
Malam ini Daniel mencari tau dimana keberadaan Attaya, dia penasaran, ada masalah apa antara Attaya dan Delia, dia yakin bukan hanya masalah perebutan pasangan. Entah mengapa hati nuraninya mengatakan dia untuk melindungi gadis yang sangat ia inginkan itu.
Daniel menelepon barista ditempatnya biasa minum menanyakan apakah ada Attaya atau tidak, ternyata wanita itu muncul hanya malam-malam tertentu. Daniel meminta nomor Attaya pada barista itu, dan dia mendapatkannya.
Daniel mulai melacak keberadaan Attaya dari nomornya, ternyata dia sedang berada di club malam. Daniel segera menjalankan mobilnya menuju tempat sesuai petunjuk maps.
Dua puluh menit, Daniel sudah sampai ditempat yang dituju. Sebuah bangunan ruko, yang jika orang awam melihatnya, pasti mengira ini ruko biasa, karena tak ada plang atau petunjuk lain jika itu adalah tempat hiburan malam. Daniel yakin jika tempat ini banyak menjual barang ilegal, dan obat-obatan terlarang.
Sayang sekali jika benar Attaya berada disini, pikir Daniel.
Suara dentuman musik yang memekakan telinga menyambut kedatangan Daniel, matanya awas mencari keberadaan Attaya, karena paras dan penampilan yang menunjukkan jika dia bukan dari kalangan biasa, tentu saja kedatangan Daniel langsung disambut oleh beberapa wanita berpakaian seksi kurang bahan menghampirinya, dengan sentuhan-sentuhan menggoda.
"Apa diantara kalian ada yang melihat model bernama Attaya?" tanya Daniel memanfaatkan wanita-wanita cantik itu.
"Kenapa mesti cari yang sudah ada pelangganya?, kita disini masih sendiri. Butuh teman minum?" ujar wanita memakai baju keemasan sambil meraba dada Daniel sensual.
Daniel menurunkan tangan wanita itu lembut "Jika kamu menunjukkan dimana Attaya, aku akan membayar mu, sama dengan kamu melayani satu laki-laki, tapi setelah ini, pulanglah. Aku ada perlu dengan Attaya."
"Kamu pikir kamu siapa?, jangan sok baik. Aku tak butuh uang mu, jangan sok suci jika masih mendatangi tempat seperti ini," ucap wanita itu tak suka dengan cara Daniel "Untuk Attaya, cari sendiri dilantai atas, dia sedang tamu Vip," ucapnya ketus dan langsung meninggalkan Daniel begitu saja.
Daniel menggaruk keningnya yang tak gatal, merutuki mulutnya, entah mengapa, melihat gadis seumuran Delia, membuatnya teringat pada Delia.
Mata Daniel awas saat menaiki anak tangga, melihat setiap wanita yang yang turun siap dibungkus laki-laki hidung belang, takut terlewat jika Attaya turun tanpa sepengetahuannya.
Saat sudah berada dilantai atas, Daniel langsung menangkap sosok yang dicarinya, Attaya sudah setengah mabuk, ada dua laki-laki yang berada disisi kanan kirinya, Attaya diam saja saat salah satu diantara laki-laki itu sudah ada yang merre mat gundukan buah dadanya, dan satu laki-laki lagi, sudah menelusupkan tangannya diantara sela-sela paha mulusnya.
"Ehem maaf tuan-tuan, bisa saya pinjam Attaya sebentar?"
Kedua laki-laki yang sedang asik itu merasa terganggu dengan kedatangan Daniel.
"Siapa kamu?, berani mengganggu kesenangan kita. Attaya sudah menjadi milik kami malam ini, jadi kamu tak berhak mengambilnya."
"Tapi untuk malam ini, aku sangat butuh dia, saya akan bayar ganti rugi kalian."
"Bedebbah, siapa kamu? anak bau kencur sok banyak uang." Laki-laki berumur sekitar empat puluh tahunan lebih itu berdiri, menantang Daniel.
"Saya tidak mau ribut, tapi tolong, saya pinjam Attaya untuk malam ini saja."
"Dia siapa sih?" gumam Attaya yang mendengar namanya disebut-sebut dan merasa jadi rebutan.
"Attaya, aku Daniel, ayo pulang sama aku. Ada banyak yang mau aku bicarakan sama kamu."
Attaya menyipitkan matanya yang setengah memejam. "Daniel?, apa kamu mau membahas Abian dan pramugari itu?"
"Iya, ayo aku bantu." Daniel menghampiri Attaya, dia menundukkan badanya ingin membantu Attaya berdiri, namun dihalangi oleh dua laki-laki yang bersama Attaya tadi.
"Hei Attaya tidak boleh pergi, kami sudah membayar dia malam ini, jadi dia tidak boleh pergi, atau kamu akan tahu akibatnya," ucap laki-laki berperut buncit satunya sedikit teriak.
"Aku bilang aku akan mengganti ruginya, jadi lepaskan dia."
Kedua laki-laki itu maju ingin melayangkan pukulan pada Daniel, tapi tiba-tiba datang dua orang preman berpakaian jas rapi mencondongkan senjata diperutnya, sontak kedua laki-laki tadi mundur dan mengangkat tanganya.
"Urus kedua orang itu, dan kembalikan unag yang sudah dibayarkan pada Attaya, " ucap Daniel seraya membawa Attaya keluar dari tempat itu.
Daniel bukan membawa Attaya ke hotel atau ke apartemenya, tapi membawa Attaya pulang ke apartemenya Attaya. Daniel juga membawa beberapa slop minuman. Dia ingin membuat Attaya lebih mabuk lagi, agar mempermudahkanya mencari informasi mengenai Delia.
Dan usaha Daniel berhasil, dalam keadaan mabuk beratnya, Attaya mengakui jika dia menabrak lari ayah Delia, perselingkuhanya dengan Managernya saat dia masih berpacaran dengan Abian, hingga Abian yang memergokinya sedang melakukannya adegan panas mereka.
Daniel mengepalkan tangannya, rasa tak terima muncul begitu saja saat mendengar ayah Delia meninggal karena ada hubungannya dengan Attaya dan Abian. Dan Abian membiarkan Attaya bebas begitu saja.
* * *
Abian mematut wajahnya dikaca yang tergantung ditembok samping pintu kamar mandinya. Dia memegangi dadanya yang berdetak kencang, belum juga bertemu dengan Delia, tapi jantungnya sudah belingsatan tak karuan.
"Inhale, exhale, Inhale, exhale."
"Pemanasan, biar tak gugup," ujarnya pada diri sendiri.
Kembali, dia merapikan rambutnya yang sudah kaku karena pomade melebihi bulu landak, dia harus memastikan jika penampilannya kali ini benar-benar paripurna, agar Delia terlena oleh pesonanya. Abian mengenakan celana jeans warna hitam, dipadukan kaos abu-abu sebagai atasanya, ia kemudian memasang jam tangan hitamnya, dan tak lupa kaca mata hitam yang ia selipkan di kerah kaosnya.
Abian berlarian kecil menuruni anak tangga, hatinya terlalu senang, setelah beberapa hari tak bertemu Delia, membuat rindu begitu membuncah.
"Bi, mau kemana?, ayam jago papa kayaknya harus dipotong deh, tumben anak bungsunya jam segini udah rapih aja."
Abian mengambil buah apel yang ada ditangan mamanya, dan langsung menggigitnya.
"Masih gelap loh sayang, sarapan dulu."
"Nanti Ma, sarapan sama Delia."
"Bian, sini ngopi sebentar sama Papa, diluar juga masih agak gelap." Laki-laki yang masih menggunakan sarung itu menyeruput kopinya yang masih mengeluarkan sedikit kepulan asap. Dia duduk di kursi tunggal sebagai pemimpin kepala keluarga.
Menurut, Abian menggeser kursi makan dan duduk disebelah kiri papanya.
"Kopi pagi nggak bagus buat lambung Papa yang sudah diumur, kurang-kurangi Pa." Abian mengambil kue lapis berwarna putih dan hijau yang bertumpuk.
"Kopi less sugar justru bagus untuk membantu meningkatkan memori, dan membersihkan perut. Kamu harus tau itu. Yang tak baik itu kalau sering nginep berdua yang bukan pasangan halal, banyak setan disekitarnya."
"Iya, Bian tahu Pa."
"Papa percaya sama kamu, Papa cuma mengingatkan, takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, tahan diri."
"Iya Pa, percayakan semua sama Abian, Abian pasti bisa kontrol diri."
Abian melihat papanya yang sedang menggaruk lehernya, dan tak sengaja, Abian menangkap banyak tanda merah di sekitar dada laki-laki berusia enam puluh lima tahun itu.
"Shitttt Pa, apa Papa sebentar lagi akan berubah menjadi macan tutul?, hati-hati Pa, jika cucu-cucu dan anak Papa yang ceriwis itu lihat, habis Papa."
Abian mendorong kursinya, meninggalkan kedua orang tuanya yang bingung atas ucapan anak bungsu mereka. Tentu saja Amanda terlebih dahulu menyadari itu.
"Pa," Amanda mesem-mesem. "Itu, semalam, maaf, Mama nggak sengaja kerokin dada Papa."
Papa Abian langsung mengangkat kaosnya "Astaga Ma, APA INI??"
* * *
Sepanjang perjalanannya Abian terus bersenandung, hari ini dia kembali mengendarai motornya, ingin mengajak Delia jalan-jalan romantis seperti anak muda pada umumnya, dada Delia yang menempel di punggungnya, dengan tangan yang melingkar diperut ratanya. Dan tangannya yang sesekali membelai paha Delia dari depan.
Ahh indah sekali hidup ini.
Abian benar-benar merindukan Delia.
Apa yang akan dilakukannya saat bertemu Delia nanti ya?, memeluk Delia dari belakang yang masih tertidur, lalu Delia membelalakkan matanya karena terkejut dengan kehadirannya, kemuadian dia mengecupi wajah Delia tanpa ada yang tertinggal seincipun. Dia akan mengungkung tubuh Delia dibawanya, mengecap rasa manis dibibir khas bangun tidur Delia, lalu Delia terlena, dan dia bisa memasuki tubuh Delia, yang akan menuntut Delia mau tak mau harus menikah dengannya.
Astaga, kenapa pikirannya pagi-pagi begini sudah mesum, mengenal Delia membuat Abian seperti laki-laki h1persex dan mesum.
Tapi sayang, semua yang Abian bayangkan hanyalah anganya saja, katena Abian harus menerima kenyataan, jika dia bisa tak menemukan Delia dimanapun, kamar itu bahkan rapih, dengan kondisi lampu apartemen yang menyala semua.
Panik, marah, kecewa, rindu, berkumpul menjadi satu. Dada Abian sesak dengan tubuhnya yang perlahan mulai melemas, saat dia menemukan secarik kertas yang Delia letakkan dianakas.
*Hai Captain Abian,
My big baby,
Jika kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tak ada lagi. Maaf jika aku membuat mu marah.
Aku mencintai kamu Bi, sangat. Maka izinkan aku tetap memakai cincin pemberian dari mu, aku menyukainya.
Jangan cari aku ya Bi, biarkan takdir yang mempertemukan kita, jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, tapi jika tidak, aku akan mengembalikan cincin ini*.
Sampai bertemu diwaktu yang tepat ya Bi, aku pasti sangat merindukanmu.
Oh ya Bi, pakai gelang itu ya, jika saat kita bertemu, dan kamu masih memakai gelang itu, berarti kamu sabar menunggu ku.
Abian melihat gelang yang ada diatas surat itu, sebuah gelang Bottage veneta bracelet dengan bandul berinisial A dan D.
Tak terasa Abian menitikkan air matanya, dia berpikir, apa ada kata-katanya yang menyakiti Delia, hingga Delia meninggalkanya?. Abian memejam, menghalau bulir yang akan terus mendesak untuk keluar.
"Delia kamu_" Abian tak bisa berkata-kata lagi, apa yang dirasakanya sekarang pun, Abian tak tahu.
.
.
.
.
Happy weekend smuanya, tetap like dan komen ya... salam sehat dan sayang 🥰😍😘