Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Hari Bahagia



"Kak, Kakak yakin mau ajak kak Delia keluar?, ketemu kak Daniel?" Tanya Dania pada Denisa, kedua kakak beradik yang berbeda sekutu ini.


Mereka sedang membereskan kamar Delia dulu yang kini ditempati Denisa, Denisa akan pindah ke kamar Dania sementara, sebab kamar itu akan di hias menjadi kamar pengantin.


"Iya."


"Nanti kalau kak Daniel culik kak Delia gimana?, nanti jadi masalah."


"Nggak mungkin, kak Daniel cuma mau ketemu kak Delia aja, katanya."


Dania yang sedang mengganti seprei mengehentikan aktivitasnya, "Kak, aku tau Kak Denisa suka iri sama kak Delia, tapi Kakak nggak boleh batalin pernikahan kak Delia dan kak Abian."


"Dodol," Denisa mendorong kening Dania "pikiran kamu terlalu jauh, iya aku suka iri sama kak Delia, tapi iri karena kak Delia terlalu disayang ayah, kalau untuk ini, kakak nggak iri, malah seneng kak Delia bakal nikah sama cowok baik-baik, tajir, ganteng, kan Kakak dulu pernah bilang, kita pepetin kak Abian, minta kenalin sama temen kak Abian yang keren-keren."


"Awas ya, kalau terjadi apa-apa sama kak Delia, Kak Denisa tanggungjawab," ucap Dania memperingati.


Setelah bersusah payah merayu neneknya yang tak mengizinkan membawa Delia keluar, sebab malamnya akan ada acara pengajian dengan bermacam alasan, akhirnya Denisa berhasil membawa keluar kakaknya.


Kini dia telah sampai di sebuah mini market sekitar pasar.


"Kakak tunggu sebentar ya, Denisa mau beli sesuatu dulu di dalam, Denisa mau beli sesuatu untuk Kakak," pinta Denisa pada Delia, saat sudah menstandarkan motornya.


"Kamu mau beli apa sih sebenarnya?, jangan lama-lama ya, nanti nenek marah."


"Iya Kak, sebentar aja." Denisa lari, masuk ke mini market.


Tak lama mobil Daniel berhenti tak jauh dari Delia berdiri, Daniel keluar dan menghampiri Delia.


"Del," panggil Daniel dari belakang tubuh Delia.


"Daniel!, kok kamu ada disini?"


"Bisa ikut aku sebentar, cuma sebentar Del, aku sudah izin pada adik kamu."


"Jadi Denisa-"


"Iya, aku yang memintanya untuk bisa bertemu kamu."


Menolak saat Daniel mengajaknya masuk kemobil, akhirnya Daniel dan Delia mengobrol di rumah makan nasi padang yang sedang sepi pengunjung.


"Apa kabar Del?"


"Aku baik Dan, kamu?"


"Aku juga baik, tapi belakangan, semenjak kamu pergi, aku kurang baik."


Delia tertawa, menganggap apa yang dikatakan Daniel guyonan semata.


"Kamu bisa aja."


"Kamu nggak ngabarin aku sudah di sini Del, padahal aku berharap, aku menjadi teman pertama kamu yang kamu temui saat pulang, nyatanya aku kalah dengan Abian, orang yang kamu rindukan."


"Maaf Dan, oh ya, kamu nggak datang dinikahan Voni?"


Daniel tak menjawab pertanyaan Delia, pandanganya lurus terus menatap wajah cantik yang sejak tadi terus tertawa bahagia.


"Kamu bahagia akan menikah dengan Abian Del?"


"Bahagia, aku bahagia. Abian itu unik, galak, tapi manja."


Daniel mengangguk "Aku juga akan manja jika sudah menemukan orang yang tepat untuk bermanja, berarti kamu wanita yang tepat untuk Abian. Doakan aku menemukan wanita yang tepat juga untuk bermanja ya Del?"


"Aamiin, aku doakan ya Dan, kamu laki-laki baik, aku yakin kamu akan menemukan wanita baik yang menjadi pendamping kamu kelak."


"Sayangnya itu akan susah Del, karena wanita itu sebentar lagi menjadi milik orang."


Delia terdiam, dia balas menatap Daniel.


"Aku mencintai kamu Delia, sangat. Tapi memang mungkin kita tidak berjodoh, dan kamu menjadi milik Abian. Aku kalah dari dia, aku tau ini salah Delia, tapi lebih salah lagi jika aku tidak mengungkapkan perasaan ku, walau terlambat. Aku doakan kamu bahagia Delia," Daniel menghapus bulir diujung netranya.


"Dan, aku minta maaf."


"Iya, aku tahu Delia, bolehkan aku memeluk kamu Delia, untuk yang terakhir."


"Maaf Dan, aku takut, nanti ada yang melihat, dan akan menjadi salah paham," tolak Delia.


Daniel berdiri, menghampiri Delia "Hanya sekali ini Delia, agar aku bisa ikhlas, tolong izinkan aku." Ditangannya, Daniel sudah mengeluarkan kalung yang akan dia pasangkan dileher Delia.


Delia ikut berdiri, mulai siaga jika Daniel memaksanya.


Dan benar dugaan Delia, Daniel menarik tangannya, membuatnya masuk kedalam pelukan Daniel, Delia mencoba mendorong dada Daniel, tapi tak bisa, Daniel terlalu kuat mendekapnya. Kemudian Delia merasakan Daniel mengecup puncuk kepalanya. Air mata Delia jatuh, dia membiarkan laki-laki lain menciumnya, padahal hitungan hari dia akan resmi menjadi istri Abian.


"Lepaskan Daniel." Suara bariton itu mengejutkan keduanya, dengan cepat Delia melepaskan pelukan itu, dan menjauh dari Daniel.


"Bi!!" Delia terkejut dengan kedatangan Abian. Sedang Daniel menunduk, dia tak tahu harus berkata apa?.


Delia sangka jika Abian akan kembali marah dan menghajar Daniel, nyatanya tidak. Abian berjalan menghampirinya dan langsung memeluknya, lalu mengusap pucuk kepala Delia yang tadi bekas kecupan Daniel, seperti biasa, cara dia menghapus jejak laki-laki lain di tubuh wanitanya.


"Urusannya sudah selesai kan?, ayo kita pulang. Maaf, bukan aku tak menuruti kata nenekmu untuk tidak menemui mu dulu sampai hari pernikahan kita, aku beruntung memiliki seorang adik yang khawatir kakaknya akan dibawa lari oleh laki-laki lain." Abian melirik Daniel dibelakangnya, Daniel masih menunduk, tak mengatakan sepatah katapun.


Hingga Abian membawa Delia pergi, Daniel tetap diam, tanganya masih menggenggam kalung yang akan diberikanya pada Delia, Daniel terduduk lemas di bangku makan warung nasi padang itu.


"Kak, Daniel. Kakak nggak papa?"


* * *


Didalam mobil, Abian yang akan mengantarkan Delia pulang menghentikan mobilnya. Dia menatap pada Delia yang juga menatapnya.


"Maaf Bi, aku tidak tahu_" suara Delia bergetar, dia takut Abian akan marah seperti waktu itu.


"Bukan salah kamu Delia, aku tahu. Dania sudah menceritakan semua, Daniel memanfaatkan Denisa, dan dia juga selama ini sering memberi Denisa uang tanpa sepengetahuan kamu."


"Apa?, kok bisa?"


"Aku tidak tahu sejak kapan Daniel sering berinteraksi dengan Denisa, tapi aku sempat membawanya kesini saat mencari kamu dulu."


Delia membuang nafas kasar, dia memijit keningnya, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


"Tapi kamu tidak marah kan Bi?"


Abian menggeleng "Kalau aku marah, pernikahan kita bisa batal, aku akan kehilangan kamu lagi, aku nggak mau itu, padahal coba tadi paman kamu menyetujui dulu kita akad nikah, hal ini tidak akan terjadi."


Delia tertawa kecil "Walaupun kita akad sekarang, kamu tidak bisa melakukan apa-apa Bi, aku datang tamu bulanan."


"Apa?" Kini Abian yang terkejut "Berapa lama Del?"


"Biasanya paling cepat lima hari."


"Lima hari? berarti aku harus menunggu dua hari lagi?" Delia mengangguk.


"Sabar ya my big baby," Delia mengusap pipi Abian "yang penting kan udah sah, lagian memang tujuan menikah bukan hanya untuk melakukan itu kan?"


"Apalagi Delia?, yang ditunggu-tunggu setelah menikah ya malam pertama," ucap Abian lemah, dia menyandarkan kepalanya disandaran kursi.


* * *


Walaupun pernikahan Delia dan Abian terbilang mendadak, namun keluarga Delia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, beruntung mereka memiliki kerabat yang memiliki WO sendiri, sehingga bisa mempermudahkan segala yang dibutuhkan keluarga Delia.


Sesuai keinginan nenek dari ayahnya, malam hari setelah lamaran, keluarga Delia mengadakan pengajian yang dihadiri kerabat serta tetangga mereka, serta keesokan harinya, Abian dan Delia melakukan siraman yang dilakukan ditempat yang berbeda.


Delia merasa terharu, keluarga besarnya semua kompak, bergotong royong, bahu membahu demi acara pernikahan yang terbilang mendadak ini tetap terlaksana sebaik mungkin, dan melakukan acara adat yang dia sendiri tak begitu paham.


Dan sore hari sebelum acara akadnya, Delia sempat mengunjungi makam ayahnya untuk meminta restu, hal itu juga dilakukan keluarga Abian diwaktu yang berbeda, mengingat Abian dan Delia belum boleh bertemu.


Hingga waktu yang dinanti-nanti itu telah tiba, didepan rumah Delia telah berdiri tenda berwarna biru bercampur putih yang dihiasi bunga berwarna senada. Bukan tanpa alasan mereka memilih warna itu, sebab melambangkan profesi Delia dan Abian yang banyak menghabiskan waktu di udara.


Tak lupa juga, telah berdiri panggung kokoh tempat diletakkanya organ tunggal sebagai hiburan, disana sudah ada dua wanita cantik sebagai pengisi suara, telah menyumbangkan suara emas mereka sebagai acara pembuka sebelum acara sakral dimulai.


Keluarga Abian datang berjalan kaki menuju rumah Delia, sebab jarak yang tak terlalu jauh. Abian tampil gagah dengan mengenakan beskap putih sebagai atasan, dan kain jarik sebagai bawahan, tak lupa sebagai aksesoris telah menggantung dilehernya, rangkaian bunga melati yang mengeluarkan aroma khasnya.


Abian mengambil duduk didepan meja kecil, disana sudah ada seorang petugas yang akan bertugas menikahkan mereka, serta dua orang saksi, perwakilan dari keluarga Abian yaitu mertua dari Arumi, dan dari keluarga Delia, seorang pejabat lurah yang mengenal ayah Delia, dan paman Delia, adik dari ayahnya, yang akan menjadi wali Delia.


Abian tak henti membuang nafas dari mulutnya, untuk menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba datang, dengan bibir yang sering ia lipat agar tak mengganggu konsentrainya menghapalkan kalimat yang akan ia ucapkan nanti.


Jantung Abian semakin berdetak tak beraturan saat seorang penghulu meminta Delia untuk dipanggilkan, matanya ikut menyorot pada pintu dimana nanti Delia akan muncul, tanpa Abian sadari, dia terus mengusap telapak tanganya yang terus mengeluarkan keringat, Abian gugup.


Bak tersihir, mata Abian tak bisa berpaling sedetikpun saat sosok cantik yang dinantinya keluar dengan senyum yang terus mengembang, dengan dibibir yang dipoles lipstik berwarna nude, membuat Delia tampak semakin cantik.


Delia tampil anggun dengan kebaya putih berkerah V, berhiaskan manik-manik yang menempel diseluruh bagianya, dan dipadukan rok jarik bermotif kabet lereng eneng prada.


Hingga Delia duduk disebelahnya, Abian tak berkedip sama sekali, bahkan panggilan dari penghulu seolah menulikan telinga Abian. Arumi yang gemas menekan ibu jari Abian membuat Abian tersadar, dan dia harus menunduk malu karena ditertawakan oleh orang-orang yang melihatnya.


"Udah tua malu-maluin ihh." Rutuk Arumi dibelakang Abian.


Dan tibalah waktu dimana acara akan dimulai, kata sambutan telah diucapkan dari perwakilan keluarga masing-masing, hingga dimana waktu yang ditunggu, dengan sekali tarikan nafas, Abian berhasil mengucapkan janji suci pernikahan itu dengan lantang dan tegas.


Para tamu menengadahkan tangannya mengaminkan bait-bait doa yang dipanjatkan untuk kelanggengan rumah tangga Abian dan Delia. Abian menyempatkan cincin untuk Delia, serta Delia mencium punggung tangan Abian, untuk pertama kali sebagai sepasang suami istri.


Padahal Abian hanya diminta untuk mencium kening Delia untuk pertama kali sebagai sepasang suami istri, namun laki-laki itu malah mengecup bibir Delia, membuat para tamu tertawa dengan apa yang dilakukannya.


"Nggak papa, kan sudah sah." Ucapnya membela diri, lagi-lagi saat Arumi menegurnya.


* * *


"Acara dangdutanya masih lama Del?" bisik Abian saat mereka duduk di pelaminan, didampingi maam dan papa Abian, serta mama Delia dan juga pamanya, mereka berdiri, bersalaman dengan para tamu undangan.


"Kata mama hanya sampai jam dua belas, kenapa kamu capek?"


"Ia, kepala ku pusing," Abian memijit keningnya "Kita ke kamar duluan nggak papa kan?"


"Nggak enak sama yang lain Bi, tamu juga masih banyak."


"Bagaimana? apa pengantin ingin menyumbangkan lagu?, nanti banyak yang nyawer?" terdengar suara MC memanggil nama mereka dari atas panggung yang berseberangan dengan pelaminan mereka.


.


.


.


.


Apa ada yang kayak Abian? nungguin malam pertama? Sabarr, next chapter. Eh ini malam jumat ya?, pas ya buat malam pertama mereka.🤣🤣🤣 Semoga tamu bulanan Delia sudah pulang ya 🤭😂😂