
Assalamualaikum semua pembaca ku, sebelumnya aku mau kasih tau dulu sebelum lanjut baca, cerita ini hanya fiktif belaka, bukan kisah nyata. Semua yang terjadi murni hayalan Authornya, dan juga bukan sok pintar atau apalah macamnya, pengalaman dan wawasanya juga masih kurang, jadi jika ada kesalahan sana-sini, harap dimaklumi, dan tidak memungkiri jika memang ada sedikit inspirasi dari beberapa potongan film dan cerita dalam masyarakat. Serius ini hanya untuk bacaan aja, pelengkap cerita, judulnya aja tentang pramugari, jadi sekitar hal tentang penerbangan pastinya.
Jadi sebelum ada yang komen begitu Authornya sadar diri cuma orang awam, hahahaha soalnya kalau ada yang komen seperti itu kadang ada rasa nggak nyaman dan author yang masih plin plan dan belum punya pendirian ini suka gonta-ganti alur. Masukin part ini juga maju mundur, harusnya ini ada dipart awal. Semoga semua ceritanya madih diterima dengan baik.
Dan makasih yang masih setia sampai sekarang, yang rela dengan seikhlas hati menyumbangkan gift, vote, komen, ataupun like, untuk cerita yang masih banyak kekurangan sana-sini, apalagi typonya banyak up nya lambat karena emang nggak pandai merangkai kata, hihihi curhat.
Sekali lagi makasih banyak ya, love you allπππ₯° semoga terhibur.
Tetap jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, gift, favorit ya wkwkwk aku ngelunjak.
*
*
*
Kematian itu pasti, semua makhluk hidup didunia ini pasti akan menjemput ajalnya masing-masing, kapan saja, dimana saja, bagaimanapun keadaanya, sehat ataupun sakit, tua maupun muda, senang atau susah.
Dan itu yang sedang terjadi saat ini, saat breifing semua awak cabin sudah diberi tahu jika dalam perjalanan mereka akan mengalami sedikit guncangan atau turbulensi yang diperkirakan diketinggian 7500m, hal itu sebenarnya sering dan hal biasa dalam dunia penerbangan, apalagi cuaca buruk seringkali tidak bisa diperiksi perubahannya. Sebelum berangkatpun pilot sudah membaca dan mempelajari prakiraan cuaca, serta kesiapan dan kelayakan pesawat, semua sudah dipastikan layak dan aman untuk terbang.
Namun lagi-lagi, manusia hanya bisa berencana, dan untuk kedepannya, pemilik kehidupan yang menentukan, kita hanya menjalani skenario yang telah ditentukan sejak kita masih didalam kandungan.
Setelah Delia telah menyampaikan announcement dan Cecilia selesai memperagakan instruksi keamanan, dan membimbing ketika dalam kondisi darurat. Mereka berdua duduk ditempatnya, karena kini mereka mulai menaiki diketinggian 7000m, dan guncangan kecil itu benar terjadi, sontak beberapa penumpang langsung mengucapkan seruan dzikir dan doa, ada yang mengelus dada karena terkejut, ada juga yang latah menyebut nama ibu mereka, serta berteriak panik, dan ada juga yang sudah menitikkan airmata sebab ini pengalaman pertama baginya dan lain sebagainya.
"Ladies and gantleman, diberitahukan kepada seluruh penumpang kita sekarang melintasi zona turbulensi, silahkan kembali ke kursi anda dan menjaga sabuk pengaman anda, dimohon untuk tetap tenang, atur pernapasan, dan jangan lupa berdoa agar selamat sampai tujuan. Terima kasih."
Seruan announcement dari Dewi memberitahukan.
Dewi dan Rendy yang saat ini masih berada di ruang istirahat pramugari, melihat Delia dan Cecilia sudah duduk dan memakai sabuk pengaman, setelah memastikan semua teman mereka aman, Dewi dan Rendy membuka obrolan seputar rumah tangga, Rendy yang memang sedang ada masalah, banyak mengulik banyak perihal masalah rumah tangga pada Dewi, namun dia tetap merahasiakan masalah rumah tangganya.
Namun tak lama guncangan itu kembali terjadi, masih guncangan biasa namun kali ini cukup lama, penumpang semakin dibuat panik, mereka menyerukan ucapan pujian kepada Tuhanya.
"Mama ini ada apa?" tanya balita cantik yang terdengar oleh Delia dan Cecilia.
"Tidak ada apa-apa sayang, pesawatnya lagi jalan diatas awan, jadi pesawatnya goyang, makanya, dedek berdoa ya, biar kita selamat sampai tujuan, bisa ketemu nenek. " Ibu balita itu menjelaskan dan menenangkan, Delia tersenyum pada balita cantik itu yang terlihat dari tempat duduknya ramah.
Setelah turbulensi itu hilang, Cecilia dan Delia segera membagikan makanan pada para penumpang, keadaan berjalan normal seperti biasa. Dan tiba-tiba saja pesawat seperti menukik, menyebabkan Delia dan Cecilia yang sedang menbagikan makanan terseret, dan satu penumpang wanita yang sudah melepaskan sabuk pengaman terpental, kepala Delia terbentur sandaran kursi akibat dorongan dari penumpang tersebut.
Penumpang semakin panik melihat kejadian itu. Teriakan dari penumpang tak dapat dihindari. Delia tidak memikirkan keadaanya, justru dia memikirkan keadaan penumpang yang membenturnya.
"Kamu nggak papa?" tanya Delia pada gadis itu.
"Nggak papa Kak,"
"Tolong semuanya, bantuin mbaknya sampai ke tempat duduknya," teriak Delia sekuat tenaga sambil memegangi kepalanya dan memegang perutnya, sebisa mungkin dia tetap kuat.
Rendy yang melihat Delia dan Cecilia terjatuh membantu keduanya, dan juga dibantu para penumpang. Delia dan Cecilia telah berhasil kembali ketempat duduknya. Delia memegangi perutnya, dia sempat terjatuh, sekarang pikiran Delia terbagi, walau belum sempat melakukan tes, namun dia menyakini, jika malaikat kecil mereka sudah ada didalam perutnya.
"Semoga kamu kuat ya nak, dan kita bisa bertemu." Delia kembali mengusap perutnya.
"Kamu nggak papa Del?" Tanya Cecilia saat dilihatnya wajah Delia memucat dan berubah panik.
Delia menggeleng, "I'm okey." dustanya, tidak ingin mengatakan pada siapapun sebelum Abian tahu.
Rendy yang tadinya ingin keruang kokpit ia urungkan, dia harus menemani para pramugari menangani penumpang yang panik, karena diruang kokpit sudah ia percayakan pada Captain Abian dan Captain Ridwan.
"Pak pilot, ini ada apa sih? Kalau udah tau cuaca buruk, kenapa tadi maksain terbang, ini mau bikin kita mati semua?" Teriak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan.
"Harap tenang pak, jangan berucap sembarangan, kita sedang berada di ketinggian, kita percayakan saja pada Captain kita. Yang tersesat digunung kawi aja masih bisa selamat loh Pak." gurau Rendy mencoba santai dan menenangkan.
"Alahhhh, keadaan kayak gini gimana bisa tenang sih pak pilot, kalau udah begini, kita nggak akan ada yang selamat. Kasian anak istri saya dibawah nungguin."
"Pak, bisa dijaga nggak ucapannya, emang bapak aja yang punya keluarga, saya juga, mana saya belum nikah," Cecilia jadi geram pada laki-laki itu.
"Captain jangan disini aja, bilang sama temannya yang disana (kokpit) penumpang pada panik." Bapak tadi masih belum menyerah, dai juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya Capt, coba lihat apa yang terjadi didalam?" Jawab penumpang yang lainnya.
"Sebaiknya bapak-bapak semua pada tenang, jangan bikin suasana jadi panik, tetap duduk ditempat Pak, jangan menyalahkan siapa-siapa, tidak ada yang tahu ini akan terjadi, suami saya yang mengendalikan pesawatnya, jadi saya yakin, dia akan membawa kita semua akan selamat." Delia ikut menenangkan.
"Iya udahlah pak, duduk saja. Lebih baik berdoa dari pada ribut-ribut, bikin anak saya nangis dengarnya." Seorang ibu menimpali.
Kedua laki-laki yang sempat protes tadi memilih duduk dan diam karena merasa diserang. Tak banyak yang mendukung protes mereka, dan kembali mereka memakai sabuk pengaman.
Delia, Cecilia, Voni, dan seorang pramugari satu lagi saking pandang menyakinkan dan saling menguatkan, mereka sama halnya dengan penumpang, mengeratkan sabuk pengaman, dan berpegang kuat. Rendy pun melakukan hal yang sama, dia pasrah, jika memang ini sudah ajalnya, dia tak akan menjalani proses sidang perceraian dengan Voni.
"Semoga kamu bahagia ayank, bersama dengan laki-laki pilihan padamu." Rendy memejamkan mata, mengingat wajah anaknya yang cantik, wajah yang akan diingatnya disaat terakhirnya.
Didalam kokpit, sebelum kejadian, Abian dan Captain Ridwan menceklis dan mencatat ketinggian mereka ketika take off, meminta izin ketinggian, dan terus melakukan komunikasi terhadap pihak ATC, mereka mengabarkan jika telah melewati turbulensi dengan aman.
Namun tak berselang lama, mendung tiba-tiba datang, dan petir menyambar bagian depan pesawat, menyebabkan keterkejutan pada Abian dan Captain Ridwan, beruntung keajaiban berpihak pada mereka, pesawat tidak mengalami kerusakan, hingga Abian memutuskan untuk menurunkan pesawat tiba-tiba demi menghindari gumpalan awan hitam, yang menyebabkan guncangan, dan tanpa Abian sadari, jika istrinya menjadi korban guncangan tersebut.
"Sory Capt, aku harus menurunkan ketinggian," ujar Abian.
Captain Ridwan mengangguk, lalu menginformasikan ke ruang kontrol jika mereka tadi sempat melakukan penurunan ketinggian dari 9000m ke 8000m secara tiba-tiba untuk menghindari awan hitam dan itu spontan.
Kembali lagi, cuaca benar-benar tidak bisa diperiksi, kini didepanya mereka kembali harus menemui badai, awan yang lebih hitam dari sebelumnya, mereka seperti dikelilingi awan tsunami, Abian sampai tak bisa melihat jarak pandang.
Captain Abian dan Captain Ridwan berbagi tugas, Abian terus fokus pada cuaca didepan, dan Captain Ridwan mencoba untuk berbicara pada ruang control agar bisa memberikan instruksi, apakah ada jalan keluar selain menembus awan hitam, namun sayang, cuaca buruk menyebabkan sinyal dan komunikasi mereka tersendat.
Di ruang kontrol, mereka telah menerima dan merespon laporan dari Captain Ridwan, ATC meminta agar mereka harus menaikkan ketinggian dari 8000m ke 1000m secara perlahan agar terhindar dari awan hitam. Namun Captain Ridwan tidak menerima respon itu karena faktor sinyal, menyebabkan ruang kontrol menjadi sedikit panik. Namun mereka tetap mengontrol keberadaan pesawat yang masih terlihat diradar.
"Pak, pesawat yang dikendalikan Captain Ridwan dan Abian mengalami cuaca buruk." Ucap salah seorang pegawai ATC pada papa Abian yang kebetulan sedang berkunjung disana.
Papa Abian mengangguk "Masih terdeteksi?"
"Masih Pak."
"Terus kontrol dan beri arahan," Papa Abian masih berucap tenang, hal ini biasa terjadi.
Abian mencoba mempertahankan ketinggian agar tetap stabil, dia mengecek bahan bakar cukup untuk dia memutar balik, inilah alasannya dia selalu meleibihkan bahan bakar dari pemesanan, kini Abian harus memilih, apakah dia harus putar balik, menerobos awan hitam atau turun, karena komunikasi dengan pihak ATC pun tidak berjalan lancar.
"Bismillah Capt, kita harus yakin, kita pasti bisa bertemu keluarga kita, dan aku yakin ada kesempatan untuk melihat istriku hamil," Abian menyemangati Captain Ridwan dan dirinya sendiri, dia yakin bisa melewati badai ini, dan hidup bahagia bersama Delia, yang kini juga ikut terbang bersamanya, dalam penerbangan terakhir istrinya itu.
"Iya Captain Abian, kita harus yakin jika kita bisa pulang dengan selamat." Jawab Captain Ridwan sambil tertawa, mencoba agar Abian tak panik, namun didalam tawannya, bayang-bayang anak istrinya seolah-olah menari dikepalanya, entah dia tidak yakin bisa pulang atau tidak.
Dia kemudian memeriksa semua kendali pesawat dan coba terus menghubungi pusat kontrol.
"Gimana Capt, apa kita Siap menerobos atau putar balik?" tanya Abian kembali menyakinkan.
"Kita coba putar balik Capt, awanya terlalu tebal." Captain Ridwan memberi solusi.
Dan Abian menarik tuas, mencoba memutar balik namun malah membuat pesawat oleng, hal itu menimbulkan kepanikan diruang penumpang, semua penumpang berteriak panik, mereka sampai ada yang menagis.
Karena gagal mencoba putar balik, Abian memutuskan untuk menerobos awan hitam itu.
Abian menyerukan pada Dewi untuk memberi tahu penumpang jika mereka akan berpetualang diawan hitam, dan kembali melewati turbulensi yang lebih hebat. Agar penumpang yakin mereka akan mendarat dengan selamat, maka selama itu, penumpang diminta tenang dan kerjasamanya untuk tetap menggunakan sabuk pengaman dan berpegang erat, Abian mulai melepaskan kantung oksigen, berjaga-jaga jika didalam awan hitam dikhawatirkan tekanan udara tidak mendukung.
Dewi menerima laporan dari Captain Abian, dan memberi tahu hal itu pada para penumpang, kemudian mengontrol anggotanya, Delia, Cecilia, Rendy yang kini bersama mereka dalam posisi aman.
Abian mulai menerobos awan hitam, guncangan itu semakin kencang, lampu pesawat mulai mati, keadaan menjadi gelap gulita, menyebabkan barang-barang para penumpang berjatuhan, ada yang menimpa kepala, kaki, dan tubuh penumpang itu sendiri, mereka semua berteriak kesakitan.
"Semuanya, tetap tenang ya, berdoa saja kita bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga, percayakan semua pada Captain kita dan tetap terus bernafas apapun yang terjadi." Teriak Dewi.
Allahuakbar ...
Allahuakbar ...
Allahuakbar ...
Teriak para penumpang, dan seruan doa lainnya.
Delia menitikkan airmata, apakah ini benar-benar penerbangan terakhirnya?
Sial, dalam kepanikan, hujan turun menimpa pesawat, diatas ketinggian, air hujan tidak cair seperti didarat, hujan es menghantam pesawat, membuat keadaan semakin mencekam. Cecilia memegang tangan Delia.
"Del, kita yakin bisa pulang kan?" Tanya Cecilia dengan suara bergetar.
"Aku selalu percaya pada suamiku Cil, aku yakin dia bisa membawa kita mendarat." Delia meneguhkan hatinya. Abian selalu menyelamatkan dirinya, jadi Delia yakin, Abian kali ini bisa menyelamatkannya kembali.
Didalam kokpit, Abian dan Captain Ridwan terus mencoba melajukan pesawat didalam awan hitam, mereka tak tahu arah pesawat mereka, dan tak tahu keberadaan ketinggian mereka saat ini walau dari pusat ruang kontrol terus memberikan arahan yang tidak terdengar sama sekali oleh Abian dan Captain Ridwan, hingga Abian dan Captain Ridwan benar-benar kehilangan kendali.
Dan keberadaan mereka kini hilang, pusat kontrol tak lagi melihat keberadaan pesawat yang dikendalikan Abian. Papa Abian mengusap wajahnya panik, matanya sudah berkaca-kaca, ruang kontrol kini diliputi kesedihan dan keputusasaan, petugas ATC terus menghubungi Captain Abian, namun nihil tak ada respon apapun.
129 nyawa dalam pesawat tersebut dalam bahaya.
Suvervisor segera mengambil kendali, namun tetap nihil, pesawat Abian tak lagi bisa dihubungi.
Kemudian, kepala Pusat kontrol menghubungi pangkalan udara untuk meminta bantuan, hak itu langsung direspon, mereka bergerak cepat, para pasukan pangkalan udara segera mencari keberadaan pesawat yang dikendalikan Captain Abian dan Captain Ridwan.
Dan dengan cepat, situs Internet kini ramai oleh berita hilangnya pesawat yang dikendalikan oleh Captain Abian dan Captain Ridwan.
Voni yang sedang memegang botol anaknya pun dibuat terkejut oleh berita tersebut, ia langsung teringat pada Rendy, pagi tadi Rendy sempat mengabarkan, jika hari ini dia terbang bersama Captain Abian, dada Voni seketika sesak, tubuhnya gemetar, persendianya tiba-tiba terasa linu.
"Nggak mungkin, ayank, kamu nggak mungkin ninggalin aku?" Voni menatap kosong didepanya dengan ponsel yang ia dekap didada, jika pagi tadi dia yakin pada keputusanya mengikuti papanya untuk meninggalkan Rendy, kini Voni menyesali keputusanya itu.
Perpisahan karena terputusnya hubungan didunia memang lebih menyakitkan, karena tak akan ada pertemuan kembali, yang tinggal hanyalah kenangan dan rindu yang tak bertepi.
Hal itu juga diketahui Arumi dan Arini yang sedang berada dirumah Arumi, mereka sering mendengarkan berita ini, namun tak pernah pesawat hilang dari radar, tapi entah, kini mereka merasakan keadaan yang berbeda, pesawat jika sudah hilang dari radar, berarti hak terburuk sudah terjadi.