
Setelah kemaren lima kali landing, dan berakhir di kota lain, hari ini Delia kembali ke ibu kota, dan ini merupakan landingnya yang ke empat untuk hari ini.
Delia dan salah juniorrnya bertugas membagikan makanan untuk para penumpang, Delia membagikan dari depan dan bangku sebelah kanannya dan temannya membagikan dari bagian belakang dan bangku sebelah kiri.
Penumpang hari ini tidak terlalu padat, dan saat membagikan makanan di bangku 22c, hanya terdapat satu penumpang laki-laki, usianya sekitar tiga puluh tahunan. Lumayan tampan sebenarnya.
"Hai mba boleh minta nama ig nya?" pintanya, masih sopan.
Delia tersenyum "Maaf saya tidak bermain sosial media," jawab Delia ramah.
"Masa sih mba?" ujarnya tak percaya "Nggak mungkin banget pramugari nggak main instagram? sudah pasti wanita punya yang namanya igeh,"
Delia masih memberi senyum ramah dan wajar, tapi laki-laki itu memberikan pergerakan kepalanya yang hampir menyentuh dada Delia. Delia masih memaklumi itu, ia pikir itu hanya pergerakan spontan tanpa disengaja.
"Seksi banget sih mba," ucapnya "Wangi lagi,"
Delia tak menanggapi, dia meletakkan snack dan minum laki-laki itu di meja makan yang ada dihadanya.
"Kalau nggak ada instagram, nomor wa nya deh?" pintanya tak putus asa, dia memberikan ponselnya pada Delia. Dilihat dari merek ponsel yang dia gunakan, sepertinya laki-laki itu buka dari keluarga biasa.
Delia hanya melihat sekilas ponsel itu, masih memberi senyum ramah, walau sudah merasa risih. Delia enggan menanggapi, dia berlalu dari hadapan bangku itu berpindah ke bangku belakangnya untuk kemudian membagikan lagi snack dan minuman.
Setelah selesai Delia kembali berjalan dilorong pesawat untuk kembali kedepan. Sudah pasti melewati bangku dimana laki-laki tadi berada.
"Mba, namanya Delia ya, nama aku Rico," dia memperkenalkan diri pada Delia tanpa diminta.
"Hai mas Rico, selamat sore," balas Delia, bukan centil, tapi itu bentuk sikap baik dan ramah pada penumpang.
"Sssttt, mba, nomornya," ujarnya lagi masih belum putus asa. Dan Delia hanya menjawab dengan senyuman.
Delia pikir laki-laki tadi tak memiliki dendam, karena dari sikapnya sejak awal laki-laki itu masih bersikap sopan dan wajar.
Setelah berada di atas awan sekitar satu jam lebih, pesawat akhirnya lending di bandara ibu kota. Saat semua penumpang sudah turun, tersisa laki-laki tadi yang masih ada, dia memanggil Delia untuk minta bantuan, dan tanpa ada rasa curiga, Delia menghampirinya.
"Ada yang bisa dibantu mas?"
"Sini mba, minta nomornya," dia mengulurkan ponselnya.
Delia masih menanggapi dengan senyum renyah, yang tanpa Delia sadari membuat laki-laki didepanya makin terpesona padanya.
"0812345678910," Delia menyebutkan angka ponselnya secara asal dan disertai tawa candaan.
Merasa dipermainkan dengan usahanya sejak tadi, laki-laki itu tidak terima.
"ANJINGG" umpatnya, membuat Delia terkejut. Belum sadar dari keterkejutanya laki-laki tadi me ***** bibir Delia dan meremat dua benda kembar berharganya yang baru disentuh oleh Abian.
Menyadari jika posisinya yang tak menguntungkan, laki-laki yang menyebutkan namanya Rico itu langsung mendorong Delia, hingga Delia terjerembab kebelakang, dan laki-laki itu berlari secepat kilat lewat pintu belakang.
Delia masih terdiam atas apa yang menimpanya beberapa detik lalu, dia ingin menangis. Jiwanya seakan hilang entah kemana, dia bisa melawan Abian, tapi dia tak bisa melawan laki-laki yang bisa berbuat tak senonoh padanya, Delia sangat merasa bodoh dan hina.
Dewi yang baru keluar ruang kokpit melihat apa yang terjadi pada Delia, dia berteriak minta tolong, dan meminta para security bandara yang ada diparkiran untuk mengejar laki-laki itu. Dan dia menghampiri Delia yang masih diam terduduk di lorong pesawat.
"Del," panggilnya, Dewi berjongkok menagkup wajah Delia. Saat pramugari yang lain ingin menghampiri Delia, Dewi menahan mereka.
"Selesaikan tugas kalian ya, siap-siap karena akan ada pergantian kru, siapkan juga koper Delia," perintahnya, yang diangguki para pramugari yang lain. Dewi tau, Delia pasti merasa sangat malu jika banyak yang tahu.
Delia melihat wajah Dewi didepanya, dia seakan baru tersadar dan kembali ke alamnya, Delia langsung menangis, dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada Dewi.
Tak lama security bandara menghampiri Dewi, dan melaporkan jika mereka gagal mengejar orang itu, selain karena bandara sedikit ramai dari biasanya, mereka juga tak mengenali pasti wajah laki-laki yang berlari itu.
Dewi coba terus menenangkan Delia yang masih terisak, dan enggan berkata apapun. Delia begitu malu pada dirinya sendiri.
Abian yang pernah meminta agar Delia memiliki apartemen sendiri, sengaja hari ini mengambil cuti untuk dia melihat sendiri apartemen yang dipilihnya. Setelahnya dia baru akan meminta pendapat Delia.
Apartemen yang dipilihnya hanya berjarak tujuh ratus meter saja dari bandara, hingga memudahkan Delia pulang pergi menggunakan taksi, jika dia tak sempat menjemputnya.
Abian baru saja memakirkan mobilnya di bandara, lalu tak lama ponselnya berbunyi, nama papanya terlihat disana.
"Tumben Papa telepon," gumamnya sendiri.
Abian segera menggeser layar hijau itu ke atas.
"Iya Pa."
"Kamu dimana?, Delia baru saja mengalami pelecehan dari penumpangnya, cepat datang."
Mendengar itu Abian segera mematikan sambungan telepon itu, sakit sekali rasanya mendengar hal itu, dengan nafas memburu Abian segera membuka pintu mobilnya, dia berjalan tetgesa-gesa, hingga tak memperhatikan jalan didepanya, hingga dia menabrak seseorang yang juga sama-sama tergesanya dengannya.
"Anjing, kalau jalan lihat-lihat dong bang," maki laki-laki yang Abian tak tahu siapa itu.
Mendapat makian dari orang yang tak dikenal membuat Abian naik pitam, dia menghentikan langkahnya, dia yang memang sedang dalam pengaruh emosi langsung menonjok orang tersebut.
"Jangan bicara kasar kalau tidak mengenal orangnya," ucap Abian sengit. Dia langsung pergi meninggalkan begitu saja laki-laki itu.
Abian langsung menuju lounge pribadi maskapainya. Didepan ruangan itu sudah ramai wartawan, yang banyak bertanya pada menager mereka.
"Benar, benar, telah terjadi pelecehan terhadap salah satu awak kabin kami, kami akan segera menindak lanjuti masalah ini, karena kenyamanan dan keamanan karyawan kami adalah yang utama," salah satu ucapan yang di dengar Abian dari managernya, yang memberi jawaban pada awak media yang haus akan berita.
Dan Abian tak mendengar apa-apa lagi, dia langsung masuk, mencari keberadaan Delia. Disana sudah ada papanya, dan ayah Daniel, dan Delia duduk di sofa masih memeluk Dewi.
Hati Abian terasa seperti di iris-iris melihat Delia menangis seperti itu, tak pernah dia lihat Delia selemah ini. Abian langsung menghampiri Delia, ingin merengkuh wanitanya dalam pelukanya, namun Dewi menahan hal itu. Dewi yang dulu juga pernah merasakan di posisi Delia, dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Dia masih syok, dan aku melihat apa yang terjadi, lebih baik kamu sabar, menunggu dia tenang," Dewi memberi perhatian pada Abian. Dan Abian menurut, dia yang masih belum tahu duduk perkaranya, memilih diam, menunggu waktu yang tepat, lalu dia bisa mengambil tindakan.
Tak lama Daniel keluar dengan membawa kertas berisi data penumpang, pandanganya bertemu dengan pandangan Abian.
"Ini data penumpangnya, aku yakin dia segera tertangkap, walau dia lari sampai ke ujung dunia sekalipun," Daniel menyerahkan data itu pada papa Abian dan ayahnya.
Papa Abian membaca identitas laki-laki yang telah melecehkan pegawainya. Karena perusahaannya selalu mengedepankan kenyamanan dan keamanan karyawannya, ia ingin segera masalah ini tuntas, bukan karena Delia istimewa, ini semua karena mereka mengedepankan nama baik perusahaan.
Tak ada sekalipun maskapainya terdengar jika pilot ataupun pramugarinya terlibat skandal, pilot atau pramugari yang memakai obat-obatan terlarang, atau pilot dan pramugarinya tidur bareng saat jam kerja. Dan tak pernah juga, ada gosip atau berita seperti perusahaan maskapai lainnya, jika ada pramugari yang tak melayani atasanya, mereka tidak akan diberi jadwal penerbangan.
"Baiklah, Daniel, terima kasih, semoga pihak berwajib segera menangkap pelakunya," ucap Papa Abian, dia lalu melihat Abian dan Delia, "Delia, kamu tenang saja, laki-laki itu akan segera mendapatkan hukumanya."
Papa Abian memberi kode pada Abian agar segera mengikutinya keruanganya.
"Papa tau, kalau kamu penasaran dengan apa yang terjadi pada Delia," Papa Abian menghempaskan pantatnya di bangku kebesaranya, dia seakan tahu yang ada dipikiran Abian "Delia masih syok, cerita detailnya Papa juga belum tahu, kita tinggal menunggu Delia tenang saja, yang nampaknya dia masih begitu trauma," papa Abian menatap Abian yang duduk didepan meja kerjanya. "Jika nanti diperlukan, kamu cari psikolog, untuk mendampingi Delia"
Abian mengangguk, "Kenapa bisa kehilangan jejak Pa?"
"Papa bisa maklum, hari ini bandara cukup padat, dan kejadian ini tidak banyak yang melihat, hanya Dewi yang tahu, itupun dia yang berteriak, bukan Delia."
"Aku minta datanya Pa, aku yakin dia belum jauh, aku akan menghajarnya sendiri jika bisa menangkap pelakunya,"
Papa Abian memberikan data tadi, Abian terkesiap, laki-laki yang ada di foto itu mirip dengan laki-laki yang bertabrakan dengannya tadi.
"Brengsekk," Abian berdiri, dia segera menuju ruang cctv parkir untuk melihat nomor kendaraan laki-laki tadi, mengabaikan panggilan ayahnya.
"Kamu akan mati ditangan ku," Abian mengepalkan tangannya, dia begitu marah, walau belum tahu apa yang laki-laki itu lakukan pada Delia, tapi melihat tangis Delia, dia yakin, ini bukan pelecehan biasa.