Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Pertengkaran Kecil



Akibat kesalahannya, Abian mengalami dehidrasi, sebenarnya bukan kali ini saja Abian telat makan, jika Delia tidak ada dirumah, Abian lebih memilih menahan lapar dari pada harus makan sendiri.


"Ketahuan kan sekarang, kalau kamu suka telat makan?" Delia bersedekap, memarahi Abian seperti ibu memarahi anaknya yang nakal, "kamu tahukan Bi, bahaya telat makan itu bisa berdampak kemana-mana, sekarang lambung iritasi, jadi mual, makan juga harus yang lembut-lembut, banyak pantanganya. Tolong Bi, kurangi sifat kekanak-kanakan kamu."


"Kok kamu jadi marah-marah sih? Aku lagi sakit loh Del, ini semua juga gara-gara kamu, coba kamu nurut, nggak usah kerja, dirumah aja, aku nggak mungkin cari perhatian sampai seperti ini." Abian menutup wajah dengan lenganya, ngambek karena Delia malah memarahinya. "Kamu pulang saja, kalau keberatan mengurusku, aku tau kamu kecapean." Imbuhnya.


Delia mengernyit, heran, kenapa malah jadi dia yang ngambek? Benar-benar seperti anak kecil, karena memang kelelahan, Delia tak lagi menyahuti, memilih diam, dan mengalah, itulah yang Delia lakukan.


Satu hari dirawat dirumah sakit, membuat Abian sudah lebih baik, tapi tidak dengan hubungannya dengan sang istri, bukan Delia yang mendiami, justru Abian lah yang mendiami, apapun yang Delia ucapkan, dia hanya menjawab dengan gumaman.


"Bi, kamu udah enakan kan? Aku mau berangkat, aku udah telepon mama buat bantu jaga kamu, maaf Bi, akukan baru masuk, kemaren-kemaren juga udah sering ambil cuti, jadi aku nggak bisa jagain kamu."


Hening, tak ada jawaban dari Abian yang sekarang tidur membelakakanginya, Delia menggigit bibirnya risau, tau jika Abian masih mendiaminya. Jam menunjukkan pukul satu dinihari, Delia tahu jika Abian tidak tidur. Delia memutari ranjang, mencoba untuk melihat wajah sang suami.


Delia merendahkan tubuhnya, bersimpuh, lalu mengusap lembut pipi Abian. "Aku tau kamu masih marah, kasih aku kesempatan sebentar ya Bi, nanti jika sudah waktunya aku akan resign, kamu jaga diri ya!" Delia mengecup pipi Abian lama.


"Kamu nggak mau bangun dulu? Aku mau berangkat loh." Tetap Abian tak merespon, "Yaudah, aku minta maaf ya, aku jalan dulu, nanti aku kabari jika sudah sampai bandara."


Ya, memang seperti inilah resiko memiliki istri yang berprofesi sebagai seorang pramugari, memiliki jadwal yang tak menentu, sering ditinggal keluar kota, kadang beberapa hari tidak pulang. Abian sangat tahu itu akan terjadi pada dirinya, sebenarnya dulu dia tak ingin memiliki pasangan hidup yang memiliki satu profesi dengannya, karena Abian tahu, mereka tidak kan memiliki waktu bersama lebih banyak. Namun, mengenal Delia membuatnya menyingkirkan prinsipnya sendiri.


Saat Delia sudah keluar Abian membuka matanya, dia kesal, karena Delia memilih meninggalkanya yang belum sembuh total, dan tetap bekerja.


Pukul lima subuh Amanda sudah datang, dia langsung menuju lantai atas, kekamar anaknya. Setelah mengetuk pintu namun tak ada jawaban, Amanda menarik handle, dilihatnya Abian yang masih meringkuk dibalik selimut.


Amanda membangunkan Abian.


"Bi, bangun yuk," Amanda menggoyang bahu Abian, Abian menggeliat, dan membuka mata "kerumah Mama aja yuk, Papa lagi sakit soalnya, Arini nggak bisa temenin papa, karena Arumi sudah mulai kontraksi, suami Arumi sedang dalam perjalanan dari luar kota."


"Mama naik kelantai atas?" Amanda mengangguk, "kenapa nggak telepon Bian aja Ma? Nanti kaki Mama sakit." Abian menegakkan tubuhnya, menyandar di dashboard ranjang.


"Nggak pa-pa, sekalian olahraga." anda mengusap pundak Abian lembut.


"Maaf ya Ma, Abian masih merepotkan Mama."


"Ngomong apa sih? Kamu nggak pantes ngomong begitu, bikin Mama geli, lagian masih subuh Mama nggak mau ada drama melankolisnya" Amanda tergelak atas ucapannya sendiri.


"Hai Bi, gimana sudah sembuh kamu?" sapa papa Abian yang sedang membaca koran ditaman belakang, karena Abian langsung menuju sana untuk menghilangkan kegalauannya. Mereka bertos ria ala pria. "Tuh muka ditemukan aja kayak pakaian belum disetrika."


"Gimana nggak bete Pa, suami lagi sakit malah ditinggal kerja, Abian suka bingung sama Delia, kayaknya Abian bukan prioritas dia." Abian mengambil duduk disebelah papanya dibangku rotan bulat, papa Abian yang mendengar keluhan anaknya manggut-manggunt, "Papa sakit apa?"


"Biasa sakit tua, umur Papa sudah masuk enam puluh lima, sudah sering sakit, sebenarnya Papa sudah harus pensiun, gimana? Kamu udah siap gantikan Papa, memimpin perusahaan bersama Daniel? Papa Daniel juga sudah mengeluh ingin pensiun. Namun sayang, Daniel yang memilih bercerai dengan Denisa membuat papanya marah, pernikahan yang jika diperumpamakan masih panjang umur nyamuk dibanding usia pernikahan mereka, papa Daniel menganggap Daniel mempermainkan pernikahan."


"Hah, jangan bahas dia Pa, Abian malas," Abian merapikan jambul rambutnya yang masih rapi, menautkan jari kedua tangannya didepan dada, "Abian belum siap Pa buat mengurus perusahaan penerbangan, Abian masih nyaman dengan profesi Bian sekarang, lagian jika harus menduduki jajaran Direksi, Abian malas jika harus berdua dengan laki-laki itu." Abian menoleh kearah papanya.


Papa Abian mencibir "Oke, Papa hargai jika kamu belum siap, ada juga orang tua yang sudah berusia delapan puluh tahun masih memegang penuh perusahaan, tapi untuk mengenal dunia penerbangan itu butuh waktu yang lama, banyak yang harus kamu pelajari."


"Abian pikir-pikir dulu Pa, lagian Abian tidak harus belajar banyak, setidaknya sudah tau strukturnya, aliran dananya kemana, jadi Papa jangan khawatir, nanti jika sudah waktunya Abian siap, Abian akan melepas topi pilot, dan berganti memegang alih perusahaan, tapi siapa pemegang saham terbesarnya sekarang?"


"Masih Papa," papa Abian menyender dikepala kursi, "apa yang kamu rasakan, saat Papa minta kamu buat melepas topi pilot kamu, dan duduk didepan meja, mengatur, mengontrol jalanya perusahaan?"


"Abian masih senang melihat pemandangan alam dari atas langit, berlomba dengan burung untuk menjelajahi dunia, terbang dari satu pulau kepulau lainnya, dari satu negara ke negara lainnya, bukan hanya jadi penumpang, tapi menjadi orang yang mengendalikan pesawat itu sendiri, itu memiliki sensasi yang berbeda, dan Abian masih senang menjadi pusat perhatian orang-orang saat Abian lewat didepan banyak orang." Bisik Abian diakhir ucapannya.


"Terutama wanita?" Sambung papa Abian


Abian tergelak "Bukan itu Pa, Abian cuma mau menarik perhatian Delia, yang sampai sekarang masih susah Abian dapatkan."


"Bagus, semoga sampai tua kamu seperti itu, semangat berjuang mendapatkan perhatian lebih dari istri kamu hei anak muda," papa menepuk pundak Abian "Jadi lelaki yang baik itu bukan hanya tidak menyakiti perasaan pasangannya, tapi tidak memaksa kemauan kita." Pandangan papa beralih serius pada Abian.


"Tadi, saat Papa minta kamu buat tinggalin profesi kamu, dan gantikan posisi Papa tapi kamu tidak mau, mungkin itu juga yang dirasakan Delia, sama seperti yang kamu rasakan, dia masih mencintai dan menikmati profesinya." Abian terdiam, mencerna kata-kata papanya.


"Kamu juga harus tau karakteristik istri kamu, dia anak pertama, yang pernah menjadi tulang punggung keluarga, hal itu masih melekat dihati Delia, Papa sudah pernah katakan dulu, Delia itu menahan rasanya, padahal Delia itu sifat aslinya ngeyelan, ambisius, keras kepala, cerewet, namun dia tutupi, pandai dia menyembunyikan rasanya. Karena itu, tidak ada orang yang bisa diajak berbagi yang benar-benar bisa memahami sifatnya, seperti mendiang ayahnya mungkin, sedang kamu, kamu lebih dominan manja padanya, membuat Delia lebih memperhatikan kamu, sedang kamu kurang peka dengan hal-hal kecil yang kadang terlihat sepele, namun begitu berarti buat perempuan."


.


.


.


.