Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Beda Kapal, Beda Badai Yang Menerjang



Delia terbangun saat merasakan hembusan hangat nafas menerpa belakang lehernya, Delia membalikkan badan, ada Abian yang sudah terpejam dengan wajah lelahnya. Delia kembali menitikkan air mata saat perasaan bersalah menggerogoti hatinya.


"Maafin aku Bi, maaf selalu merepotkan mu, maaf," bibir Delia bergetar, "aku tahu ini hukuman untuk seorang istri yang nggak nurut Bi." Delia berucap lirih takut mengusik tidur Abian. Namun Abian mendengar itu, ia membuka matanya.


"Hei, Delia. Kenapa nangis?" Abian perlahan mengumpulkan nyawanya.


"Bi," Delia langsung menenggelamkan wajahnya didada Abian saat Abian terbangun, "maaf Bi, maafin aku," Delia terguguh, "aku siap menerima hukuman dari kamu Bi, aku salah, ini teguran untuk aku karena nggak nurut sama kamu." Abian mengusap lembut rambut Delia.


"Aku juga minta maaf. Sebagai suami aku terlalu egois, aku selalu mementingkan perasaanku, tanpa memikirkan perasaan kamu Delia, maaf," Abian mengecup rambut Delia.


"Kenapa semua terjadi sama aku Bi, kenapa? Apa salah aku? Apa dosa aku selama ini sampai ini terjadi berulang kali? Ini tuh nggak adil buat aku Bi." Delia jadi playing victim terhadap dirinya sendiri.


Abian memejam, dia sempat mendiami istrinya, tanpa memikirkan dampak psikologis istrinya sendiri.


"Astaga, pantas saja banyak wanita korban pelecehan yang tidak speak up, karena selain merasa malu dan akan dikucilkan, mereka juga disalahkan," gumam Abian.


Tanpa terasa Abian ikut menitikkan airmata, jika dia sebagai orang terdekat hanya bisa menyalahkan dan menghakimi tanpa membantu, harus pada siapa Delia mengadu? Apa pada foto ayahnya lagi? Untuk apa dia menikahi Delia jika tidak bisa membuat Delia merasa terlindungi?


"Kamu nggak salah Delia, semua yang terjadi memang sudah takdirnya, jika ini terjadi pada wanita lain mungkin mereka tidak sekuat kamu. Aku kagum kamu masih kuat berdiri dan tegar hingga saat ini sayang," Abian mengecupi rambut istrinya "lupakan yang terjadi, maaf karena aku sudah membuat kamu menangis karena sikapku. Maaf aku sudah menghakimi kamu sayang."


"Apa aku ini wanita murahan Bi? Kamu nggak malu punya istri murahan seperti aku?" Delia semakin terisak merasa dirinya rendah.


"Tidak Delia, tidak. Mereka saja yang pikirannya kotor, kurang iman, hidupnya tidak bahagia, makanya mereka melakukan itu, mencari pelampiasan diluar. " Delia mempererat pelukanya dipunggung Abian, semakin merasa bersalah.


"Maaf karena aku tidak bisa menjaga diri Bi, maaf," rasanya bibir Delia ingin mengucapkan seribu kata maaf jika bisa menghapus kesalahannya, apa ada kata-kata lain yang bisa ia ucapkan? Entahlah, hanya kata maaf yang bisa Delia ucapkan.


"Sssstttt, Delia sudah, jangan menyalahkan diri kamu lagi, sayang, sudah jangan dipikirkan." Abian mengusap-usap punggung istrinya. "Aku tahu ini nggak mudah buat kamu, dan kamu juga tidak ingin ini terjadi, aku juga Delia, aku sangat takut jika ini terjadi, menangislah, menangislah sayang, aku ada disini untukmu." Lirih Abian.


"Andai aku ini akan terjadi, aku pasti akan tinggal dirumah Bi."


"Iya, sudah, jangan disesali, kita tidak akan pernah tahu satu detik kedepannya Delia, tak pernah ada yang tahu jalan hidup kita seperti apa?" Abian terus mencoba membuat Delia tenang.


Setelah Delia mulai tenang, Abian melepaskan pelukanya, dia bangun, menyenderkan badanya di kepala ranjang, mengambil figura yang ia temukan tadi, "aku ingin kamu jelasin siapa dia Delia? Aku cemburu kamu sampai membawanya tidur."


Delia mengernyit, ikut bangun, ia memanjangkan lehernya, ingin tahu siapa yang dimaksud suaminya? Abian memberikan figura itu pada Delia, Delia tersenyum "ayah."


"Dia begitu berarti buat kamu Delia?" Delia hanya terdiam, "aku ngerti sayang, orang yang begitu berarti tak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata atau ucapan apapun, aku hanya ingin belajar padanya, bagaimana dia bisa menjadi sosok yang begitu berarti untuk putri kecilnya."


Delia hanya melihat wajah orang yang selalu ada dihatinya, lalu membolak-balikkan bingkai foto berukuran 6x8inch itu.


"Apa ya? Aku nggak tau Bi, yang aku tahu, ayah selalu semangat kerja tanpa kenal waktu, demi bisa nabung biar anak-anaknya bisa sekolah tinggi, antar jemput sekolah aku, Denisa, dan Dania tiap hari, kasih uang jajan nggak telat, dengerin cerita anak-anaknya walau kadang cerita kita nggak jelas, nanyain cita-cita kita tiap hari, terus ayah tuh seneng banget ngumpulin brosur sekolah yang kita cita-citain, sebulan sekali bawa aku sama adik-adik aku ke pasar malam, jajan yang kita mau kalau ayah abis jual batu bata."


"Ayah sederhana ya," ucap Abian "sayang aku tidak kenal ayah, maaf Delia, maaf atas peristiwa yang dulu."


"Itu sudah berlalu, ayah juga sudah tenang."


"Mulai saat ini, apapun yang kamu rasakan, kasih tau aku, ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan, aku siap jadi pendengarnya, aku mungkin tidak bisa mengganti sosok ayah Delia, tapi beri aku kesempatan untuk menjadi orang pertama yang kamu butuhkan," Abian membelai lembut pipi istrinya. Tatapan Abian beralih pada bibir istrinya, namun tiba-tiba suara ponsel abian mengagetkan keduanya.


"Mama," ujar Abian memberi tahu Delia. Abian menerima telepon dari mamanya, tak lama Abian telah mengakhiri panggilan itu.


"Kata mama, kak Arumi sudah lahiran, anaknya cewek lagi, dan mama bilang, Denisa sudah masuk rumah sakit mau melahirkan juga, mama kamu mau telepon tapi tidak bisa. Mama sudah kasih tau kalau kamu lagi di Tokyo."


Denisa? Lahiran? Kenapa diwaktu yang bersamaan?


"Kita pulang Bi?" Abian mengangguk, "aku ...."


Abian mengerti kegelisahan Delia "Besok kita pulang, aku ikut penerbangan kamu, tidak ada yang tahu apa yang terjadi sama kamu, aku sudah menanganinya, ingatkan? Papa selalu menutup kejadian ini jika menyangkut crew maskapainya, tapi Delia, Daniel harus tetap menjalani hukum yang berlaku."


Lagi? Abian yang menutupi aibnya.


Delia mengangguk, "aku juga akan meminta Denisa mengembalikan semua uang yang sudah diberikan Daniel, apa itu salah Bi?"


Abian menggeleng "Delia," panggil Abian.


"Hemm," Delia memandang Abian yang menunduk memandangnya, tatapan mereka bertemu.


"Sebelum pulang, boleh juga dicoba disini," Abian mengarahkan pandangannya pada kasur.


Delia terkekeh, sangat paham apa yang Abian ucapkan "Kamu udah sembuh Bi?"


"Tap, empphhh."


Bibir Delia langsung dibungkam oleh Abian, suaminya itu mencumbu penuh cinta, Delia ikut menggerakkan bibirnya mengikuti pergerakan bibir Abian, ikut larut dalam permainan sang suami, tangan mereka bergerak saling membuka kain pembungkus keduanya, ciuman itu terhenti sejenak, lalu mereka lanjutkan kembali, tubuh keduanya saling mendekap tanpa penghalang apapun.


Tangan nakal Abian bergerilia mencari titik-titik sensitif sang istri, melakukan pemanasan sebelum istrinya itu siap untuk dimasuki, kali ini Abian tak memikirkan lagi apakah benih kecambanya itu bisa langsung tumbuh atau tidak? Yang dia pikirkan saat ini hanyalah agar hubungan keduanya semakin membaik, dan berharap semua masalah bisa mereka hadapi sama-sama, bergantikan cerita penuh bahagia, menyambut hari esok dengan pribadi lebih baik lagi.


Dan terutama Delia, dia bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya, tanpa membuat istrinya depresi.


* * *


"Bi, bisa nggak sih kamu tuh nggak usah dengerin kata orang?" Ujar Delia kesal, sebab setiap hari pembahasan mereka hanya seputar Abian yang memintanya berhenti bekerja, sudah satu tahun mereka menikah namun belum juga diberi keturunan.


"Justru itu aku nggak bisa menghindarinya, keperkasaanku sebagai laki-laki selalu dipertanyakan." Balas Abian tak kalah kesal.


"Kita hidup sebagai makhluk sosial Bi, itu memang sulit dihindari, maka telan saja omongan orang-orang, keluarkan, jadikan kentut."


Abian menggeleng tak percaya, bisa-bisanya Delia sebagai wanita menjawab sesantai itu. "Sepertinya dihubungan kita cuma aku yang menginginkan anak, tapi kamu tidak, percuma jika aku berjuang sendiri."


Padahal baru saja Abian berharap hubungan mereka membaik, dan tak mempermasalahkan Delia yang masih bekerja, tapi mereka malah kembali bertengkar.


"Bi, Abian, bangun Bi, kita sudah mau kebandara. Pesawat satu jam lagi akan terbang, aku harus bersiap-siap." Delia mengguncang lembut lengan Abian.


Abian tersentak, membuka matanya, dia tidak bertengkar lagi dengan Delia? Astaga, ternyata dia hanya mimpi, niat hati memejamkan mata sejenak menunggu Delia mandi, malah membuatnya bermimpi yang aneh.


"Delia, kita tidak bertengkar lagi kan? Yasudah, kalau begitu aku mandi dulu, tungguin aku ya Del, jangan tinggalin aku kebandara." Tetap sisi manjanya muncul. Membuat Delia mengernyit heran.


"Kamu kenapa sih Bi?" Delia menggelengkan kepala.


* * *


Setelah mereka terbang hampir delapan jam dari Tokyo ke Jakarta, mereka semua mengucap syukur atas keselamatan perjalanan mereka. Abian disini tetap berperan sebagai penumpang, sedang Delia tetap bertugas sebagai pramugari menyelesaikan tugas akhirnya, sebelum Delia mengajukan surat resignnya, tentu semua atas keputusan Delia sendiri, dan itu membuat Abian senang.


Tapi permasalahan mereka belum selesai sampai disini, Abian tidak bisa langsung pulang karena dia harus segera menemui Daniel yang kini justru dilarikan kerumah sakit ketergantungan obat, Abian tak tahu permasalahannya, kenapa sampai Daniel kini malah dirujuk kesana? Disana sudah ada papanya yang menunggu.


"Kamu istirahat ya sayang, jenguk Denisa tunggu aku pulang, ingat, saat menelepon Denisa jangan sedikitpun membahas mantan suaminya."


"Iya Bi, aku ingat." Abian mengecup kening Delia lama, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Delia masuk, Delia diantarkan pulang oleh orang suruhannya. Delia menurunkan kaca mobil, lalu mengecup dari jauh, meniupkan lewat telapak tangannya, dan seperti abege yang sedang jatuh cinta, Abian menangkap kecupan istrinya dan meletakkan didalam saku celananya.


"Captain mah enak Capt, sayang-sayangan sama istrinya." Abian dikejutkan oleh suara Rendy yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.


"Kamu ngagetin aja sih Ren, kayak jailangkung, datang tak diharapkan pulang tak diusir." Abian mengusap-usap dadanya.


Huaaaa Rendy tetiba menangis dan memeluk Abian "Lepas Ren, jijik gue."


"Capt, aku mau curhat, Captain harus dengerin curhatan aku pokoknya, susah nemuin Captain sekarang." Rendy berucap dengan wajah sedih tanpa dibuat-buat.


"Aku sedang ada urusan penting Ren, maaf lain kali aja."


Rendy memegang pergelangan tangan Abian "Please Capt, just ten minutes." pintanya serius.


"Oke, nggak lama ya Ren, aku udah janji sama papa soalnya, kasihan papa nungguin kelamaan."


Dan disini, mereka berada di coffe shop yang ada dibandara. Rendy sampai tidak sempat memesan kopi, rasa ingin curhatnya sudah tak terbendung lagi.


"Ada apa sih Ren?"


"Rumah tangga ku sama Voni sudah diujung tanduk Capt," huaaaa, Rendy kembali menangis.


"Ngomong yang bener Ren, yang jelas."


"Ini kurang jelas apa lagi sih Capt? Jangan Captain kira kapal yang sudah bersandar akan luput dari terjangan ombak, nggak Capt, justru sekarang, kapal yang sedang aku arungi bersama Voni sedang diterjang badai besar Capt, bisa jadi seperti kapal titanic, tenggelam." Rendy menghapus air matanya menggunakan tisu yang ada diatas meja.


"Maksudnya apa sih, penjelasan lo bertele-tele Ren." Ketus Abian yang tak paham dengan penjelasan Rendy, dan Rendy membuang-buang waktunya saja.


"Mau CERAI CAPT, MAU CERAI, paham sekarang?"


"Apa??" Abian terkejut.