
Hari ini merupakan hari terakhir Delia menghabiskan masa kontraknya, ia bekerja seperti biasa. Di hari terakhirnya ini Delia terbang ke London. Sebenarnya Delia mendapat perpanjangan kontrak lagi selama lima tahun kedepan, namun tak diambilnya, memiliki sedikit pengalaman di Singapore Airlines benar-benar memberinya banyak pelajaran, dan yang pasti, Delia bisa memamtapkan pilihannya pada Abian.
Setidaknya Delia sudah merasakan menjadi pramugari dengan pelatihan terbaik, hingga mendapat julukan Singapore girl, dan tahu rahasia negeri Merlion tersebut menjadi maskapai terbaik di dunia yang memiliki jarak tempuh terpanjang di benua itu. Maskapai tersebut mengutamakan pramugari dan catering terbaik.
Dari sini juga, Delia sudah merasakan menjadi pramugari dengan penerbangan terlama, dari Singapore-New York City dengan jarak tempuh 15.348,3 km dengan memakan waktu delapan belas empat puluh menit.
Sedikit pengalamannya itu, dapat ia ceritakan kepada anak-anaknya nanti.
Walau sempat mendapat perlakuan senior juniorr diawal dia bekerja, namun Delia bisa melewatinya, dan diakhir masa kerjanya dia dilepas dengan haru oleh para crew cabin. Delia dipasangkan selempang perpisahan, dan mendapat bucket bunga dari para temannya.
"Selamat jalan ya Delia, semoga kita bisa bertemu di lain waktu, jaga kesehatan, jangan lupa bertukar kabar, salam sama Kak Dewi. Nanti kalau aku cuti dan libur panjang, aku pulang."
"Iya, terima kasih kamu sudah mau jadi teman terbaik aku, dan bimbing aku selama disini, sampai bertemu di Jakarta."
Delia dan sepupu Dewi saling berpelukan dan menempelkan pipi kanan dan kiri. Sepupu Dewi mengantarkan sampai Delia check-in.
Meski rindu Delia tak langsung menemui Abian, tujuan utamanya adalah untuk pulang ke rumah mamanya. Setelah dua hari disana, Delia baru menceritakan, jika selama kurang lebih satu tahun ini dia bekerja di Singapore.
"Wowww Kak keren, beneran Kakak kerja disana? Kok bisa Kak?" Tanya Dania tak percaya.
"Bisa dong, Kakak dibantu Papa Abian juga sih." Delia mesem-mesem malu.
Denisa mencibir "Hmm pantes, ihhhh makinnn iriiii, Kakak udah terbang ke berbagai negara, terus bisa memijakkan kaki di bandara Changi, jadi pengen." Denisa memeluk leher Delia.
"Nanti kalau ada waktu kita jalan-jalan kesana, tapi setelah sampai bandara kita pulang lagi ya?" ledek Delia.
"Ihhh capek-capekin aja," protes Denisa.
"Kan kamu pengen liat bandaranya aja," goda Delia.
"Ya nggak cuma sampai bandara aja kali kak." Dengus Denisa.
Ketiganya tertawa, sudah lama sekali mereka tidak berdebat seperti ini.
"Biaya di sanakan mahal Del, tapi kamu tetap kirim Mama uang, lebih banyak lagi?" Tanya mama Delia.
Delia yang sedang bercanda dengan kedua adiknya langsung menghentikan tawannya.
"Tenang Ma, sekarang Mama lihat," Delia menunjuk badanya "walau Delia hidup penuh pengiritan, tapi Delia tetap sehat," jawabnya menenangkan.
"Hemmm, makasih ya sayang, kalau ayah masih ada, ayah pasti sangat bangga sama kamu."
"Iya Ma, Delia yang makasih sama Mama, Mama nggak banyak tanya-tanya selama ini, dan kasih kepercayaan pada Delia, jadi Delia nggak was-was harus banyak bohong." Hahaha
"Kalaupun kamu jujur dari awal, Mama juga pasti izinin kamu kok sayang."
"Maaf ya Ma, udah nggak jujur dari awal." Delia merangkul pundak mamanya, merasa bersalah.
"Mama mau ngambek ini sebenarnya, tapi yaudahlah, semua udah berlalu juga."
Delia tersenyum, mamanya tipe wanita yang mudah memaafkan, dan tak memperpanjang masalah, itu membuat Delia semakin tak enak pada mamanya.
"Bagaimana hubungan kamu sama Abian?" Pertanyaan itu membuat Delia terdiam sejenak.
"Ma, kalau Delia menikah dengan Abian dalam waktu dekat, apa Mama tidak masalah?" tanya Delia hati-hati sambil memijit kaki mamanya, merayu, agar mendapat restu.
"Kamu sendiri sudah siap untuk menikah?" bukanya menjawab, mama Delia malah balik bertanya.
"Insyaallah siap lahir batin Ma."
Mendengar jawaban tegas Delia dan tanpa keraguan, membuat hati mama Delia menjadi lega, dia berharap Abian laki-laki terbaik yang bisa melindungi anaknya.
"Jika kamu yakin dan siap, Mama izinkan, tapi jika kamu masih ragu, harus dipikirkan matang-matang. Mama nggak mau kamu memilih kucing dalam karung, walau keluarga Abian sering datang kesini dan bermalam disini, Mama tidak mengetahui karakter asli mereka."
Mama hanya ingin memastikan, jika kebaikan keluarga Abian, bukan hanya padanya, tapi juga pada Delia, bagaimanapun, ia tak mau anaknya kelak mendapat perlakuan tak baik dari orang lain.
"Mudah-mudahan Ma, keluarga Abian keluarga yang baik, mereka menerima Delia, apalagi papa Abian, dia sudah menganggap Delia seperti anaknya sendiri, dan untuk kesetiaan Abian, sudah terbukti Ma, Abian setia menunggu Delia selama Delia menghilang."
"Iya, Mama percayakan semua sama kamu."
"Makasih ya Ma." Ucap Delia.
* * *
Beruntung, selama dua minggu berada dirumahnya, baik Abian atau Daniel, ataupun orang tua Abian tak ada yang datang kerumahnya, membuat Delia bisa beristirahat dengan tenang, dan bisa quality time bersama keluarganya hingga luas, dan Delia juga berpesan pada adik-adiknya untuk tak memberitahu dulu keberadaannya, yang baru dia ketahui bahwa kedua adiknya itu, ternyata sering bertukar pesan pada Abian dan Daniel, karena mereka mendapat subsidi uang jajan dari kedua laki-laki itu.
"Rejeki jangan ditolak Kak, lagian ini rejeki halal," Dania membela diri.
"Iya, lagian kita nggak minta, mereka aja yang ngasih ya Dek," Denisa ikut-ikutan.
Hingga Delia mengabari Voni, kalau dia sudah pulang, dan sekarang sudah berada dirumah mamanya, dan secara kebetulan, Von juga mengundang Delia kepernikahanya. Tetap Delia meminta agar Voni tak memberitahu ini pada Abian ataupun Rendy.
Sampai tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, dimana hari pernikahan Voni dan Rendy, Abian telah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, jika benar apa yang dikatakan Rendy, Voni mengundang Delia, dia harus menyambut Delia dengan tampilan yang paripurna, dia tak mau terlihat buruk dimata Delia, sampai Abian rajin berolahraga demi menjaga otot-otot tubuhnya terjaga.
Sejak datang hingga ke pertengahan acara, mata Abian tak lekat menatap setiap tamu yang datang.
"Ngeliatin kesana mulu Capt matanya, nungguin seseorang ya?" Rendy menghampiri Abian yang berdiri diantara tamu undangan lain, karena pernikahan Rendy mengusung tema santai jadi dia bisa menghampiri para tamunya.
"Yank, kamu ihh, aku nggak yakin loh Delia bakal datang," Voni menyikut pinggang Rendy, tak enak pada Abian.
Abian yang mendengar bisik-bisik kedua pengantin baru itu sontak melemas, dia yang tadinya percaya diri Delia akan datang, kini jadi meragu.
"Hai Von, selamat ya, ikut seneng deh. Doain aku ya cepet nyusul." Cecilia datang sambil membuat vlog lengkap dengan seorang cameramenya. "Maaf aku nggak bisa bawain apa-apa ya, cuma ini yang bisa aku kasih." Cecilia menyerahkan sebuah kado besar tanpa dibungkus.
Abian mengernyit, terlihat dari gambarnya jika itu stroller bayi. "Stroller?" tanya Abian.
"Iya Capt, sekalian, biar irit. Nggak lama lagi juga mereka brojol." Jawab Cecilia tanpa beban, lupa jika dia sedang on camera.
"Cil, itu kamu lagi live nggak? tolong matiin kamera kamu." protes Voni, khawatir yang diucapkan Cecilia banyak yang menonton.
"Hehehe, tenang Von, bukan live, nanti aku edit, biar lebih jelas." Candanya.
Abian melirik Rendy yang kini merangkul pinggang istrinya.
"Karena waktu itu aku nggak kunjung dapat restu, daripada pada ke gunung kawi, lebih baik ke gunung kembar, melewati danau serta semak belukar, itu lebih menantang Capt," ucap Rendy menaik turunkan alisnya, dan lagi Rendy harus mendapat cubitan dari Voni, karena Rendy terlalu bangga menceritakan aib mereka.
Abian hanya menggeleng, ada saja langkah yang diambil Rendy, sedang dia dulu sangat ragu-ragu untuk mengambil langkah itu, baik pada Attaya ataupun Delia.
Hingga satu persatu tamu undangan berkurang, dan hanya tersisa keluarga inti Rendy dan Voni, serta rekan kerja mereka yang menyempatkan datang. Namun sosok yang ditunggu Abian belum muncul.
"Bi, kamu mau pulang bareng kita apa nanti?" tanya Arumi yang juga ikut hadir dalam pernikahan Rendy.
"Kakak sama yang lainnya duluan saja, aku masih mau kumpul."
"Oh yaudah, Kakak sama Mama duluan, lagian kasihan suami Kakak gendong Arsyi yang udah tidur." Abian mengangguk sebagai jawaban.
Abian kembali melihat jam yang melingkar ditangannya, waktu beranjak malam, kini sudah menunjukkan pukul delapan malam, Abian kembali melirik pintu masuk, berharap Delia akan memberikannya kejutan dengan tiba-tiba datang.
Hingga tak lama datang seorang pegawai catering datang membawa nampan yang ditutup tudung saji menghampiri mereka.
"Maaf Pak Rendy dan Bu Voni, tadi ada wanita cantik bernama Delia menitipkan kado ini." Dia memberikan kado sepasang sepatu bayi berwarna pink.
"DELIA?" tanya Abian langsung pada pegawai catering itu.
"Eh, ini mas Abian bukan?" tanyanya, dan Abian mengangguk cepat, "tadi mba Delia juga menitipkan ini," diberikanya sebuah cincin yang dulu Abian berikan pada Delia. "Kata mbaknya, mas Abian harus memasangkan cincin ini lagi dengan benar, sebab, katanya dulu masnya masanginya nggak benar." dengan cepat Abian langsung mengambil cincin itu.
"Dimana Delia sekarang?" tanyanya rak sabaran.
"Ditaman mas_"
Tak mau sang pujaan hati menunggunya terlalu lama, Abian langsung berlari mencari keberadaan Delia, hingga Abian melihat sosok cantik bak bidadari itu berdiri didepanya, dengan senyum yang begitu ia rindukan.
"Hai Bi, apa kabar?" sapa Delia menghampiri Abian
"Ini benar kamu Delia?, aku tak salah kan?, ini bukan mimpikan Delia?" Abian seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Delia tersenyum, lalu berhambur memeluk tubuh Abian erat, membuat Abian seakan terkena setruman listrik tegangan tinggi.
.
.
.
.
Maaf kalau nemu typo bertebaran, maaf juga up nya telat, moodnya udah sore baru nongol. ðŸ¤ðŸ¤ gimana pertemuan Abian dan Delia, sweet nggak?