Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Cinta Lokasi



"Duhhh, kok Delia nggak ada kabar ya?, aku jadi khawatir sama keadaannya?" Voni berjalan mondar-mandir sambil terus memegang hapenya menghubungi nomor Delia.


Sebenarnya ini masih terhitung sangat pagi, tapi Rendy sudah datang ke apartemenya, dengan pakaian seragam pilot lengkap.


"Delia aman, dia udah sama Captain Abian."


"Bener Capt?"


"Captain Abian tuh kalau udah suka sama cewek, dia pasti bucin, yang nangkep pelakunya juga dia, jadi kamu nggak perlu khawatirin Delia. Kamu tuh cukup khawatir sama aku. Aku udah dari tadi loh disini, apartemen kamu kering banget apa?, tiap aku kesini nggak disuguhi air sama sekali. Tenggorokan aku kering Von," Rendy mengelus tenggorokanya, "kalau aku mati karena kekeringan, kamu siap-siap menjomblo seumur hidup, karena jodoh kamu cuma aku."


"Dih pede. Ini ceritanya Captain mau minum?, kenapa nggak beli di mini market aja, disini nggak sedia air buat tamu. Soalnya saya nggak terima tamu."


"Nggak terima tamu tapi kamu bukain pintu apartemen buat aku, itu namanya kamu juga bukain hati buat aku." ucap Rendy, dia sudah bertekad tak akan lama-lama memulai pendekatan, tak ingin tersalip pada laki-laki yang lebih good rekening ataupun good looking lagi.


Rendy berjalan menuju kulkas, dibukanya kulkas itu, Rendy melihat ada kotak susu cair berukuran sedang berwarna merah muda, diambilnya satu kotak susu cair, lalu mencobloskan dengan pipet yang menempel di belakang kotak susu itu.


"Jadi calon istri aku nggak boleh pelit, jangan pelit-pelit little poni, nanti kuburan kamu sempit," ujarnya setelah menyeruput isi susu cair tersebut.


"Cihhh calon istri, sejak kapan aku jadi calon istri Captain?"


"Sejak kemaren, sekarang dan seterusnya. Eh nggak, bukan seterusnya, karena setelahnya kamu jadi nenek dari cucu-cucu kita."


Mendengar sedikit gombalan receh dari Rendy yang sedikit aneh, wajah Voni bersemu merah, dia sampai mengulum senyum "Yang ada jadi ibu dulu, baru jadi nenek. Baru nih ada ungkapan kayak gini," ralat Voni.


"Itukan otomatis little Voni, kalau sudah jadi nenek, berarti kamu udah ada anak. Eh betewe kamu mau jadi ibu dulu, apa jadi istri dulu?, aku nggak masalah kalau kamu mau aku depe dulu. Pulang dari landing nanti aku kesini."


Voni mencubit lengan Rendy "Ngapain kesini, kita nggak ada hubungan apa-apa, jadi Captain Rendy nggak usah sering-sering kesini lagi."


"Siapa bilang kita nggak ada hubungan apa-apa, aku sudah katakan tadi, mulai kemaren, hari ini, kamu calon istri aku."


"Mana ada maksa gitu?, nggak romantis," cebik Voni, tapi tak ayal wajahnya memanas karena ucapan Rendy.


"Nih Captain Rendy nembak aku, apa gimana sih?, duh jadi mikir sendiri kan?" gumam Voni dalam hati, dia takut dia sudah berbunga-bunga, tapi Rendy malah membercandainya.


Voni yang sudah rapi, mulai menggeret kopernya untuk keluar. Tapi kopernya ditahan oleh Rendy.


"Ada apa?" tanya Voni mengerutkan keningnya.


"Aku serius Von, jadi pacar aku ya?, eh nggak, jadi calon istri aku, yang siap jadi nenek-nenek menemani hari tua ku menjadi kakek-kakek."


Voni terdiam diambang pintu, dia terkejut, berharap tak salah dengar dengan apa yang dikatakan Rendy.


"Kamu nggak mau Von?" Bahu Rendy melemas, takut sekali Voni menolaknya, jika Voni menolaknya juga, Rendy sudah membuat jadwal ke gunung kawi, konon katanya disana bisa menyembuhkan rasa sakit hati seseorang.


"Maaf Capt, aku nggak bisa," jawab Voni akhirnya.


"Alasan kamu apa Von?, aku kurang tampan dari Captain Abian?, rekening ku kurang good?, atau apa?"


"Aku nggak bisa kalau Captain Rendy hanya main-main, soalnya hati Voni bukan cadangan atau untuk main-main."


Sudut bibir Rendy sontak mengembang "Aku serius little pony, aku serius, kamu bukan cadangan, kamu pemain inti dihati aku, sudah tak ada Delia, kamu satu-satunya." Rendy melepaskan kopernya, dia maju memeluk Voni.


"Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu Von, aku akan lebih romantis dari Captain Abian."


Voni melepaskan pelukan mereka "Captain cukup jadi Captain Rendy apa adanya, nggak perlu jadi orang lain, yang penting Captain nggak mudah singgah dari hati ke hati, cukup pekerjaan Captain aja, yang pindah dari kota ke kota lain."


"Kamu pinter gombal juga ya ternyata," Rendy mencubit hidung Voni "Tapi aku nggak mau jadi laki-laki apa adanya, aku harus jadi laki-laki yang ada apanya, yang bisa kamu banggakan pada wanita lain."


* * *


Delia menggeliat, menutup mulutnya menguap, lalu mengucek mata. Delia kembali menghela nafas saat mengingat dirinya yang mendapat pelecehan.


"Udah bangun?" ujar suara yang sangat dikenalnya.


Delia bangun, dilihatnya Abian yang sudah rapih dengan seragamnya, menghampirinya dengan membawa nampan berisi sarapan.


"Sarapan dulu yuk, sebelum aku berangkat aku harus pastiin perut kamu udah keisi dulu."


"Kita check out jam berapa?" tanyanya, mengingat Abian yang sering mengajaknya menginap di hotel.


Abian tersenyum, dia duduk ditepi ranjang disamping Delia yang menyandar di headboard tempat tidur. "Ini diapartemen kamu, sayang." Abian mengacak rambut Delia gemas.


"Apartemen aku?"


"Aku suka pecel lelenya, nanti siang beliin lagi ya?" pinta Delia enteng.


"Iya, nanti aku pesankan lagi. Makan yang banyak." Abian terkekeh "Gimana?, kamu suka nggak sama apartemennya?" tanyanya ulang, merasa Delia malah mengalihkan pada yang lain.


"Iya suka."


"Bener?"


"Hmmm"


"Del, dari kejadian ini, apa kamu trauma menjadi pramugari?" tanya Abian disela dia menyuapi Delia, Delia menggeleng. "Anggap ini pengalaman berharga, bukan berarti aku membenarkan hal seperti ini, apalagi kamu korbannya. Sebenarnya hal ini bukan pertama kali terjadi. Bukan hanya di maskapai kita saja, tapi juga di maskapai lain. Kamu biasa menghadapi ribuan orang, sudah pasti menemukan berbagai macam sifat dan karakter. Untuk kedepanya, kamu harus lebih bisa menjaga diri dan berhati-hati lagi ya, karena aku nggak bisa selamanya bisa jaga kamu, kecuali_ kamu berhenti kerja."


Abian sengaja memancing reaksi Delia saat dia meminta ini. Ingin tahu jawaban Delia.


"Iya Captain Abian, aku akan jaga diri, dan akan lebih berhati-hati lagi. Aku nggak trauma, aku masih mau terbang lagi."


Abian tersenyum tipis mendengar jawaban Delia, dia harus sedikit bersabar lagi, Delia memang harus memiliki jam terbang lebih banyak lagi untuk menambah pengalamannya. Dan Delia juga belum menyadari ada cincin yang melingkar dijari manisnya.


"Kamu libur beberapa hari, jangan kemana-mana. Nanti aku akan minta Cecilia buat temenin kamu biar nggak bosan, soalnya Voni hari ini ada jadwal."


"Cecilia?, kesini?"


Abian mengangguk "Iya, kamu nggak papa kan? Aku nggak mau kamu sendiri."


"Iya, makasih ya, Bi."


Abian kini bersiap untuk pergi bekerja, dia sudah rapi dengan seragam lengkapnya.


"Del, kamu nggak mau bawain aku bekal dulu?"


"Bekal apa?, apa disini sudah ada bahan makanannya?"


Abian tersenyum penuh arti, lalu menghampiri Delia yang sedang merapikan tempat tidur, Delia yang sedang membungkuk seketika menegakkan badanya saat Abian memeluknya dari belakang, lalu mengecupi lehernya.


"Kita seperti suami istri sungguhan, kalau kita suami istri sungguhan, enak ya Del?" bisik Abian. Lalu dia membalik tubuh Delia untuk menghadapnya.


Delia membalas tatapan mata Abian "Tunggu sebentar ya Bi," pinta Delia, entah menunggu apa, diapun tak tahu.


"Lama juga aku tunggu, tapi kalau aku sudah nggak kuat, kamu harus kasih jatah aku," ucap Abian didepan hidung Delia, kemudian dia menamgkup wajah Delia, mencium ujung hidung bangir itu, Abian me ***** bibir Delia yang terasa manis untuknya.


Masih terasa sisa-sisa sambal pecel lele dibibir Delia, saat Abian mennsesap bibir Delia, namun Abian tetap menikmati itu, perlahan satu tanganya turun untuk merengkuh pinggang Delia agar tubuh mereka saling menempel tanpa jarak. Delia sedikit terkejut karena merasakan sesuatu yang keras dibalik celana Abian.


"Kamu merasakanya Delia?" tanya Abian saat dia telah melepaskan ciumanya, dengan kening yang masih menyatu, Abian mengusap bibir Delia yang basah karena ulahnya.


"A-apa?, a-aku nggak ngerasain apa-apa?" Delia gugup, dia jadi salah tingkah sendiri.


Abian tertawa melihat wajah Delia yang bersemu merah, dicubitnya pipi Delia "Jika mau lihat, cepat jadi istri aku, aku yakin kamu penasaran seperti apa bentuk pesawat tempur milikku, dia perkasa Del, dia akan menjadi milik mu."


"Abian ihh, pagi-pagi omongannya," Delia mencubit pinggang Abian, membuat Abian meringis sakit. "Udah berangkat sana, nanti telat."


"Iya istri ku, peyuk yagi," Abian berucap manja dibuat-buat seperti bayi, dia merentangkan tangannya.


Delia memeluk sekilas Abian "Udah nanti seragam kamu kusut," Delia secara spontan merapikan dasi Abian.


"Makaih ya," Abian kembali mengecup bibir Delia "Aku malas berangkat jadinya, maunya berduaan aja sama kamu."


"Udah ahh, dari tadi ngomong terus, nggak berangkat-berangkat, nanti telat." Delia mendorong Abian untuk keluar, dia membantu menarik koper milik laki-laki yang selalu ada disampingnya saat ini.


* * *


Delia tersenyum saat Abian telah pergi, tak disangkanya dia akan sedekat ini pada Abian, padahal dulu Abian sangat membencinya.


"Aku cinlok sama pilot aku sendiri," gumam Delia.


Dia berkeliling apartemenya, apartemen yang dipilih Abian cukup mewah, walau memiliki satu kamar, tapi ukurannya cukup luas. Hal pertama yang dilihat Delia isi lemari kamarnya, dia penasaran, Abian seperti sudah menyiapkan pakaiannya lengkap dilemari. Benar dugaan Delia, Abian sudah menyiapkan pakaiannya dan pakaian Abian dilemari itu walau tidak banyak, ada seragam cadangan milik mereka juga.


Sedang asik-asik melihat isi apartemenya, terdengar bel berbunyi, Delia segera membuka pintu, karena dia tak ingin Cecilia lama menunggu.


"Hai Delia," Cecilia langsung memeluk Delia rindu. Namun yang membuat Delia terkejut, ternyata Cecilia tidak datang sendiri.