Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Luka Hati Mama



"Jelaskan sama Mama Denisa, ada apa?"


Saat ini Mama Denisa mengajak anaknya untuk berbicara empat mata dikamar hotel, setelah pernyataan Daniel yang cukup mengejutkan ingin menikahi Denisa dalam waktu seminggu kedepan. Mereka duduk bersisian ditepi ranjang.


"Kami saling mencintai Ma" Denisa menunduk dengan jari saling meremas, menyembunyikan kegugupanya karena tak berani menatap sang mama.


"Kalian sudah saling mengenal?" Denisa mengangguk. "Mama mengenal kamu Denisa, mengenal kakak kamu dan juga adik kamu, kalian lahir dari rahim ibu. Dari kecil kalian tidak pernah diajarkan berbohong, jika diantara kalian ada yang berbohong, mana sakit sekali rasanya. Jujur itu memang menyakitkan, tapi tidak akan menimbulkan masalah lain kedepannya."


Delia semakin menggigil ketakutan, dia sadar apa yang terjadi adalah kesalahannya, tapi jika dia jujur, apakah mamanya tidak akan terluka? Mamanya adalah orang yang paling tidak bisa di bohongi, teringat saat mereka masih kecil dulu, baik dia atau adik kakaknya, setiap berbohong pasti ketahuan juga oleh mamanya. Tapi jika dia terus berbohong, dia yakin, suatu saat, kebodohannya akan terbongkar juga, enam bulan pernikahan yang dijanjikan Daniel bisa membuka bangkai yang ia tutupi.


"Baik, Mama tidak akan memaksa kamu untuk jujur, Mama merestui pernikahan kamu, jika kamu bahagia. Restu Mama bukankah yang terpenting saat ini Denisa? Meski ayah sudah tidak ada, dan kamu bisa mencari wali diluar dengan uang calon suami kamu, tapi Mama satu-satunya orang tua yang kamu miliki saat ini. Yang pasti Mama tidak suka ada kebohongan dari anak Mama." Mama Denisa berdiri dari duduknya meninggalkan Denisa, dia seorang ibu yang sangat peka terhadap anak-anaknya, dia sangat tahu, jika diantara mereka ada yang berbohong.


"Apa kalau Denisa jujur Mama masih menganggap Denisa anak Ma? Mama pasti akan membandingkan Denisa dengan kak Delia."


Tangan mamanya yang sudah memegang handle pintu sontak berhenti mendengar ucapan Denisa.


"Jika kamu siap jujur dan percaya sama Mama, Mama akan mempertimbangkan itu."


"Denisa udah nggak suci Ma."


Degh


Kaki mama Denisa seketika melemah, darahnya seakan berhenti mendengar pengakuan anak gadisnya yang sudah tak gadis, tulang-tulang ditubuhnya seakan lepas dari tubuhnya, bak dihantam batu besar, dadanya sesak hingga membuat dia seakan sulit bernafas, tenggorokannya pun terasa sangat kering, tapi bukan gejala panas dalam.


Bibir mama Denisa bergetar, dia harap dia salah dengar, dan telinganya sedang bermasalah.


"Maafin Denisa Ma, maaf."


Mama Denisa melipat bibirnya, jika bisa menangis dia ingin menangis, tapi kenapa air matanya seakan kering saat ini? Susah payah Mama Denisa untuk menguatkan hatinya, dia tahu betul Denisa selama ini merasa suka dibanding-bandingkan dengan Delia, yang menyebabkan rasa iri dalam hati Denisa, walau sebenarnya mereka tidak merasa membandingkan keduanya, tapi sekali lagi, dia ibu yang begitu peka dengan perasaan anak-anaknya. Mama berbalik, melihat putri keduanya yang sedang terguguh.


Walau kaki itu sebenarnya sudah tak kuat menopang berat tubuhnya, tapi Mama Denisa memaksakan langkahnya untuk mendekati putrinya, digenggamnya tangan Denisa, lalu dia kembali duduk disisi anaknya.


Denisa mendongak dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya.


Mama yang rapuh itu menguatkan dirinya, Denisa bukan butuh penghakiman, saat ini putri yang dibesarkanya dengan tulus cinta kasih itu butuh seseorang yang mampu menghapus air matanya, dan hanya dia yang bisa melakukannya saat ini.


"Apa yang kamu katakan tadi benar Denisa?" Denisa mengangguk, lalu kembali menunduk sebab tak kuat melihat wajah terluka mamanya. "Apa kalian melakukannya atas dasar suka sama suka?"


"Mama memiliki tiga putri yang sangat cantik-cantik Denisa, Mama bangga memiliki kalian, sudah dipastikan kalian lahir dirahim yang sama," Mama menarik nafas dalam "tapi satu yang tidak bisa Mama pastikan, kalian memiliki sifat yang tidak sama."


Kembali mama menarik nafas mencoba menguatkan hatinya, bohong jika saat ini dia tidak marah, bahkan rasanya dia ingin menampar Denisa saat ini juga, meneriaki anaknya, kenapa hal ini bisa terjadi? Tapi dia tak tega, Denisa anaknya yang sedang salah jalan saja. Tangan Mama terangkat, mengangkat dagu putrinya agar menatap padanya, mama menangkup wajah Denisa, menghapus air mata Denisa dengan ibu jarinya.


"Diantara ketiga anak Mama, Mama ingin ketiga-tiganya sukses, menjadi anak yang membanggakan, Mama rasa hidup Mama terlalu sempurna jika itu terjadi, Denisa. Maka diantara ketiganya, pasti ada yang gagal, bukan gagal, mungkin bisa disebutkan kamu saat ini sedang terjatuh. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk Mama, mungkin ada cara Mama yang salah dalam mendidik anak-anak Mama, sehingga Mama diberi teguran keras seperti ini, Mama nanti terlalu sombong jika semua anak Mama sukses, jadi Mama rasa Mama yang salah."


Denisa merasa ditampar menggunakan papan besar dan tebal atas ucapan mamanya, dan ini begitu sakit, jika bisa memilih dia ingin Mama menampar atau memukulnya saja, dia tahu jika mamanya menyimpan begitu besar luka yang dalam.


"Mungkin Mama terlalu memanjakan anak Mama, atau Mama ada salah berucap sehingga membuat kalian sakit hati yang Mama tidak tahu, dan kalian juga tidak mengungkapkanya. Maaf Denisa, maaf jika selama ini ada perkataan Mama yang salah, hingga membuat kamu merasa kurang diperhatikan, membuat kamu menjadi anak pemberontak, sehingga kamu mencari pelarian diluar."


Denisa menggeleng "Ini bukan salah Mama, ini salah Denisa yang terlalu egois Ma. Tidak mendengarkan kata-kata Mama, tidak mendengarkan nasihat Mama dan Kak Delia, Mama bisa menampar atau memukul Denisa, pukul Denisa saja Ma, Denisa sudah membuat Mama malu." Denisa mengarahkan tangan mamanya dipipinya, dan memululkan tangan mamanya di wajahnya.


"Cukup Denisa," Mama menarik tangannya "walau Mama membunuh kamu sekalipun, tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang telah terjadi, mulai saat ini kita sama-sama memperbaiki diri, jika kamu benar menyesal, tunjukkan pada Mama, buktikan pada Mama Denisa jika kamu benar-benar mau berubah, dan rubah cara berpikir kamu yang merasa Mama terlalu menyayangi Delia dibanding kamu, kalian anak Mama yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadikan kesalahan kamu saat ini proses pendewasaan kamu."


Denisa merendahkan tubuhnya, dia bersujud dikaki sang Mama, mencium kaki wanita yang berhati mulia ini.


"Maafkan Denisa Ma, maaf." Mama membiarkan Denisa melakukan itu, memberi kesempatan buat anaknya mengakui kesalahannya, walau hatinya diliputi rasa kecewa yang begitu besar.


Setelah dirasa Denisa sudah cukup menyesali perbuatannya, Mama menunduk, meraih pundak Denisa, membantunya berdiri.


"Kenapa Mama tidak bisa marah padamu Denisa? Wanita yang menabrak ayahmu saja Mama maafkan, jadi untuk apa Mama marah pada anak Mama sendiri? Anak yang Mama lahirkan dengan bertaruh nyawa agar kalian selamat, hanya kamu melakukan satu kesalahan, Mama bisa menghakimi kamu. Hanya satu pinta Mama, perbaiki kesalahan kamu, syukuri apa yang kamu miliki saat ini. Ceritakan pada Mama, bagaimana bisa kalian melakukan itu?"


Denisa semakin dirundung rasa bersalah dari setiap ucapan mamanya, dia telah melukai perasaan ibunya yang selama bertarung mati-matian agar dia, adik dan kakaknya bisa hidup dan memiliki pendidikan yang layak seperti teman-temannya, Denisa benar-benar menyesal dan menjadi orang paling bodoh didunia ini.


"Kita ceritakan ini pada kakak kamu Denisa, kita harus berunding mengambil keputusan terbaik kedepannya."


"Denisa takut Ma, Denisa takut kakak marah dan kecewa."


"Itu resiko yang harus kita ambil nak, biarkan dia marah, kita harus menerimanya, tapi Mama tidak bisa menyembunyikan hal ini padanya, dia yang selama ini memenuhi seluruh biaya sekolah kamu dan Dania."


"Apa nenek juga harus tau Ma?"


Mama menggeleng "Cukup kita saja."


Denisa memeluk tubuh ringkih mamanya yang selalu terlihat tegar, dia begitu malu atas perbuatannya sendiri, dia yang awalnya ingin menyembunyikan kejadian ini tanpa membuat yang lain tahu dan terluka, akhirnya harus terbongkar.