Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Kurang Tokcer?



"Kak, Kakak sudah baca pesan aku kan?" Ujar Denisa dari seberang sana.


"Iya, selamat ya dek, kamu sebentar lagi mau jadi ibu," jawab Delia telepon adiknya, dia sedang memasak sop buntut dan sambal kentang untuk Abian sebelum berangkat bekerja.


"Kak, Denisa harus gimana? Pernikahan aku dan kak Daniel hanya enam bulan, Denisa tidak sanggup kalau harus pisah sama kak Daniel, Denisa cinta sama kak Daniel. Tapi selama dua bulan pernikahan kami, kak Daniel nggak pernah tidur bareng aku."


Delia mematikan kompor, dia memijit pelipisnya pusing, kabar kehamilan Delia memberikan luka dihati adiknya, padahal seharusnya kabar kehamilan Denisa menjadi kabar yang membahagiakan, Delia sendiri cukup bahagia mendengar Denisa hamil. Tapi mereka tidak lupa, jika pernikahan Denisa dan Daniel terjadi karena kesalahan Denisa sendiri, dan mereka menyepakati jika pernikahan ini akan berlangsung hanya enam bulan, sebagai bentuk rasa tanggung jawab Daniel, menyelamatkan status Denisa.


"Kak," panggil Denisa dari seberang, karena tak terdengar jawaban apa-apa dari kakaknya itu.


"Kamu jangan khawatir, oh ya Denisa, apa Daniel sudah tahu kabar ini?"


"Belum Kak, aku takut ngasih tau kak Daniel, Denisa bingung Kak, buat kasih tau mama juga Denisa takut, Denisa harus gimana kak?"


Delia menarik nafas berat, setelah pernikahan, ternyata permasalahan Denisa belum sepenuhnya selesai, dan Delia merasa bertanggung jawab atas adiknya. "Kamu jangan khawatir ya, nanti kita bahas sama-sama, dan jangan banyak pikiran. Jaga kehamilan kamu baik-baik, makan yang banyak, juga yang mengandung banyak vitamin, nanti pulang kerja kita ketemuan. Tapi sebaiknya kamu coba kasih tau Daniel dulu, bagaimanapun dia ayahnya." Delia terlonjak karena tiba-tiba ada tangan yang melingkar diperutnya.


"Biiiii, kamu udah bangun?" Delia mengusap pipi Abian yang berada dipundaknnya.


"Aku dengar kamu sebut nama laki-laki itu, aku udah bilang kan? Bibir kamu nggak ada lebel halalnya buat sebutin nama dia." Abian menarik dagu Delia kesamping untuk menghadapnya, dan langsung menautkan bibirnya pada bibir Delia. Delia menyambut ciuman suaminya, dan seketika membuatnya lupa jika belum mematikan panggilanya dengan Denisa.


Denisa yang mendengar itu tersenyum miris, dia kembali dibuat iri oleh kebahagiaan Delia. Denisa mematikan sambungan teleponnya, sebab dia tak kuat harus mendengar suara ceca pan kedua insan yang dimabuk asmara itu. Dia juga ingin diperlakukan seperti itu oleh Daniel, tapi sekalipun Daniel tak pernah menyentuhnya, walau mereka sudah sah menikah.


Denisa menunduk, meraba perutnya yang masih rata, diusianya yang belum genap dua puluh tahun dia harus menerima kenyataan jika dia telah berbadan dua, dan akan segera menjadi ibu, dia bahkan meninggalkan kuliahnya sementara untuk membuat Daniel bisa jatuh hati padanya, memasak, dan menyiapkan pakaian Daniel kekantor. Dan memberikan segala perhatian untuk Daniel, apalagi mama Daniel yang suka menyindir, jika istrinya tidak becus mengurus suami. Denisa menyadari kekurangannya itu, dia berusaha untuk memperbaiki dirinya, kalaupun nanti dia akan berpisah dari Daniel, dia sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang istri.


Sedang pasangan yang hampir saja melakukan percintaan didapur itu harus terhenti, sebab Delia sebentar lagi harus bersiap-siap untuk ke bekerja.


"Kamu nggak bisa libur aja gitu kalau aku libur." Rengek Abian yang telah dibuat tegang oleh ulahnya sendiri.


Delia tertawa, merapikan rambut singa khas bangun tidur Abian, Abian duduk dibangku makan, sedang Delia berdiri menghadanya "Uhhh big baby gemesnya kalo lagi ngambek, sabar ya, nanti pasti ketemu hari libur bareng."


"Ini yang nggak aku suka kalau kamu kerja, aku lagi mau manja-manjaan kamunya nggak ada, coba kalau kamu dirumah, kan aku bisa nyusu seharian."


Delia terkekeh, "iya, nanti ada waktunya kok big baby, semalam juga nggak lepas-lepas nih bibir, masih belum puas juga?" Delia menarik gemas bibir Abian yang mengerucut.


"Nggak puas-puas, pokoknya mau terus."


"Yaudah mau sarapan sekarang nggak? Aku suapin sebelum berangkat kerja."


"Suapin dulu, kalo nggak disuapin, aku nggak akan makan."


"Iya." Delia duduk disebelah Abian, menyendok nasi dan lauk untuk suami manjanya ini, lalu menyuapi, selama mereka menikah, Abian memang selalu minta disuapi kalau makan, tak terkecuali jika mereka sedang berada dirumah orang tua Abian, laki-laki itu bahkan tidak merasa malu sama sekali meski diledeki keponakanya, dan mereka selalu makan dalam satu piring.


* * *


"Siapa pilotnya hari ini?" tanya Abian saat sudah sampai depan bandara, dia mengantarkan Delia.


"Captain Ridwan." Abian mengangguk, dia senang jika istrinya terbang bersama pilot yang sudah berumur. Delia hendak membuka seatbeltnya, namun langsung dicegah Abian.


"Lupa kalau ini tugas aku?" Abian mendekatkan badanya, dan membuka seatbelt Delia, lalu mengecup bibir istrinya sekilas "Ini fungsinya aku ngelakuin ini."


"Dasar modus."


"Modusin istri sendiri, bukan istri orang."


"Mau istri orang?"


"Nggak, tapi kalau istri orang kamu, ya aku mau, mempertaruhkan nyawa juga aku mau, asal wanita itu kamu."


"Oh ya, apa kamu mau ngelakuin itu Bi?"


Delia tertawa "Benar juga ya, tumben big baby pinter," Delia balas mengecup bibir Abian,"Bi, kak Arumi sudah kasih kabar? Kalau sekarang dia lagi hamil."


Abian mengernyit "Kak Arumi hamil? Dia kasih tau kamu?" Delia mengangguk. "Nggak ada, aku selalu menjadi adik terlupakan, padahal aku adik bungsu, dan satu-satunya laki-laki dikeluarga Philips Hamzah."


"Sabar ya, Bi," Delia merapatkan bibirnya, dia harus memberitahu Abian jika dia sudah melakukan tes "Tadi pagi aku coba tes, tapi masih garis satu, kamu nggak marah kan Bi?"


Bohong jika Abian tidak kecewa dengan pengakuan Delia, namun dia menyembunyikan itu, "nggak pa-pa, berarti aku harus berusaha lebih giat lagi." Abian segera keluar dari mobil enggan membahas itu lebih jauh, dia membukakan pintu untuk Delia. Dan Delia merasakan perubahan raut wajah kecewa, meski laki-laki itu bersusah payah menyembunyikannya.


"Kalau aku belum datang, jangan pulang dulu ya, kabari kalau sudah landing, hari ini empat kali landing kan?" Ucap Abian setelah Delia keluar.


"Iya, semoga jadwalnya nggak berubah, jarak dekat semua."


Delia mencium tangan Abian dan menghilang dibalik tembok kaca ketika dia menuju ruang flops.


Saat Abian akan masuk ke mobilnya, Rendy yang baru saja landing dan akan pulang melihat Abian, dan dia segera memanggilnya.


"Sejak dari Swiss kita nggak pernah ketemu lagi Capt, gimana udah ada kabar belum dari Delia?" Rendy mengajak Abian ngobrol dicafetaria dibandara.


"Kabar apa?" Heran Abian yang tak paham pertanyaan Rendy.


"Ck, ini." Rendy memperagakan tangannya membentuk bulat didepan diperut.


"Belum." Jawab Abian lemas.


"Ahhhh nggak tokcer Captain," canda Rendy, namun dia tak tahu jika ucapannya membuat Abian tersinggung, sebagai lelaki jiwa keperkasaanya merasa direndahkan, namun ia tak mau terbawa perasaan. "Kayak aku donk, beberapa kali pertemuan langsung mendapatkan hasil."


"Emang begitu ya Ren, kalau hasil nggak halal emang cepat jadinya." Timpal Abian balik membercandai Rendy, dan berhasil membuat Rendy bungkam.


"Ahh Captain bisa aja, yang pentingkan hasilnya Capt, mau halal atau enggak, sudah terbukti, kalau bibit Rendy emang unggul, sekali suntik langsung jadi," ujar Rendy beralasan, tak menyadari raut wajah Abian, dan dia langsung menghabiskan kopinya, menghilangkan rasa gugup akibat ucapan Abian, "sebentar lagi usia kandungan Voni masuk tujuh bulan, dia udah ambil cuti juga, kemarin waktu USG, sudah ketahuan bayinya sehat, anak saya cewek Capt, nanti kalau anak Captain cowok, kita besanan ya?" Sambung Rendy begitu bersemangat menceritakanya rumah tangganya yang begitu bahagia.


"Ogah besanan sama kamu, nanti ayang ada anak aku dikenalin sama jin-jin penghuni gunung kawi."


Rendy tergelak "Saya sudah insaf Capt, udah rugi besar, ternyata saya ketipu sama teman saya sendiri yang tinggal didaerah sana, asem emang."


Abian menggeleng, tiga puluh menit mereka mengobrol bersama, terpaksa harus terhenti karena Voni menghubungi Rendy dan minta di belikan sesuatu.


"Duluan ya Capt, gininih menghadapi istri hamil, banyak permintaanya, kalau nggak dituriti nanti katanya anaknya ngences, padahal ibunya yang pengen," Rendy tergelak atas ucapannya sendiri "ada juga yang bilang Capt, cewek itu kalau kerja tapi belum hamil karena faktor kelelahan, bisa jadi itu yang terjadi sama Delia."


"Alah Ren, bilang aja kamu pelit, irit nggak punya uang."


"Sssttt Capt, jangan kenceng-kenceng ngomongnya, nanti didengar orang malu saya. Tapi Capt, ada juga yang bilang, cewek itu kalau kerja, tapi belum hamil itu karena faktor kelelahan, bisa jadi itu yang terjadi sama Delia." Rendy menepuk bahu Abian.


Sepanjang perjalanan pulang Abian terus terpikirkan oleh ucapan Rendy, sudah tiga bulan mereka menikah, benarkah dia yang kurang tokcer? Atau karena Delia yang kelelahan, hingga membuat Delia belum juga mengandung. Abian berencana, dia akan terus membujuk Delia untuk berhenti bekerja.


.


.


.


.


Untuk yang nunggu Denisa, maaf ya, cerita Denisa hanya selingan, tetap topik utama Abian dan Delia, dan sekarang baru memasuki konflik mereka 🀭


Makasih yang udah setia baca hingga bab ini, maaf kalau ceritanya membosankan, love you all😘πŸ₯°πŸ˜β€