
Hari ini Delia kembali masuk seperti biasa, perasaanya sudah membaik, dan Delia mendapat jadwal terbang ke Amsterdam. Tak ada komunikasi antara dia Abian setelah pertengkaran itu, Delia sebisa tak mengganggu waktu Abian, agar laki-laki itu bisa bekerja secara profesional.
Dia berkumpul di ruang flops bersama para pramugari dan pilot lainnya. Suasana yang awalnya sedikit gaduh tiba-tiba hening saat Abian masuk, beberapa pramugari yang tak mengetahui hubungan Delia dan Abian, menyapa Abian, mencari perhatian pilot tampan itu.
"Sabar ya, punya pacar ganteng emang begitu," ujar Voni yang duduk disebelah Delia.
Delia bergeming, dia pura-pura sibuk pada ponselnya, namun telinganya tetap menyimak suara Abian yang sedang mengecek dokumen kelengkapanya, serta Abian yang membaca cuaca yang akan dia lewati selama penerbangan nanti, Delia tahu, Abian akan terbang ke provinsi timur Indonesia.
Abian juga begitu, dia yang memakai kaca mata hitamnya, diam-diam terus memperhatikan Delia yang menunduk, sibuk pada ponselnya, Abian tahu, jika Delia hanya pura-pura menyibukkan diri.
Sengaja Abian tak memberi atau menanyakan kabar Delia, dia ingin Delia tahu, jika dia benar-benar marah dan kecewa pada sikap Delia kemarin, dan ingin Delia menyadari kesalahannya, serta menyadari, jika dia begitu perhatian padanya.
Abian ingin memberi waktu untuk mereka menyadari kesalahannya masing-masing, setelah ini, mereka akan saling melepaskan rindu, dan Abian tak akan melepaskan Delia lagi. Maka dari itu, Abian membiarkan Delia terbang selama beberapa hari ke Amsterdam tanpa dirinya.
Abian sempat melirik pada jari manis Delia yang masih mengenakan cincin pemberian darinya, walau Delia belum mengucapkan terima kasih, tapi Abian yakin, jika Delia tahu itu darinya.
* * *
Setelah menempuh penerbangan selama empat belas jam lebih, kini Delia berjalan menuju ke hotel ditempatnya menginap, beruntung kali ini dia sekamar dengan Dewi, senior baik yang banyak memberikan ilmu kepramugarian padanya.
Delia baru saja selesai dari ritual mandinya, dia tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Dewi. Wanita itu habis berkomunikasi dengan keluaganya, pikir Delia.
"Sepupu aku habis keterima di Singapore Airlines Del, dia baru aja ngabarin."
"Wah, hebat mba sepupunya," Puji Delia, dia duduk di meja rias yang ada dikamar hotel itu, untuk melakukan rutinitas make-up malamnya.
"Kamu pernah dengarkan?, jika dibalik kesuksesan seseorang, ada perjuangan hebat dibaliknya, itu yang aku salut dari sepupu ku ini, yang orang tahu setelah dia sukses, tanpa tahu perjuangan dia sebelumnya."
Delia yang sedang duduk menghadap kaca, sontak membalikkan badanya agar bisa melihat Dewi.
"Kok gitu mba?"
"Sebelum dia bisa melalang buana dari satu maskapai, ke maskapai lainnya, dia itu delapan kali ditolak saat melamar jadi pramugari."
"Oh ya?" Delia setengah tak percaya.
Dewi mengangguk "Itulah yang aku salut dari dia, sifat pantang menyerahnya. Kalau aku mungkin aku sudah menyerah begitu saja Del, capek, padahal dulunya dia kerja kantoran, tapi demi keinginannya jadi pramugari, ya dia lakukan apa saja biar keterima, dari merapikan gigi, melakukan perawatan wajah, pokoknya apa yang diarasa kurang, dia jalani, sampai kursus bahasa asing, demi bisa pronunciation yang baik. Makanya aku sedikit tahu maskapai yang memiliki aturan aneh juga dari cerita dia. Dia bilang, hanya Airlanngga Airlines yang memang memiliki citra baik, tak cacat,"
"Kenapa sekarang dia milih Singapore?" tanya Delia penasaran.
"Pernah dengar gosip jelek apa kamu tentang dunia penerbangan Singapore?, Bandara terbaik nomor satu, didaulat sebagai maskapai penerbangan terbesar kedua di dunia. Dengan menu terbaik didunia, dia juga memiliki branding image terkenal didunia, Singapore girl yang memakai sarong kebaya. Dia ingin menyerap ilmu itu untuk bekal anaknya kelak. Makanya dia belum menikah di usianya yang sudah memasuki dua puluh delapan tahun. Kamu pasti nggak tahu kan Del, Singapore itu sama kayak negara kita, jika kita mulut tetangga yang mengatur, jika disana, memang pemerintahnya mengharuskan warganya yang memiliki usia tiga puluh tahun lebih, diharuskan menikah."
"Makanya sepupu aku kejar target Singapore sebelum dia menikah. Dia tidak akan mengikuti jejak aku, setelah menikah, dia akan mengabdikan diri sepenuhnya untuk keluarga, karena kamu tahu sendiri, kita tidak memiliki waktu banyak untuk keluarga, waktu kita tak pasti Del."
Delia mengangguk setuju, lalu dia membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Mereka mendapatkan kamar yang tempat tidurnya terpisah.
"Jika hubungan aku sama Abian, menurut mba Dewi, termasuk skandal bukan sih mba?"
"Bukanlah Del, kalian kan sama-sama single, bukan pasangan selingkuh, kalau diantara kalian sudah punya pasangan, baru dinamakan skandal," Dewi terkekeh, wanita berumur tiga puluh tujuh tahun itu ikut membaringkan tubuhnya "Kalau kamu jadi sama Captain Abian, aku bilang kalian couple goals, cocok, cantik dan ganteng. Captain Abian tipe cowok setia, dia nggak nakal, nggak pernah pergi ke club, nggak seperti pak Daniel, dia cassanova."
Dewi melirik Delia "Kita bersyukur Del, bisa masuk Airlanngga Airlines, pergaulan kita nggak buruk, dimana terkadang banyak pramugari atau pilotnya jika libur main ke club malam, secara gaji kita memang lumayan. Ya, baik buruknya kita, gimana kita bisa membawa diri juga sih, mau kita dilingkungan seburuk apapun, jika kita bisa menjaga diri, kita juga nggak akan terpengaruh."
"Eh, mba besok sebelum pulang, kita belanja-belanja yuk, aku mau kirim oleh-oleh buat mama dan adik-adik aku."
"Boleh, aku juga mau beliin oleh-oleh buat anak sama suami aku juga."
* * *
Delia berdiri dengan bahu tegak, kedua tangan menekuk bertemu dibelakang punggungnya, menggenggam counter, menghitung jumlah penumpang yang turun, senyum manis mengembang lebar, matanya menyorot penuh penghormatan.
Setelah tiga hari berada di Amsterdam, kini dia kembali mendarat ke tanah air. Perjalanannya kali ini berjalan lancar, walau banyak penumpang warga negara asing, tapi mereka cukup mudah diatur.
Delia berjalan sambil menyeret koper kebangganya, seperti biasa, banyak mata yang memandang kearahnya penuh kekaguman.
Delia tak mengharapkan Abian menjemputnya kali ini, dia tahu laki-laki itu masih marah padanya, mereka masih saling diam, wanita itu selalu gengsi jika harus menghubungi terlebih dahulu, tapi merasa paling tersakiti jika tak diberi kabar.
Dari jauh dia sudah melihat Daniel yang berjalan kearahnya dengan senyum terbaik yang laki-laki itu miliki, dia selalu tahu, kapan Delia mendarat atau mengudara. Daniel itu tampan, walau dia bukan seorang pilot, tapi memiliki badan tinggi tegap, tak jauh berbeda dari Abian, dia memiliki pesona seorang CEO muda, tapi pesonanya masih kalah jauh jika dibanding Abian, Delia jadi membandingkan keduanya.
"Hai Del, sudah pulang?"
"Iya Dan,"
"Aku antar ya."
"No this time, Dan, please. Aku harap kamu ngerti, bukan karena Abian atau apa, tapi aku lagi pengen sendiri," pinta Delia dengan wajah penuh permohonan, dia benar-benar ingin tenang, tak ingin diganggu oleh apapun.
"Apa Abian marah?"
"Aku sudah bilang Dan, bukan karena Abian. Aku sangat lelah, aku butuh waktu sendiri, sorry."
"Okeh, take care ya, tapi jangan tolak untuk aku panggilkan taksi." Daniel masih bersikukuh. Delia yang tak mau berdebat, kembali harus mengalah.
"Pak, antarkan dia sampai apartemen dengan selamat ya," ucap Daniel pada supir taksi yang membawa Delia.
"Siap Pak." Jawab sang supir melipat tangannya di kening, membentuk hormat.
"Thanks ya Dan," Daniel mengangguk, tapi matanya menelisik jari Delia yang masih tersemat cincin dari Abian.
Dia harus berjuang lagi.
Setelah sampai diapartemen, Delia membersihkan tubuhnya, lalu dia bersiap mengirim paket oleh-oleh untuk adik dan mamanya. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dia berharap masih ada layanan jasa kirim paket yang buka.
Setelah dengan urusannya, Delia kembali menaiki taksi online menuju rumah orang tua Abian. Delia tak tahu jadwal Abian, dia juga tak tahu, Abian ada dirumah atau tidak, tujuannya adalah untuk menemui mama Amanda.
Delia terus mengatur nafasnya gugup, antara siap atau tidak bertemu Abian, jujur dia rindu laki-laki itu, walau kadang Abian berucap buruk padanya, tapi Abian juga banyak melakukan hal manis.
Dada Delia semakin berdegup tak karuan kala mobil yang ditumpanginya sudah memasuki kawasan perumahan elit, dia tak tahu harus berdoa apa, ada Abian atau tidak. Tapi dia tak siap jika Abian masih bersikap acuh padanya.
Setelah mengatur nafasnya, Delia turun dari mobil, menuju pintu pagar tinggi rumah Abian, Delia terus menghembuskan nafas dari mulut, menetralisir debaran jantungnya, setelah dipastikan semua aman, Delia menekan tombol yang ada dikanan tembok pagar berwarna hitam itu.
Melalui cctv rumah atau apa, Delia tak tahu, pintu pagar itu terbuka secara otomatis setelah mengetahui tamu yang datang. Dengan langkah ragu, Delia memasuki rumah Abian.
"Delia," suara mama Amanda menyambut kedatangan Delia. Ternyata wanita itu sangat senang dengan kedatangannya.
"Ya ampun, Mama berasa mimpi, kamu datang nak?" Amanda segera menghampiri Delia dan memeluknya, membuat mata Delia mengembun terharu.
"Mama sehat?"
"Sangat sehat, Mama harus terus sehat sampai punya cucu dari kalian." Ucapnya tanpa beban, kembali membuat Delia menelan ludah susah payah.
Wanita itu merangkul Delia, membawa Delia masuk, dan menuntunya untuk duduk di sofa keluarga. Mata Delia menelisik, mencari tahu, apakah Abian dirumah atau tidak.
"Minaaa, buatkan minum untuk Delia," teriaknya memanggil salah satu artnya, "kamu suka jus mangga kan sayang," Amanda bertanya seraya membelai lembut tangan Delia.
"Apa saja Ma, nggak usah repot-repot."
"Nggak repot, lagian yang buat si Mina, bukan Mama." Wanita yang selalu ceria itu tetawa sendiri atas ucapannya. "Tadi ada Arumi dan Arini disini, mereka baru saja pulang dijemput suaminya, mereka pasti senang kalau tahu kamu kesini, mereka nanyain kamu terus sama Abian," Delia tersenyum canggung mendengar ucapan Amanda.
"Delia berarti datang diwaktu yang nggak pas nih Ma," Delia mengeluarkan paper bag yang tadi dibawanya. "Delia kemarin terbang ke Belanda, ada sedikit oleh-oleh untuk Mama, kak Arumi, dan kak Arini. Semoga Mama suka ya?"
"Royal delf Blue?" Mata Amanda berbinar melihat cinderamata yang diberikan Delia, sebuah tembikar vas, cangkir, dan teko teh teh bercorak putih dan biru. "Ini pasti mahal Delia, ini bagus banget loh sayang, Arumi dan Arini pasti suka, terima kasih ya kamu sudah mau repot, kamu kesini saja Mama sudah sangat senang."
"Nggak papa Ma,"
Hampir satu jam mereka berbincang, namun Abian tak kunjung muncul, mata Delia terus tertuju pada tangga yang menghubungkan kamar Abian.
"Kamu cari Abian?" tanya Amanda yang tahu arah mata Delia. Delia yang tertangkap basah, merasa malu. "Bian kan belum pulang, dia terbang ke arah timur, jadi nggak pulang udah beberapa hari."
Delia terlihat kecewa, namun dia mencoba menutupi dengan senyum tipis. "Apa coba, kalau ada juga kamu belum tentu siap bertemu dia Delia," gumam Delia.
"Delia, semua oke?" Amanda menangkap sesuatu aneh dari wajah Delia.
"Ah eng-enggak Ma, eh iya oke," jawab Delia gugup.
Amanda tersenyum "Manisnya, Mama jadi inget masa muda, suka berantem gini juga, itu hal biasa Delia, bumbu cinta."
"Iya Ma, Ma Delia pulang dulu, sudah malam, Mama harus Istirahat."
"Kok pulang sih?, nginep saja, Mama kesepian, Abian dan Papanya belum pulang."
"Lain kali saja Ma, nanti Delia nginep lagi."
Amanda memonyongkan bibirnya, kecewa. "Yasudah kamu hati-hati, kamu jadi pulang sendiri, nggak ada yang antar."
"Nggak papa Ma, kan ada taksi online."
"Eh nggak usah, Mama suruh mul saja antar kamu pulang."
Dan Delia tak akan bisa menolak tawaran Amanda, dia akhirnya diantar supir pribadi calon mertuanya itu.
Saat mobil Delia keluar dari tikungan perumahan Abian, taksi yang membawa Abian muncul dari arah berlawanan, Abian mengernyit, mau kemana mamanya malam-malam seperti ini?.
"Assalamualaikum." Abian masuk rumah.
"Abian!" Amanda yang sudah mau masuk kamarnya, jadi mengurungkan niatnya, dia segera menghampiri Abian yang sudah akan naik ke kamarnya. "Ih nggak jodoh banget, masa Delia baru pulang kamu juga pulang, ihhh padahal dia nungguin kamu lama."
"Apa? Delia dari sini?"
"Iya, dia nganter oleh-oleh dari Belanda, tapi cuma buat Mama, dan kakak kamu."
Darah Abian langsung berdesir mendengar nama Delia, baru mendengar namanya saja tubuhnya meremang. Sudut bibir Abian terangkat, Delia sudah menyadari kesalahannya, dia akan menemui Delia besok, dia yakin Delia libur karena baru pulang dari perjalanan jauh.
"Punya Abian pasti Delia akan memberikannya sendiri, masa dititipin sama Mama, nggak romantis itu namanya," ucap Abian, dia yakin, Delia pasti juga menyiapkan kejutan untuknya.
"Percaya diri sekali kamu, Mama sih nggak yakin, secara kamu dan Delia sedang bermasalah."
"Itu hal biasa Ma, kayak nggak pernah muda aja." Abian langsung menaiki anak tangga, meninggalkan mamanya.
"Tunggu aku datang baby girl, kamu akan habis dengan ku besok."
.
.
.
.
Double up dan panjang, jangan lupa like, komen dan gifnya ðŸ¤ðŸ˜‚😂