Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Perjanjian Dua Orang



Malam dimana Delia baru keluar dari rumahnya, papa Abian melihat Delia diantar oleh supir pribadi istrinya, Papa Abian mengajak Delia untuk bertemu disebuah restoran.


"Mul, arahkan Delia ke restoran ditempat ibu biasa makan." perintah Papa Abian pada Mul


"Baik Pak," jawab supir Amanda "Neng Delia, bapak mau bertemu."


"Hah, Bapak?, siapa?"


"Maaf, papanya Den Abian, mau bertemu dengan Neng Delia."


"Papa Abian?, ada apa ya Pak kira-kira?"


"Ya mana saya tahu Neng, saya cuma menyampaikan pesan saja." Delia mendengus mengerucutkan bibirnya, mendengar jawaban Mul.


Hingga, tak lama tibalah mereka di restoran yang dimaksud. Delia mengedarkan pandangannya, mencari papa Abian. Mata Delia menangkap sosok paruh baya yang dicarinya, papa Abian sudah menunggunya disebuah meja yang sudah lengkap dengan hidangan diatasnya.


"Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikumsalam Delia, ayo duduk," Papa Abian berdiri menarikkan kursi untuk Delia duduk. "Silahkan calon mantu Papa yang cantik."


Delia sontak mengembangkan senyumnya, keluarga Abian selalu memperlakukanya dengan hangat "Makasih Pa,"


"Ayo kita makam dulu," ajak Papa Abian, dan Delia mengangguk, tak mungkin dia menolaknya walau sebenarnya dia sudah sangat kenyang, dengan pikiran yang terus menerka-nerka, ada apa papa Abian mengajaknya bertemu?. Padahal bisa saja Delia menolak karena alasan menjaga tubuhnya agar tetap ideal, namun ia rasa tak elok.


"Delia, sejauh mana hubungan kamu dengan Abian?" tanya papa Abian setelah selesai makan.


"Hah?, maksud Papa?" mata Delia membola dengan pertanyaan begitu pribadi itu, dan intim.


"Tidak apa-apa, Delia. Papa cuma mau bertanya saja. Papa tahu kamu dan Abian sering menginap di hotel, dan sekarang Abian membelikan kamu apartemen, otomatis kalian akan sering bertemu, dan memiliki waktu berduaan lebih banyak," ucap Papa Abian tenang membuat Delia menelan ludahnya kasar.


"Papa bukan mau ikut campur urusan kalian berdua, kalian sudah pantas berumah tangga, dan yang Papa tahu, Abian sudah pernah melamar kamu bukan?, tidak baik orang yang bukan pasangan sah sering tinggal bareng, walau Papa yakin kalian tidak melebihi batas, tapi itu bisa menimbulkan fitnah."


Mendengar pernyataan papa Abian Delia menjadi begitu gugup.


"I-iya Pa."


"Jadi, kapan kalian akan menikah?"


"Hah, itu ..."


"Kamu masih ragu?" tebak Papa Abian, ia menyesap orange jusnya menunggu jawaban Delia. "Kita bicara santai saja Delia, anggap saya ini ayah kandung kamu, katakan apa yang menjadi ganjalan dihati kamu," lanjutnya, sebagai orang tua yang memiliki dua anak perempuan, papa Abian mengerti yang menjadi ganjalan hati Delia.


Delia menarik nafas, berarti papa Abian menginginkan hubungan yang pasti antara dia dan Abian, dan Delia merasa bisa terbuka dengan papa Abian. Laki-laki paruh baya itu membuat dia nyaman.


"Pa, jujur Delia sangat mencintai Abian, tapi untuk menikah secepat ini, Delia masih ragu."


Delia melihat papa Abian yang mangangguk, respon itu membuat Delia berani melanjutkan perkataannya, aura papa Abian lembut, namun tegas.


"Delia memiliki dua adik perempuan, yang satu sedang menjalani pendidikanya sebagai mahasiswa kedokteran, dan yang satu lagi, masih duduk di bangku SMK." Delia membasahi bibirnya "Mama dirumah hanya meneruskan usaha ayah membuat batako, yang hasilnya tidak seberapa, dan itu menunggu waktu sedikit lama agar bisa terjual, jadi Delia masih membantu biaya pendidikan adik-adik Delia."


"Mungkin ini petunjuk, jika ayah ingin Delia meneruskan cita-cita Delia terlebih dahulu, dan membahagiakan keluarga Delia. Tapi disisi lain, Delia takut kehilangan Abian, belum tentu nanti Delia bisa menemukan laki-laki sebaik Abian jika Delia meninggalkanya."


"Sebegitu besar cintamu pada Abian nak?" tanya papa Abian lembut, dan Delia mengangguk. "Apa keinginan mu saat ini? katakan pada Papa, mungkin Papa bisa membantu."


"Delia hanya ingin bekerja tanpa ada beban, meneruskan cita-cita ayah, dan membantu mama. Tapi Delia juga tak ingin meninggalkan Abian, Delia takut kehilangan Abian."


Papa Abian tertawa "Pemikiran yang rasional, kamu mengingatkan Papa pada Arumi dan Arini, dulu, waktu mereka masih kuliah, mereka juga bekerja sebagai seles yang pekerjaannya paruh waktu. Mereka begitu bangga bisa membelikan Papa sendal jepit yang harganya tak seberapa, yang penting itu uang dari hasil keringat mereka sendiri, mereka tak minta uang jajan, padahal Papa masih sanggup memberikan mereka uang, mereka juga bisa membeli buku dengan uang mereka sendiri. Selesai kuliah juga mereka langsung mencari pekerjaan sendiri, belum memikirkan yang namanya menikah, kata mereka, mereka ingin kerja dan bisa membelikan Papa dan Mama ini itu, Papa mengerti yang kamu rasakan Delia."


Papa Abian membenarkan letak duduknya "Kamu percaya takdir Delia?" Delia mengangguk "jika kamu dan Abian ditakdirkan bersama, sejauh apapun kalian berpisah, kalian akan bertemu kembali, tapi, jika kalian tidak ditakdirkan bersama, mau sekuat apapun kalian saling menggenggam, kalian juga akan berpisah, ini sebenarnya kata-kata umum yang sering orang-orang ucapkan. Jadi, maksud Papa, teruskan apa yang menjadi impian kamu, carilah pengalaman sebanyak mungkin sebelum kamu menikah, urusan Abian serahkan pada Papa, Papa akan menjamin Abian setia padamu, tapi kamu juga harus berjanji, kamu harus bisa menjaga hati kamu buat Abian, selama kamu mengejar impianmu. Bahagiakan keluarga mu, tapi jika kamu tetap disini, Papa yakin, Abian akan mengacaukan semua mimpimu, dia laki-laki dewasa yang memiliki nafsu, apa ada tempat kerja yang kamu mau?, Papa bisa rekomendasikan, tempat yang aman,"


"Ada Pa." Jawab Delia semangat, dia tersenyum, seperti kembali menemukan sosok seorang vigur ayah yang bisa membimbingnya, dan menuntunya lagi.


* * *


Pukul satu dini hari Abian sampai dirumahnya, kini keadaannya benar-benar kacau, pikirannya pun tak karuan.


"Abian." Amanda memanggilnya "Kamu dari man-" perkataan Amanda terhenti saat melihat wajah sang putra berantakan, wajahnya yang lebam, dengan penampilan yang kusut.


"Apa yang terjadi nak?" Amanda menangkup pipi Abian, memeriksa wajah dan tubuh Abian.


Abian yang memang merasa sudah tak kuat, langsung memeluk mamanya, ini untuk pertama kalinya, dia menumpahkan air mata yang seharusnya tak pernah ia tunjukkan dihadapan Amanda, wanita yang telah melahirkanya ke dunia.


"Delia Ma ...."


Hiks hiks hiks


Amanda merasa jika ada yang tidak beres, membawa Abian duduk disofa. "Katakan yang benar, ada apa?" ia merapikan rambut Abian, mengusap dengan penuh kelembutan, hatinya pilu, tak pernah ia melihat Abian sekacau ini.


"Delia pergi Ma."


"Pergi kemana?, apa dia selingkuh?"


Abian menggeleng "Abian nggak tahu Ma."


Ananda memeluk anaknya, "Delia tidak mungkin selingkuh, dia anak yang baik, Mama yakin itu." Dia melepaskan pelukanya, untuk bisa melihat wajah Abian "Apa kalian bertengkar hebat?"


Abian kembali menggeleng.


"Kamu sudah makan?" Amanda rasa seharian ini Abian tak mengisi perutnya, dan Abian menggeleng, ia tak merasa lapar sama sekali.


"Kamu sayang Mama kan?" Abian mengangguk "Sayang Delia kan?" Kembali dia mengangguk "Kalau kamu sayang, kamu makan ya, Mama suapin." Amanda bangkit, dia mulai memanasi lauk untuk Abian.


Setelah makan, Abian naik ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya yang lelah, kembali dia melihat ponselnya, sepi, masih seperti siang tadi, tak ada pesan atau panggilan dari Delia, bahkan pesan yang dua kirim pun masih centang satu.


"Kamu dimana Delia?"