Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Jaga Lisan



Lima bulan kemudian.


Kehamilan Delia terbilang tidak sulit, perutnyapun sudah terlihat sangat menonjol, lebih besar dari kehamilan normal yang hanya memiliki satu janin didalamnya. Dan Delia menjadi wanita yang sangat beruntung, karena tidak mengalami morning sickness atau ngidam yang aneh-aneh, hanya saja dia lebih suka memaksa suaminya, dengan meminta Abian memakan makanan yang tidak disukai oleh lelaki itu, seperti makan asinan yang hingga kini Abian belum menurutinya, eh ralat, sebenarnya sudah tapi Delia meminta lagi, sebab hal itu menimbulkan kesenangan tersendiri baginya.


Dan satu efek samping dari kesukaanya makan selama hamil, Delia sampai naik sepuluh kilogram dalam waktu lima bulan ini, membuat tubuhnya, dari atas hingga bawah bengkak semua seperti disengat tawon, tapi dia tak pernah mengkhawatirkan itu, yang terpenting baginya saat ini, bayi yang ada dalam kandungannya sehat semua.


Abian, selain menjadi adik teraniaya, sering dibully, tapi juga menjadi suami paling menderita, sebab keinginan sang istri.


"Kamu tuh pintar ngelabuhi aku ya Bi, beli ini itu, beli makanan ini itu, biar aku lupa sama permintaan aku."


Abian tertawa, dia masuk ke kamar dengan membawa segelas susu rasa strawbery pesanan sang istri. Setelah menutup pintu, Abian duduk disisi Delia.


"Kamu minta aku buat minum susu hamil bisa aku kabulkan, tapi tidak yang satu itu sayang, entah kenapa aku benar-benar nggak bisa."


"Aku ngambek, nggak mau minum susu." Delia melipat tangannya didada.


"Sayang loh kalau nggak diminum, mubazir. Mau dimintai pertanggungjawabannya diakhirat." Ancamnya.


"Ish nyebelin." Abian mendekatkan mulut cangkir pada bibir istrinya. "Nggak mau." Delia menggeleng cepat menolak susu untuk diminum "Kamu nggak sayang aku, sama anak kita, kamu harus janji dulu besok makan asinan lagi."


"Ya ampun sayang, kan aku udah turuti dua kali, masa makan asinan lagi, dan yang terakhir, aku muntah-muntah, pada seneng ya liat aku menderita."


Apa itu balasan buat aku karena dulu sudah bersikap menyebalkan buat Delia ya? Tanya Abian pada diri sendiri.


"Oke, besok aku makan asinan lagi." Akhirnya dia menyerah, sangat sakit telinganya jika harus mendengar sang istri mengatakan bahwa dia tidak sayang anak istri, apalagi ini anak yang paling dinanti-nanti.


"Hatur nuhun salaki kuring, anjeun salaki anu pangsaena sareng pengertian." (Terima kasih suamiku, kamu memang suami paling baik dan pengerjaan) Pujinya.


Lalu dia tersenyum, mengambil cangkir susu digenggaman suaminya.


"Kan, kamu mulai ngomongin aku lagi, ulang, aku harus translit ke neng gugel." Abian mengambil ponselnya yang berada diatas tempat tidur.


"Hahaha, teu tiasa, naon anu kuring nyarios oge. Moal sami sareng naon anu anjeun ketik." (Hahaha, mana bisa, apa yang aku ucapin juga nggak akan sama dengan yang kamu ketika). Delia tertawa sangat puas melihat wajah tampan kebingungan suaminya, Delia jadi gemas sendiri.


"Sayang aku bakal hukum kamu kalau terus tertawain aku." Ancamnya mendekatkan wajah sang istri.


"Hukum eneng abang kasep, eneng rela." Delia memajukan tangannya menghalau Abian yang ingin menempelkan tubuhnya. Abian jadi gemas melihat tubuh sang istri yang semakin subur, membuat mata wanita cantik itu semakin tak terlihat saat tertawa. Dia semakin tertantang untuk mengklitiki sang istri.


"Sayang, mereka ikut gerak, kamu mau lihat nggak?" Delia coba menghentikan aksi Abian, ternyata, selain mudah sekali dikerjai, Abian juga sangat mudah dibohongi. Iya, seorang pilot angkuh yang so profesional, galak, judes itu ternyata sangat sangat mudah dijinakkan.


"Mana sayang? Aku mau lihat," Abian menaikkan dress rumahan Delia untuk bisa melihat pergerakan sang bayi. Dia sangat serius menatap perut istrinya.


Kemudian perlahan Abian menundukkan kepalanya, menempelkan diperut Delia. Hal yang selalu ia lakukan setiap hari, sebelum ataupun sepulang dari bekerja.


"Sayang, dia nendang kepala aku." Abian berkata antusias, kemudian mendongak, melihat wajah sang istri, lalu kembali menempelkan kepalanya. "Apa, dede mau ayah jenguk? Ayah harus izin mama dulu sayang, mama sekarang galak, ayah sering dimarahi."


Delia tertawa mendengar ucapan absurt suaminya, "modus, itu ayah yang mau. Mama nggak pernah galak sayang, cuma kalau ayah nakal nggak mau disapi, harus dimarahi dulu."


Abian tergelak, mana bisa itu ia lakukan sekarang, sebab itulah peningkat semangatnya, penambah imun dikala akan berangkat bertugas. Dan malam itu akhirnya Delia memberikan hak suaminya, tak tega Abian yang terus mengadu kepada sang anak.


"Bi, besok jadwal checup lagi, kamu bisa nemenin nggak?" tanya Delia setelah pergulatan panas mereka.


"Pasti donk, mana mungkin ayah absen antar kalian checkup, aku minta jadwal pagi dan langsung pulang."


"Siap ibu negara."


*


*


*


Abian menepati janjinya untuk minta pada papanya agar jadwal terbangnya hanya tiga kali landing. Dan sesuai instruksi ibu negara dia langsung menuju rumah sakit. Abian melambaikan tangannya saat dari jauh telah melihat wajah Delia yang selalu ceria.


Tentu saja kehadirannya menjadi pusat perhatian para pengunjung yang lain, sosok tampan, tinggi, bersih, memakai seragam impian para laki-laki dan tentu idaman para wanita, berjalan tegap memakai kaca mata hitam, saat ia lewat sisa wangi parfumnya begitu nyaman menyapa indra penciuman, menenangkan, dan yang pasti pengen diajak kepelaminan, ucap para netizen, wkwkwk.


"Udah lama?" tanyanya sambil memberikan minuman isotonik pada Delia, melepaskan kaca mata yang melindungi matanya.


"Lima belas menit," jawab Delia mengangkat arloji dipergelangan tangannya


"Maaf ya, aku telat. Udah makan belum?"


Delia mengangguk "tapi nanti mau makan lagi, pengen makan gado-gado."


"Iya, makan apa yang mau kamu makan." Abian menarik kepala Delia untuk menyandar dibahunya, kemudian mengusap perut sang istri, menyapa anak-anak mereka. Kemudian ponsel Abian bergetar, panggilan dari papanya.


Abian meminta izin pada istrinya untuk menjauh, mengangkat panggilan papa. Sepeninggal Abian, wanita yang duduk disamping Delia bertanya.


"Suaminya pilot ya mba?" Delia menjawab dengan anggukan kecil seraya tersenyum ramah.


"Nggak takut mba punya suami pilot? Pilotkan suka jajan sama pramugari, apalagi penerbangan jauh, dan harus menginap berhari-hari."


"Saya mantan pramugari, tapi saya tidak pernah menemukan hal demikian. Dan saya percaya sama suami saya." Jawab Delia membungkam mulut wanita yang menemani kerabatnya untuk periksa itu.


Delia pikir dengan jawabannya ibu-ibu akan diam, namun semakin menjadi saat ada yang menimpali.


"Lagian mba nya cantik ini, mana mungkin suaminya mau selingkuh, mikir seribu kali Bu." Timpal wanita yang lain.


"Cantik itu relatif mba, nggak menjamin laki-laki akan setia, apalagi istrinya lagi hamil, pasti jarang dibelai. Tipe ibu-ibu, sen kiri belok kanan. " Ujar ibu yang pertama.


Delia tidak menanggapi, kepalanya mendadak seperti berputar, jarangnya dia berinteraksi dengan orang banyak selama hamil, kebisingan itu cukup mengganggunya, apalagi topik pembahasan itu adalah perkara rumah tangganya.


"Ibu ini ada masalah apa, kayaknya pengalaman pribadi ya Bu?"


"Bukan saya, tapi tetangga saya. Apalagi suami mbanya masih kelihatan muda dan ganteng, tapi mbanya seperti," dia menatap Delia "begini, jaga badan mba biar suami betah dan enak dipandang." Ujarnya lagi semakin mengada-ngada, dan itu berhasil memancing emosi Delia.


Namun belum sempat Delia membuka mulut, ucapan ibu yang lain sudah menyela "Iya, kadang lelakinya tidak mau, tapi dirayu-rayu terus, akhirnya tergoda juga, sama yang masih kencang dan rapet, trisno jalaran soko kulino, pilotkan jarang dirumah, lebih sering sama pramugari diluar."


"Mulut ibu-ibu ini pada sekolah nggak sih? Gila ya, kalian kesini udah pasti sama suami kalian kan? Bagaimana kalau hal ini terjadi sama suami kalian, selingkuh itu bukan perkara profesi, tapi lemahnya iman pasangan kita."


"Maaf mba, bukan memanasi, cuma mengingatkan, jangan lupa kalau rumput tetangga lebih hijau, dan bukan nggak mungkin, cuma peluangnya kecil buat tidak tergoda."


"Ada apa sayang."