
Pesta telah berakhir, pasangan pengantin baru itupun masuk kedalam kamarnya, seperti pasangan ada umumnya, Abian membantu Delia membukakan gaun miliknya, walau ini bukan yang pertama, tetap saja, melihat punggung mulus istrinya, darah Abian berdesir, dan yang dibawah sana langsung menegang. Dulu dia tak bisa melakukan hal ini waktu dirumah Delia, karena rumah Delia masih ramai keluarganya, dan yang membukakan gaun pengantin Delia kala itu, Dania.
Perlahan Abian menarik turun gaun itu hingga jatuh dibawah kaki Delia, sekuat tenaga Abian menahan keinginannya untuk mengecup pundak mulus itu, ia ingin bermain-main sebentar pada istrinya.
Delia yang memang mengharapkan Abian segera menyentuhnya pun merasa kecewa, ia pikir Abian akan menggendongnya ala bridal style, namun suaminya itu justru membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kamu nggak mandi dulu Bi?" Berharap malam ini mereka akan mandi bersama.
Abian sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Delia, istrinya itu hanya memakai dalaman saja, Abian mengulum senyum melihat gelagat istrinya yang sepertinya ingin disentuh. "Kamu saja dulu, aku capek." Kembali Abian menghempaskan kepalanya ke tempat tidur, ingin melihat apakah istrinya itu kuat menahan keinginannya apa tidak.
Dengan sedikit rasa kesal, akhirnya Delia masuk ke kamar mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit Delia berada didalam, tak lama dia telah keluar dengan menggunakan kimono dan rambut yang dibalut handuk. Delia menghela nafas saat melihat suaminya malah duduk bersandar di kepala ranjang sambil bermain ponselnya seraya tersenyum-senyum sendiri, dan masih dengan setelan jas lengkapnya, membuat Delia makin kesal.
"Kamu nggak mandi?" Tanyanya sedikit sewot.
Abian menoleh sebentar, lalu kembali melihat gadgetnya "Nanti."
Delia menghela nafas kesal, berjalan cepat dan langsung menyambar ponsel yang Abian pegang "Kamu liat apasih? Bikin kesel."
Namun raut wajah kesal itu langsung berubah sebuah senyuman kecil saat melihat potret dirinya masih mengenakan seragam sekolah dasar itu memenuhi layar utama ponsel Abian.
"Kenapa? Kenal sama yang difoto?"
"Kamu dapat dari mana foto ini?" Delia mengulas senyum seraya mengembalikan lagi ponsel milik suaminya.
"Rahasia, aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, nyatanya kamu menjadi milikku sekarang, menyingkirkan Rendy dan Daniel."
"Anda merasa bangga Captain? Kenapa aku tidak mempersulit kamu saja dulu, pilot di Singapore banyak yang lebih tampan dan gagah dari kamu, aku menolak pernyataan cinta mereka karena janjiku pada seorang ayah yang menginginkan anaknya bahagia, dan juga tidak menerima pernyataan cinta Daniel saja."
"Kenapa menyebutkan nama laki-laki lain didepan suami mu?" Hati Abian mulai memanas mendengar betapa banyaknya laki-laki yang mendekati Delia selama ini, dia tak bisa membayangkan, mereka dengan bebas menatap wajah cantik istrinya. Sifat egois Abian mulai muncul, dia tak akan mengizinkan lagi Delia untuk kembali menjadi pramugari, tak rela jika Delia kembali mendapat pelecehan, atau banyaknya penumpang laki-laki yang dengan bebas melihat wajah cantik itu.
"Kamu yang mulai." Ketus Delia.
"Aku tidak memulai apa-apa, kamu senang membahas para laki-laki itu? Kalau senang atau rindu, telepon saja mereka, jangan bahas didepan ku." Abian menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.
Delia mendengus, Abian seperti anak bayi, mudah sekali merajuk "Bi, buka dulu bajunya, kamu belum mandi." Delia menarik selimut itu.
"Bukain bajunya,"
"Dasar manja, udah tua seharusnya bisa buka sendiri." Dengus Delia, tapi tangannya terulur membuka satu persatu kancing jas suaminya.
"Aku cuma mau dimanjakan istriku, salah?"
"Tidak Captain Abian Philips Hamzah, seharusnya aku bisa melayani suamiku dengan baik, memanjakanya, menyenanginya, puas?" Saat semua pakaian Abian sudah terlepas semua, mata Delia tak bisa berpaling pada bongkahan otot yang menonjol didada kanan kiri Abian, jemari lentik Delia menelusuri dada itu lembut.
Tentu saja Abian senang mendengar ucapan istrinya, selama ini, Delia tidak pernah mengungkapkan perasaannya, hanya dia yang selalu mengungkapkan rasa itu. Abian senang jika Delia posesif padanya.
"Tapi kamu bukan yang pertama melihat dada aku Del." Abian menahan nafasnya sepersekian detik saat tangan Delia terus turun kebawah, menggoda otott-otott perutnya yang seksi.
"Itu dulu, sekarang kamu sudah milik aku seutuhnya." Delia menanggalkan satu persatu kain penutupan suaminya, hingga memperlihatkan milik suaminya yang sudah tegak berdiri.
"Kamu nggak mau tahu siapa yang melihatnya?" Nafas Abian memburu saat tangan itu sudah menyapa miliknya, dan menggoda dibawah sana, Abian mulai mengerang.
Delia menggeleng, dia sudah tak perduli, fokusnya saat ini pada milik suaminya. "Tapi aku tetap akan memberitahu kamu Delia, ahhhh." Abian sudah tak tahan, Delia sekarang mulai lihai menggodanya. "Mama dan kakak-kakak ku."
Delia sudah mengganti lampu hotel menjadi lampu tidur yang tamaram, dia mulai merangkak naik keatas tubuh Abian, dan meraup bibir suaminya, tak lama Delia langsung melesakkan miliknya pada milik suaminya, membuat keduanya memekik, Delia mulai menggerakkan tubuhnya diatas tubuh Abian, Abian memegang pinggul istrinya, dan membantu Delia meneggaayuh dari bawah, mereka harus bekerja sama, agar bisa mencapai puncak awan yang mereka inginkan, hingga Abian mulai tak tahan, dan membalikkan tubuh Delia tanpa melepaskan penyatuan mereka, mengganti kendali, hingga mereka sama-sama menegang saat rasa itu datang secara bersamaan.
Mereka hanya butuh istirahat sebentar, lalu kembali memulai kembali olahraga malam yang membuat keduanya bermandikan keringat, dan mencoba berbagai gaya. Hingga waktu fajar, mereka baru berhenti karena Delia sudah sangat merasa lelah, mengabaikan puluhan panggilan yang mengakibatkan mereka terlambat untuk ikut sarapan bersama keluarga besar mereka yang diadakan mama Abian.
Saat mereka turun dan bergabung bersama yang lainnya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan, semua mata tertuju pada pasangan yang belum lama melakukan bulan madu itu, dengan pandangan mengejek. Sedang keduanya hanya nyengir tanpa rasa berdosa, telah membuat para anggota keluarganya menunggu mereka untuk makan bersama.
"Apa kamu tidak memanfaatkan waktu selama di Swiss Bian, sampai jam segini baru bangun? Kamu nggak tau kita semua sudah pada kelaparan, dan nunggu kamu sudah lebih dari satu jam?" Arumi langsung menghardik Abian yang sedang menarikkan kursi untuk istrinya.
"Memangnya kami di Swiss setahun, cuma tiga hari nggak akan puas, Kakak aja dulu pulang bulan madu dari Belanda, lanjut puncak dua minggu, hayo parahan mana?" Jawabnya santai, tanpa mempedulikan keberadaan nenek Delia sebagai sepuh yang tidak harus mendengarkan ucapan tak bermanfaatnya.
Papa Abian berdehem, agar kedua anaknya itu berhenti berdebat yang akan membuat citra keluarga mereka jatuh dihadapan keluarga Delia, yang sebenarnya memang citra keluarga mereka sudah jatuh, karena baik Abian atau kakaknya, selalu memperdebatkan hal-hal tidak penting.
"Sudah berdebatnya? Abian, minta maaflah pada mama dan nenek Delia, karena sudah menunggu dari tadi untuk sarapan bersama kalian."
Nenek Delia tertawa "Tidak apa-apa qbesan, mereka masih anget-angetnya, kita juga kan dulu pernah merasakan hal yang sama."
Abian melihat nenek Delia yang duduk diseberangnya "Maksih Nek, tuh nenek aja bisa ngertiin, biar cepat jadi cicit ya Nek? Makanya, nenek harus sehat, biar bisa liat cicit nenek."
"Iya, nenek akan selalu sehat, anak kalian nanti akan jadi cucu pertama, dan jadi cicit pertama dari cucu pertama nenek."
"Sayang, berarti anak kita pemegang tahta tertinggi dikeluarga kamu, habis ini kita lanjutkan yang semalam ya?" Tentu saja Abian langsung mendapat sorakan dari para kakak-kakaknya. Namun mata Abian terfokus pada laki-laki yang duduk pada barisan keluarga Delia, Daniel, duduk disebelah Denisa, yang sedang memandangnya dengan senyum tipis.
"Sudah-sudah, ngobrolnya lanjut lagi nanti, kita makan dulu, nenek pasti sudah lapar. Tidak baik ngobrol didepan makanan." Papa Abian memutus obrolan itu, karena sebenarnya perut dia sudah sangat keroncongan minta segera diisi.
Selama makan, Abian dibuat tak fokus pada keberadaan Daniel, kenapa laki-laki itu bisa bergabung bersama keluarganya?.
Sampai mereka selesai makan, Daniel berdiri, dan mengambil alih pembicaraan.
"Maaf semuanya, terimakasih karena saya sudah diizinkan untuk makan bersama, dan maaf mengganggu waktunya sebentar, saya ingin mengatakan, jika seminggu lagi, saya akan menikahi Denisa."