
"Kamu belum tidur Bi?" Amanda keluar kamar membawa teko, dia memanggil Bi Minah untuk diisi air putih, lalu menghampiri Abian.
"Belum ngantuk Ma," jawab Abian sambil terus memencet stik nintendo Wii, tanpa melihat sang mama. Abian duduk melantai bersandar disofa.
"Kamu juga nggak makan? Emang nggak lapar?" Amanda duduk disofa tepat diatas Abian. "Besok emang nggak terbang? kamu harus minum suplemen, bahaya kalau terbang badan nggak fit,"
"Nggak nafsu, nggak ada yang suapin. Besok Abian ambil cuti, mau jemput Delia, dia pasti libur."
Amanda terkekeh "Jadi benar selama ini kamu nggak makan kalau Delia lagi nggak ada?" Amanda menggeleng heran, menyisir lembut rambut anaknya, "kamu tuh nggak berubah manjanya, Mama jadi kangen kamu waktu masih sekolah dulu, lagi nyuci mobil makan Mama suapin, tapi kamu nggak malu dilihat teman-teman kamu. Sekarang sudah ada yang gantiin Mama nyuapin kamu, Mama suapin mau ya? Nanti kamu sakit, kasian Delia pulang kerja malah ngurusin kamu."
Abian membanting stik game kelantai yang dilapisi karpet berbulu halus itu, melirik gadget yang tak pernah jauh darinya, kesal karena belum ada telepon dari istrinya, bahkan baterai ponselnya selalu dibuat full.
"Biar Delia tahu, kalau suaminya yang harus diutamakan, bukan karier, lagian 'kan Bian bisa mencukupi Delia dan keluarganya lebih dari cukup," gerutu Abian kesal.
"Kamu jangan buat Delia bingung atas apa yang kamu lakukan, itu bisa memancing keributan dalam rumah tangga, nggak baik kalau rumah tangga sering ribut, katanya pengen punya momongan cepat-cepat, harus sabar, emosi bisa memengaruhi hormon kesuburan."
"Ma, Rendy dan kuda nil aja udah mau jadi ayah, Bian sering diledeki kurang perkasa karena belum bisa buat Delia hamil, tau gitu Bian bikin Delia hamil dulu baru halalin, masa Abian yang sabar nahan diri malah dikasih ujian yang berat-berat, Rendy sama kuda nil enak, belum halal tapi dikasih gampang punya anak."
Amanda mengernyit "Kuda nil siapa?"
"Bian nggak mau sebutin nama aslinya, Mama tanya aja sama pembaca yang kasih julukan namanya, untung mereka kasih julukan, jadi Bian nggak harus sebut nama dia."
Amanda memukul punggung Abian kesal "Kamu tuh ditanya tinggal jawab yang bener, jangan mbelibet, bikin Mama pusing."
"Itu, yang lagi otewe jadi mantan iparnya Delia."
"Daniel?" Amanda memastikan.
"Hemm."
"Memang Denisa hamil duluan?"
Abian memejamkan mata sejenak, dia lupa, jika hal ini harus dirahasiakan. Abian menyesal. "Tapi ini rahasia ya Ma, nanti Delia marah, Mama pura-pura nggak tahu aja," Abian merutuki mulutnya yang keceplosan, bisa puasa lama dia kalau Delia sampai tahu kalau mulutnya sempat bocor.
"Mereka mau pisah Abian?" Abian mengangguk, Amanda menghela nafas berat "Bian, Mama sunat kamu lagi kalau kamu sampai melakukan hal itu, akan lebih salah lagi kalau kamu melewati batas sebelum halal, itu hanya godaan kenikmatan sesaat, tapi risikonya besar kedepannya, kamukan hanya tahu dari luarnya saja, mereka terlihat enak sudah mempunyai momongan, tapi kamu tidak tahu, ujian rumah tangga mereka, nyatanya Daniel dan Denisa tetap akan berpisah walaupun sudah ada janin yang mengikat cinta mereka, yaaa Mama nggak tahu penyebabnya apa?" Amanda melihat Abian yang menyandarkan kepala di sofa dengan mata terpejam "Apa punya momongan prioritas kamu nikah?"
Abian membuka matanya "Nggak juga Ma, Abian nggak tahan aja kalau diledekin kurang tokcer," Abian mendongak, untuk melihat wajah mamanya, "Abian juga pengen kayak papa, pulang kerja langsung disambut senyum istri, rasa capek itu langsung hilang, teus dibuatin minum, ngobrol, ngabisin waktu berdua, kalau Delia sibuk kerja, nggak ada waktu buat Abian manja-manjaan. Bian cuma mau itu aja Ma, ya hitung-hitung kalau Delia dirumah, santai, nggak kecapean, bisa bantu kami cepat bisa punya anak. Siapa sih Ma yang nggak pengen punya anak?" curhat Abian panjang lebar mengeluarkan isi hatinya.
"Iya Mama tahu, kamu kan tahu resiko nikah sama pramugari seperti apa? Ya begini, kamu tahu betul jadwalnya. Sabarin sajalah Bian, nanti jika sudah waktunya Delia jenuh, dia akan resign sendiri, kamu juga tahu, perjuangan Delia menjadi pramugari nggak mudah? Kamu nggak bisa buat minta dia meninggalkan dunianya begitu aja, kalian harus saling memahami, kamu sebagai suami harus lebih sabar, mengalah sedikit, kurangin manjanya, pelan-pelan buat minta Delia berenti kerja, kalau buru-buru begini, nanti kelihatan ego kamu," ujar Amanda sembari mengusap kening Abian, membuat Abian memejam.
"Delia saja menerima kamu tanpa syarat, jadi kamu juga harus menerima dia tanpa syarat, jangan banyak menuntut, Mama terharu waktu dengar cerita papa Delia begitu mencintai kamu, dia takut kehilangan kamu, makanya waktu itu dia membuat janji sama papa. Dia juga tidak menolak waktu Mama menjodohkan kamu sama dia."
Dalam hati Abian membenarkan ucapan mamanya, tapi tetap saja, dia laki-laki pendapatnyalah yang benar, dan membuat Delia untuk tetap dirumah.
"Ini kamu mau makan nggak, Mama ambilin ya? Mama yang suapin."
"Nggak usah Ma, Mama istirahat aja, udah malam, nanti Bian ambil sendiri," bohongnya, padahal ini tak-tiknya agar sakit, dan membuat Delia merasa bersalah, hingga memutuskan untuk keluar kerja.
Hingga tak lama ponselnya berdering kencang dengan volume paling tinggi, cepat-cepat Abian menegakkan duduknya, mengambil ponselnya, tertera nama baby girl sudah digantinya nama yang dulu, dedel. Senyum Abian langsung mengembang, yang dia tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya muncul juga, Abian melirik mamanya. Amanda tahu dari senyum anaknya, jika itu dari Delia.
"Kenapa nggak langsung diangkat?" tanya Amanda heran.
"Jual mahal dikit Ma, jangan terlalu keliatan kalau Abian nungguin dia nelepon, biar Delia tahu rasanya kesal nunggu tuh nggak enak." Namun Abian segera berlari keatas, dia tak ingin mamanya mendengar obrolannya dengan sang istri, Amanda yang melihat itu hanya geleng kepala, sudah menikah tapi tingkah anaknya seperti abege yang baru pedekate dengan pacarnya.
Sempat tak ada jawaban, Delia kembali menghubungi suaminya melalui sambungan panggilan video, di panggilan keduanya, baru Abian mengangkat teleponnya.
"Bi, udah tidur?" Delia memperlihatkan wajah segarnya yang sudah dibersihkan, Delia merebahkan tubuhnya memiring.
Abian bergumam pura-pura bangun tidur, wajahnya dibuat selesu mungkin untuk menunjang aktingnya, dia mengucek wajahnya, membuat matanya memerah, Abian menyingkap selimut, padahal dia merasa kegerahan karena pendingin ruangan itu belum menyebar sempurna.
"Aku ganggu ya Bi?" Delia merasa bersalah.
"Iya, maaf ya aku nggak bisa pulang lagi."
"Nggak mau, aku nggak mau maafin, kamu tahu kan Del, aku nggak bisa tidur? Kamu tega."
Delia semakin bersalah, terlihat dari raut wajahnya, dan itu membuat Abian bersorak senang dalam hati. "Tapi tadi kamu tidur,"
Abian tergagap, dia salah strategi "Tadi cuma maksa merem, aku pikir juga bukan kamu yang telepon,"
Delia mengerucutkan bibirnya "Aku harus apa sekarang?"
"Jangan matiin videonya sampai aku tidur, kamu nggak boleh tidur kalau aku belum tidur, terus kamu jangan pake baju," pintanya egois, lupa pesan mamanya.
"Aku satu kamar sama mba Dewi loh, masa nggak pake baju," ujar Delia terkekeh, dia membalikkan badanya, mengarahkan layar pada Dewi.
"Hai Capt, apa kabar? Delia aman sama saya Capt." Dewi tertawa mengejek, membuat Abian malu.
"Suruh Dewi tutup telinga, jangan biarin dia nguping kalau masih betah kerja."
Delia kembali memutar badanya membelakangi Dewi "Nggak boleh gitu Bi, kasihan mba Dewi. Kamu udah makan?" Alihkan pembicaraan.
"Nggak mau makan, kalau kamu belum pulang."
"Bi, nanti kamu sakit, kamu kan harus minum obat dari dokter juga."
"Aku kuat, nggak bakal sakit," bohongnya lagi, padahal keinginannya dia sakit.
"Jangan sok kuat, nanti kalau sakit bisa repot semua. Jangan kayak anak kecil."
"Makanya kamu dirumah aja, biar aku nggak sakit."
Delia memutar mata malas, tahu betul strategi suaminya, malam itu mereka terus mengobrol, sampai tak tahu, siapa yang memejam terlebih dahulu. Namun hanya beberapa jam saja Abian terpejam, dia tak sabar menunggu besok, saat dia membuka mata, masih terlihat wajah Delia yang terlelap, Abian kasihan melihat wajah lelah istrinya, membuat Abian semakin gigih, agar Delia segera berhenti bekerja.
Rencana Abian memang lancar, namun membuat dia tersiksa, terlambat makan menyebabkan gangguan pencernaannya, entah sudah berapa kali dia bolak balik kekamar mandi, Abian juga tak nafsu makan, melihat nasi saja dia langsung mual.
"Begini kalau kelakuan kayak anak kecil, kamu nggak mikirin Delia apa Bi? Ya ampun, kenapa anak Mama jadi pada aneh begini?" Amanda memberikan obat diare pada Abian, dengan segelas air hangat.
"Suruh pak Mul saja yang jemput Delia, bisa berbahaya kalau kamu menyetir sendiri, itu perut kamu juga pasti keram," saran papa Abian.
"Nggak Pa, Abian masih kuat," dia menguat-nguatkan diri.
"Yasudah, Papa nebeng kamu saja kebandara," papa Abian menyeka mulutnya dengan tisu, lalu berdiri, mengambil kunci milik Abian.
Saat sudah dibandara, bertepatan Delia yang sudah mendarat, namun momen itu harus kacau karena Abian terus merasakan sakit perutnya. Dan dia terus menuju toilet.
"Nggak nyangka Del, ternyata Captain Abian sebegitu manjanya sama kamu, dia yang cool, cuek begitu, ternyata manjanya melebihi anak aku yang berumur lima tahun." Dewi cekikikan, tak kuat melihat kelakuan Abian, sejak semalam dia menahan tawa.
Delia hanya tersenyum kecil, dia sendiri bingung pada Abian yang berlebihan seperti ini.
"Mau diulang lagi kayak gini?" Marah Delia saat mereka sudah sampai dirumah, dan sudah berobat ke klinik yang ada dibandara.
"Nggak papa kalau bisa buat kamu perhatian." Jawab Abian santai, "sekarang obatnya sudah ada."
Abian merebahkan tubuh Delia terlentang diatas tempat tidur, kemudian menahan kedua tangan Delia diatas kepala. Tak bisa menahan rasa rindunya, Abian meraup bibir Delia yang sudah sangat menggoda, tangan nakal Abian menyingkap rok seragam Delia yang belum sempat digantinya, menyentuh letak titik sensitif sang istri, Delia memejam menikmati perlakuan lembut suaminya, tubuh keduanya sudah mulai memanas seiring kecupan Abian yang semakin turun keleher dan terus turun kebawah menuju dada Delia, membuat Delia melenguh, tangan satunya sudah mengacak-acak tubuh bagian bawah istrinya.
"Kamu udah basah Delia." Bisik Abian serak yang terdengar seksi.
Namun momen itu harus kacau, karena Abian tak sengaja melepaskan angin yang sejak tadi ditahanya, menimbulkan suara tak mengenakkan dan bau tak sedap. Dan diiringi perutnya yang kembali sakit membuatnya tak tahan harus segera bangkit dari atas tubuh Delia, dan lari ketoilet.
"Ahhhh, sial, kenapa sih perut nggak bisa diajak kerja sama?" rutuk Abian menyesali kebodohannya.