
Abian berdiri, memutar tubuhnya kebelakang, ingin melihat wanita yang dimaksud istrinya. Benar apa yang dikatakan Delia, wanita yang duduk di sudut itu sedang meringis, sambil memegang perutnya yang sudah terlihat sangat membesar.
Abian segera memanggil pramugari dengan menekan tombol yang berada diatas kepalanya.
Bing....
Bing....
Bing....
Suara khas itu mengudara, tak lama datanglah seorang pramugari cantik menghampiri Abian.
"Iya Captain Abian, ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari itu, yang memang mengenal Abian.
"Itu lihat!" Tunjuk Abian wanita yang sedang meringis itu "bagaimana bisa ada wanita hamil tua naik ke pesawat ini?"
"Astaga." Pramugari itu juga terlihat panik, dan langsung menghampiri wanita itu.
Rendy dan Voni juga ikut berdiri, melihat wanita yang dimaksud Abian.
"I'm sorry miss, what you feel?" Tanyanya.
"I fell my stomach is having contraction." Aku wanita itu. (Saya merasakan perut saya seperti mengalami kontraksi.)
Abian melihat waktu ditanganya, mereka baru lepas landas lima belas menit, menurut hitungannya mereka berada di ketinggian empat puluh ribu kaki. Dan butuh satu jam lagi mereka akan transit di Singapore.
"Kenapa wanita hamil tua bisa lolos penerbangan? Kamu tahu, ini berakibat fatal." Marah Abian, namun ia memelankan suaranya, tak ingin hal ini terdengar hingga ke ruang penumpang ekonomi, beruntungnya di Business class hari ini hanya ada mereka, tidak ada penumpang lain, jika tidak, ini bisa berpengaruh pada nama baik Airlanngga Airlines.
"Maaf Pak, tadi kami telah melakukan pemeriksaan ulang, semuanya baik, usia kandunganya memasuki dua puluh delapan minggu, jadi masih masuk kategori aman untuk perjalanan dekat. Segala dokumen kelengkapan memenuhi syarat, perutnya terlihat lebih besar karena ibu ini hamil kembar." Jelas pramugari itu panjang lebar.
Abian menghela nafas "Lalu bagaimana? Apa ada kemungkinan dia akan melahirkan dipesawat?" panik Abian.
"Tidak tahu Pak. Ini diluar dugaan."
"Terus bagaimana mengatasinya? Panggil senior kamu, suruh dia mengatasi masalah ini. Apa kalian mau bertanggungjawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?" Abian berkacak pinggang, masih berdiri ditempatnya.
Sedang pramugari tadi berdiri, untuk memanggil seniornya.
"Ingat hal ini jangan sampai didengar penumpang lain, akan berbahaya untuk nama perusahaan." Pesan Abian sebelum pramugari itu keluar dari ruang kelas bisnis, memanggil rekan seniornya.
Walau dia tidak terlibat langsung dengan perusahaan, Abian tetap memikirkan nama baik maskapai yang dikelola papanya. Abian menunduk, saat tangan Delia memegang tangannya, istrinya itu tersenyum manis.
"Bi, mending kamu duduk dulu," ucap Delia lembut, mencoba membuat suaminya tenang. "Jika ada masalah seperti ini kita harus bersikap tenang. Kamu itu pilot, seharusnya sudah bisa dan biasa mengatasi hal semacam ini, jangan terbawa emosi. Jika kamu marah-marah yang ada wanita itu jadi bertambah panik, dan kontraksinya semakin naik, bisa berbahaya untuk kandungnya."
"Aku disini bukan sebagai pilot Delia, aku memposisikan diriku sebagai penumpang yang merasa terganggu, dan sebagai anak pemilik maskapai ini."
"Iya, aku tahu, kamu duduk dulu. Biar aku menolong wanita itu."
Abian menurut apa yang dikatakan Delia, dia duduk, dengan nafas memburu karena amarah, dia mengatur nafasnya "Nggak usah Del, ini bukan tugas kamu," cegahnya, dia tak ingin jauh dari istrinya "biarlah para awak cabin yang bertugas yang mengatasinya."
Delia tersenyum.
"Aku cuma mau membantunya saja, jika kamu memikirkan nama perusahaan, maka izinkan aku untuk membantu mengatasi ini. Kamu sebaiknya berkoordinasi dengan pilot, untuk mengatur ketinggian. Kamu dengar yang dikatakan pramugari tadi bukan? Ternyata dia tidak hamil tua, ini mungkin karena pengaruh tekanan oksigen dipesawat, serahkan ini sama aku. Aku bisa mengatasi hal ini. Jika kamu emosi, maka penumpang lain akan tahu." Delia menepuk punggung tangan Abian, mencoba menyakinkan, jika apa yang akan melakukan yang terbaik demi maskapainya. "Kamu bisa bantu perusahaan dilapangan bukan?"
Rendy dan Voni yang berada dibelakang mendengar apa yang Delia dan Abian bicarakan.
Rendy berdiri, mencondongkan badan ke depan, meletakkan tanganya disandaran kursi Abian. "Benar apa kata Delia Capt, kita tidak boleh panik. Biarkan Delia dan Voni membantu pramugari menenangkan wanita itu. Dan yang lain, membuat situasi terlihat baik-baik saja." Rendy menimpali, menyetujui ucapan Delia.
"Oke, aku keruang kokpit, memberi tahu hal ini pada pilot. Kamu jaga-jaga disini Ren, takut jika ada sesuatu terjadi yang tidak diinginkan."
Abian langsung masuk ke ruang kokpit. Sedang Delia dan pramugari senior yang baru datang langsung menghampiri wanita yang sedang merasakan kontraksi itu.
"Kamu duduk saja Von, aku akan mengatasi ini bersama pramugari itu, kamu juga sedang hamil muda, jangan sampai ikut panik, agar tidak menambah masalah lain nantinya." Cegah Delia Voni yang akan ikut membantunya. Voni mengangguk, dia memang merasakan nafasnya tercekat, perutnya sedikit mulas mendengar Abian yang marah-marah tadi.
Delia dan pramugari senior yang baru datang langsung menghampiri wanita yang sedang merasakan kontraksi itu.
"Kalau bisa hal ini jangan sampai penumpang lain tahu ya mba, agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan pada yang lain. Apalagi penumpang disini lima puluh persenya warga negara asing. Kita akan mengatasi masalah ini sama-sama." Ucap Delia pada pramugari tersebut dan pramugari itu mengangguk mengerti.
Mereka berdua menghampiri wanita tadi, wanita itu bahkan sudah berkeringat.
Tak lama terdengar suara seruan pilot yang menjelaskan ketinggian dan letak posisi pesawat, dan menerangkan untuk tetap memakai sabuk pengaman, karena mereka akan menurunkan sedikit ketinggian.
"Oh my god miss, you've been sweating so much" Delia mengusap peluh di kening wanita itu. (Ya Tuhan Nyonya, anda sudah sangat berkeringat)
Sedang pramugari tadi sedang memasangkan descompressing stocking dikakinya, dan mijat kaki wanita asing itu agar tidak terjadi penumpukan cairan di kakinya, yang bisa membuat kakinya bengkak.
Delia segera memasangkan masker oksigen yang diturunkan oleh pilot.
"Calm down miss, take a good breath." (Tenang nyonya, atur nafas dengan baik) Delia mengusap perut wanita itu. Wanita itu menurut, nafasnya perlahan mulai teratur.
Pramugari tadi mendongak, melihat pada Delia yang memijatt pundak wanita itu "Bagaimana Del? Apa sudah membaik." Tanya pramugari yang usianya lebih tua dari Delia itu.
"Sudah mba, nafasnya mulai teratur." Delia melihat wanita hamil itu, bibir wanita itu bergetar, matanya memerah, dan dia mengeluarkan air matanya.
"Sorry, if i made you panic," ucapnya (Maaf, membuat kalian panik)
"It's oke miss, you must rileks, so as not to provoke contractions. We are at high altitude, it will dangerous for your baby." (Tidak masalah nyonya, anda harus rileks, agar tidak memancing kontraksi. Kita sedang berada di ketinggian, akan berbahaya bagi anak anda)
"My husband had an affair, i came to Indonesia to meet him. In fact i have to watch his affair with his co-worker." (Suamiku berselingkuh, aku datang ke Indonesia untuk menemuinya. Nyatanya aku harus menyaksikan perselingkuhanya dengan rekan kerjanya).
Delia dan pramugari tadi saling pandang, mereka merasa kasihan pada wanita itu. Namun mereka memilih diam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana?.
Wanita hamil dalam kondisi tenang dan didaratan saja, jika mendengar suaminya selingkuh pasti akan mengalami kontraksi, entah itu ringan atau tidak, apalagi ini hamil kembar, yang rentan melahirkan lebih awal. Delia ikut merasakan sesak, tidak bisa membayangkan ini terjadi padanya.
Wanita ini tergolong kuat dan tegar, pikir Delia.
Delia mengambil tissu, menghapus air yang membasahi pipi wanita itu. "You have to be patient and strong miss, for the sake of your baby. Hopefullly one day your husband will regret it his action)" (Anda harus sabar dan kuat nyonya, demi anak anda. Semoga suatu saat suami anda akan menyesal atas perbuatannya).
Setelah menceritakan apa yang dirasakanya, wanita tadi sudah merasa tenang, Delia membuka masker oksigen yang dikenakannya, dan langsung memeluk wanita itu.
"Everythinh will be fine." (Semua akan baik-baik saja)
Delia tidak berpindah duduk, dia kini menemani wanita itu. Menyuapinya makan, dan memberi minuman segar. Mengajak wanita itu menceritakan apa saja, termasuk negara asalnya.
Hingga pesawat akan melakukan landing, Abian keluar dari ruang kokpit. Dia tersenyum pada Delia, berterima kasih melalui senyuman, karena telah membantu mengatasi situasi yang sedikit membuatnya tegang.
* * *
"Biasanya pilot yang mengambil keputusan kalau ada masalah, tapi tadi aku malah bisa-bisanya ikut keputusan pramugari." Abian menyenderkan kepalanya di bahu Delia, mengamit tangan istrinya, kini mereka telah berpindah pesawat menuju kota Zurich.
"Kamu tidak melakukan breifing tadi Capt, makanya anda tidak fokus." Cebik Delia, tanganya terangkat, mengusap rambut suaminya lembut.
"Kamu menyindir aku sayang?"
"Nggak, aku cuma mengatakan hal yang dulu seseorang katakan sama aku, kalau kita harus selalu fokus."
"Kamu benar menyindir aku sayang." Abian mengangkat kepalanya, mengecup pipi Delia. "Terima kasih kerja samannya tadi FA, kamu pramugari hebat, bisa mengendalikan situasi."
Delia diam, ingin dia menceritakan wanita tadi, tapi dia tak kuat. Tak ingin pembahasan ini membuat mereka menjadi ribut.
"Padahal crew kita lengkap ya untuk melakukan penerbangan sendiri. Coba aku punya jet pribadi, aku pasti akan melakukan penerbangan sendiri, tanpa akan mengalami hal tadi." Rendy ikut menimpali, kini kursi mereka berdampingan.
Delia mendengus "Kamu lupa Ren, kalau kejadian ini karena ulah kalian berdua, makanya kita dapat apes."
"Elah, kayak nggak pernah ciuman di pesawat aja. Aku tahu kalau kalian dulu pernah ciuman diruang kokpit."
Delia kini menatap tajam suaminya, bagaimana Rendy tahu, ini pasti Abian yang menceritakanya.
"Aku tidak pernah menceritakan apa-apa sayang, sumpah." Abian mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Setelah berada diudara selama dua belas jam empat puluh lima menit, mereka mendarat di kota Zurich, karena kelelahan, mereka langsung menuju hotel.
Delia dan voni berjalan bergandengan mendahului suami mereka.
"Capt ambil ini." Rendy meletakkan benda ditelapak tangan Abian.
Abian mengernyit "Apa ini Ren?"
"Obat, biar Captain bisa goyang nonstop."
"Aku nggak perlu yang beginian, aku sudah kuat alami." Abian mengembalikan barang itu pada Rendy.
"Tapi yang ini, aku yakin Captain tak akan bisa nolak."
Langkah keduanya berhenti, Abian melihat sebuah benda batu putih yang Rendy berikan padanya "Apa lagi ini?"
"Aku beneran habis dari gunung kawi Capt, ini dari teman saya. Katanya kalau batu ini kita masukkan kedalam saku, kita bisa tidak terlihat. Dan kita bisa ngintipin bule mandi."
Abian menghela nafas "Kayaknya ajakin kamu honeymoon bareng keputusan yang salah Ren. Bule tanpa diintipin juga semua udah keliatan."
Tanpa mereka sadari jika istri keduanya mendengar percakapan mereka. Voni dan Delia berjalan menghampiri keduanya, mengambil koper milik mereka dan menjarah dompet dan kantong celana suaminya, memastikan jika kedua laki-laki itu tidak memegang uang atau atm.
"Silahkan jika mau ngintipin bule mandi, puas-puasin mata kalian disini, tapi jangan harap kalian bisa masuk kamar." Ucap Delia mendelik tajam pada Abian.
"Sayang, aku nggak gitu loh, ini semua rencana Rendy, dan aku nggak ikut-ikutan," ucap Abian memelas.
"Kamu juga yank, jangan harap kamu bisa melihat gunung kawi aku lagi." Tegas Voni pada Rendy.
"My little Voni, ini cuma bercandaan loh, mana ada batu yang dimasukin ke kantong bisa buat ilang, itu biar bisa nahan mules sayang."
"Terserah, yang pasti kalian nggak akan dapat apa-apa selama disini, sanah liatin paha bule dan gunungnya yang mulus." Teriak Delia dan Voni seraya berjalan meninggalkan keduanya.
"Ini semua gara-gara kamu Ren."
"Kok Captain jadi nyalahin saya sih?"