Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Aku Minta Maaf



"Dan, nggak usah, aku naik taksi saja," Delia berusaha menolak Daniel.


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau aku nggak suka penolakan,Delia"


"Kenapa sih cowok tuh suka maksa-maksa?," sungut Delia sebal, membuat Daniel terkekeh. "Lain kali jangan lagi, aku nggak enak"


"Kalau nggak enak kasih kucing aja," seloroh Daniel, dia membuka pintu belakang, memasukkan koper Delia. Lalu membukakan pintu untuk Delia.


Delia tak mengatakan apa-apaan, dia hanya manyun tak suka. Sebenarnya dia ingin tenang sejenak tanpa ada gangguan dari siapapun, termasuk Abian. Dengan wajah kesal Delia akhirnya masuk ke mobil Daniel yang sudah dibukakan oleh laki-laki itu.


"Kamu marah aku antar pulang?, atau ada yang marah?" tanya Daniel saat sudah didalam mobil, dia melihat Delia sejenak, kemudian kembali fokus pada jalanan didepanya.


"Nggak semua, aku cuma mau naik taksi aja, berbagi rejeki"


Daniel tersenyum dengan jawaban Delia "Aku pikir ada yang marah?, kemarin kamu cuti, kenapa?" pancing Daniel, dia mendengar kabar dari ayahnya jika Abian akan menikah, dan kabar itu dari papa Abian. Namun Daniel tak peduli itu, tidak sedikit orang yang sudah bertunangan pun bisa gagal, jadi dia pikir dia masih ada kesempatan.


"Pulang kampung, sejak jadi pramugari aku belum pernah ambil cuti"


"Oh, aku pikir ada acara penting," Daniel coba memastikan kabar yang didengarnya.


"Pulang kampung sudah pasti penting, bertemu orang tua adalah hal paling penting dibanding apapun," jawab Delia sedikit menoleh kearah Daniel.


"Iya, kamu benar " Daniel memberhentikan mobilnya di sebuah restoran.


"Kok berhenti disini?, Dan, aku mau langsung pulang, aku nggak mau makan dulu," ucap Delia tegas.


Daniel hanya tersenyum, "Kamu tunggu disini sebentar" perintah Daniel, lalu dia segera turun, dan masuk kedalam restoran itu. Belum satu menit Daniel sudah keluar dengan membawa bungkusan makanan di tangan kirinya.


"Ini untuk kamu, aku tau kamu pasti belum makan, aku sengaja beli di restoran ini, karena makananya sehat," Daniel meletakkan kantong itu dipangkuan Delia, membuat Delia terdiam malu.


Delia melihat kantung plastik itu "Terima kasih," ucap Delia "Aku menghargai pemberian kamu Daniel, tapi lain kali jangan lagi, aku bisa beli sendiri," Delia bukan tak mengerti maksud kebaikan Daniel, maka dari itu dia berucap demikian, agar Daniel tak berharap lebih darinya.


Daniel mulai menjalankan mobilnya, "Jangan sungkan, anggap itu pemberian dari seorang teman, Delia. Bolehkan, aku berteman sama kamu?"


Daniel harus menggunakan tak tik kuno, pendekatan berkedok teman. Tak apa ujar Daniel, asal dia bisa selalu dekat dengan Delia, hingga menunggu waktu yang tepat.


Delia mengangguk, wajahnya bersemu malu, karena sudah terlalu percaya diri, beranggapan jika Daniel memiliki rasa lebih padanya. "Ya ampun kepedean banget sih kamu Delia, emang kamu siapa?" gumam Delia dalam hati.


"Delia, apa kamu sudah izin teman kamu, kalau aku boleh main, kapan-kapan?" tanya Daniel saat Delia akan masuk ke apartemenya.


Delia tersentak, Daniel masih ingat permintaanya, "Sorry Daniel, aku lupa," Delia meringis tak enak.


"Oke, lain kali, kita jalan bareng mau?, jika kamu libur?"


"Kita lihat nanti ya Dan, aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati," Delia melambaikan tangannya, yang dibalas anggukan Daniel, setelah dilihatnya Daniel pergi, Delia berbalik menuju lift.


Namun saat pintu lift akan tertutup, tangan seseorang menahanya, dan Delia di buat terkejut, orang itu adalah Abian. Abian menatap tajam padanya dengan pandangan tak suka, lalu laki-laki itu melirik kantung yang dibawa Delia.


"Buang makanan itu tempat sampah, jangan pernah terima makanan dari laki-laki lain," Abian mengambil kantung itu secara paksa. "Dan aku sudah pernah bilang, kamu bisa menolak ajakan Daniel, kenapa masih saja menerima jika dia mengantar pulang?"


"Kenapa harus dibuang?, Delia menahan kantung yang sudah direbut Abian "Daniel hanya menganggap aku temen, nggak lebih, dan ini pemberian dari seorang teman, lagian makanan ini baru, tak baik buang-buang makanan"


"Heh, pertemanan sampah, itu hanya kedoknya saja. Kamu tidak mengenal Daniel, Delia. kasih makanan ini ke Voni, jangan kamu yang makan"


Abian menarik koper Delia, lalu membersihkan gagang koper itu dengan tissu basah yang baru saja dibelinya, tak lupa Abian juga mengelap tangan Delia dengan tissu basah juga. Dia mengibaskan seragam Delia dengan hal yang sama.


"Apa-apaan sih Bi?" Delia ingin menepis tangan Abian, namun Abian malah menahan tangannya.


"Aku nggak mau ada bekas jejak laki-laki lain di barang ataupun di tubuh calon istri aku," kemudian Abian menatap Delia tajam, di dorongnya tubuh Delia hingga menempel di dinding lift, Abian segera menyapukan bibirnya di bibir Delia.


Delia yang tak siap mendapat serangan mendadak Abian terbelalak, lalu dia mendorong tubuh Abian, sayangnya itu sia-sia, laki-laki jika sedang emosi tenaganya seperti dua kali lipat bertambah, namun Delia tak kehilangan akal, dia tak mau terlena, entah mengapa mengingat Attaya pagi tadi membuatnya merasa kesal pada Abian, apa Abian juga melakukan hal yang sama pada Attaya?. Delia menendang sedikit keras senjata Abian dengan lututnya membuat Abian mengaduh kesakitan.


"Aduh, Delia saaakiitt," wajah Abian memerah menahan sakit, dia menunduk memegangi benda kesayanganya.


"Kamu tuh kebiasaan suka main nyosor aja," Delia mengelap bibirnya kasar, "Apa pada Attaya kamu juga seperti ini, makanya dia susah lepas darimu?" Abang tak merespon, wajahnya masih meringis membuat Delia merasa bersalah, dia ikut menunduk memegangi bahu Abian.


"Maaf," ucap Delia, dia ingin memegang Abian lagi, namun Abian menolak. Tak lama pintu lift terbuka "Ayo kita ke apartemen dulu," ajak Delia, dia menggigit bibirnya takut.


"Nggak perlu," tolak Abian.


"Bian, ayo, kamu minum dulu, aku masakin mi instan ya, makanan ini aku kasih ke Voni,"


"Nggak perlu, sudah sana kamu masuk, aku mau pulang saja, kamu selalu senang kan aku kesakitan begini?, jangan pikirkan aku, pikirkan saja Daniel itu,"


"Bian, aku minta maaf" kembali Delia ingin memegang tangan Abian, namun Abian kembali menolaknya.


Abian tak mempedulikan Delia yang meminta maaf, dia mendorong Delia keluar, dan segera menekan tombol turun.


* * *


Sepanjang malam Delia di buat gelisah, dia terus menghubungi nomor Abian, namun laki-laki itu tidak mengangkatnya, pesan yang Delia kirim pun tak ada satupun yang dibaca Abian. Jika saja Abian tinggal sendiri, sudah pasti Delia akan segera menghampiri Abian saat ini juga, namun sayangnya Abian tinggal bersama orang tuanya, tak mungkin Delia malam-malam begini datang kesana, akan dianggap apa Delia oleh orang tua Abian?.


Delia berjalan gelisah di ruang depan dengan menggigit ujung kukunya, dia terus memandangi ponselnya berharap Abian menghubunginya balik, namun ponselnya tetap sepi.


"Del, kamu kenapa?, nggak tidur, lagi ada masalah?" Voni keluar kamar dengan menguap.


"Von, besok kamu terbang bareng siapa?" Delia menghampiri Voni, dan mengikuti Voni duduk di sofa.


"Captain Abian"


"Terbang jam berapa?"


"Jam delapan pagi"


"Kenapa sih?, lagi ribut ya?, apa mau nitip bekal?"


"Iya, mau nitip bekal" jawab Delia asal, tak mungkin dia mengakui kejadian yang sebenarnya. "Eh enggak, besok aku mau kasih sendiri bekalnya."


"Cieee, yang sekarang jadi bucin," goda Voni dengan mata masih mengantuknya.


Delia sengaja datang lebih awal, padahal dia ada penerbangan jam dua belas siang, Delia menunggu Abian di parkiran dimana Abian biasa memakirkan mobilnya. Tak lama mobil orang yang sejak tadi ditunggunya itu datang. Delia segera menghampiri Abian dengan kotak bekal ditangannya.


"Bian," panggil Delia, namun Abian tak menjawab, Abian pura-pura masih marah, dan tak mempedulikan kedatangan Delia. "Abian tunggu aku, aku minta maaf soal yang semalam, aku nggak sengaja, aku nggak bermaksud kasar Bian."


Abian menghentikan langkahnya, melihat tangannya yang dicekal Delia, "Maaf, aku buru-buru." Abian melepaskan tangan Delia, lalu memasang kaca mata hitamnya.


"Bian, ambil bekal ini, ini sengaja aku bikin buat kamu, roti bakar kesukaan kamu, dan mi goreng pakai telur dadar kesukaan kamu," Delia menghadang Abian.


"Aku sudah kenyang, aku sudah sarapan," Abian menyenggol bahu Delia yang berada di depannya, dia tak mempedulikan apa yang Delia bawa untuknya.


Delia menunduk menatap sedih kotak bekalnya, hatinya terasa perih, matanya sudah mengembun, Abian masih sangat marah padanya.


"Delia kamu pagi-pagi kok sudah ada disini?, bukannya kamu jadwal siang?"


Panggilan seseorang membuat Delia segera menghapus bulir yang sudah akan menetes, dia mendongak menatap laki-laki yang menghampirinya.


"Aku mau kasih bekal ini sama kamu, sebagai ucapan terima kasih, karena semalam kamu udah beliin aku makanan enak, dan antar aku sampai ke rumah."


Abian yang sudah berjalan agak jauh seketika mengehentikan langkahnya mendengar ucapan Delia yang memberikan bekal untuknya pada orang lain. Abian memutar tubuhnya, melihat kotak bekal tadi sudah berpindah tangan.


.


.


.


.


Hai, maaf slow up date. Apa sudah pada sampai kampung halaman??, selamat berlibur semuanya, selamat bertemu keluarga tercinta, semoga kita semua sehat selalu. 😍🥰