
Ini untuk pertama kalinya Abian ikut meeting bersama papanya, banyak sekali yang harus ia pelajari. Abian cukup deg-degan dan grogi. Apalagi miss Marsha yang akan menanam modal itu dikenal begitu teliti.
"Kamu nggak usah tegang gitu, tetap Papa yang akan menjadi direktur utama dan menjabat CEO untuk sementara waktu sebelum kamu pensiun dari pilot, kamu cukup menyimak apa yang diinginkan miss Marsha, dia pengusaha muda, kamu harus banyak belajar dari cara berbisnisnya, Papa sudah membaca singkat profilnya, jika dilihat usianya memang sama dengan Delia, tapi dia lebih mengutamakan karier." Ucap Papa terkekeh melihat wajah tegang anaknya, mereka sudah berada diruang rapat bersama para jajaran petinggi lainnya, menunggu kedatangan miss Marsha.
Abian mengangguk paham, "Papa nyindir lagi nih ceritanya?Abian kesanya maksa banget Delia berhenti kerja."
"Bukan seperti itu, kamu sensitif sekali. Maksud Papa, kamu lihat cara miss Marsha menjalankan bisnis keluarganya, kalau dilihat dari usianya dia memang masih sangat muda, dan selama ini banyak orang yang meragukan dia termasuk papanya sendiri, tapi sepertinya dia sedang membuktikan pada papanya jika dia mampu menjalankan bisnis keluarganya tanpa memandang jender dan usia, kamu lihat nanti, kamu pasti terkagum-kagum sama dia." Papa menepuk kecil bahu Abian.
Tak lama pintu ruang rapat terbuka, muncul seorang wanita cantik berusia dua puluh tiga tahun, benar kata papanya, jika miss Marsha itu masih muda, Abian pikir dia merupakan wanita berusia diatas kepala empat.
Marsha berjalan memasuki ruang rapat dengan wajah angkuh dan percaya diri menuju tempat duduknya yang telah disediakan, bersama seorang laki-laki tampan dibelakangnya.
Semua orang yang berada diruangan otomatis berdiri saat menyambut kedatangan Marsha, tak terkecuali Abian dan papanya, dan Marsha hanya membalas sambutan dengan senyum singkat dan tipisnya.
"Kita mulai sekarang, saya tidak suka mengulur waktu," ujar Marsha to the point dan mendudukkan bokongnya dikuasai yang sudah dibukakan oleh sekretaris, membuat Abian menilai jika wanita ini begitu sombong.
Sekretaris papa Abian bernama Damar berdiri, membuka rapat, memberikan presentasi perusahaan didepan miss Marsha, banyak sekali yang Marsha pertanyakan, membuat papa sedikit ketar-ketir.
"Airlanngga Airlines, berdiri sejak dua puluh tahun lalu, baru mendapat penghargaan sebagai maskapai terbaik karena belum ada insiden kecelakaan, penghargaan itu satu tahun yang lalu didapat?" tanyanya, dan Damar mengangguk "dan crew cabin terbaik didapat sembilan bulan yang lalu?" tanyanya lagi tentang pencapaian prestasi Airlanngga Airlines yang dijelaskan Damar, dan kembali membuat Damar dan yang lain secara otomatis mengangguk menjawab pertanyaan miss Marsha.
"Menjalin kerja sama dengan tiga layanan penyedia aplikasi online?" dia kembali memastikan, dan Damar menjawab iya,
"Sebenarnya cukup lambat pertumbuhannya, dan jika dilihat dari statistik keuntungan juga dibawah lima puluh persen," Marsha berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari i-mac yang dipegangnya, "no problem, tapi saya suka karena kalian selalu mengutamakan kualitas pelayanan dan kualitas maskapai itu sendiri, perawatan pesawat memang tidak murah, saya tahu itu." Ucapnya,dia baru mengangkat pandanganya dan memberikan imac miliknya pada sekretarisnya. Dan secara cekatan sekretaris laki-laki itu menerimanya.
"Saya juga tidak ingin jika sparepart yang digunakan merupakan parepart sampah," Marsha menekankan kata sampah pada sparepart bekas yang dia maksud. "Ingat, semua yang digunakan harus serba baru, kalian juga harus selalu menyediakan semua peralatan yang baru, jadi jika ada kerusakan tidak menggunakan sparepart yang ada pada awak lain, seperti yang terjadi dari maskapai yang sering saya dengar, mereka menukar sparepart pada pesawat yang sedang tidak, itu bisa menyebabkan kerusakan pesawat secara berulang, dan bisa menyebabkan kecelakaan, dan hilangnya ratusan nyawa penumpang. Itu lucu bukan? Nyawa orang seperti bahan percobaan." Marsha tersenyum miring.
"Saya menggelontorkan uang saya tidak sedikit disini, jadi saya ingin tunjukkan kemajuan maskapai ini dalam enam bulan kedepan, dan jika bisa, tingkatkan lagi keuntungannya, emm" Marsha nampak berpikir, "dan lagi, jika terjadi hal-hal negatif atau berita yang tak sedap tentang maskapai ini, terutama jika ada skandal antara crew cabin, saya tidak segan-segan menarik kembali uang saya," tegasnya, Marsha melirik sekretarisnya yang duduk disebelahnya, membuat sang sekretaris mengangkat alisnya tak paham apa maksud lirikanya, membuat Marsha berdecak sebal dan memutar bola matanya.
"Saya ingin mengubah peraturan disini, bisa?" tanyanya mengulum bibir, seketika raut angkuhnya berubah menjadi menggemaskan
"Silahkan." papa mempersilahkan sambil terkekeh kecil, penasaran apa yang diminta gadis hebat ini.
Sedang Abian hanya menyimak, dan menunggu apa permintaan dari miss Marsha, dalam hati dia cukup memuji cara berpikir Marsha yang cukup jeli dan cepat dalam berpikir.
"Saya ingin kalian menggunakan catering ayah saya untuk makan siang karyawan disini." Jawabnya cepat diikuti wajah puppy eyesnya.
Suasana yang tadinya tegang kini sedikit mencair sebab permintaan miss Marsha.
"Baik, baik miss, itu bukan permintaan yang buruk," jawab papa tertawa kecil.
"Great, saya senang pak Philips Hamzah jika kerja sama kita tidak alot begini, untuk meningkatkan pemasaran maskapai kita, saya akan gencar membuat iklan distasiun televisi saya, tenang, untuk promo, saya akan menggratiskan iklan selama seminggu," ujarnya percaya diri "semua usul saya bisa saling menguntungkan untuk kita bukan?" ucapnya "Ahhh satu lagi, saya mau bagi-bagi tester parfum milik Amam saya, tapi ini hanya dikhususkan untuk para istri bapak-bapak dirumah, ingat ya Pak, ini sekedar oleh-oleh buat istri dirumah, jangan yang diluar rumah." Marsha tertawa seraya menutup mulut, tawa yang begitu cantik.
Marsha mengangkat paper bag hitam berlogo parfum itu dari bawah meja, dan mengeluarkan satu persatu botol parfum berukuran tiga puluh mili keatas meja, "jika bapak-bapak berminat, ada parfum khusus pria, tapi beli sendiri ya distore milik amam saya," sambungnya lagi dan tertawa kecil, "Zidan, bagikan pada mereka." Perintah Marsha pada sekretarisnya bernama Zidan itu.
"Baik miss," jawab Zidan patuh, kemudian membagikan satu persatu parfum itu pada peserta rapat yang hadir.
Semuanya saling pandang, dan kemudian menggeleng.
"Baik kalau tidak ada, saya rasa pertemuan kita cukup sampai disini, jika biasanya saya akan mengajak makan bersama setelah kerja sama kita Pak, tapi maaf sekali, jadwal saya cukup padat hari ini, jadi saya bawakan makanan untuk kalian dari restoran ayah saya, nanti akan dibagikan oleh sekretaris saya," Marsha kembali melirik sekretarisnya.
"Terima kasih miss, tidak apa, ini sebuah kehormatan sekali miss Marsha sudah berbaik hati meluangkan waktunya kesini, lain waktu saya yang akan mentraktir miss Marsha, dan akan mengajak serta anak dan menantu saya," Papa dan Abian berdiri berjabat tangan dengan Marsha, "Kenalkan, ini anak bungsu saya miss, namanya Abian Philips Hamzah, dia merupakan salah satu pilot di maskapai kita,"
"Oh ya! Keren, sudah menikah?" tanya Marsha spontan lalu melirik Zidan, membuat Zidan yang sedang membagikan parfum itu menghentikan kegiatannya sejenak. "Saya suka laki-laki berprofesi pilot, mereka selalu terlihat gagah dan keren."
Hahaha papa tertawa, "sayang sekali ya miss, anak saya ini sudah menemukan jodohnya."
Marsha memajukan bibirnya kecewa "Kalau begitu pak Philips harus melahirkan anak laki-laki pilot satu lagi untuk saya."
"Saya tidak yakin anda masih secantik ini miss." Abian menimpali ucapan Marsha, membuat Marsha mendengus tak suka.
"Lima puluh tahun kedepan juga saya masih tetap seperti ini, pak Abian, dan anda mungkin sudah dimakan cacing, saya ini sejenis vampire yang hidup dan berdampingan dengan manusia, bukan begitu Zidan?" Ia menarik kepalanya kekiri, untuk melihat Zidan, dan kembali meminta pendapat dari sekretarisnya, sepertinya apa yang dia lakukan dan ucapkan selalu minta pendapat dari sekretarisnya.
Zidan tampak menarik nafas dalam, tersenyum manis, lalu mengganggukan kepala. "Sepertinya kita harus pergi sekarang miss, kita sudah terlambat sepuluh detik."
Zidan merapikan dokumen milik Marsha diatas meja. "Kamu terlalu serius dan bawel Zidan," gerutu Marsha tapi menurut apa yang diucapkan sekretarisnya.
Semua peserta rapat ingin menjabat tangan Marsha, pesona gadis cantik angkuh nan pintar itu mampu memikat hati siapa saja yang melihatnya, terlebih lagi tampilanya yang cukup seksi dan wangi, para laki-laki tua itu ingin merasai lembut telapak tangan Marsha, tapi tidak dengan papa dan Abian. Namun Marsha selalu menolak jika rekan bisnisnya ingin berjabat tangan dengannya, diwakilkan oleh sang sekretaris, menurutnya kerja sama mereka cukup ditanda tangani diatas kertas.
Marsha mengenakan kaca mata hitamnya sebelum pergi, dan kembali memasang wajah angkuh, kemudian meninggalkan ruang rapat, namun langkahnya terhenti ketika Danuarta ingin menerobos masuk ruang rapat, untung didepan sudah ada dua orang bodyguardnya dan penjaga dari Papa Abian.
Marsha mengendikkan bahu ketika melihat Danuarta yang berteriak membuat keributan. Dia tak terganggu oleh perilaku Danuarta. "Bereskan masalah kalian sebelum saya menandatangani surat perjanjian kita," ucap Marsha, kemudian dia melenggang pergi diikuti Zidan dan dua bodyguard dibelakangnya.
"Kamu mengeluarkan ku sebagai pemegang saham secara sepihak Hamzah, aku tidak terima, kamu harus mengganti denda keputusan secara sepihak ini. Kontrak kita masih tersisa satu tahun lagi" Teriak Danuarta.
.
.
.
.
Maaf Marsha ini cuma numpang lewat ya, hihihi.
Yang sudah baca Mawar tak Berduri dan Takdir cinta Indah pasti tau siapa Marsha dan Zidan, dia akan ada ceritanya, harusnya awal juni kemarin, karena cerita ini belum selesai, jadi aku ngiklan sedikit, hehehe.
Maaf kemarin nggak up, jadwal sedikit padat, hehehe sok sibuk banget ya, padahal cuma alesan ðŸ¤ðŸ¤