
Daniel mengetuk-ngetukkan telunjuknya diatas meja kerjanya, semenjak tahu Denisa hamil, dia menjadi semakin pusing. Daniel sempat terkejut saat Denisa memberitahukan kehamilanya, bukan dia tak menginginkan bayi itu, atau tak siap menjadi ayah. Hanya saja, bayi itu lahir dari rahim wanita yang tak dia inginkan.
Hari ini, pernikahan mereka sudah tepat memasuki enam bulan, namun Daniel belum bisa menerima Denisa. Dia menganggap wanita itu seperti adiknya sendiri. Daniel bertambah bingung, mamanya sekarang sudah mulai menerima Denisa semenjak Denisa hamil, wanita paruh baya itu begitu antusias menyambut kelahiran cucu pertamanya. Bagaimana dia menceraikan Denisa? Alasan apa yang akan dia berikan kepada mamanya? Dia sudah berjanji kepada Delia dan mamanya tidak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada orang lain.
Daniel menyugar rambutnya, semenjak Denisa masuk kedalam hidupnya, hidupnya bertambah runyam. Banyak masalah yang harus dia pikirkan, tak menyangka gadis sepolos itu bisa menjebaknya hingga sejauh ini.
Daniel membuka laci meja, mengambil ponselnya, dia akan menghubungi Delia, dia harus mengajak Delia bertemu untuk membicarakan hubungannya dengan Denisa kedepan.
Saat suara deringan kelima, panggilan itu baru diangkat.
"Halo Del, bisa bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan mengenai hubunganku dengan Denisa,"
"Tidak bisa, jika ingin bertemu Delia, kamu harus izin dulu pada suaminya" Bukan suara Delia, melainkan suara Abian yang menjawab panggilanya.
Sial, Daniel meremas ponselnya. Dia tahu selama ini Abian melarang Delia menjenguk Denisa karena takut bertemu dengannya.
"Bisa bicara dengan Delia, aku ada perlu sama dia, ini penting!"
"Bilang aja sama aku, sama saja bukan?"
"Tidak bisa tuan Abian terhormat, aku harus bicara langsung, ini rahasia kami."
"Rahasia apa? Kami suami istri, jadi tidak ada rahasia-rahasiaan diantara kami." Suara Abian terdengar meninggi, tanpa Daniel ketahui diseberang sana, Abian melirik tajam Delia yang duduk disebelahnya, istrinya menyembunyikan sesuatu dibelakangnya, dan itu bersama Daniel.
Daniel menyeringai, Abian mudah sekali terpancing, hal sedikit saja membuat laki-laki itu mudah marah, "jika kami memberitahumu, berarti itu bukan rahasia lagi."
"Sialan." Abian mematikan panggilan itu begitu saja, membuat Daniel tersenyum senang. Dia tak tahu apa yang terjadi diantara kedua pasangan itu, yang pasti, bukan hanya rumah tangganya saja yang akan hancur. Setidaknya, Denisa harus membayar mahal atas perbuatannya.
* * *
Abian dan Delia hari ini pulang berkunjung dari rumah Rendy dan Voni, pasangan itu beberapa bulan lalu baru saja menyambut kelahiran putri pertama mereka. Abian dan Delia baru sempat menjenguknya. Saat diperjalanan, telepon Delia berdering, Delia memang tidak pernah menyimpan nomor Daniel, dan saat ini dia baru saja pulang dari penerbangan, Abian langsung mengajaknya menjenguk anak sahabat mereka.
Delia yang masih lelah tak memperhatikan nomor tersebut, dan membuat Abian yang mengangkat panggilan itu, tidak disangkanya jika Daniel akan mengatakan masalah yang memang menjadi rahasia keluarga mereka, sebab, Delia tak ingin, nama baik adiknya tercemar.
"Kenapa?" Tanya Delia saat Abian memberhentikan mobilnya tiba-tiba "Kenapa kamu liat aku begitu Bi? siapa yang telepon? Memang kita sudah sampai?" Delia bangun dari tidurnya, memperhatikan jalanan disekitarnya, bahkan ini masih agak jauh dari rumah mereka, Delia sedikit takut, Abian terlihat marah.
"Daniel yang telepon," Abian memperlihatkan telepon Delia "Dia bilang ada rahasia yang ingin dibicarakan diantara kalian berdua. Rahasia apa? Kenapa aku tidak tahu? Selama ini kamu sering berhubungan dengannya?" Abian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Delia, membuat Delia beringsut mundur dari duduknya.
"I-itu ..."
"Bukanya sudah aku bilang, jangan pernah berhubungan dengannya? Kamu membantahku Delia?"
"Bu-bukan Bi, bukan begitu, aku nggak bisa jelasin ke kamu."
"Aku harus tau itu, kalau tidak, aku akan melarang kamu untuk terbang lagi."
"Kenapa jadi kesana arahnya, ini nggak ada hubungannya ya."
"Mau gimana lagi, kamu istri aku, tapi punya rahasia sama laki-laki lain, walau laki-laki itu sekarang sudah jadi adik ipar kamu, tapi tetap aku nggak suka kamu berhubungan dengannya." Abian mengotak-atik ponsel Delia, lalu memblokir nomor Daniel. "Nomornya sudah aku blokir."
"Terserah kamu Bi," jawab Delia pasrah.
"Tapi aku tetap mau tau rahasia itu. Atau kamu tidak terbang sama sekali." Ancam Abian.
Abian menyipitkan sebelah matanya tak suka "Jadi kamu lebih percaya sama kuda nil itu dari pada suami kamu Delia?"
"Abian, bukan begitu, lebih baik kita pulang dulu, kita bicarakan ini dirumah."
Abian tak lagi banyak bicara, gara-gara telepon dari Daniel membuat moodnya seketika buruk. Dia dan Delia bahkan hampir ribut, jika dia tidak sedikit mengontrol emosinya, karena dia ingin tahu penjelasan Delia mengenai Daniel yang menghubunginya, dan rahasia apa yang selama ini mereka sembunyikan darinya.
Saat sampai dirumah, mereka duduk disofa ruang tamu. Delia langsung menjelaskan pada Abian permasalahan Denisa selama ini, dan alasan Daniel mau menikahi adiknya. Abian sampai tak bisa berkata-kata lagi, hanya satu yang ada didalam pikirannya, Delia selama ini terlalu lelah, belum lagi lelah mengurus pekerjaan rumah, lelah bekerja, dan juga harus mengurus masalah adiknya, yang membuatnya susah hamil.
"Percuma donk dia ngadon tiap hari, sampai nambah berkali-kali juga." Gumam Abian dalam hati.
"Kita cepat selesaikan permasalahan ini, kita temui kuda nil sekarang, walau aku tidak menyukainya, dia tetap harus bertanggung jawab atas kehamilan Denisa." Ucap Abian.
"Tapi aku tidak bisa memaksanya Bi, dari awal mama juga sudah menyetujui ini, karena ini kesalahan Denisa, Dan-."
"Kuda nil, sebut dia dengan panggilan itu, jangan sebut namanya," potong Abian dengan wajah cemberutnya, dia tak mau Delia menyebut nama Daniel, membuat Delia mengulum senyum. "Hubungi Denisa sekarang, ajak dia bertemu, selesaikan masalah ini secepatnya, kamu harus tau Delia. Jika kuda nil memilih berpisah, memang laki-laki itu brengsek, tidak mau bertanggungjawab, walau ini kesalahan Denisa, setidaknya dia memikirkan perasaan anak mereka nanti, apa dia tidak tahu? Aku saja susah mau mendapatkan anak."
Dalam hati Delia membenarkan ucapan Abian, mereka saja yang sudah menikah selama tujuh bulan belum dikaruniai anak, ini Daniel mau menyia-nyiakan anak yang dikandung Denisa.
"Bi, bisakah keluarga kamu jangan sampai tahu persoalan ini? Aku malu pada mama jika tahu kesalahan Denisa."
"Iya, lagian jika mama dan papa tahu, mereka pasti akan mengerti, tidak semua anak bisa tumbuh sesuai yang kita inginkan Delia. Tidak ada manusia yang sempurna, didalam tujuh bersaudara, jika yang enam sukses, ada yang menjadi tentara, polisi, dokter, insinyur sekalipun, pasti salah satunya ada yang menjadi penjahat, nah disitu letak fungsi saudaranya yang menjadi polisi melindungi saudaranya yang menjadi penjahat, dan letak orang tua dalam menerima kekurangan anaknya," jelasnya sok bijak "itu kata-kata yang suka papa katakan dulu, karena aku anak paling tidak bisa diatur saat masih remaja diantara kak Arumi dan Arini."
Delia tersenyum, dia mengusak rambut Abian, sikap suaminya semakin dewasa, walau kadang masih manja melebihi bayi jika menginginkan sesuatu, apalagi saat Abian memintanya untuk berhenti bekerja.
"Tumben suamiku dewasa, makasih ya Bi pengertianya."
* * *
Kini Abian dan Delia sudah duduk direstoran yang mereka janjikan untuk bertemu dengan Daniel dan Denisa, Delia sudah memesan makanannya. Tak lama terlihat sosok Denisa datang dengan senyum yang merekah, semenjak hamil Denisa terlihat semakin chubby dan cantik. Ditambah wanita itu menggunakan dress biru tua yang dipadukan dengan outher rajut berwarna putih.
Delia berdiri, menyambut kedatangan Denisa, menarikkan kursi untuk adiknya duduk, Delia menelisik, tak ada Daniel dibelakang adiknya.
"Kamu naik taksi sendiri?" Denisa mengangguk, membuat Delia merasa perih.
"Kak, kok ada kak Abian?" Lirih Denisa berbisik.
Delia tersenyum "Maaf ya sayang, Abian sudah tahu. Tapi kamu tenang aja, dia akan jaga rahasia ini." Delia kemudian berpaling ke perut Denisa yang sudah terlihat menonjol, dia menunduk, mengusap perut Denisa. "Dia sehat Denisa?"
"Sehat Kak, gerakanya juga sudah mulai kencang." Denisa ikut mengusap perutnya 'Sayangnya kak Daniel tidak pernah menyapa anaknya kak' lirih Denisa, walau sekarang mertuanya mulai perhatian, tapi dia tidak pernah mendapat perhatian dari Daniel.
Delia mendongak, sebenarnya dia tidak sanggup menghadapi hari ini, dan berharap Daniel melupakan perjanjian itu atas kehadiran anaknya, nyatanya justru Daniel yang mengingatkan dia terlebih dahulu "Kamu makin cantik, apapun keputusan Daniel, kamu siap?"
Denisa melipat bibirnya "Siap Kak, aku siap, aku akan bertanggungjawab atas kesalahan aku sendiri."
Delia menggenggam erat kedua tangan Denisa, memberikan kekuatan untuk adiknya. Semua yang mereka lakukan, tak luput dari perhatian Abian.
"Maaf aku terlambat," ujar suara berat itu, "kalian belum lama kan?"
"Sudah hampir satu jam," jawab Abian.