
Dua hari berlalu, Delia dan Abian sudah kembali ke tanah air, saat ini Abian dan Delia sedang berada dibutik, diminta untuk mencoba pakaian yang dipilihkan oleh kedua kakak dan mama Abian. Namun mereka berada dalam ruang yang berbeda. Abian mencoba setelan jasnya, sedang Delia sedang mencoba gaunnya bersama Arumi dan Arini.
"Cantik, gaun yang aku pilih emang pas di badan Delia." Puji Arumi pada pilihannya sendiri. Dia menatap kagum Delia melalui pantulan cermin besar yang ada didepan mereka, Arumi berdiri menggamit tangan kanan adik iparnya.
"Tapi kalau bukan karena aku yang pilihin warna, dan semua aksesorisnya, semua nggak akan sesempurna ini," ujar Arini tak mau kalah, karena dia juga ikut andil mempercantik penampilan Delia, ia kagum pada kecantikan Delia yang walau hanya mengenakan gaun putih kebaya organdi yang menjuntai payung kebawah, sederhana, namun terkesan glamour dipakai Delia "aku juga yang tahu warna kesukaan Delia, Kakak mana tahu warna kesukaanya."
Skor, satu sama.
Sedang Delia hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan kedua kakak iparnya ini, dia menghela nafas panjang. Tak cukup berhenti sampai disini, Arumi seakan masih memiliki senjata yang bisa ia tunjukkan pada Delia, jika dialah kakak ipar terbaik.
"Tunggu, aku masih ada satu lagi, aku yakin kalau sepatu pilihan aku juga pas dikaki cantiknya, mata aku nggak akan pernah salah menilai ukuran kaki seseorang." Arumi berbalik, dia berjongkok mengambil kotak berisi sepatu pilihannya.
Delia hanya diam saja, membiarkan kedua kakaknya memilihkan segala keperluan yang dia sendiri tidak tahu apa. Dia hanya diberi tahu, jika malam ini mereka akan menghadiri suatu acara, dan semua keperluan untuknya sudah disiapkan oleh kakak dan mama Abian.
Sebuah hells berukuran tiga centi berwarna senada dengan gaun yang Delia kenakan diberikan Arumi, wanita berusia tiga puluh enam tahun itu, merendahkan tubuhnya, meletakkan hells yang dibawanya tepat dikaki Delia untuk dia kenakan.
Delia berjengit menjauhkan kakinya karena merasa sungkan.
"Kak aku bisa sendiri." Delia hendak menunduk agar Arumi tak perlu melakukan itu.
Arumi tersenyum manis seraya menggeleng, lalu memerintahkan Delia untuk mengenakan hells itu dengan gerakan kecil kepalanya.
Mau tak mau Delia menurut, karena percuma jika membantah juga. Setelah hells itu masuk ke kakinya, Arumi tersenyum bangga, pilihannya selalu tepat.
"Pas, dan sangat cocok di kaki kamu Delia." Ujarnya bangga dengan pilihannya, dan dalam hal ini skor tertinggi dimiliki Arumi.
Skor berganti, dua satu.
Arini mendengus "Emang kaki Delianya aja yang pas mau pakai apapun, pakai sendal swallow juga dia cocok."
Delia tak dapat menahan tawannya lagi melihat perdebatan kedua kakak iparnya ini "Kak Arumi, Kak Arini, makasih ya udah nyiapin ini semua, Delia suka pilihan Kak Arumi dan Kak Arini. Kado honeymoon kemarin aja Delia belum bisa balas, sekarang sudah dikasih hadiah gaun, dan lainnya. Delia jadi nggak enak."
"Sssttt, apanya yang nggak enak? Apa yang kita lakuin itu, karena Abian adik laki-laki kita satu-satunya, jadi kita harus memperlakukan kamu dengan baik. Karena kami yakin kamu juga akan memperlakukan Abian dengan baik. Abian itu sangat manja, jadi kami harus mempercayakan adik kami yang manja itu pada wanita yang tepat." Lirih Arini yang sudah mulai mengharu. "Kami titip Abian ya Delia, maafkan jika selama ini dia bersikap kurang manis, dia memang begitu, nanti kalau dia macam-macam atau ada nyakitin kamu, kamu laporkan saja pada kami." Arumi yang mendengar penuturan Arini mengangguk, untuk kali ini mereka terlihat kompak.
Delia juga ikut mengharu, matanya sudah berkaca-kaca "Kak, Delia boleh menangis?"
"Nggak, nggak boleh, soalnya kamu sudah cantik, nanti make-upnya luntur." Jawab Arumi cepat.
"Nggak bakalan luntur Kak, ini make-up mehong, bukan yang abal-abal," saut Arini seraya menatap Delia melalui pantulan kaca juga "tapi meski make-up mahal kamu tetep nggak boleh nangis, pasalnya kita harus segera berangkat ke acara relasi mama sekarang juga, kita sudah terlambat."
Saat keluar dari ruangannya, mereka tak mendapati Abian dan mamanya.
"Abian mana Kak?" Tanya Delia pada kedua kakak iparnya.
"Abian sudah duluan sama mama, katanya." Jawab Arumi pura-pura kesal setelah membaca pesan diponselnya.
"Keterlaluan tuh anak, masa pengantin baru ninggalin istrinya begitu aja." Timpal Arini pura-pura kesal.
Ada rasa kecewa muncul dalam hati Delia, karena Abian meninggalkanya lebih dahulu, yang tanpa dia ketahui jika Abian juga merasakan hal yang sama, sebab Amanda juga mengatakan pada Abian, jika Delia sudah lebih dahulu datang acara itu bersama Arumi dan Arini.
Setelah menempuh perjalanan sepuluh menit dari butik, mereka sampai di lobby hotel berbintang. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa penjaga berpakaian rapi yang langsung membukakan pintu mobil untuk mereka. Dengan masih merasakan kecewa, Delia turun dari mobil itu, dia berjanji, tidak akan menegur Abian jika bertemu didalam nanti. Saat akan memasuki area hall tempat diadakannya acara, mereka disambut oleh dua putri cantik Arsyi dan Almira. Mereka berlari menghampiri Delia, dan mengambil jari Delia untuk dituntun menuju tempat acara itu.
Delia tetawa kecil "Terima kasih sayang, Arsyi dan Almira juga cantik kaya putri Disney" Puji Delia, karena kedua bocah itu mengenakan gaun yang sama dengannya, hanya saja milik mereka hanya sebatas bawah lutut.
Pintu hall itu terbuka lebar secara otomatis, Delia melihat sudah banyak sekali tamu undangan yang sudah berdatangan, semua pasang mata yang ada disana langsung tertuju padanya, membuat Delia gugup, karena menjadi pusat perhatian.
"Selamat datang dipesta kejutan Delia." Bisik Arini dibelakang telinga Delia.
"Terus berjalan kedepan sayang, karena pangeran kamu susah menunggu didalam." Sambung Arumi.
Terkejut, terharu, sekaligus bahagia yang menyerang hati Delia, dia kembali diberi kejutan dan hadiah oleh keluarga Abian, Delia semakin tak bisa menahan lelehan air matanya, saat berjalan ditengah karpet berwarna merah dia langsung disambut oleh senyum cantik kedua adiknya juga, tak lama matanya melihat keluarga besarnya sari Subang juga sudah berada disana, memyambutnya dengan senyum bahagia.
Langkah Delia semakin maju, dia kini sudah melihat Abian yang menunggunya diatas podium yang dihias sedemikian cantik, dipenuhi bunga-bunga berwarna putih, warna kesukaanya. Abian tampil begitu gagah dengan tuxedo berwarna putih senada denganya, dengan dasi kupu-kupu hitam yang menghiasi leher tegap Abian. Abian mengusap sudut matanya yang basah, melihat Delia berjalan begitu anggun menuju kearahnya.
Kebahagiaan Delia semakin bertambah ketika melihat disamping kiri Abian, sudah ada mama dan pamanya yang akan mendampinginya nanti.
Mata Abian san Delia tak putus saling pandang saat langkah Delia semakin mendekat, Abian mengulurkan tangannya, menyambut kedatangan istri tercantiknya. Delia tanpa ragu menyambut tangan Abian.
"Kamu sangat cantik Delia Anggraini." Bibir itu sudah tak sabar untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
Bibir Delia seakan tak bisa tertutup lagi, sejak tadi hanya senyum yang terukir dibibir cantiknya.
"Kamu juga sangat tampan Abian Philips Hamzah." Abian segera merengkuh pinggang istrinya, mendekapnya untuk selalu berdiri disampingnya.
Acarapun langsung dimulai, papa Abian dengan bangga memperkenalkan Delia sebagai menantunya, kepada seluruh relasinya. Acara kali ini mengusung moderen dan santai, jadi mereka bisa berjalan menghampiri para tamu undangan mereka.
"Maaf Delia, Mama bukan tidak menghargai kamu untuk melibatkan kamu menyiapkan acara ini, Mama tidak tahu, apa yang mama lakukan ini benar atau salah. Mama terlalu bahagia Abian memiliki istri yang baik seperti kamu, Mama hanya ingin selalu membuat kamu bahagia bersama Abian, dengan kejutan yang Mama berikan. Semoga kamu suka dengan acara yang Mama siapkan ini." Amanda merasa bersalah karena dalam pesta yang dibuatnya tak melibatkan Delia sebagai wanita yang biasanya memiliki kuasa penuh untuk acara mereka. Dia langsung memeluk Delia.
"Nggak papa Ma, Delia sangat suka dan senang dengan semua yang Mama berikan, Delia tidak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi."
Papa Abian menepuk pundak keduanya sayang "Papa melakukan ini semua juga, agar teman-teman Mama dan Papa tahu, kalau Abian sudah menikah, jadi tak ada lagi, diantara mereka yang berebut mau menjodohkan Abian dengan anak mereka," ucap Papa Abian, karena mengingat banyak sekali teman-teman mereka yang berharap anak mereka dijodohkan "serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti perselingkuhan, jadi siapapun yang melihat kalian diluar sana berjalan dengan orang lain. Mereka tahu, jika kalian tidak setia terhadap pasangan." Lanjutnya.
"Dan untuk kamu Abian, Papa harap kamu bisa menjadi laki-laki yang membanggakan keluarga, jangan menyakiti Delia sedikitpun, karena jika hal itu terjadi, sama saja kamu menyakiti lima wanita sekaligus."
Abian mengernyit "Banyak amat Pa."
"Karena ibumu, kedua kakak mu, dan keponakan kamu juga perempuan. Sama saja kamu menyakiti mereka."
"Iya Pa." Jawab Abian pasrah.
Mama Delia yang melihat sendiri semua kebaikan keluarga Abian terhadap Delia semakin dibuat tenang, karena anaknya masuk dalam keluarga penyayang dan perhatian.
"Terima Pak, sudah membuatkan kejutan untuk anak saya, saya titip Delia, mohon bimbing dia untuk menjadi istri yang baik, karena saya tidak tahu, selama ini saya sudah mendidiknya dengan baik atau tidak?" Mama Delia bicara dengan suara bergetar, sedih sekaligus haru, karena kini anaknya sudah dimiliki keluarga lain.
Delia mengusap bahu mamanya "Mana jangan sedih, Delia tetap jadi anak Mama, Delia akan sering mengunjungi Mama, sebisa mungkin Delia akan meluangkan waktu Delia untuk mengunjungi Mama."
Dari jauh, pemandangan itu tak luput dari pandangan Denisa, Delia selalu mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidupnya, karier yang bagus, orang tua yang selalu bangga padanya, dan kini, dia mendapatkan keluarga yang begitu menyayanginya.
Lamunan Denisa terputus saat tangannya ditarik seseorang untuk keluar dari ruang acara.