Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Positif



Sesuai yang dijanjikanya pada Abian, Delia sama sekali tidak mengunjungi adiknya yang tinggal dirumah Daniel, kabar terakhir yang dia tahu dari Denisa, Daniel akan mengajaknya pindah rumah, Denisa beberapa kali datang kerumahnya sendirian, Denisa meminta maaf padanya, dan sangat menyesali perbuatannya, kekhilafanya serta keegoisanya selama ini. Dia yang kurang bersyukur atas semua yang telah diperjuangkan oleh mama dan kakaknya. Denisa tidak menceritakan keburukan mama Daniel yang selalu ketus padanya hingga kini.


Hari kian berlalu, hampir tiga bulan pernikahan Delia dan Abian, itu berarti, dua bulan pernikahan Denisa dan Daniel, kini Delia kembali pada dunianya, mimpinya, mimpi ayahnya. Cita-citanya, cita-cita ayahnya. Pra-mu-ga-ri, nama profesinya itu dieja Delia dalam hati, dia sangat bangga dengan profesi yang disandangnya.


Senyum terus merekah diwajah cantiknya, sesekali dia juga membalas senyum pada para pengunjung ataupun penumpang di bandara, Delia menyeret kopernya bersama Abian yang berjalan bersisian bersamanya, mereka baru saja mendarat di bandara ibu kota setelah beberapa hari mereka ditugaskan untuk keluar kota.


Abian selalu senang, jika membaca daftar nama crew yang terbang bersamanya terdapat nama istrinya. Setelah dua bulan Delia kembali bekerja, mereka sering dijadwalkan terbang bersama.


Berbeda dengan Delia yang berprofesi sebagai pramugari yang harus menunjukkan wajah ramah, Abian justru memasang wajah angkuh dan dingin, ini semua demi kewibawaanya, dan jika tidak ada yang tahu, ini juga demi menjaga hati wanita yang kini berjalan disampingnya.


Saat tangan Abian ingin menggandeng tangan Delia ketika mereka sudah berada diluar area bandara, tiba-tiba Cecilia memanggil Delia.


"Dell," panggil Cecilia.


Delia membalikkan badanya"Cill, hei apa kabar?"


"Aku baik." Keduanya saling menempelkan pipi. "Dell, aku langsung aja ya? Aku mau pamit!"


"Pamit? Maksud kamu?" Tanya Delia heran, namun sudah memiliki rasa tak enak.


"Aku mau pindah ke maskapai sebelah, mau mengembangkan ilmu dan pengalaman."


Delia menatap wajah sendu Cecilia, wajahnya terlihat kusam, mata panda, dan tubuhnya terlihat sedikit berisi. Abian yang masih berdiri dibelakang Delia hanya menyimak obrolan keduanya tanpa mau menyela.


"Kamu yakin? Ada masalah?"


"Enggak, cuma aku mau cari suasana baru aja," Cecilia melihat Abian yang sedang menunggu mereka mengobrol " maaf ya Capt, ganggu sebentar," namun dia berjalan kearah Abian "saya juga mau pamitan sama Captain, maaf saya pernah membuat hubungan kalian kacau dulu, maaf Capt, pernah bikin kesel Captain."


"It's okey, no problem," Abian mengendikkan bahunya "cuma pesan aku kamu harus hati-hati, jika tidak betah disana, bergabunglah lagi di Airlanngga Airlines, jangan termakan rayuan pilot buaya darat, diluar sana banyak pilot beristri yang suka menggoda pramugarinya, dan jangan pernah mau jadi simpanan."


"Iya, sebisa mungkin aku jaga diri Capt." Abian mengangguk.


"Sebenarnya, mau kita dimana saja tergantung kitanya Cill, bisa jaga diri apa enggak," Delia seakan tercekat, apa diucapkannya seakan untuk dirinya sendiri yang tak bisa menjaga adiknya dengan baik, "ya, walau lingkungan lebih besar pengaruhnya."


"Iya, doain aku ya Del, biat betah disana, jangan lupain aku ya, aku sayang banget sama kamu." Cecilia memeluk Delia, dia tak dapat menahan air mata yang mengalir tanpa permisi, padahal tadi dia sudah membrefeing matanya, agar jangan menangis.


"Ih kamutuh," Cecilia tertawa miris, "doain aku bisa move on."


"Lama amat belum move on-move on."


Bukan sama mantan aku Dell, sama Daniel yang justru menikah sama adik kamu.


"Kamu sudah pamitan sama Voni?"


"Sudah, seminggu yang lalu, saat aku terbang bersama Voni, aku pamit ya Del, semoga kamu cepat dapat momongan."


Seperti adik kamu.


Cecilia memilih untuk pindah maskapai, karena jika dia terus bertahan dimaskapai yang telah memberikannya nafkah selama kurang lebih tiga tahun itu, maka sangat sulit untuknya melupakan Daniel, apalagi beberapa kali dia sempat melihat Daniel dijemput oleh Denisa, adik Delia yang baru ia ketahui saat acara resepsi Abian dan Delia.


"Selamat tinggal Airlanngga Airlines, selamat tinggal teman-teman terbaikku, semoga kita bisa berjumpa dilain waktu. See you again." Tutup Cecilia diakhir Vlognya, setelah kamera off, Cecilia cepat-cepat menghapus air matanya, dia harus bangkit, sudah cukup dia kacau beberapa bulan ini, saatnya kini dia kembali memperbaiki diri, suka dalam diam itu terasa sangat menyakiti bagi Cecilia.


* * *


Pagi ini, sebelum berangkat ke bandara, Delia buru-buru masuk ke kamar mandi, Abian masih terlelap, hari ini suaminya mendapat jadwal libur. Sudah genap tiga bulan pernikahanya, dan hari ini dia juga sudah telat satu minggu datang bulan, Delia segera mengambil alat tes kehamilan yang dibelinya secara diam-diam dari Abian, rasa tak sabar berharap dia bisa melihat garis dua dari alat itu. Bukan hanya sekali ini saja Delia mencoba, dua bulan sebelumnya dia juga sudah mencoba walau baru telat satu hari, seantusias itu Delia ingin memberikan kabar baik untuk Abian.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


Delia terus memegangi dadanya, harap-garap cemas hingga menit kelima menanti perubahan garis satu menjadi dua, namun Delia harus menerima kenyataan pahit lagi, bahunya melemas saat garis dua itu tak juga kunjung nampak, Delia merapatkan bibirnya kecewa, menahan air yang akan terjun bebas, Abian memang tidak pernah menanyakan hal ini, namun sebagai seorang istri, dia juga ingin cepat-cepat memberikan kabar bahagia kepada keluarganya, terutama Amanda yang begitu menyayanginya. It's okey, ini baru tiga bulan, gumamnya menenangkan dirinya sendiri.


Walau hati kecewa, tapi Delia harus cepat membersihkan diri, dia harus memasak untuk sang suami tercinta sebelum berangkat dinas, Abian tetap harus menjadi prioritasnya. Sebelum turun Delia terlebih dahulu membuka ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk, diantaranya dari Arumi dan Denisa.


Isi pesan keduanya sama, yaitu sama-sama memberi kabar jika mereka tengah berbadan dua dan foto alat tes kehamilan menunjukkan garis dua yang sangat jelas. Delia seketika terduduk lemas, jika kabar itu bahagia untuk Denisa dan Arumi, tapi ... itu juga bukan kabar buruk untuknya.