Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Cecilia dan Denisa



Sementara itu di rumahnya. Setelah seharian berjalan-jalan memutari tempat rekreasi yang ada di ibu kota bersama adiknya Dania, Denisa kembali keluar. Ia yang tadinya janji ingin bertemu dengan Daniel dibandara urung, karena Daniel harus mengurus insiden wanita hamil yang ada dimaskapainya, dan terpaksa ia harus terbang ke Singapore mengurus masalah itu.


Hati Daniel bak teriris pisau tajam panas, saat melihat Abian dan Delia saling merangkul mesra di bandara Changi, dan mereka akan melakukan honeymoon, seperti yang biasa pengantin baru lakukan ada umumnya.


Apalagi saat mendengar begitu banyak cerita serta pujian yang dilontarkan untuk kedua pasangan itu, bahwa, Abian dan Delia bekerja sama dalam penyelamatan insiden wanita hamil itu.


Sore hari setelah dia mendarat di ibu kota, dan baru saja menapakkan kakinya di bandara, Daniel melihat Denisa ternyata sudah menunggunya. Daniel mendesah, dia lelah menghadapi teror pesan serta panggilan dari adik Delia ini, tak tega, akhirnya dia menyanggupi untuk bertemu dengan Denisa, Daniel ingin jujur dan menyelesaikan semuanya, agar gadis kecil itu tak lagi mengganggunya.


Disaat bersamaan, Cecilia juga baru saja mendarat dari luar kota perjalanan dinasnya, dia yang tadi sangat merasa kelelahan, seketika bibir wanita itu merekah melihat wajah tampan Daniel. Cecilia memanggil Daniel dari kejauhan, namun sepertinya laki-laki itu tidak mendengar seruanya. Cecilia mempercepat langkahnya, terus mengikuti Daniel dari belakang sambil menyeret koper miliknya, mengejar sampai depan bandara, namun hati gadis itu harus dibuat mencelus, saat Daniel menghampiri seorang wanita cantik, yang pasti terlihat jika wanita itu lebih muda darinya.


Langkah Cecilia sontak dibuat terhenti, dia memperhatikan keduanya dari kejauhan terlihat sangat dekat. Cecilia kembali bak dibuat bak jatuh kedalam jurang terdalam saat melihat wajah gadis itu mirip seseorang, Cecilia berpikir sejenak, mengingat wajah yang begitu familiar baginya, Delia, iya, gadis itu sangat mirip dengan Delia, Cecilia menggeleng, tidak mungkin itu Delia. Delia sedang pergi berbulan madu dengan Abian, juga bersama Voni dan Rendy.


Cecilia tak dapat menahan air yang sejak tadi berkumpul dipelupuk matanya, mereka seakan berdemo, memberontak berdesakan ingin dikeluarkan. Apa Daniel tidak bisa move on dari Delia? sehingga dia mencari wanita yang memiliki wajah yang mirip dengan Delia, membuat dia tidak termasuk kedalam kandidat wanita pilihannya? Pantas saja pesan yang dia kirim tak pernah dibalas, serta panggilanya tak pernah diangkat.


Cecilia mendongak, mengibaskan tangannya didepan wajah yang mulai memanas karena merasakan sesak didada. Cecilia kembali melihat kedua orang yang sedang saling bercengkrama menuju parkiran, dan dengan manisnya, Daniel membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Cecilia seketika putus asa untuk mengejar Daniel.


"Kenapa nasib ku tidak sebagus kedua sahabatku? Mereka mendapatkan pasangan yang baik, menikah dan hidup bahagia. Sedang aku, pacar aku selingkuh, dan selingkuhanya hamil. Sekarang, laki-laki yang aku kagumi dan aku anggap baik, ternyata tidak melirikku sama sekali."


Cecilia menunduk, meliaht penampilannya yang tidak terlalu buruk, pandanganya berhenti pada sepatu hitamnya. Seketika dia teringat Rendy yang sering membahas tentang dukun dan gunung kawi, apa dia harus pakai cara itu, agar bisa menggaet lawan jenis yang dia mau dengan mudah?


Tidak, jangan Cecilia, itu cara yang kotor, lagi pula itu hanya ucapan bercandanya Rendy saja.


Cecilia memutar waktu, dimalam saat pertemuan Delia dan Abian, dia melihat Daniel yang menangisi pertemuan manis keduanya, malam itu dia berhasil menyelamatkan Daniel dengan membawa Daniel pergi dari tempat itu, namun ternyata Daniel bukan tipe laki-laki yang mudah dirayu dengan ajakanya untuk bersenang-senang ketempat hiburan malam, Daniel menolaknya dan malah memilih pulang sendiri.


Dari awal, Cecilia sudah menilai, jika Daniel laki-laki mahal dan langka.


Hati Cecilia terenyuh, Daniel tidak seperti laki-laki arogan dan egois lainnya, yang mau melakukan cara apa saja agar bisa mendapatkan wanita yang ia cintai, Daniel memilih mengalah, membiarkan Delia bahagia dengan laki-laki pilihannya.


Mengalah, demi kebahagiaan orang yang kita sayang adalah pengorbanan cinta yang sesungguhnya.


Dan saat itu, Cecilia memantapkan hati untuk mengejar cinta Daniel. Namun profesinya sebagai seorang pramugari, membuat dia tidak memiliki banyak waktu untuk menghibur dan mengisi kekosongan hati Daniel, dan akhirnya, dia kalah dengan wanita yang selalu ada untuk Daniel.


"Kita mau kemana Kak?" Denisa melirik Daniel yang duduk didepan kemudi disebelahnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Daniel balik, tanpa melihat Denisa.


Denisa nampak menimang pilihannya "Aku ikut Kakak sajalah."


Daniel mendesah, memiringkan kepala seraya mengangkat alisnya, dia tak suka wanita tak punya pendirian seperti ini.


"Aku lagi pusing, aku mau ke club saja, apa kamu mau ikut?" Daniel melihat Denisa sekilas, dia berharap Denisa akan menolaknya, mengingat, Delia adalah wanita baik-baik, tidak seperti pramugari lain yang dia tahu, jika ada waktu senggang atau libur, mereka memilih bermain ketempat hiburan malam menghilangkan penat.


Namun jawaban Denisa tak seperti dugaanya.


"Iya aku mau." Jawab Denisa cepat, dia juga penasaran, seperti apa tempat hiburan malam itu sebenarnya.


"Kamu yakin?" Daniel memastikan jawaban Denisa.


"Yakin Kak, aku ingin menemani Kakak kemanapun."


Daniel mengernyit atas jawaban Denisa "Apa maksud kamu menjawab seperti itu?"


Denisa gugup, jantungnya berdegup tak tenang, "Emmm aku 'kan mau jadi teman Kakak, jadi aku mau nemani Kakak. Sekaligus ucapan terima kasih aku, karena Kakak sudah memenjarakan wanita yang membuat ayah meninggal. Kakak masih sedih atas pernikahan Kak Delia?"


Daniel menghela nafas "Iya, tapi aku bisa mengobati luka ku sendiri, lagian apa yang aku lakukan terhadap Attaya itu tulus karena rasaku pada Kakak kamu, jadi kamu tidak perlu berterima kasih, tidak perlu membalas budi. Lambat laun perasaan ini akan hilang dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu, semua hanya tentang waktu, ini masih terlalu cepat jika aku harus melupakan rasa itu. Aku tidak munafik Denisa, aku masih merasakan luka itu, tapi ini sudah resiko kita mencintai seseorang, jika tidak bahagia, ya sakit yang akan kita terima."


Rasa kekaguman Denisa semakin bertambah mendengar jawaban bijak Daniel.


"Walaupun Kakak tidak meminta balasan apapun, tapi aku akan melakukan apapun untuk bisa mengobati luka itu Kak."


Ponsel Denisa bergetar, pesan dari Dania "*K*ak, dirumah ada mamanya Kak Abian, dia mau nginep disini temani kita. Kakak dimana? Jangan pulang malam-malam Kak. ingat kita harus jaga diri, jangan bikin malu mama dan kakak."


Denisa berdecak membaca pesan Dania "Iya, Kakak pasti jaga diri, kamu tenang aja, Kakak nggak pulang malam." Balas Denisa pesan adiknya.


"Dari siapa?" Tanya Daniel.


"Dania."


"Nanyain kamu?"


Denisa tersenyum tipis sebagai jawaban.


"Kamu bilang kemana?"


Daniel mengangguk samar. Lalu dia memajukan letak duduknya, mencari slot untuk mobilnya parkir. Daniel tidak membawa Denisa ketempat biasa dia datangi, tapi membawa gadis itu ketempat hiburan malam biasa, karena dia juga sudah lama tidak datang ke tempat ini. Lagi pula, sepertinya Denisa sangat ingin tahu tempat hiburan malam seperti apa? Dia akan menunjukkan dan memperkenalkan, jika tempat ini bukan tempat yang layak untuk gadis seperti Denisa.


Daniel menggenggam tangan Denisa saat memasuki tempat itu, mereka langsung disambut suara keras musik dari seorang DJ yang memekakan telinga, sebenarnya Daniel tak suka musik keras seperti ini, dia lebih suka musik klasik dan lembut, yang bisa membuat hati tenang.


Tak bisa dipungkiri, membawa gadis masih cantik yang masih polos dan lugu seperti Denisa membuat kehadirannya menjadi sorotan banyak mata, terlebih laki-laki buaya darat. Daniel mempererat genggaman tangannya, menunjukkan jika Denisa miliknya, tapi bukan dalam konteks kepemilikan, hanya agar Denisa tidak diganggu dan digoda oleh laki-laki hidung belang ditempat ini, Daniel hanya menganggap Denisa sebagai adiknya, tak lebih.


Namun Daniel tidak tahu saja, jika apa yang dilakukannya pada Denisa, membuat jantung Denisa berdebar cepat. Denisa melihat tangannya yang digenggam Daniel posesif, ada rasa getar yang timbul di hati gadis yang belum pernah berpacaran itu. Kaki Denisa seperti tak berpijak, dia seperti dibuat melayang-layang.


Daniel mengajak Denisa duduk di bangku bar tinggi yang ada didepan meja barista.


"Aku mau Vodka." Pesan Daniel pada seorang barista. Lalu dia melihat Denisa "Sama minuman bersoda non alkohol satu."


Barista itu mengangguk, lalu mengambilkan minuman pesanan Daniel, menuangkanya, kemudian dia mengambilkan minuman soda berwarna merah pada Denisa.


"Sudah nggak penasarankan sama tempat ini?" Tanya Daniel, dia memiringkan kepala untuk melihat Denisa yang duduk disebelahnya, Denisa mengenakan kaos oversize, dan celana jeans biasa, terbilang tertutup dan Daniel merasa aman membawa Denisa ketempat ini.


"Iya Kak." Jawab Denisa gugup, dia sebenarnya sudah mulai takut melihat pemandangan didepanya, banyak laki-laki yang menatapnya penuh damba, dan melihat banyak wanita liar yang mempertontonkan tubuh mulus mereka sedang bercumbu dengan laki-laki.


"Kalau sudah tau, jangan coba-coba datang lagi ke tempat ini, berbahaya untuk gadis seusia kamu, cukup kamu tau saja sudah."


"Iya Kak."


Tak lama, suara ponsel Denisa kembali bergetar didalam tasnya, dia melihat, wajah Delia memenuhi layar ponselnya. Denisa gugup, Delia melakukan panggilan video, tak mungkin dia mengangkatnya, kakaknya itu pasti akan marah jika tahu dia datang ketempat hiburan malam seperti ini, apalagi jika Delia tahu, dia pergi bersama Daniel. Denisa membiarkan panggilan itu, dia akan jujur jika nanti sudah pulang saja, tidak sekarang, dia akan menikmati waktunya bersama Daniel.


"Kenapa?" Suara Daniel menyentak, membuyarkan lamunanya.


"Engg-nggak papa," ujarnya gugup.


"Ada telepon? Kenapa nggak diangkat?"


"Nggak papa, dari teman kuliah, pasti menanyakan tugas."


Daniel mengangguk seraya mencibir "Pasti dari Delia?" Terkanya.


"Bu-bukan Kak."


Daniel tertawa kecil "Gugupnya kamu berarti iya Denisa, kenapa kamu tidak jujur saja?"


Denisa diam.


"Takut Delia marah?" Tanyanya, Daniel kembali menenggak minumanya. Mengingat Delia sedang berbulan madu bersama Abian, membuat hatinya terasa panas. Daniel melonggarkan dasinya, lalu membuka kancing teratas kemejanya.


"Dengar Denisa, jangan lagi menggangguku, aku tidak suka. Aku bukan percaya diri mengatakan ini, sebagai laki-laki dewasa aku tahu perhatian yang kamu berikan bukan perhatian biasa."


Denisa kembali diam, dia cukup terkejut Daniel yang tahu perasaanya, jujur dia sangat malu terhadap Daniel.


"Aku sebenarnya bisa saja memanfaatkan kamu untuk membalas rasa sakit hatiku, tapi aku nggak bisa. Sebagai lelaki, aku akui aku pengecut. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaan ku pada wanita lain, aku sulit jatuh cinta. Dan Delia wanita yang tidak melakukan apa-apa, tapi bisa mengubah hidupku, jangan tanya alasannya, aku tidak tahu kenapa? Itulah hebatnya Delia." Daniel kembali menuangkan minumanya, dan meminumnya sampai tandas.


Sedang Denisa, dia merasa seperti ditimpa batu besar yang membuat dadanya sesak dan sulit bernafas mendengar pujian Daniel pada kakaknya, lagi-lagi semua orang memuji kehebatan Delia, dia tidak iri, dan juga benci, tapi dia hanya tak suka saja.


"Bisa nggak sih, orang itu memuji aku lebih sedikit saja lebih hebat dari kak Delia? atau paling nggak, jangan memuji Kak Delia didepan aku, itu rasanya sakit."


"Kenapa aku terlambat dipertemukan dengan Delia? Seandainya aku yang lebih dulu mengenal Delia, pasti Delia akan menjadi milikku, bukan milik Abian." Daniel menunduk, menangis, tanpa Denisa ketahui jika Daniel sudah mulai mabuk, dan lagi-lagi dia merasakan perih mendengar pengakuan Daniel.


"Kak, mau siapa yang dipertemukan lebih awal, jika memang dia bukan takdirnya, hal itu tidak akan terjadi." Titah Denisa mencoba kuat walau hatinya perih.


Daniel mengangkat kepalanya mendengar ucapan Denisa, dia melihat gadis cantik yang duduk disebelah, yang juga sedang memandangnya. Tapi, bukan Denisa yang ada dipenglihatan Daniel, namun wajah Delia yang sedang tersenyum manis padanya.


"Delia." Panggil Daniel.


Denisa tersentak atas panggilan Daniel padanya, dia ingin menyangkal, namun seketika tangan Daniel menarik tengkuknya dan mema gut bibirnya. Mata Denisa membola, dia terkejut atas apa yang dilakukan Daniel padanya.


Denisa ingin menolak namun dia tak kuasa, ini ciuman pertamanya, dan dia senang, orang pertama yang menciumnya adalah Daniel, dia membiarkan Daniel yang terus menggerakkan bibirnya, Denisa memejam, membiarkan Daniel terus menggerakkan bibirnya hingga memaksakan bibirnya terbuka.


"Buka Delia, dan balas ciumanku."


Deghhh


Hati Denisa sakit luar biasa, bukan namanya yang disebut Daniel, tapi justru nama kakaknya.