
Abian bangun terlebih dahulu dari Delia, dia memang ada jadwal penerbangan pagi, jadi sebelum berangkat Abian memastikan jika Delia sudah sarapan. Abian juga akan mencari teman untuk menemani Delia, agar tidak sendirian diapartemen, mengingat apa yang terjadi pada Delia, mungkin saja membuatnya akan teringat lagi.
Abian memcari-cari kontak di hapenya, mencari siapa kira-kira yang bisa ia mintai pertolongan. Abian dulu termasuk pilot yang dingin, tidak terlalu banyak berinteraksi dengan crew cabin lainnya, dia hanya memiliki beberapa nomor kontak, seperti komandan pilot, suvervisor pramugari, atau beberapa jajaran Direksi yang memiliki hubungan dengan papanya.
Abian hanya memiliki satu kontak FO (Co-pilot), yaitu Rendy. Abian meminta beberapa nomor pramugari dari Rendy yang Abian rasa selama ini dekat dengan Delia, termasuk Cecilia dan Voni, namun Voni sudah dipastikan tidak bisa, karena Rendy sudah memberi tahu jika Voni ada jadwal.
"Sudah sejauh apa hubungan kamu dengan Voni, sampai kamu tahu jadwalnya?" tanya Abian mencibir.
"Sejak kapan Captain Abian mau tahu urusan pribadi orang?, setau aku Delia bukan tipe wanita yang suka bergosip," Rendy menjawab dengan angkuh dari seberang, dia sekarang merasa diatas Abian, entah mengapa dia seperti menjadikan Abian sainganya, dan dia ingin melangkahi Abian menuju pelaminan.
"Pintar menjawab sekarang kamu ya Ren," ujarnya seperti sedang memarahi anak kecil. "Yaudah, kamu telepon Ceilia, tanyakan dia sedang ada jadwal libur atau nggak?"
"Nggak mau, Captain aja telepon sendiri."
Tut tut tut.
Panggilan diputus sepihak oleh Rendy, kesempatan sekali untuk dia menindas Abian, Rendy tahu apapun akan Abian lakukan untuk Delia, anggap saja ini balasan karena Abian menikungnya dulu, dan Rendy tak ingin ada panggilan atau pesan keluar pada wanita lain kecuali Voni, apalagi sekarang Rendy sedang dijalan menuju apartemen wanita yang akan ditaklukanya itu.
"Kurang ajar Rendy," maki Abian dan seiring itu ponselnya berdering, pesan masuk dari Rendy, mengirim nomor Cecilia.
Abian segera menyimpan kontak Cecilia secara otomatis di ponselnya, lalu langsung mengklik tombol hijau agar tersambung ke nomor Cecilia, sampai suara deringan ke tiga, panggilanya baru diangkat Cecilia.
"Halo, siapa ya ini pagi-pagi?, kalau mau nagih kreditan jangan pagi, saya nggak mau bayar, tapi kalau agak malaman saya transfer."
"Hah, apa sih Cill?, ini saya Abian, bukan penagih hutang."
"Hah!!, A-abian maksudnya Captain Abian?" Mata Ceilia sampai melotot karena terkejut, untung Abian tak melihatnya "pilot Airlanngga Airlines?"
"Iya, kamu hari ini libur apa masuk?, saya mau kamu menemui Delia diapartemen, nanti saya transfer untuk ongkos, sekalian untuk beli cemilan buat Delia," ucap Abian langsung, dia malas berbasa basi pada wanita lain.
Diseberang Ceilia memejam, menggigit bibirnya, Cecilia malu bukan kepalang sudah keceplosan, ketahuan sudah borok yang selama ini disimpanya.
"Maaf Capt, soalnya nomor baru, nggak tau kalau ini nomor Captain, iya hari ini saya libur, kirim share lock nya aja Capt, nanti saya kesana, nggak usah pakai kirim ongkos, uang saya masih ada kok buat bayar taksi."
"Yasudah, saya kirim lokasinya, kamu jangan lupa kirim nomor rekening kamu, jangan sampai Delia kelaparan, kamu belikan apa yang dia mau. Dan satu lagi, kamu jangan pernah bahas apapun masalah kemarin. Dan jangan buat vlog atau konten apapun saat sama Delia." pesan Abian, yang dia tahu jika Cecilia sekarang juga menjadi selegram.
Ceilia membuang nafas lewat mulut, dan mengelus dadadanya, tegang sekali mendapat telepon dari Abian, seperti mendapat telepon dari atasan dan dia dipecat, sedang dia masih banyak cicilan.
Setelah mengirim nomor rekeningnya, dan mendapat lokasi apartemen Delia, Cecilia tak mau berlama-lama, dia mandi secepat kilat melebihi mandi bebek, dan memesan taksi, sebelumnya dia singgah terlebih dahulu mampir ke swalayan, untuk berbelanja makanan dan bahan untuk dia masak selama menemani Delia. Saat menuju **parkiran, Cecilia bertemu Daniel.
"Kamu pramugari temennya Delia bukan?" tanya Daniel saat dia berpapasan dengan Cecilia.
"Eh iya Pak Daniel." Duh ganteng juga ya pak Daniel kalau dari dekat gini, batin Cecilia, dia yang baru kemarin patah hati, seketika melupakan patah hatinya setelah melihat Daniel.
"Kamu libur?"
"Iya Pak, ini mau temani Delia diapartemen."
"Oh ya, kalau begitu sekalian saya ikut boleh?, saya mau tahu keadaan dia."
"Aduh, Captain Abian marah nggak ya?, tapi kalau ditolak sayang, pak Daniel ganteng, lumayan untuk dijadikan objek penghilang rasa galau," batin Cecilia.
"Eh boleh Pak."
"Yasudah, saya ikutin taksi kamu dari belakang," ujar Daniel.
"Gilla ... mahal nih cowok, kirain mau ngajakin satu mobil," decak Cecilia kagum.
* * *
Cecilia dan Daniel sudah berdiri didepan pintu apartemen Delia.
"Kamu yakin ini apartemen Delia?"
"Iya Pak, sesuai dengan nomor kamar yang dikirim Captain Abian. Kata Captain Abian, Delia sekarang tinggal sendiri, tidak sama Voni lagi." Jelas Cecilia.
Yang tanpa dia ketahui jika Daniel sudah tahu hal itu, sebab Daniel tahu dari orang suruhanya yang mengikuti Abian, dan kini dia seolah memiliki jalan untuk menemui gadis yang dia sayang.
Setelah menekan bel, tak lama Delia keluar, sosok yang begitu ingin Daniel lihat, kini sudah bisa dia lihat senyumnya.
"Hai Delia." peluk Cecilia rindu. Delia yang membalas pelukan Cecilia terkejut, ternyata temannya itu tidak datang sendiri.
"Daniel!" sapa Delia, melepaskan pelukan Cecilia.
"Baik, yuk masuk." Delia mengajak Cecilia dan Daniel masuk.
"Del, kamu udah tunangan sama Captain Abian?" Cecilia yang menggandeng tangan Delia merasakan, jika Delia kini memakai cincin dijari manisnya, dia seketika mengangkat tangan Delia, "Cantik banget Del cincinya."
Delia juga terkejut, dia tak menyadari jika dia mengenakan cincin. Daniel yang dibelakang mereka tak kalah terkejutnya, dia selama ini selalu memperhatikan apa yang ada pada Delia, selain memakai jam tangan analog, jam tangan yang wajib dipakai para pramugari, Delia tidak memakai aksesori apapun.
"Aku juga nggak tau, kapan Abian pasanginya"
"Romantis banget sih Del, ya Tuhan, desain satu yang kayak Captain Abian satu untuk aku," Cecilia menengadahkan tangannya berdoa.
Mendengar itu hati Daniel berdenyut ngilu, tak pernah ia merasakan sakit hati, mendengar kabar Delia yang ingin menikah dengan Abian saja tak membuat Daniel terluka, sebab dia tak melihat cincin dijari Delia, tapi sekarang, dia melihat benda bulat telah melingkar dijemari manis Delia, apakah dia akan menyerah saja?. TIDAK, ini bahkan belum dimulai, Daniel menunggu waktu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Kamu belum bertunangan?" Daniel pura-pura memastikan.
Delia menggeleng, dia tersenyum "Mungkin Abian punya cara tersendiri untuk membuat kejutan."
"Terus, kalian sudah tinggal berdua diapartemen ini?" tanya Cecilia lagi seraya meletakkan belanjaanya diatas cabin dapur, membuat Daniel memasang telinga untuk mendengar jawaban Delia.
"Ya enggaklah, aku nanti tinggal sendiri, Abian kan keluarganya disini." Dusta Delia, padahal ia tak yakin Abian tak pulang kesini.
"Ini kita mau masak apa nih Del?, aku nggak pernah masak sama-sama begini, tadi aku belanja daging, ayam, sayur, ini semua uang dari Captain Abian loh."
"Oh ya?" hati Delia semakin berbunga diperhatikan Abian sedetail ini, tak menyangka Abian ternyata sangat perhatian padanya, berbanding terbalik dengan yang dirasakan Daniel, harinya semakin sakit mendengar itu.
"Kita bikin chicken rice bowl saja, gimana?" sambung Daniel, dia menghampiri kedua wanita yang berdiri di kichen set.
"Ini aku baru kesini semalam, aku nggak tahu ya, ada alat-alat untuk masaknya atau nggak?" Delia memeriksa lemari dapur, mencari mungkin saja Abian sudah membeli peralatan dapur untuknya.
"Pak Daniel bisa masak?" tanya Cecilia.
"Bisa, saya juga seperti pilot, yang harus bisa masak."
"Wah, hebat."
"Sepertinya kita kurang beruntung, nggak ada peralatan dapur sama sekali."
"Yaudah, kita pesan makanan online saja," saran Daniel "Aku pesankan, kamu mau apa Delia?"
"Aku pecel lele yang Abian beli pagi tadi, eh tunggu. Ini dikotaknya ada nomor gerainya." Delia memberikan kotak makanan berwarna pink bermerek gerai itu pada Daniel.
"Oh, ini, aku tahu, kamu suka?" tanya Daniel lembut pada Delia.
"Aku suka,"
"Saya juga suka loh pak Daniel." sindir Cecilia yang merasa dirinya tak ditanya oleh Daniel.
"Oh iya, kamu juga mau Cecilia?"
Cecilia memutar matanya malas "Nggak Pak, ya maulah Pak." Delia dan Daniel tertawa mendengar jawaban Cecilia "Double yang kompak." sungut Cecilia.
"Nanti kita beli saja perabot dapur, setelah makan.Gimana, Del?"
"Nggak usah Dan, nanti saja."
"Nggak papa, sekalian kita jalan keluar, biar kamu nggak bosan, jarang sekali kita bisa keluar bersama."
"Ide bagus itu Del," sahut Cecilia
"Nanti saja, aku harus menunggu izin Abian, ini milik dia."
"Kalau begitu kita menonton film saja, gimana?" Daniel tak kehabisan ide agar bisa keluar bersama Delia.
"Wah, aku mau Pak, ayo donk Del." rengek Cecilia, "Sekalian biar aku hilangin galau aku karena habis putus cinta."
"Kamu putus sama pacar kamu yang kemarin."
Cecilia mengangguk "Dia selingkuhin aku."
"Hmm kasian, yaudah aku mandi dan ganti baju dulu."Delia akhirnya menyetujui ide keluar untuk menonton.