Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Menghapus jejaknya.



"Pa, gimana keadaan Delia?" Amanda mengambil tas kerja suaminya, mereka duduk di sofa ruang keluarga.


"Delia sudah stabil, dia sudah menceritakan awal mula kejadiannya, hanya mungkin beberapa hari ini dia harus libur dulu untuk menenangkan diri."


"Ya Tuhan, Delia pasti syok Pa," Amanda memberikan cangkir teh pada suaminya.


Papa Abian menerima cangkir teh, dan meminumnya seteguk, karena masih terasa panas. Lalu meletakkanya diatas meja.


"Iya, Delia awalnya diam, tidak mau bicara. Beruntung ada Dewi, pramugari senior yang dulu pernah mengalami hal yang sama, dia melihat apa yang terjadi pada Delia, kalau tidak, mungkin Delia tidak berani angkat bicara, Ma. Papa nggak tahu diluar sana ada atau tidak pramugari mengalami hal seperti ini, namun mereka tak berani mengungkapkan.Tapi sekarang kita sudah mewanti-wanti para awak kabin, jika mereka mengalami hal semacam ini, tidak usah takut untuk buka suara, pihak perusahaan pasti akan melindungi mereka."


"Kemana Abian membawa Delia ya?. Mama dari kemarin minta dia untuk membawa Delia pulang kesini, tapi nggak di dengar juga," sungut Amanda, dia menggulir ponselnya, mencari nomor Abian.


"Untuk sementara Papa rasa Delia jangan diganggu dulu Ma, kasih waktu untuk dia, Mama tunggu Abian pulang saja, baru tanyakan tentang Delia."


"Anak Papa yang satu itu sekarang jarang pulang, Mama takut dia berbuat diluar batas."


"Apa Mama masih nyuruh orang buat membuntuti Abian?"


Amanda terdiam, iya, kebiasaanya yang suka menyuruh orang untuk mengawasi Abian, dia tahu, Abian yang suka membawa Delia ke hotel, tapi Amanda percaya, jika Delia masih bisa mengontrol diri.


"Sudah jarang," jawabnya singkat, dia meletakkan kembali hapenya, membuka simpul dasi yang seharian ini mencekik leher suaminya, kemudian berjongkok, hendak membukakan sepatu, dan kaos kaki suaminya juga.


"Sepatu Papa bisa buka sendiri Ma," tolak papa Abian, dia menyembunyikan kakinya dikolong sofa "Mama kasih kepercayaan pada Abian, dia susah dewasa, Papa yakin dia laki-laki yang bertanggung jawab atas semua tindakannya."


"Iya, Pa. Kan semua yang Mama lakuin buat kebaikan Bian juga, walau dia anak laki-laki, tapi Mama harus menjaga dia."


"Emang Mama yakin, dengan Mama bayar orang bisa mencegah Abian dari hal-hal yang tidak diinginkan?, Abian melakukannya di dalam ruangan, tapi suruhan Mama hanya mampu melihat dari luar."


"Mama bisa telepon Abian memintanya pulang, Papa lupa, dulu dia sering berlama-lama di apartemen wanita itu, tapi Mama mampu mencegah itu, beruntung Mama punya ilmu telepati yang tinggi, jadi Abian tak sampai ajib-ajib duluan."


Papa Abian menghela nafas, benar juga pikirnya. "Yasudah, dari pada Mama marah-marah, yuk kita ke kamar, temenin Papa mandi, ajarin Papa ajib-ajib."


"Ih, Papa. Udah tua masih ganjen, ingat Pa, udah punya cucu dua." Amanda masuk kamar terlebih dahulu "Astaga, Mama lupa minum obat, nggak mungkin nanti Abian dapat adik lagi. Bisa habis Mama sama Almira dan Arsyi," teriak Amanda histeris, diusianya yang sudah memasuki kepala enam, namun dia masih mendapat tamu bulanan, dia memang beda dari yang lain, entah faktor apa yang membuatnya seperti ini.


* * *


Daniel yang merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa bertindak seperti Abian, kembali mengunjungi bar yang biasa dia datangi, jika tempat hiburan malam lainnya biasa menyajikan musik keras, berbeda dari bar eksklusif yang biasa Daniel kunjungi, di bar ini biasa menyajikan musik klasik, kontemporer, dan sejenisnya yang menenangkan.


"Hai d**ude, lesu amat," ujar bartender.


Daniel menghela nafas "Baru kali ini gue susah buat dapetin cewek, buat deketin dia aja rasanya gue maju mundur, bawaannya cuma pengen lindungi dia aja. Saat dia terluka, gue rasanya ikut terluka, nggak bisa lindungi dia," curhatnya langsung pada bartender yang sudah dikenalnya sejak lama.


Bukan teman, bahkan mereka tak pernah berkomunikasi di luar, hanya sebatas kenal di bar. Dan Daniel sudah tahu, jika bartender dihadanya ini sangat bisa menjaga setiap privasi pengunjungnya.


"Wow, kayaknya tuh cewek spesial banget, apa dia yang bikin lo jarang datang kesini?"


"Iya, sayangnya dia sudah ada yang punya."


"Thats challenge, Man. Sikat, sebelum janur kuning melengkung."


"Gue lagi atur strategi, bagaimana pun, kita harus bersaing secara sehat, gue nggak mau dia mengenal gue sebagai lelaki brengsek."


"VSOP Red barrel, segelas aja. Gue sekarang nggak mau mabuk, harus menjaga diri buat wanita itu."


Sang bartender hanya geleng kepala, cukup kasihan melihat Daniel, dia yang dulu suka bergonta ganti wanita setiap harinya, kini rela harus berpuasa demi wanita yang belum tentu bisa menjadi miliknya.


"Hai, boleh gabung?" Seorang wanita menghampiri Daniel.


"Maaf, aku lagi pengen sendiri," tolak Daniel tanpa melihat wanita itu.


Mendapat penolakan, wanita itu malah tertawa "Hei, jangan terlalu diambil pusing setiap masalah, dibawa enjoy aja Jangan terlalu naive."


Daniel hanya tertawa kecil, lau dia menoleh. "Hem, kamu?"


"Iya, aku. Kamu masih ingat?" Attaya mengusap dada Daniel sensual, namun Daniel meletakkan tangan Attaya diatas meja dengan lembut.


"Jika kamu menginginkan Abian lagi, coba ubah sikap kamu. Jadilah wanita yang berharga, bukannya keluarga Abian gila menjaga nama baik?, seharusnya kamu tahu sejak awal, keluarga yang akan kamu dekati,"


"Apa i-ni namanya, kamu mengajak aku bekerja sama?, apa kamu menyukai wanita yang kini dekat dengan Abian." Tebak Attaya tepat sasaran.


"Aku hanya menyarankan hal yang baik, jika mungkin saja jika itu belum terlambat." Daniel mengerutkan keningnya "Kamu seperti tahu masalah yang terjadi hari ini?" Daniel menyipitkan matanya menunggu jawaban Attaya.


"Upps," Attaya tertawa menutup mulut "Aku hanya tau dari media sosial, padahal aku hanya ingin memastikan, jika pramugari yang dimaksud itu_" Attaya ikut menyipitkan matanya. "Apa benar dia?"


Daniel mengetatkan rahangnya mendengar pertanyaan Attaya, dia meremas cangkir yang ada didalam genggamanya, padahal perusahaan menutup identitas korban, Daniel secara tidak langsung membongkar ini pada Attaya.


* * *


Malam ini Abian membawa Delia pulang ke apartemen yang baru dibelinya, walau belum terisi lengkap, namun cukup untuk dia dan Delia beristirahat.


Abian mendudukkan Delia di tepi ranjang, tanganya terangkat untuk membuka kancing atas seragam Delia. Namun tangannya seketika berhenti, ia takut tindakannya ini menimbulkan trauma baru untuk Delia.


"Gantilah seragamnya, buang, jangan dipakai lagi," Abian berbalik, membelakangi Delia.


"Apa kamu jijik melihat aku, Bian?" tanpa Abian duga, jika pertanyaan itu terlontar dari bibir Delia.


Abian menyugar rambutnya kebelakang "Tidak," jawabnya singkat.


Delia berdiri, dia kini berdiri dihadapan Abian "Kamu jijik sama aku, Abian?" tanya Delia lirih.


Abian memejamkan matanya saat Delia berdiri didepanya, "Tidak Delia,"


"Lihat aku Bian, kamu jijik kan sama aku, ada jejak orang lain ditubuh aku sekarang. Aku kotor Bian," Delia menarik bagian depan baju Abian.


Abian membuka matanya, dia sebenarnya tak tahu harus berbuat apa sekarang, tapi melihat Delia yang seperti ini, mau tak mau membuat Abian membawa Delia ke kamar mandi.


"Baik, aku akan menghapus jejak laki-laki itu." Abian memutar kran shower hingga membuat basah tubuh keduanya.


Abian merengkuh pinggang Delia hingga menghapus jarak diantara mereka, lalu dia menghapus jejak bibir laki-laki tadi di bibir Delia. Jika mengingat perkataan laki-laki tadi yang telah kurang ajar menyentuh aset kembar Delia, tangan kiri Abian terangkat, membuka kancing seragam Delia.