
Cuaca siang hari ini disekitar bandara lumayan terik, suhu udara mencapai 32 derajat celcius, karena saking bersemangatnya, kedua pasangan pengantin baru itu sampai lupa menyalakan pendingin ruangan, mereka langsung terlelap setelah melakukan aktifitas panas di pagi hari yang cukup membakar kalori. Jika tadi mereka sampai rumah jam sepuluh pagi, dan kini jam sudah menunjukkan pukul dua, berarti mereka tertidur selama tiga jam lebih.
Abian yang tak biasa kepanasan jadi terbangun. Dia mendongak, tersenyum, saat membuka mata pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik istrinya, ini yang dia mau, tidur dengan saling berpelukan, dan kepalanya berada didada sang istri, diusap manja sebelum tidur, dengan tangan yang melingkar diperut istrinya. Mereka tidur dengan tubuh yang masih polos, dan tanpa menggunakan selimut.
Abian menatap wajah cantik Delia, walau berkeringat, tapi Delia nampak tidak terganggu sama sekali, mungkin ... Delia kelelahan karena ulahnya yang baru sampai langsung menggempurnya.
Abian bangun, mencari remot untuk menyalakan pendingin ruangan kamar mereka. Setelah itu Abian menyelimuti istrinya, dia tak rela, jika cicak atau semut melihat tubuh istrinya yang terekspos.
Namun ada satu yang mengusik pikiran Abian, membuatnya menyibak bagian bawah selimut yang menutupi tubuh wanita yang telah halal untuknya ini. Abian penasaran, bagaimana bentuk landasan bandara istrinya setelah ia pakai mendarat tadi, Abian tersenyum bangga, saat melihat ada noda merah disprainya. Dia yang tadinya berencana ingin mandi, setelah melihat landasan itu, Abian jadi mengurungkan niatnya, Ia menunduk, masuk, mendaratkan lidahnya disana.
Paha Delia bergerak-gerak halus, saat merasakan geli, bercampur sesuatu yang membuatnya merasakan hal aneh, karena ada gesekan rambut dipahanya, serta benda lembut yang menusuk dan menjalar inti tubuhnya, namun memiliki efek tagih.
Delia membuka mata saat merasakan tangan yang kini berada dikedua dadanya juga, baru saja dia akan menendang saat menyadari ada kepala seseorang yang berada di antara kedua pahanya, jika dia tidak cepat ingat jika dia sekarang, telah sah menjadi nyonya Abian Philips Hamzah. Kini dia memejam menikmati apa yang dilakukan suaminya.
"Bi..." rintih Delia.
"Hemmm" Abian hanya menggumam enggan menghentikan kegiatannya.
"Bi... udah" erang Delia, yang padahal dia mulai menyukai itu, dan ingin Abian melakukan lebih, walau masih sedikit menyisakan rasa perih.
Abian hanya menggeleng tanpa menghentikan aktivitas bibirnya dibawah sana, membuat Delia bertambah menggelinjang, tanganya kini memegang tangan Abian yang tak diam di sepasang dadanya.
Abian mendongak, lalu tersenyum "Kamu udah bangun?" Pertanyaan basa-basi yang tak perlu dijawab, padahal dia yang membangunkan sejak tadi. Abian merangkak naik keatas tubuh istrinya, saat sudah merasa puas, lalu ia kembali mencumbu bibir yang bahkan masih ada sisa jejaknya tadi, maraup bibir itu, menghisapi lembut, atas dan bawah secara bergantian, tak mengizinkan Delia berucap sedikitpun.
"Eungh Bi."
"Yes baby, keep saying my name." bisik Abian ditelinga Delia, kemudian ia menyesapp leher putih mulus yang dulu selalu ada dibayanganya, kini dia bisa memberikan tanda merah disana, sebagai cap, jika itu sepenuhnya telah menjadi miliknya, paten.
"Pegang milik aku sayang," tarik Abian tangan Delia, mengarahkan tangan Delia untuk memegang pesawat tempurnya, namun dia sendiri yang kini tak tahan, saat tangan lembut itu telah menyentuh miliknya. "Ough baby," erang Abian, dia sampai menyentakkan kepalanya kebelakang, dengan jakun yang naik turun.
"Ini nggak kebesaran Bi?" tanya Delia polos saat dia sudah menggenggam pesawat suaminya, tanganya bergetar, Delia gugup, ini pertama kali dia melihat milik laki-laki dewasa.
"Hah?" Abian yang tadi memejam, sontak membuka mata mendengar perkataan Delia. "Ini yang para wanita mau Del, seperti ini bentuknya, kamu harus lihat, hapalin bentuknya, ada urat-uratt yang buat kamu teriak keenakan tadi," ucap Abian.
"Tapi enak 'kan udahanya?" kekeh Abian, membuat Delia mengalihkan wajah malu "Arahin ke landasan kamu, yang menurut kamu pas," ucap Abian lag. Delia menurut, mengarahkan pesawat Abian dilandasan miliknya, ini untuk kedua kalinya Abian mencoba memasuki inti tubuh Delia, masih merasakan kesulitan, beberapa kali mereka mencoba, dengan Delia yang sabar menuntut pesawat suaminya, saat sudah pas, Abian mulai menghentakkan pinggulnya maju mundur.
Tangan Delia yang tadi ada dibawah, kini berpindah ke lengan Abian yang ia kagumi, kedua tanganya berpegang erat disana saat pergerakan Abian kian berpacu cepat, Abian kembali menunduk, meraup bibir Delia, Walau semilir udara sejuk dari pendingin udara memberikan hawa dingin, namun tetap saja mereka bercucuran peluh, Abian mengeratkan pelukanya pada tubuh Delia, saat pesawatnya sudah akan mengeluarkan rudalnya. Secara bersamaan, mereka mengerangg saat telah sampai titik tujuan mereka, dengan tubuh yang bergetar hebat.
Abian menunduk, mengecup kening Delia yang berkeringat "Makasih ya Delia, sudah bersedia menjadi istriku, menjadi pendamping hidupku, bersedia meninggalkan keluarga mu demi menghabiskan sisa hidupmu mengabdi pada ku, kamu tidak menyesalkan, jadi istriku?"
Delia menggeleng "Aku jawab, tapi turun dulu Bi, berat," dorong Delia dada Abian. Abian terkekeh, dia bahkan belum mengeluarkan pesawatnya dari sana.
Mereka meringis, saat perlahan Abian mencabut miliknya.
Abian lalu berguling disamping Delia, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Ia memiringkan tubuhnya, memeluk tubuh istrinya, jika biasanya laki-laki membiarkan lenganya untuk dijadikan bantal istrinya, tapi tidak dengan Abian, dia meletakkan kepalanya disamping dada Delia, dibawah ketiak Delia, lalu tangan Delia terangkat mengusap rambutnya.
"Aku suka kamu manja sama aku, Bi. Aku rindu manjanya kamu."
"Jadi kamu tidak meneyesalkan jadi istri aku?" Delia menggeleng "Maksih Delia, aku janji, aku akan membahagiakan kamu seperti orang tuamu membahagiakan kamu dulu." Abian mengeratkan pelukanya pada dada Delia, lalu menyesapp ujung dada istrinya.
"Udah Bi, aku lapar." Dorong Delia wajah Abian.
Abian tertawa, dia bangun "Maaf ya, Abisnya enak Del," ucapnya "Kamu pengen makan apa?, kita order saja dulu ya."
"Nasi padang, tapi beli tiga ya, aku suka kurang kalau cuma satu."
"Astaga sayang, ini kamu lapar apa doyan?"
"Aku emang nggak bisa makan cuma satu bungkus, selalu dua bungkus, apalagi ini, tenaga aku udah abis."
Abian menggeleng, satu hal yang baru dia ketahui dari Delia, badan kecil, tapi ternyata makanya banyak.
Setelah memesan makan, Abian menggendong tubuh Delia, untuk dibawanya ke kamar mandi, dia sudah menyiapkan air hangat di buth up, dan meneteskanya aromaterapi, agar tubuh Delia kembali segar. Tentu saja kesempatan ini tak Abian biarkan sia-sia begitu saja, walau awalnya Delia menolak, dengan segala rayuan, dan sentuhan-sentuhan lembutnya di titik sensitif istrinya, membuat Delia pasrah, dan pergulatan panas itu terjadi lagi.