas kenal sama cowok brengsek kayak Lo."


Abian menarik kerah kaos yang dilapisi jaket jeans berwarna biru itu, dan menyudutkannya di badan depan mobil.


BUGGHHH


BUGGHHH


BUGGHHH


Abian sama sekali tak memberi ampun pada laki-laki itu, teriakan kesakitanya seolah suara Delia yang meminta tolong, terdengar pilu ditelinga Abian, hingga darah segar keluar dari hidung Rico.


Seolah tak ada rasa takut mati, Rico justru tertawa saat dia mengingat sesuatu, padahal wajahnya sudah babak belur oleh Abian.


"Apa cewek lo pramugari bernama Delia?," tanyanya, dia mendesis karena rasa sakit, Abian membiarkan Rico berbicara, mungkin saja dia akan meminta maaf.


"Kalo iya, gue mau kasih review bang, bibirnya manis, dan to ket nya empuk, pas di tangan gue," kembali Rico tertawa "Pramugari biasa jual diri juga sok jual mahal," ucapnya disela ketidak berdayaanya.


"Brengsekk."


BUGGHHH


BUGGHHH


BUGGHHH


"Abian, STOP." papa Abian datang bersama petugas keamanan dari bandara. "Sudah, dia bisa mati ditangan kamu, Abian." Papa Abian menahan tangan Abian yang sudah mengudara, siap menghardik kembali wajah Rico.


Tangan Rico langsung di beri borgol oleh petugas, dan langsung dibawa ke mobil tahanan, laki-laki itu masih sempatnya tertawa menyeringai, tak ada rasa bersalah atau penyesalan dari raut wajahnya.


"Apa benar ini pelakunya Pak Abian?," tanya salah seorang petugas berpangkat AKP pada Abian, memastikan jika nanti tak terjadi salah tangkap.


Abian mengangguk "Iya,"


"Baik, kami akan meminta keterangan pelaku di kantor, kami ucapkan terima kasih atas kerja sama Anda."


Abian dan papanya menjabat tangan petugas itu sebelum mereka berpisah.


* * *


"Gimana?, udah enakan?" tanya Dewi pada Delia.


Delia mengangguk, Dewi membawanya keruang kerja Daniel atas permintaan Daniel untuk Delia menenangkan diri, Delia pasti butuh ruang privasi, hal ini tidak mudah untuk perempuan yang mengalami hal semacam ini, bahkan diantara mereka ada yang diam saja, entah itu faktor takut, atau faktor lainnya.


"Profesi seperti kita memang nggak mudah, Del. Ada yang memandang sebelah mata, karena menurut mereka profesi kita hanya bermodal wajah cantik dan tinggi, padahal kita harus menjaga keamanan dan keselamatan penumpang, pakaian kita dinilai seksi, tanpa tau alasannya." Dewi merapikan poni rambut Delia yang sudah keluar dari tatananya.


"Kita dituntut harus selalu ramah dan senyum pada penumpang, padahal kadang sifatnya udah ngeselin, dia marah-marah juga kita tetap harus senyum dan ngomong sopan. Kerja kita nggak bagus dilaporin," Dewi menghembuskan nafas. "Yah begitulah suka dukanya kerja kita."


"Awal dulu juga aku pernah mengalami hal yang sama, saat itu aku lagi jadwal penerbangan internasional, pelakunya WNA, dia kira aku bekerja sampingan bisnis lendir, memang ada oknum seperti itu, padahal nggak semua pramugari seperti yang mereka pikir, itu yang bikin nama kita tercemar, dan pas aku melapor dia malah ngeles. Ujung-ujungnya aku yang disalahin, tapi aku nggak tinggal diam, aku tetap memperjuangkan hak aku, dan aku bisa membuktikan kalau aku benar."


Sengaja Dewi bercerita tentang masa lalunya, agar Delia tak merasa sendiri mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti ini, memang terkadang susah untuk menjelaskannya, jika orang itu tidak memiliki keberanian yang besar, apalagi Delia yang masih dibawah satu tahun bekerja, hal ini sangatlah


"Mba Dewi juga pernah mengalami hal ini?"


"Iya, aku juga hampir down, dan ninggalin profesi aku Del, kalau nggak mengingat gimana perjuangan aku dulu buat jadi FA (Flight Attendant), karena emang ada masanya kita yang merasa benar-benar dianggap rendah." Dewi menghapus air matanya yang hampir saja jatuh "Makanya pas liat kamu tadi, aku langsung teriak, karena kalo nggak ada saksi, aku yakin kamu nggak akan lapor ataupun cerita."


Pancingan Dewi berhasil, Delia ingin menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Tadi orang itu minta nomor telepon, tapi nggak aku kasih. Sejak awal memang dia sedikit kurang ajar, tapi Delia anggap masih di batas wajar. Pas semua penumpang turun, dia manggil dan minta tolong, ternyata pas Delia samperin dia malah-," Delia tak melanjutkan kata-katanya, dia tidak sanggup untuk mengatakannya, Delia menunduk, kembali terisak jika mengingat hal itu.


Dewi mengusap bahu Delia, dia sudah merekam ucapan Delia agar Delia tak perlu memberi penjelasan ulang, pengalamannya dulu membuatnya mengerti apa yang dirasakan juniorrnya.


"Barusan aku dapat kabar, kalau Captain Abian sudah menangkap pelakunya."


Delia mendongak "Abian?"


Dewi tersenyum "Dia hebat, Captain Abian adalah Captain _"


"Delia," ucapan Dewi terhenti saat Abian tiba-tiba masuk.


Delia masih menunduk, saat Abian langsung memeluknya, rasanya dia sangat malu untuk melihat wajah Abian, dan dia merasa jijik pada dirinya sendiri, apalagi jika Abian tahu yang dia alami.