
Daniel mengerutkan keningnya, dibuat bingung oleh rentetan pesan yang dikirim oleh Denisa, dan gadis itu mengabari jika dia sedang berada di Jakarta saat ini, ingin menemuinya.
"Kak Daniel, sekarang Denisa lagi dijakarta, apa kita bisa bertemu?" Begitulah isi salah satu pesan Denisa.
Dijakarta? Apa tujuan Denisa mengajaknya bertemu?
Daniel mengetikkan sesuatu, membalas pesan Denisa.
"Besok, bisa. Tapi dibandara, soalnya aku kerja disana." Pesan yang dikirim Daniel langsung centang dua dan berganti warna biru.
Apa Denisa menunggu balasan pesan darinya.
"Oke Kak. Kakak sehat selalu ya, jangan banyak pikiran. Masih banyak yang menyayangi kakak."
Daniel mengehela nafas, dia tahu ini bukan perhatian biasa. Daniel tak lagi berniat membalas pesan Denisa, walau dia tidak bisa mendapatkan Delia, tapi dia juga tidak berniat pada adiknya, Denisa masih terlalu jauh Jika dibandingkan dengan Delia, walau mereka memiliki wajah yang mirip.
Daniel bukan tipe yang suka bermain-main. Dia juga tidak suka yang dikejar-kejar, dia lebih suka pada wanita misterius, atau layaknya burung seperti Delia, jinak-jinak merpati, terlihat lembut, namun susah didekati. Belum pernah dia menemukan wanita seperti Delia, yang selalu membuatmu penasaran.
* * *
Sebelum pulang kerumahnya, Abian menghitung waktu menunggu pergerakan dari pengacara Attaya, memastikan jika ancamannya tidak dianggap angin lalu. Abian membuka-buka sosial media, memastikan jika pernyataan Attaya yang sudah banyak dimuat dalam portal berita online akan segera menghilang.
Abian sangat tidak ingin, ketentraman rumah tangganya diusik.
Benar saja, dalam hitungan kurang satu jam, beberapa portal online sudah menarik lagi berita mengenai dirinya. Abian meletakkan ponselnya di dashboard mobil, lalu menarik perseneling, menuju rumahnya.
Saat sudah sampai rumah, Abian melihat istrinya yang sudah terlelap, Delia pasti kelelahan, pikirnya, lalu pandangannya beralih pada dua koper besar yang sudah rapi, yang telah disiapkan istrinya untuk perjalanan mereka besok.
Abian segera mengganti pakaian, mencuci kaki, lalu ikut masuk kedalam selimut, memeluk istrinya dari belakang. Delia tidak terganggu sama sekali atas yang suaminya lakukan, dia sangat kelelahan.
Suara alarm berbunyi tepat pukul enam, cukup memekakan telinga, Delia mengerjapkan mata dan segera bangun, namun dia kesulitan, karena Abian mengeratkan pelukanya.
"Mau kemana?" Tanya suara serak itu.
"Mau bangun, kita harus segera bersiap-siap Bi, penerbangan kita jam sembilan pagi." Delia mencoba melepaskan tangan Abian yang melingkar diperutnya.
"Sebentar lagi, aku mau ini." Abian mengangkat baju tidur yang Delia kenakan, lalu mera up dada istrinya lahap, seperti bayi kehausan.
"Bi, nanti kita kesiangan." Delia mencoba menjauhkan bibir Abian dari salah satu btitik sensitifnya, namun Abian seakan menulikan pendengaranya, dia terus memainkan mulutnya disana.
"Aku mau ini, tiap aku bangun ataupun mau tidur, Delia," ujar Abian melepaskan mulutnya sekejap, lalu meneruskan kembali aksinya. Sudah pasti hal itu tidak terjadi hanya sampai disitu saja, Abian sudah dipastikan meminta lebih.
Dan karena hal itu terus membuat Delia tak henti-hentinya mengomel dipagi ini. Dia dibuat buru-buru, karena takut terlambat, belum lagi dia harus banyak memberikan pesan kepada kedua adiknya yang akan dia tinggalkan.
"Udah donk marah-marahnya, kan udah selesai sekarang" Rayu Abian Delia yang memasang wajah kesal sambil merapikan kerah kaosnya.
"Kamu tuh ngeselin, kita mau berangkat bulan madu tapi kamu masih aja ngelakuin dirumah, buat apa jauh-jauh kalau bisa dirumah."
Abian menarik pinggang Delia untuk menempel ditubuhnya "Iya, aku minta maaf, abis enak sih." Abian mengecup sekilas bibir istrinya.
"Dasar otak me sum."
"Me sum sana istri sendiri, bukan istri atau pacar orang."
Abian lalu mngecupi seluruh wajah Delia.
"Bi, udah, nanti belum sampai Swiss muka aku abis."
Abian tergelak, lalu mengajak istrinya turun, Di meja makan sudah ada Dania dan Denisa.
"Denisa, Dania, Kakak sudah kesiangan, kalian jaga diri dan rumah baik-baik ya, ingat kalau main jangan pulang malam. Jangan buat malu mama." Pesan Delia pada kedua adiknya, persis seperti emak-emak yang saat mau pergi meninggalkan anaknya dirumah. Setidaknya, sebagai anak sulung, Delia sudah memberikan contoh yang baik untuk Denisa dan Dania.
Beruntungnya Abian membuat rumah tak jauh dari bandara, jadi mereka tak harus terjebak macet atau segala macam, hanya butuh waktu tiga puluh menit, mereka sampai dibandara. Disana ternyata sudah ada Rendy dan Voni yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Voni, Captain Rendy?" Delia terkejut karena Rendy dan Voni memakai baju santai, dan terdapat dua koper dibelakang mereka.
Voni menghampiri Delia.
"Selamat ya Del, akhirnya." Mereka berpelukan dan saling menempelkan pipi kanan kiri.
"Terima kasih Von." Delia mengurai pelukanya "Kamu mau honeymoon juga?"
"Iya, kita akan honeymoon bersama." Jawab Rendy.
Abian mengangguk, lalu merangkul pundak Delia "Kamu suka?"
"Sangat."
"Ini surprise untuk kamu."
"Bohong, Captain bilangnya mau belajar dan tahu caranya, bagaimana biar cepat jadi zigot di dalam perut kamu, dia kagum dengan, umph." Mulut Rendy langsung di bekap oleh Voni, dia sudah tau apa yang akan diucapkan Rendy.
"Kayaknya tiket honeymoon kamu bakal hangus Ren." Abian menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan donk Capt, ke Swiss impian my little Voni, tabungan ku habis untuk resepsi kemarin." Aku Rendy jujur, padahal dia awalnya berniat menghutang pada Abian, tapi karena Abian kasihan, jadilah Abian yang membayarkan tiket honeymoon Rendy, sebab Abian sudah mendapat kado dari kakaknya.
"Sudah yuk, dari pada berdebat, kita langsung check-in saja" Ujar Delia, dia merangkul Voni, berjalan terlebih dahulu, membiarkan kedua laki-laki itu membawa koper mereka.
Jika biasanya mereka yang menyambut kedatangan penumpang dengan senyum ramah dan tulus, kini giliran mereka yang disambut hal serupa oleh pramugari.
Mereka mengambil duduk dibangku Business class "Nggak nyangka ya Von, kita bakal honeymoon sama-sama begini?"
"Iya ya Del, padahal dulu Rendy ngejar-ngejar kamu, nggak nyangka dia malah jadi jodohku."
Delia masih berdiri, melihat Voni yang duduk dibelakangnya. "Ish, itu masa lalu, gimana kehamilan kamu? Aman dibawa terbang jauh begini?"
"Alhamdulillah, kehamilan ku benar-benar aman dan kuat Del. Nggak ada keluhan berarti, walau pagi tetap mengalami mual, tapi nggak parah."
"Semoga aku cepat nyusul kayak kamu ya."
Delia melihat ada wanita warga negara asing dengan perut besarnya, duduk disisi pojok kanan duduk mereka, Delia rasa wanita itu tengah hamil tua, tapi tidak mungkin bisa lolos dari pemeriksaan.
"Ajak Captain Abian sering-sering main." Ucapan Voni memutus pandangan Delia dari wanita tadi.
"Otak kamu sekarang udah ketularan Rendy ya?"
Voni tertawa kencang "Rendy tuh ya ampun, habis terbang aja kayak nggak ada capeknya, alasannya penyemangat dan penghilang rasa lelah."
Delia mengerucutkan bibirnya "Semua laki-laki sama ternyata."
"Hai, lagi ngobrolin apa sih?" Abian mengecup pipi Delia, kemuadian, merangkul pinggang Delia, mengajak istrinya duduk ditempatnya. "Ayo duduk, pesawat sudah mau landing."
Abian memasangkan sabuk pengaman istrinya, dan juga miliknya, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Delia, seraya menggenggam tangan istrinya.
Terdengar suara instruksi dari pilot, jika pesawat akan segera lepas landas, lalu tak lama, datang seorang pramugari yang meperagakan tentang keselamatan saat berada dipesawat.
Hal yang sering mereka lakukan saat mereka bertugas.
"Are you ready for this flight, my wife?"
"Yes, take me fly Captain."
"Harusnya kamu ucapkan itu saat malam pertama kita, Del. Saat aku berhasil membawa kamu terbang ke puncak nirwana"
"Hmmm, apa aku harus ingat mengatakan itu? Aku rasa bibir ku tidak sempat mengatakan itu Captain."
"Ya karena bibir kamu terus mengeluarkan teriakan erotis mu baby girl, aku rindu suara itu."
Delia mencubit pinggang Abian "Kamu ngomongnya ca bul terus Captain."
Terdengar samar ditelinga Delia ada suara rintihan. "Kamu dengar Bi?" Tanya Delia menajamkan telinganya.
"Dengar apa?" Delia tak menjawab, dia menoleh kebelakang, firasatnya mengatakan jika itu suara wanita asing tadi. Benar, wanita tadi tengah meringis sambil memegang tangannya.
Delia melirik Rendy dan Voni dibelakangnya yang sedang asik bercumbu, membuat Delia mencibir. "Dasar pasangan mesum, baru aja take off udah main nyosor aja. Gimana kalau pesawat kita dapet apes karena kelakuan kalian."
Rendy dan Voni sontak melepaskan tautan bibir mereka mendengar makian Delia. "Nggak sabar Del," ucap Rendy tanpa malu, sedang Voni mencubit pinggang suaminya dan tersenyum canggung pada Delia, dia merasa sangat malu.
"Ada apa?" tanya Abian.
"Wanita dibelakang sedang hamil tua, aku rasa dia mau melahirkan."
"Apa?"