Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Hidup yang Sempurna



Sehari semalam, pengantin baru itu tidak beranjak sama sekali dari tempat tidur mereka. Selain Delia yang masih merasakan perih disela pahanya, Abian juga terus bermanja, ingin diusap oleh istrinya.


Pukul sepuluh pagi, mereka baru turun dari tempat tidur, itupun karena Delia terus merasa lapar, setelah mandi yang lagi-lagi harus penuh drama, kini Abian menemani Delia yang sedang merapikan pakaian dilemari di walk in closed.


"Bi, siapa yang bersihin rumah ini?, belum pernah ditempati bukan?"


"Tukang cleaning servis online. Terus, mama yang siapin sprei dan yang lainnya, aku belum nemu orang buat bersih-bersih, semua nanti kamu yang nentuin. Mau pakai jasa Art atau tidak," jawab Abian yang berdiri dibelakang Delia sambil bersedekap, memperhatikan istrinya yang cekatan merapikan pakaian.


Delia terlihat semakin seksi dimatanya, pagi ini Delia hanya mengenakan kemeja putih over size, dan celana hot pants, dengan rambut yang digulung asal, memperlihatkan leher jenjangnya.


"Iya, kita pakai jasa cleaning servis online aja dulu, rumah ini pasti nggak terlalu kotor. Kalau cucian kita laundry aja, masak, sebisa aku sempetin masak setiap hari. Kalau aku nggak sempat kita bisa pesan online juga. Gimana?" tanyanya tanpa menoleh.


Bukanya menjawab, Abian malah memeluk Delia dari belakang, menempelkan bibirnya diceruk leher putih Delia.


"Atur saja sama kamu, kamu ratu dirumah ini, aku ikut saja." Tangan Abian yang tadi berada di perut Delia, kini masuk disela-sela kancing kemeja Delia.


"Bi, udah," Delia mengusap rambut suaminya lembut, "Kita belanja dulu yuk, kulkas kita sepi kayak kuburan. Nanti kalau aku udah mulai kerja, jadi tinggal masak buat bekal kita."


"Lagi yuk, sebentar aja, aku pengen lagi," Abian menggesekkan senjatanya di bokong Delia yang sudah kembali mengeras.


"Astaga Bi, kamu nggak ada puasnya ya?, dari kemaren sampai semalam loh."


Abian terkekeh "Kalau deketan sama kamu, dia pasti tegang sayang."


"Kalo gitu nggak usah dekat-dekat."


Abian mengeratkan pelukanya "Nggak mau, aku bisa mati kalau jauh dari kamu."


"Ihh gombal. Udah yuk belanja, aku pengen masakin buat kamu, lagian aku juga bosan sama makanan beli, mending masakan sendiri."


Abian melemas "Hmmm yaudah, aku pengen dimasakin ikan gurami goreng, pakai sambal kecap, tumis kangkung, bisa?"


"Bisa donk, yaudah aku ganti baju dulu."


"Hemm." Abian hanya bergumam.


"Bi, lepasin, aku mau ganti baju." Pukul Delia lengan suaminya. Abian terkekeh, dia rasanya enggan melepaskan Delia sama sekali, dia melepaskan Delia, tapi tetap tak keluar dari ruang ganti, dia masih belum puas melihat keindahan tubuh Delia yang selalu membuat candu untuknya.


* * *


Abian dan Delia kini sudah berada di supermarket. Abian mendorong trolley, mengikuti langkah Delia dibelakangnya. Delia banyak sekali memasukkan berbagai jenis sayuran, daging-dagingan, serta buah-buahan di keranjang belanjaanya, untuk stok mereka seminggu kedepan.


Abian merasakan hidupnya begitu sempurna, menemani istrinya berbelanja seperti ini sebenernya impianya dulu saat bersama Attaya, namun hal itu malah terwujud dengan Delia, wanita yang tak pernah ada dibenaknya sebelumnya. Pramugari tak profesional yang begitu tak ia suka.


"Eh, itu bukannya mantan pacar Attaya dulu 'kan?" ujar seorang wanita cantik pada temannya, yang berada tak jauh dari Delia dan Abian.


"Iya, Abian, pilot Airlanngga Airlines serta pemilik clothing line yang dulu sering Attaya promosikan."


"Attaya pasti sangat sedih, dulu dia menemani Abian dari nol untuk membangun clothing line miliknya, setelah sudah sukses, Attaya dikeluarkan dari sana secara tak hormat, diganti sama selegram ecek-ecek yang baru cari panggung. Sekarang dia enak-enakan sama istrinya, sedang Attaya menderita sendiri. Dia sama sekali tak ada menjenguk Attaya selama Attaya dipenjara."


"Kita ambil fotonya, nanti kita kasih tau Attaya, dan tunjukin video pramugari yang jadi selegram itu, kalau pilot itu sudah menikah."


"Benar, enak saja dia bahagia diatas penderitaan teman kita." Kedua wanita yang diperkirakan teman Attaya itu mengambil foto Delia dan Abian secara diam-diam.


Lalu keduanya berjalan kearah stan dimana Delia sedang memilih-milih kopi, mereka mengambil kesempatan saat Abian sedang menjauh dari Delia, sebab sedang menerima panggilan dari seseorang.


Kedua wanita itu menabrak Delia hingga Delia terjatuh.


Bruakkkk


"Aduhhh." Beberapa bungkus kopi yang berada dilakukan berjatuhan karena tarikan tangan Delia, dan tanpa Delia sadari tangannya tergores terkena tepi rak sedikit tajam.


Beberapa orang yang melihat jatuhnya Delia, berlari menghampiri, dan berniat membantu. Namun kedua wanita yang menabrak Delia lebih dulu membantu.


Dan Abian yang mengetahui istrinya jatuh, langsung mematikan panggilanya, menghampiri Delia.


"Delia, sayang kamu tidak apa-apa?" Abian segera merangkul pundak Delia yang sedikit kesusahan berdiri. Sedang kedua wanita tadi langsung pergi begitu saja meninggalkan Delia dan Abian.


Delia meringis, merasakan perih dibagian belakang tangannya. Dia membalikkan tangannya.


"Tangan aku Bi," melihat goresan tangannya yang lumayan panjang, Delia berkaca-kaca "Semoga lukanya tidak dalam ya, Bi?"


Abian berteriak pada karyawan supermarket, meminta obat p3k, lalu meniup luka pada tangan Delia "Nanti kita ke dokter ahli kulit, meminta obat supaya tidak meninggalkan bekas."


Seorang karyawan supermarket datang membawa kapas, alkohol, serta obat merah, memberikannya pada Abian⁸. "Terima kasih mba," ucap Abian.


Dia segera menuangkan alkohol pada kapas, lalu membersihkan luka ditangan Delia, Delia melipat bibir menahan perih.


"Kenapa bisa jatuh hemm?" tanya Abian terus memberikan obat merah diluka yang sudah ia bersihkan tadi.


"Tadi ditabrak orang dari belakang."


"Maaf tidak bisa menjaga kamu, harusnya aku tidak jauh-jauh dari kamu," ucapnya sedikit menyesal.


Setelah membayar belanjaanya, mereka langsung menuju rumah sakit, menemui dokter yang sudah Abian kenal untuk mengobati luka Delia, dan meminta obat, agar luka itu tidak meninggalkan bekas, supaya Delia masih bisa bekerja.


* * *


Daniel yang masih merasakan patah hati, mengurung dirinya dikamar, hal itu tentu menimbulkan rasa kecurigaan pada kedua orangtuanya, yang mereka tahu, Daniel sedang tidak dekat siapa-siapa.


"Daniel kenapa ya Pa?" tanya mama Daniel yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Biasalah Ma, anak muda."


"Nggak biasanya Daniel seperti ini, ini sudah dua hari dia tidak ke kantor, makanan yang mama siapkan nggak dimakan sama sekali."


"Nanti juga kalau dia lapar, pasti Daniel makan Ma, yang Papa dengar, Daniel kemarin-kemarin jatuh cinta sama pramugari di maskapai kita, tapi ternyata pramugari itu menikah denga Abian."


"Abian? anak Pak Philips Hamzah itu Pa?"


"Iya, sudah biarkanlah Ma, mungkin bukan jodoh Daniel. Papa sudah dengar kabar ini, tapi Papa tidak mau ikut campur, jangan sampai masalah anak, membuat hubungan Papa dan Philips Hamzah jadi tidak baik."


Daniel benar-benar terlihat kacau, ponselnya yang bergetar menandakan ada pesan masuk beberapa kali tak dihiraukanya, dia menjadi laki-laki paling bodoh saat ini, membayangkan Delia yang tidur bersama suaminya, hal itu justru membuat luka hatinya semakin menganga.


Ponsel Daniel terus saja bergetar, bukan dari kantor, tapi dari dua wanita yang mengkhawatirkan keadaannya. Daniel hanya mengintip beberapa panggilan tidak terjawab, dan beberapa pesan yang muncul di pop up layar ponselnya.


"Hai Kak Daniel. Apa kakak sudah makan? gimana keadaan kakak sekarang?"


"Kakak jangan memikirkan kak Delia terus ya?, kak Delia sudah bahagia. Kakak harus memikirkan diri kak Daniel sendiri." 🙂💪


Kedua pesan itu dari Denisa.


Kemudian pesan dari Cecilia.


"Hai Pak Daniel, kok pak Daniel belum masuk-masuk kerja, apa pak Daniel lagi sakit? kalau pak Daniel masuk, saya mau traktir pak Daniel kopi." Bunyi pesan yang belum lama terkirim itu.


"Hai, Pak Daniel lagi dimana?"


"Pak Daniel apa kabar?"


"Pak Daniel, nanti bisa ketemuan?, besok saya ada jadwal keluar kota lama, apa pak Daniel ada waktu pagi ini untuk ngopi?"


Ketiga pesan itu nampaknya sudah terkirim lama, namun Daniel tidak pernah membukanya. Daniel melempar lagi ponselnya asal, pesan dari dua wanita itu tak memberi semangat untuknya sama sekali.