Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Hadiah kecil dari Abian



"Kamu udah nggak mual lagi makan nasi Bi?" Heran Delia melihat Abian malam ini makan nasi dengan lahapnya.


"Nggak sayang, aku kangen banget pengen makan nasi." Jawab Abian dengan mulut penuh, kali ini dia makan sendiri, tidak minta disuapi.


Nggak asik, kok ngidamnya sebentar sih. Baru juga mau lihat dia tersiksa.


"Tapi kalau anak kamu mau lihat kamu makan asinan atau rujak, kamu mau nggak? Aku pengen liat kamu makan itu." Rengek Delia.


Abian yang sedang mengunyah makanannya sontak menghentikan kunyahanya. "Bisa yang lain nggak mintanya? Kamu nggak minta tas mahal, atau baju baru gitu? Selama kita nikah kayaknya kamu belum belanja ini itu deh sayang. Nanti duit aku karatan nggak kamu belanjain."


Delia terkekeh "Sekarang aku maunya liat kamu makan asinan, atau rujak, bukan belanja. Abisnya aneh deh kamu, waktu aku belum ketahuan hamil, kamu maunya makan itu, dalam waktu sekejap berubah, setelah aku ketahuan


hamil kok tiba-tiba nggak suka."


Abian meletakkan piringnya yang sudah kosong, menenggak air putih hingga tandas. "Itu bukan permintaan anak kita kan sebenarnya? Tapi niat terselubung kamu mau menindas aku." Abian menghampiri istrinya dengan smirk mencurigakan.


Abian kemudian naik ketempat tidur, merangakak mendekati istrinya, lalu mulai memegang ujung dress yang Delia kenakan "Bi, mau apa?" Tahan Delia bajunya, "kamu nggak boleh minta itu sekarang, ingat kata kamu mau puasa selama trimester pertama."


"Itu ucapan beberapa waktu yang lalu, sekarang aku menarik kata-kata itu." Abian tetap berusaha meloloskan dress milik istrinya "Aku janji pelan-pelan, dan nggak nambah." Bisiknya tepat didepan wajah Delia, berusaha menghpnotis istrinya.


"Nggak mau Bi, nanti anak kamu keganggu, mereka udah tidur." Tolak Delia sambil mempertahankan bajunya.


"Sssttt, jangan berisik makanya, kita mainya diem-diem aja, pasti anak kita anteng," Abian melihat perut Delia yang masih rata, kemudian mengusapnya lembut "anak ayah yang soleh maupun solehah, ayah mau jenguk kalian sebentar, anteng ya, nanti ayah kasih kado spesial, biar mama kalian nggak emosian kalau sudah dikasih jatah, dan nggak minta yang aneh-aneh, mama mau menindas ayah. Kalian nggak suka asinan kan sekarang?" Adunya pada bayi yang bahkan tak akan tahu apa yang dikatakanya, kemudian Abian merendahkan tubuhnya, mengecup perut Delia yang masih tertutup kain dress rumahan istrinya.


"Ayah kalian modus sayang, bilang kalian suka asinan gitu."


"Oke, ayah ngalah, ayah bakal kabulin keinginan mama kalian deh, besok siang makan asinan buatan nenek, tapi malam ini ayah mau coba asinan yang lain dulu, kalian harus siap dan pengertian ya, ayah janji mainya halus, lembut, dan pelan." Abian mengatakan itu sambil menyelami mata sang istri, agar keinginannya malam ini terpenuhi tanpa hambatan apapun. Dan ia perlahan memajukan wajahnya, hendak menempelkan bibirnya pada bibir sang istri, tapi Delia menahan dengan tangannya.


"Iya sayang, iya. Aku akan tepati dan penuhi semua yang kamu mau besok, tapi malam ini biarin aku jenguk bayi kembar kita, ya? Cuma sebentar kok."


Delia yang memang lemah iman jika sudah dirayu oleh suaminya, terlena, dan mengangguk. Sambil menempelkan bibirnya dibibir sang istri, tanpa terasa Abian telah meloloskan dress Delia dari kepalanya begitu saja, Abian sekarang sudah sangat ahli dalam buka-membuka, dengan cepat sudah melepaskan pengait penutup dada istrinya, dan seketika bibirnya kini berpindah, dari atas kebawah, meraup gunung kembar yang pucuknya sudah menegang dan kini terasa lebih kencang dari biasanya.


Suara lenguhannpun lolos begitu saja dari bibir Delia, dan Abian membuat pergerakan cepat, melepaskan yang dibawah, berpindah lagi keatas, seperti tak ada pendirian.


"Sssttt, jangan berisik, nanti sikembar bangun, acara kita terganggu." Sontak Delia tertawa mendengar ucapan konyol Abian, dan suasana romantis itu hilang seketika. Suhu tubuh yang mulai meningkatpun seketika lenyap.


"Lagi- eumph." Abian langsung memutus ucapan Delia dengan membungkam bibirnya, karena semakin banyak istrinya berkata, maka dia akan kehilangan kesempatan emas ini. Dan Delia kembali dibuat terhanyut oleh sentuhan-sentuhan lembut Abian. Perlahan Abian membaringkan tubuh istrinya, dan penyatuan itupun terjadi,


Abian mampu membuktikan ucapannya dengan bermain lembut, tapi tidak dengan nambah, dia seolah tak kenyang jika hanya sekali mendayung.


Delia otomatis marah, namun mau bagaimana lagi, suaminya itu tak pantang menyerah jika keinginannya belum tercapai.


"Habisnya sekarang rasanya beda sayang, lebih sempit dan ngegigit," ungkapnya jujur "boleh ya sekali lagi? Pleaseeee." pintanya dengan wajah yang dibuat semenggemaskan mungkin.


Bagaimana bisa Delia tega, kembali Delia memperingatkan agar suaminya itu bermain lembut dan hati-hati, agar anak mereka tetap aman.


Esok harinya, seperti tak ada kata lelah, setelah peristiwa yang cukup menegangkan diudara. Kini Abian membawa istri serta keluarga besarnya belanja, jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada didaerah Senayan, Abian membelikan istri, mertua, mamanya dan tak lupa para keponakan dan kakak-kakak ceriwisnya sebuah pakaian dan tas mewah, sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia akan kehadiran buah hati mereka.


"Ini siapa lagi yang belum kebagian?" Tanya Abian takut ada yang tertinggal. "Ehh Dania dan Denisa belum, ayo Ma," ajaknya pada mertuanya "pilihin buat Dania dan Denisa."



Yuk mampir di karya aku yang baru. Marsha diantara cinta dan dendam. Batu tambahkan ke paporit ya teman-teman, jangan lupa, komen dan like nya juga. Matur Nuhun 🙏