Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Kebahagiaan Yang Sempurna



Abian dan timnya sekarang sudah berada dimobil jemputan untuk mengantar kerumah mereka masing-masing, Captain Ridwan duduk disebelah supir, Cecilia, Dewi, dan Rendy duduk ditengah, sedang Abian dan Delia paling belakang. Abian tak henti memandangi wajah Delia, membuat istrinya itu salah tingkah.


"Apasih liatin terus, entar jatuh cinta loh." goda Delia Abian yang duduk miring menghadapnya, kepalanya bertopang tangan.


"Sejak kapan tahu kalau kamu telat?"


Delia nampak mengingat "Sejak kamu suka mual-mual itu, aku sudah curiga, tapi waktu kamu kasih tahu kalau aku boleh ikut terbang lagi, aku lupa buat tes."


Abian menyipitkan matanya "Bukan lupa, tapi kamu sengaja lupain biar tetap ikut terbang kan?" tuduh Abian.


"Ish engga, emang aku lupa. Bi aku pikir hari ini benar-benar hari terakhir aku terbang, setelah atas semua yang terjadi, kamu hebat, kamu bisa bawa kita semua pulang dengan selamat."


"Aku memang hebat, kamu baru tahu? Makanya aku menjadi pilot idola."


Delia meraup wajah Abian yang begitu dekat dengannya "Dia besar kepala, jangan takabur, semua karena bantuan yang kuasa."


Abian terkekeh "Iya sayang, aku tahu," Abian mengambil kedua tangan istrinya untuk digenggamnya "dan mungkin semua yang terjadi karena memang aku diberi kesempatan untuk jadi ayah, dua Delia. Penantian kita setahun, langsung diberi dua. Berarti, aku suka rujak, makanan asam gara-gara ngidam ya?"


"Mungkin, kamu ikhlas kan kalau kamu yang ngidam?"


"Sampai kamu lahiran juga aku ikhlas." Dalam hati Abian sangat tidak sabar ingin memberitahu kabar ini pada kedua orangtuanya.


"Selamat ya Del, ihh ikut seneng, kalian hebat bisa dapat dua sekaligus, nanti kalau aku udah nikah, mau belajar tutorial gimana caranya biar dapat baby twins kayak gini." Cecilia yang duduk dibelakang mereka ikut menimpali, dia sedang memandang hasil USG Delia, kemudian dia berdiri, mengembalikan foto USG kepada Delia.


"Ahh biasa aja, yang dapat lebih dari dua juga banyak." Rendy ikutan nimbrung.


"Sirik aja nih Captain Rendy." sahut Cecilia.


"Dia kalah tokcer Cil, makanya bilang gitu. Ehh Ren, ini tuh berkah dari kesabaran ku selama ini. Kalau kamu mau belajar tutorialnya, boleh, tar aku kirimin videonya, mau?" Abian menyombongkan diri. Lalu dia mengadu kesakitan karena mendapat cubitan kecil dipinggangnya dari Delia. "Sakit sayang, aku kan cuma kidding." Abian meringis seraya mengusap bekas cubitan itu.


"Jangan lupa makan-makanya Capt, Del, sebagai perayaan." Cecilia memalak sambil tertawa.


"Tunggu saja, ahhh jadi nggak asik kalau dipalak duluan gini, nggak surprise" Semua tertawa mendengar keluhan Abian.


* * *


Mobil yang mereka tumpangi akan mengantar satu persatu kerumah mereka masing-masing, Abian dan Delia yang jaraknya paling dekat dengan bandara, diantar terlebih dahulu, kepulangan mereka disambut keluarga Delia dan Abian.


Semua berpelukan, tangis haru menyambut kepulangan keduanya.


Delia dan mamanya berpelukan, tangis mereka tak terdengar, pelukan keduanyapun sangat erat dengan mata terpejam, menyiratkan jika mereka sangat mensyukuri masih bisa bertemu kembali. Mama terus menepuk-nepuk lembut pundak Delia, lama mama hanya diam, menikmati momen ini, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, sungguh ini sebuah keajaiban untuk sang putri.


Delia mengurai pelukan, melihat wajah mama yang sudah terdapat lipatan kecil disetiap sudut wajahnya, menghapus airmatanya.


"Delia juga Ma, Mama sehat?" Mama mengangguk tak dapat berucap, "ini juga kesempatan buat Mama bisa liat cucu Mama." Aku Delia, tak sabar ingin memberi tahu kabar bahagia ini, dia mengusap perut ratanya.


"Oh ya?" serempak mama Delia, Amanda, Papa Abian, Arini yang juga ada disana terkejut.


"Dua sekaligus." Abian merangkul pundak istrinya bangga, memberikan senyum penuh arti kepada semuanya "hebatkan Abian?"


"Heeeh sombong, tapi Kakak ikut seneng, bisa aja kamu bikin dua sekaligus, wahhh kak Arumi pasti senang dengar kabar ini." Arini mengomentari.


Amanda mengharu biru, dia memeluk Abian dan Delia bergantian, memberikan selamat. Diap


"Kamu masih mual-mual nggak?" Abian menggeleng "Ayo semua masuk, Mama bikin banyak asinan, rujak, buat kamu."


"Jadi Mama udah tau? Makanya telepon Papa buat langsung periksa Delia." Tanya Abian, mereka sudah berkumpul diruang tamu.


Banyak Amanda membawa makanan, semua yang segar dan berbau asam-asam tersaji ditempat mereka berkumpul, serta kue basah kesukaan Abian, kue lapis pelangi pastinya


"Mama udah feeling dari awal kamu minta makanan ini itu, makanya Mama khawatir sekali waktu dengar pesawat kalian selamat dari maut."


"Padahal kejadian diatas pasti sangat mencekam dan sangat panik, alhamdulillah sekali anak kalian tidak apa-apa, Papa yakin anak kalian jadi anak yang kuat."


"Semua memang sudah waktunya menjadi kalian, mau seperti apapun keadaanya, tetap menjadi milik kalian, tidak akan hilang." Sambung mama Delia.


"Iya benar besan, mereka nunggunya sampai setahun lebih, dan dijawab setelah peristiwa ini, Tuhan memang sudah mempersiapkan yang terbaik buat mereka."


* * *


Rendy begitu iri, ketika melihat teman-temanya disambut oleh keluarga mereka, Abian dengan keluarga cemaranya, Captain Ridwan juga disambut keluarga besarnya, Cecilia yang sudah ditunggui oleh orang tua dan kerabat diapartemenya, sedang dia, walau ada kedua orangtuanya, yang menyambutnya, namun tetap berasa kurang, karena tak ada keluarga kecilnya yang menyambut, awalnya dia pikir tidak akan menghadapi sidang perceraian, namun sepertinya, dia sudah ditakdirkan mendapat hidup yang tak adil.


Rendy menggeret kopernya lesu memasuki rumah minimalis dua lantai yang masih ada cicilan selama 120 bulan lagi itu, perjalanan yang sangat panjang. Pintu rumahnya masih tertutup dan terlihat sangat sepi, Rendy menghela nafas, dia akan mengover kredit rumahnya lagi setelah ketuk palu nanti.


"Surprise...."


Rendy membelalakkan mata terkejut, dan belum sadar dia akan keterkejutannya, Rendy melihat sosok Voni sambil menggendong putri mereka, Rendy mengucek matanya berkali-kali, takut apa yang dilihatnya salah.


"Von." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hai, kami pulang, we really miss you dad." ungkap Voni dengan bibir bergetar, ia memajukan langkahnya, memeluk Rendy masih sambil menggendong putri mereka, Rendy masih terpaku ditempatnya, tak percaya dengan apa yang ada dihadapanya. Sedang kedua orangtuanya, menyeka sudut mata mereka, kemudian ikut memeluk putra semata wayangnya.