
"Ma, Pa. Delia sudah pulang, Abian ingin menikahi Delia besok. Abian minta Mama dan Papa meluangkan waktu untuk menikahkan Delia dan Abian, di Subang"
"Apa?" Delia, Amanda, dan Papa Abian terkejut mendengar permintaan Abian.
"Bii, besok?" tanya Delia.
"Iya, lebih cepat lebih baik kan?, sudah terlalu lama aku menunggu kamu Delia, dan kamu tadi sudah menjawab iya permintaan ku bukan?"
"I-iya, aku pikir kita menunggu beberapa bulan kedepannya," lirih Delia, takut jawabannya menyinggung orang tua Abian.
"Kenapa harus menunggu beberapa bulan?, kamu sudah menyiksaku setahun, dan aku harus menunggu berbulan-bulan lagi Delia, aku nggak mau. Apa kamu mau pergi lagi seperti kemarin, aku tidak mau itu terulang lagi."
Delia yang mendengar itu cuma dapat membelalakkan mata tak percaya, sedang papanya dan mamanya terkikik geli mendengar permintaan Abian. Abian persis anak kecil yang minta di belikan mainan, dan harus dipenuhi saat itu juga.
"Bagaimana Delia, apa kamu mau?" Papa Abian akhirnya bertanya "Sepertinya anak Papa sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi keinginannya."
Apalagi yang harus Delia lakukan, jika bukan mengangguk setuju.
Delia malam ini harus menginap dulu sebelum besok dia dan keluarga Abian bertolak ke kediamanya. Dia juga sudah mengabari mamanya untuk memberitahukan kabar ini kepada keluarga ayahnya, meminta untuk menjadi wali dipernikahannya besok. Delia menempati kamar Arumi yang berseberangan dengan kamar milik Abian.
Delia baru saja selesai membersihkan diri, dan memakai baju tidur milik Arumi yang bisa dipakainya, tentu semua sudah atas izin mama Abian, ia kemudian merebahkan tubuhnya dikasur berukuran sedang itu, mengganti lampu redup untuk tidur.
Dia kemudian masuk kedalam selimut, perjalanan panjang dan melelahkan hari ini membuat Delia merasa lelah dan mengantuk. Delia memejamkan matanya, mencoba untuk cepat tidur, namun ia tak bisa. Ingin menghubungi Abian tapi malu, akhirnya dia hanya membuka aplikasi chat hijau itu untuk membuka postingan status teman-temanya. Melihat status Voni yang menuliskan malam pertama, Delia tak bisa menahan tawannya, malam pertama apa? gumamnya.
Delia terus menscroll ke bawah melihat beberapa status Cecilia juga, hingga tak lama dia merasakan kantuk berat, saat matanya sudah hampir terlelap, Delia merasakan kasurnya bergerak, kemudian sesuatu masuk menyelinap kedalam selimutnya. Delia mulai merasa merinding, apa ini Selandia?, dia berbalik, ternyata yang disangkanya setan itu adalah Abian.
"Bi, ya ampun, aku pikir setan."
Abian tersenyum, lalu menarik tubuh Delia agar merapat padanya. "Setan yang bisa makan kamu." Abian mengecup bibir Delia sekilas.
"Kamu ngapain disini? nanti ketahuan mama dan papa bahaya." Delia menahan tangannya di dada Abian. Delia begitu takut jika ketahuan, ini saja dia merasa sangat was-was.
"Mereka udah tidur, nggak akan tahu. Aku mau tidur disini, sama kamu, aku kangen diusa-usap kamu Del. Besok aku bangun lebih awal, sebelum yang lainnya bangun."
"Ya ampun, yang lainnya kalau mau nikah dipingit, ini malah nempel begini."
"Kita nggak ada acara pingit-pingitan, aku nggak mau, nggak kuat kalau harus jauhan lagi sama kamu."
Pandangan mata mereka bertemu, tubuh Delia berdesir berdekatan seperti ini dengan Abian, dia senang Abian ada didepanya, dia merindukan laki-laki yang selalu manja jika sedang didekatnya ini, cepat-cepat Delia memutus pandangannya, terlalu lama menatap Abian, membuat pikiran Delia mulai nakal.
Tangan Delia terangkat, mengusap alis Abian yang tebal, seperti semut hitam yang berjejer rapi.
"Kamu merawat diri kamu dengan baik selama aku nggak ada, Bi?"
Abian membiarkan jari lembut Delia yang mengusap alisnya, dia bahkan memjamkan matanya "Aku mau kamu terpesona saat bertemu aku nanti."
"Kamu rajin olahraga?" Kini tangan Delia berpindah, turun ke lengan atas Abian yang berotot
"Iya, kamu pasti sering dapat kiriman dari ayah."
Delia mengangguk "Kamu tahu Bi?"
"Nggak sengaja ke buka hape Papa."
"Aku suka otot kamu Bi, pas, nggak berlebihan." Delia menggigit bibir bawahnya, lalu tatapannya berpindah ke lengan bawah Abian yang urat-uratnya keluar, itu terlihat seksi dimata Delia, Delia sampai menelan ludahnya.
"Kamu suka?" tanya Abian, suaranya terdengar serak, tatapannya jatuh ke bibir ping alami Delia, kemudian ke gundukan kembar yang bisa Abian pastikan jika Delia tidak memakai dalaman sebagai penutupnya.
"Aku suka, aku suka semua yang ada di badan kamu Bi," ujar Delia.
"Hah?"
"Besok aja perkenalanya," ujar Abian. Dia lalu menarik pinggang Delia untuk merapat dengannya, tau tan bibir itu kembali terjadi sesaat sebelum mereka sama-sama terlelap, benar-benar hanya sesaat, sebab Abian yang semakin dewasa bisa mengontrol dirinya dengan baik. Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, dia tertidur didada Delia, mendengar degup jantung tak beraturan Delia, menjadi dongeng pengantar tidurnya.
* * *
Papa Abian yang izin dari kantor untuk menikahkan Abian sampai ke telinga Daniel, laki-laki itu kini menangis diruangannya. Delia menikah dengan Abian, secepat ini? ada rasa tak rela disudut hati Daniel.
Tak ingin meratapi kesedihanya, Daniel mengambil kunci mobilnya, dia berpesan pada asisten pribadinya jika dia ada keperluan mendadak, dan menghandle semua pekerjaannya hari ini.
Beruntung dulu Abian pernah mengajaknya kerumah Delia, dan dia mengenal adik Delia, sehingga dia bisa menanyakan keberadaan keluarga Abian.
"Maaf, apa benar kedatangan keluarga pak Philips Hamzah ini untuk meminang keponakan saya?" tanya paman Delia, adik dari ayahnya.
Kini keluarga besar Abian sudah tiba di kediaman Delia.
"Iya, kang. Saya selaku Papa dari Abian, ingin meminta langsung Delia pada akang, sebagai wali Delia."
Paman Delia mengangguk "Saya sebenarnya sudah mendengar cerita keluarga bapak dari teteh," tunjuknya pada mama Delia "Jika keluarga Bapak sudah dekat dengan keluarga teteh, dan sudah saling mengenal, cuma punten, kita selaku keluarga besar, semalam sudah berembuk, dan sepakat, maunya teh, si eneng Delia dipingit heula, karena eneng Delia cucu pertama dari keluarga kita, dan yang pertama melepas maja lajang terlebih dahulu, maka, kita maunya, bagaimana kalau pernikahannya diundur tiga hari lagi, karena keluarga besar maunya ada ramai-ramai. Mau nanggap orgen tunggal." Jelas paman Delia sebagai perwakilan keluarga Delia.
"Oh, nggak bisa Om," sela Abian cepat, membuat semua orang yang berada disana terkejut dengan penolakan Abian, dan sontak menatapnya. Abian yang menyadari itu menjadi kikuk "Ehem, bukan apa-apa, maksud saya begini, profesi saya sebagai pilot, membuat saya tidak memiliki cuti banyak, jadi ... bagaimana kalau akadnya dilangsungkan hari ini, nah kalau resepsinya diadakan tiga hari lagi, saya tidak masalah." Abian beralasan.
Suasa yang tadinya sempat tegang karena penolakan Abian mendadak kembali mencair setelah mendengar alasan Abian, semua yang berada disana tertawa, sangat mengerti apa yang dipikirkan Abian.
"Kamu malu-maluin ih Bi." Bisik Arumi yang duduk dibelakang Abian.
"Kan boleh Kak, nawar, kalau tahu begini, aku udah unboxing duluan semalam," balas Abian tak kalah berbisik.
"Hargai keputusan keluarga Delia, kalau kamu mau diterima, nahan tiga hari nggak bisa apa?"
"Sssttt," Amanda memperingati anaknya untuk diam dulu.
"Begini nak Abian," Paman Delia kembali mengambil alih pembicaraan "Saya sangat mengerti apa yang nak Abian pikirkan, cuma ini keinginan nenek Delia, ibu mendiang ayah Delia, beliau ini ingin, pernikahan cucu pertamanya ini, dihadiri keluarga besar yang ada diluar Subang, semua sudah dikabari, dan kemungkinan besok datang. Lagi pula, nenek juga mau ada sedikit sajian hiburan untuk keluarga dari Jakarta, biar nggak terlalu sepi acaranya, cuma menahan dua hari lagi, bisa Nak Abian?" tanya paman Delia.
Abian akhirnya menurut, dia mengangguk lemah.
Delia yang melihat ekspresi Abian hanya bisa tersenyum, dia memberikan semangat pada Abian dengan kepalan tangan dan tanpa bersuara.
"Alhamdulillah, terimakasih atas kesabaran nak Abian dan keluarga, jika berkenan, keluarga bapak Philips Hamzah bisa menempati rumah sederhana saya yang tidak terlalu jauh dari sini, jadi tidak harus capek-capek pulang ke Jakarta."
"Terima kasih Kang, kami sangat mau, jika tidak merepotkan," ucap Papa Abian.
* * *
Mobil Daniel yang terparkir jauh dari kediaman Delia, terus mengirim pesan pada Denisa, menanyakan kapan pernikahan itu berlangsung, dan dia bisa bernafas lega saat mengetahui jika pernikahan Delia diundur tiga hari lagi, dia bisa menemui Delia terlebih dahulu.
.
.
.
.
Sabar ya Captain Abian, nggak lama kok nunggunya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman, udah double up ini 🤭😍🥰