Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Bonchap 1. Kelahiran Baby Twins



Satu bulan berlalu.


Abian berlari menyusuri lorong rumah sakit. Jantungnya seperti tak berdetak lagi, begitu khawatir saat mendapat telepon dari mamanya, bahwa Delia mengalami kontraksi, dan sudah mengeluarkan darah. Padahal Delia dijadwalkan akan melahirkan dua minggu kedepan, dan Abian akan mengambil cuti, satu minggu dari perkiraan.


Beruntung tadi dia belum melakukan Flight saat mendapat telepon dari mamanya, dan ada pilot yang bisa menggantikannya, sehingga Abian bisa meluncur pulang.


Dasi pilotnya berterbangan mengikuti arah larinya, tak ia pedulikan apa yang ia tabrak didepanya. Matanya terus awas, mencari dimana letak ruang persalinan Delia. Dari jauh dia sudah melihat mamanya bersama Arini.


"Ma, kenapa Mama menangis? Apa terjadi sesuatu pada Delia Ma? Dimana Delia?" tanya Abian panik saat melihat Amanda menangis tersedu.


"Mama terharu, sebentar lagi cucu kembar Mama akan lahir Abian." Jawab mama, sambil menghapus airmatanya.


Hufft, padahal dia sudah sangat khawatir.


"Kamu masuk saja Bi, Delia ada didalam, sedang diperiksa." Arini menunjuk ruangan yang ada didepan mereka dengan dagunya. "Udah dong Ma, katanya mau lihat baby twinsnya Abian lahir, kalau Mama nangis gini yang ada bikin Delia khawatir." Arini mengusap punggung mamanya.


"Sayang," Abian menghampiri Delia yang sedang diambil darahnya. Menggenggam tangan Delia yang sudah terasa dingin.


"Bi, kamu udah dateng?" lirih Delia, matanya sudah berembun.


"Iya sayang, aku datang. Kamu yang kuat ya, perjuangin anak kita. Dan kamu juga harus sehat." Sumpah demi apapun, berbagai hal buruk melintas dikepala Abian saat ini.


"Jika ada yang harus dikorbankan, maka selamatkan anak kita ya Bi."


"Kamu bicara apa sih sayang? Kalian semua pasti selamat. Kamu harus kuat demi aku. Jangan tinggalkan aku Delia."


"Pak Abian, bisa kita bicara sebentar?" Dokter yang biasa menangani Delia menghampiri Abian.


"Apa terjadi sesuatu dok?" Tanya Abian khawatir.


"Tidak Pak, mari ikut saya." Dokter itu berlalu sebelumnya tersenyum lembut pada Delia.


"Sayang aku tinggal sebentar, kamu tunggu aku ya?" Abian mengusap rambut Delia, kemudian dia mencondongkan badan, mencium kening istrinya lama. "Love you."


"Pak, kami akan melakukan operasi, tekanan darah istri anda naik. Kami tidak bisa membantu melakukan persalinan normal." Dokter wanita itu menjelaskan. "Tapi istri anda sejak tadi ingin melahirkan secara normal. Itu sangat berisiko."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok, yang terpenting anak dan istri saya selamat."


Abian tahu, bukan tanpa alasan Delia ngotot ingin melahirkan secara normal, setiap dia jalan pagi, atau jalan keluar, ada saja yang mengatakan, jika mereka bisa melahirkan anak kembar secara normal. Apalagi tubuhnya yang semakin subur, Delia mengatakan, malu pada wanita yang badanya kecil, tapi bisa melahirkan normal.


Segala usaha Delia lakukan agar dia bisa melahirkan secara normal, ikut senam hamil, melakukan jalan pagi setiap hari sampai kakinya luka. Predikat wanita sempurna jika melahirkan normal sangat mengantui Delia.


"Sayang, darah kamu tinggi. Bahaya jika kamu memaksakan melahirkan normal, kasihan anak-anak kita. Nggak papa ya, jika kamu operasi? Yang penting semua selamat dan sehat."


Delia berkaca-kaca, sesekali tangannya mengeratkan genggaman disaat kontraksi itu datang. Dan Abian hanya bisa mengusap keningnya, dan meniupkan wajahnya agar bisa berbagi rasa yang istrinya rasakan.


"Kamu nggak kecewa sama aku Bi?"


"Nggak sayang, aku bangga sama kamu, kamu wanita hebat sayang." Abian mengecup tangan Delia, dia tak dapat menahan air yang sangat dibenci oleh kaum adam. "Tolong, berjuanglah demi aku."


Menit berjalan seolah sangat lambat, Abian terus menceritakan pada Delia jika dia sekarang sedang membayangkan makan asinan, dan itu membuatnya ingin sekali makan makanan yang memiliki cita rasa pedas, asam dan manis itu. Hingga mereka mendengar suara nyaring malaikat kecil yang sangat mereka tunggu kehadirannya.


"Wahhh ganteng sekali." Suara perawat seolah memberi tahu jenis kelamin anak mereka.


"Anak kita." Abian berkaca-kaca, terus menggenggam tangan Delia.


Abian kembali meloloskan air haram menurutnya itu, hatinya berdenyut, tak bisa mengungkapkan apa yang saat ini ia rasakan, bibirnya bergetar, otaknya tak bisa menyalurkan apa yang ingin ia ungkapkan. Semua terasa tercekat, dan tertahan dalam rongga, terhalang oleh rasa yang tak bisa diucapkan tapi begitu membahagiakan.


Dan kemudian kembali terdengar suara nyaring yang begitu membuat ayah dan ibu itu bergetar, tak ada kata yang keluar dari bibir kedua, namun lewat air yang lolos dari netra mereka, sudah dapat mengungkapkan, bahwa keduanya begitu bahagia.


"Ganteng-ganteng sekali anaknya." Lagi suara perawat memberitahu.


"Anak kita laki-laki semua sayang." Delia mengangguk, dia sebenarnya tak ingin menangis, tapi melihat suaminya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata, dia ikut mengeluarkan airmatanya, Abian tak bisa untuk menahan mencium Delia,


"Pak, anaknya sudah dimandikan, dua-duanya ganteng seperti ayahnya," perawat itu tersenyum, membawa kedua anak kembar Abian disisi kiri kanannya secara bersamaan. "digendong terlebih dahulu ya Pak, bisa?"


"Bisa-bisa mba," dengan tangan gemetar Abian mengambil anaknya, memiliki anak adalah keinginannya, jadi dia harus menyakinkan diri, bahwa dia bisa menggendong bayi yang sudah dibedong dengan kain polos berwarna polos itu.


Sementara perawat wanita itu menempelkan anak yang satunya didada Delia (kangaroo care), Abian memberikan seruan pertama pada anaknya, hati Abian tak berhenti bergetar, dengan suara teredam menahan gejolak bahagia, Abian berhasil memberitahu seruan itu dengan lancar.


Dan, seperti sudah terlatih, kini dia bergantian, memberikan seruan kepada anak yang satunya lagi.


Diluar ruangan, ada Arumi, Arini, mamanya, dan juga papa Abian sudah bisa bernafas dengan lega, mereka sedang melakukan tebak-tebakan jenis kelamin anak Abian.


"Suaranya kenceng Pa, itu pasti cowok." Arumi memberi pendapatnya.


"Nggak, Papa yakin itu pasti cewek, dua-duanya cewek."


"Kalo Mama, kembar pengantin, sepasang, cewek cowok." Jawab mama yakin.


Kini, Arumi, mama dan papa melihat Arini yang berdiri memenggulir gadgetnya, Arini yang sadar ditatap oleh yang lain, mengalihkan pandangannya pada yang lain.


"Kenapa?" Ujar Arini.


"Kamu nggak mau ikut nebak anak Abian cewek apa cowok." Arumi memberi tahu.


"Nggak ahh, aku mending masukin kekeranjang belanjaan. Buat kado anaknya."


"Emang udah tau anaknya cewek apa cowok." Kembali Arumi bertanya.


"Yang penting udah aku masukin ke keranjang yang aku mau, nanti tinggal check-out."


"Terserah deh." Arumi mengalah.


Dan mereka semua menoleh saat pintu ruang operasi itu terbuka, keluar Delia yang didorong menggunakan brankar, disusul Abian yang menggendong satu anaknya, disusul perawat dibelakangnya yang juga menggendong satu anak mereka.