Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Sikap Aneh Abian



"Aku rasa, disini aku tidak melanggar sama sekali Danuarta, tapi kamu sendiri yang melanggar peraturan perusahaan," jawab papa Abian.


"Ini masalah pribadi, jangan disangkut pautkan dengan perusahaan." Danuarta meronta agar penjaga itu melepaskan tangannya.


"Tidak bisa, semua sudah ada pada undang-undang perusahaan, kamu sendiri yang membuat dan menandatangani, jadi saya tidak bisa merubahnya."


"Lantas kamu akan menguasai semua sendiri? Setelah perjuangan kita berpuluh-puluh tahun membangun usaha ini secara bersama? Iya?" Nyalangnya tak terima.


"Jika kamu sudah membereskan masalah mu, maka kita akan membicarakan lagi hal ini, aku hanya tidak ingin terlalu banyak ada yang masuk dalam perusahaan, termasuk anak lain mu itu." Jawab papa tegas.


"Bedebbahh, jangan sok suci kamu," makinya "Semua gara-gara wanita bernama Delia dan adiknya, mereka wanita pembawa sial, jika saja dia tidak masuk dalam kehidupan anakku, semua tidak akan terjadi, ingat aku akan membuat perhitungan pada menantu kesayangan mu itu, seharusnya benar kemarin tindakan Daniel untuk memperko sanya,"


"Tutup mulut anda Om, Om tau jika ucapan Om bisa aku tuntut? Apa Om mau mendekam disel bersama Daniel?"


Danuarta langsung bungkam, dia menyadari ucapannya salah, dan dia tak ingin mendekam ditempat itu.


"Jangan sekali-kami membawa-bawa istriku disini, dia tidak tahu apapun, dan ingat, jangan sampai sentuh Delia sedikitpun jika om masih menyayangi nyawa sendiri, aku tidak segan-segan membuat pelajaran pada Om jika berani menyentuh istriku." Tegas Abian tak terima Delia disangkut pautkan pada permasalahan rumah tangganya, Delia sudah terlalu banyak menaggung dari akibat yang tidak dilakukannya sama sekali.


Hahaha "Kita lihat Abian, sejauh mana keberanianmu,"


"Tahan dia, jangan biarkan dia bebas berkeliaran." Perintah Abian pada pengawal papanya.


"Lepaskan aku Abian, kamu takut jika terjadi apa-apa pada istrimu bukan?" Hahaha Danuarta tetap tertawa saat para penjaga membawanya pergi.


Papa Abian menggeleng, tidak menyangka Danuarta bisa berubah hanya demi membela keluarga barunya.


"Papa yakin dia melakukan hal itu karena terdesak Abian, mereka memang sedang kacau." Papa mencoba membuat Abian tenang, dia sendiri sudah mengatur strategi agar Danuarta bisa kembali pada dirinya yang dulu, dia tak mau, teman seperjuanganya itu tersesat terlalu jauh.


"Tapi ini tidak bisa dibiarkan begitu aja Pa, takut dia akan melakukan hal-hal buruk pada Delia, Delia sudah terlalu banyak menderita dan menaggung apa yang tidak dibuatnya."


"Iya, tenang, tenangkan pikiran kamu, Danuarta akan ditempatkan ditempat aman, ayo kita pulang, ucapan Danuarta tadi terekam kamera, kita bisa membawanya ke jalur hukum karena pasal pemgancaman, biarkan pengacara Papa yang mengurusnya, kamu baru baikan sama Delia bukan? Kamu pulang saja, nikmati waktu kalian dirumah."


Abian sedikit memgendurkan amarahnya, papa selalu bisa membuatnya tenang, lagi-lagi dia teringat Delia, Delia bisa tenang dan bangkit sendiri dari rasa kehilangan, tapi dia membayangkan kehilangan papanya saja tak rasanya sanggup.


"Makasih Pa, Abian nggak tahu harus membalas kebaikan Papa seperti apa, Abian selalu merepotkan Papa." Abian memeluk papanya.


"Ngomong apa kamu ini? Papa senang jika kamu masih melibatkan Papa, berarti kamu masih menganggap Papa hidup." Papa menepuk punggung Abian "Untung miss Marsha tidak mengajak makan diluar, jika tidak, kamu bisa pulang terlambat."


Abian terkekeh "Bener Pa, Abian langsung pulang ya Pa, makanan ini bawa aja ama Papa, Abian mau makan masakan Delia, dia udah masak kesukaan Abian dirumah."


"Kamu nggak bawa mobil kan? Kita pulang bareng aja, Papa antar sampai rumah."


"Kalo ini Abian nggak bisa nolak kalau Papa maksa" Keduanya tertawa, lalu berjalan menuju mobil.


"Benarkan apa kata Papa, jika Marsha gadis hebat, Papa merasa kalah jauh ilmu bisnis dengannya."


Abian mengangguk, setuju dengan pendapat papanya.


"Semua terjadi karena gadis itu terus diremehkan atas kemampuannya, yang Papa dengar, banyak pengusaha yang memandang sebelah mata usahanya, padahal anak muda itu jiwa kreatifnya jauh lebih tinggi dibanding kami yang sudah berumur ini."


* * *


"Papa nggak mampir dulu?" tawar Abian saat dia sudah turun dari mobil papanya.


"Lain kali saja, mama juga udah nunggu dirumah," Papa melirik kearah pintu rumah Abian, terlihat Delia membuka pintu, dan berjalan kedepan membukakan pintu pagar, "ini yang kamu mau kan? pulang ada yang nyambut."


Abian melihat arah pandangan papanya, hatinya langsung berdesir, begitu bahagia melihat wajah sang istri dengan senyum khasnya, mata menyipit saat tersenyum. Seketika Abian membalikkan badan, bibirnya terangkat berjalan kearah pagar rumahnya dimana disana ada Delia yang sudah membukakan pagar.


"Biar aku aja," ujar Abian saat Delia akan membuka selot pagar, seketika tangan Delia yang akan membukakan pintu pagar ia tarik kembali. Abian menarik selot pagarnya tanpa mengalihkan pandang dari wajah Delia yang terlihat semakin cantik dimatanya. Saat pintu pagar sudah terbuka, Abian langsung menarik kepala Delia, mengecup kening istrinya lama, "aku kangen," bisiknya, lalu menundukkan tubuhnya ingin mengecup bibir Delia. Saat bibir itu akan bertemu,


"Abian, Papa langsung pulang aja ya? Besok lagi mampirnya." seru papa dari dalam mobil, yang kaca mobilnya masih diturunkan.


Abian dan Delia sontak terkejut mendengar suara papanya, "Bi, ada papa?" ucap Delia, "Pa, main dulu."


"Lain kali saja sayang, Papa mau mempraktekkan yang Papa lihat barusan, kayaknya asik."


"Rusakin dulu sensor otomatis pagar rumahnya, tapi yang keluar bukan Mama, kalo nggak mang Mul, ya mba Minah." Ujar Abian terkekeh.


"Ya, nanti ide kamu Papa pakai." papa melambaikan tangannya sebelum berpisah, dan dibalas Abian dan Delia, tapi bukan arah rumah tujuannya, melainkan rumah Arumi, karena Amanda ada disana melihat cucu baru mereka yang sudah pulang.


Delia terhenyak saat Abian menggendong tubuhnya "Bi, ihh bikin kaget." pekik Delia, namun tak urung dia mengalungkan tangannya dileher Abian.


"Aku kangen, bener-bener kangen, kalau dipikir-pikir kita tuh ketemunya cuma beberapa jam sehari." Abian langsung menempelkan bibirnya pada bibir Delia yang tadi sempat tertunda, rasanya tak kuat harus menahan untuk tak melu mat bibir tipis berwarna merah muda itu, Abian mendorong pintu rumah dengan punggungnya, sangat rugi jika harus melepaskan pagutann itu.


Perlahan Abian meletakkan tubuh Delia diatas sofa ruang keluarga, pagutann itu berhenti sejenak, Abian menatap wajah Delia lamat-lamat, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, "aku sayang kamu Delia, aku cinta, kamu hanya milik aku, semua yang melekat ditubuh kamu hanya milik aku, maaf jika permintaan ku selama ini membuatmu kesal, tapi itu salah satu rasa sayang aku sama kamu."


Delia merona mendengar pengakuan Abian, jarang sekali mereka menyatakan perasaan satu sama lain, apalagi akhir-akhir ini mereka lebih banyak berdebat, dia juga merasa belum pernah menyatakan perasaan itu pada Abian, walau kadang terdengar sedikit lebay, namun ungkapan itu mampu menghangatkan hatinya.


Delia menyelami mata suaminya, yang dia rasakan, Abian begitu tulus mencintainya.


"Aku juga mencintai kamu Bi, sangat, jangan pernah tinggalin aku sendiri ya Bi, jangan sakit, harus sehat terus, terus yang paling penting, jangan pernah duain aku, apapun alasannya, jika itu terjadi-"


"Aku akan memotong burung kamu saat kamu tidur, terus mau kamu goreng kasih ke ibu tiri buaya, pasti itu yang mau katakan kan?" potong Abian ucapan Delia.


"Tuh, pinter, aku nggak mau kayak cewek lain, diem, nangis-nangis liat suaminya selingkuh," ujar Delia tapi dia sendiri tidak mau membayangkan hal itu, dia pasti juga menangis jika itu terjadi padanya.


Namun Abian justru membayangkan yang dia katakan sendiri, tiba-tiba perutnya seperti diaduk, dia merasa mual, Abian bangkit dan berlari ke kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Membuat Delia mengerutkan keningnya heran.


"Kamu kenapa Bi?" Delia berlari mengikuti Abian.


"Kamu telat makan lagi?" Delia terlihat panik, "baru juga minta jangan sakit, udah langsung sakit aja."


Abian membersihkan mulutnya, lalu memiringkan tubuhnya, memegang pundak Delia, "maaf sayang, tiba-tiba aja aku bayangin anu aku kamu potong terus kamu goreng, terus kami potong-potong dan beneran dikasih ke ibu tiri buaya, itu menyeramkan sayang, aku nggak bakal deh duain kamu, takut." Abian bergidik, pundaknya bergetar karena takut.


Delia tertawa mendengar cerita Abian, "kamu tuh ada-ada aja, lagian pake dibayangin, udah yuk, kita makan aja kalo gitu, aku masak spagetthy udang kesukaan kamu." Delia menggamit lengan suaminya, menuntun Abian menuju meja makan.


Delia membuka tudung saji yang menampilkan spagetthy udang hasil racikan tangannya, aroma wangi saus langsung menyambut indra penciuman Abian.


"Emmm, kayaknya enak ini," Abian mengusap perutnya yang kosong, apalagi tadi dia habis mengeluarkan isi perutnya. Keduanya duduk, Abian tak sabar ingin segera mencicipi masakan istrinya. Sayangnya, aroma yang menggugah seleranya tiba-tiba berubah menjadi hal yang tak ia suka, kembali Abian menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi, dan Delia kembali dibuat heran, lalu menyusul Abian ke kamar mandi, Abian berusaha mengeluarkan isi perutnya, namun tak bisa.


"Ada apa sih Bi? Ya ampun, kamu bisa lemes lagi," Delia menatap khawatir bercampur kasihan melihat wajah Abian yang sudah berkeringat dingin.


"Nggak tau, tiba-tiba aja perut aku nggak enak."


"Ada yang salah dari masakan aku?" Abian menggeleng, "gimana, masih mual?"


"Sedikit," jawab Abian lemas.


"Kamu tunggu dimeja makan, aku ambilin obat ya." Delia menuntun Abian kembali ke meja makan, kemudian dia naik kelantai atas untuk mengambil obat.


Abian berinisiatif untuk menyendok spagetthy yang ada dihadapanya, dia sampai meneguk saliva saking pengennya, namun dia kembali menggelembungkan mulut, menahan perutnya yang kembali bergejolak minta dikeluarkan, Abian terbirit-birit lari ke kamar mandi, sampai kakinya terbentur kaki kursi menimbulkan sakit yang tak terhingga, Abian berteriak membuat Delia cepat-cepat turun untuk melihat keadaan suaminya.


"Ya ampun Bi, kamu mual lagi?" Delia kali ini benar-benar panik, begitu kasihan melihat keadaan Abian. Setelah Abian merasa tak mual lagi, dia membawa Abian naik kekamar.


Abian membaringkan tubuhnya dikasur, dia masih terus membayangkan lezatnya spagetthy yang tersaji, namun sayang, dia tak bisa mencicipinya.


"Aku udah panggil dokter untuk kesini Bi, kamu sabar ya," Delia duduk disisi Abian, lalu memijit kening suaminya. Delia mengalahkan minyak kayu putih didepan hidung Abian. Abian sampai memegangi tangan Delia untuk menghirup wangi kayu putih yang membuatnya tenang.


"Kamu suka sama wanginya?"


Abian mengangguk "Kamu tiduran donk sayang, aku pengen peluk kamu," pintanya, Delia menurut, dia memiringkan tidurnya dengan menopang tubuhnya dengan siku agar terus mengusap kepala Abian. Namun justru yang Abian lakukan, menaikkan kaos yang dikenakan Delia, Delia sedikit mengangkat tubuhnya untuk mempermudah pekerjaan Abian matanya, mata Abian berbinar melihat pemandangan dihadapanya, dengan cepat tangannya mengangkat kain renda penutup dada Delia. Dan meraup pucuk dada itu.


Delia beringsut mendekatkan tubuhnya menjadi menempel dengan tubuh suaminya, meremas rambut tebal Abian, dia memejam, menikmati yang Abian lakukan, perlahan tapi pasti, Delia mengeluarkan suara lenguhann itu. Sayang kembali sayang, kegiatan mereka harus terhenti karena suara bel rumah mereka.


Ceoat-cepat Delia merapikan pakaian dan penampilannya, "itu dokternya sudah datang mungkin Bi, tunggu ya?" Delia tersenyum pada Abian yang kecewa, sebab kasyikanya terganggu, dilihatnya pukul delapan malam, Abian memukul kasurnya kesal.


* * *


"Asam lambungnya naik, sesuai keluhan yang diceritakan Delia tadi," Jelas dokter wanita berusia kepala empat, itu seraya melepaskan stetoskop dari telinganya, melipat dan menaruhnya kedalam tas miliknya, dokter itu merupakan dokter keluarga Abian. "Memang terakhir makan jam berapa?" tanyanya kemudian.


"Entahlah, setelah mendarat dari Tokyo aku memang belum sempat makan." Jawab Abian apa adanya.


Dokter itu menggeleng "Jangan dibiasakan telat makan seperti ini, bisa berakibat fatal." Dokter memperingati "Saya sudah bawakan obat mual, vitamin dan anti biotiknya." Dia memberikan obat pada Delia, "semoga cepat sembuh ya Bian," ujarnya sebelum berlalu, dokter itu diantar Delia sampai kedepan.


"Maaf ya sayang, selalu bikin kamu repot, urus aku sakit terus." menyesali perbuatannya dulu yang sempat mogok makan, berlanjut hingga kini dia sering sakit.


"Makanya jangan suka meremehkan makan, jadi sakitkan." Delia merebahkan tubuhnya disamping Abian "Mau makan lagu nggak, aku pesani makan, kamu pengen apa?"


"Rujak, asinan, atau yang sejenisnya, sayang, bakso, kue putu, kue lapis yang suka papa makan kayaknya enak," Abian menyebutkan satu persatu makanan yang terlintas dikepalanya, dia sampai meneguk liur membayangkannya, apalagi posisi perutnya yang sangat lapar.


"Ya ampun Bi, satu-satu donk, lagian apa itu rujak, asinan, ini udah malem ya, kamu tambah sakit perut," omel Delia.


"Sayang aku pengenya itu," rengek Abian manja, "telepon mama, suruh Bi Minah buat itu, dia pasti bisa bikinin malam ini, sekalian besok subuh suruh kepasar senen, beli kue yang enak-enak disana."


"Bi, kasihan Bi Minah, ini sudah malam, dia pasti kecapean, kamu sebutin aja, mau makan apa, aku cariin di online, jangan yang susah-susah."


Abian malah menyibak selimut, dia beringsut turun dari tempat tidur, mengambil ponselnya, memesan taksi online.


"Sayang, kalo nggak, kita keluar cari bakso, aku mau makan ditempatnya, aku tahu tempat bakso yang masih buka dan enak." Abian menggandeng tangan Delia semangat.


Delia menuruti saja keinginan suaminya saat ini, asal Abian makan, pikirnya.


"Maaf ya, sepertinya kita harus menunda menjenguk Denisa," Abian mengambil kedua tangan Delia, dibawa kepangkuanya. Mereka sudah berapa dimobil menuju tempat makan bakso keinginan Abian.


"Nggak papa Bi, lagian aku sudah kirim uang untuk Denisa, dan minta Denisa mengembalikan uang pemberian mantan suaminya." Delia menunduk, merasa kasihan pada nasib Denisa. "Maaf Bi, aku belum kasih tau kamu, rencananya aku akan menceritakan waktu kamu sudah pulang tapi aku lupa."


"Nggak papa, jika uangnya kurang, kamu tinggal bilang ke aku, dan ini, kamu sekarang sudah tidak kerja lagi, aku berikan semua kartu ku sama kamu, kamu yang mengatur semuanya, gajiku ditransfer dikartu ini." Abian menunjukkan kartu berwarna emas pada Delia.


"Kamu percaya sama aku Bi?"


"Percaya donk, hatiku, hidupku, jiwaku saja aku percayakan sama kamu, apalagi cuma kartu."


"Dasar gombal." Delia tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya. Tak lama mereka sampai ditempat bakso kesukaan Abian, namun Abian harus menahan keinginannya lagi, sebab warung bakso itu tutup.


* * *


Disebuah rumah sakit, Daniel menutup telinganya, sebab terus terdengar suara anak kecil yang memanggil 'PAPA'


"Papa ..."


"Papa ..."


"Akkhhh, bisa gila aku terus mendengar suara itu."


Deg, tiba-tiba Daniel teringat ucapan Delia yang mengatakan jika Denisa akan melahirkan.


"Apa anakku sudah lahir?" tanya Daniel pada dirinya sendiri "Aku yakin aku tidak berhalusinasi." Daniel memegangi dadanya, terbesit rasa bersalah pada Denisa muncul dihatinya.