
Jam empat subuh Abian sudah bangun, perutnya terus berbunyi minta segera diisi, bakso semalam memang masuk keperutnya, tapi dia masih membayangkan nikmatnya kue basah yang ada dipasar subuh Senen. Tanpa Delia tahu, jika dia sudah meminta mamanya untuk membelikan kue untuknya.
Abian melihat Delia yang tidur sangat pulas disampingnya, sambil memeluk perutnya, perlahan Abian melepaskan tangan Delia, dia menatap lamat-lamat wajah cantik sang istri, tangan Abian terangkat, mengusap pipi mulus Delia dengan punggung telunjuknya.
"Kamu makin cantik Delia, aku makin sayang sama kamu," Abian mengecup pipi sang istri, kemudian dia menyibak selimut, berlalu ke kamar mandi, jika saja perutnya tidak sangat lapar, Abian sudah pasti mengganggu istrinya, dan mengajaknya olahraga pagi.
Saat keluar keluar kamar mandi, intercome rumahnya berbunyi, Abian segera turun membukakan pintu, dia mengintip melalui layar yang tertempel disamping pintu, mamanya datang bersama Bi Minah, dan Bang Mul.
"Ma," bukanya mempersilahkan mamanya masuk, tapi Abian langsung menyambar tentengan yang dibawa mama. Melongokkan kepala melihat isi dalam kotak persegi berukuran besar yang mamanya bawa. Seketika senyumnya mengembang, Abian sampai menjilat bibirnya.
Melihat ekspresi anaknya, Amanda mengusak rambut Abian gemas "ada semua kan pesanan kamu?"
"Iya, ini yang Bian pengen Ma, semoga enak dan nggak bikin enek," ujarnya tanpa mengalihkan dari isi kotak itu, dan duduk dimeja makan.
Abian langsung mengambil risol isi ayam pedas itu, Amanda menuangkan saus kacang kedalam mangkuk, meletakkan didepan Abian.
"Delia belum bangun?" tanya Amanda
"Belum, dia pasti kecapean, semalam jagain Bian. Nemenin Bian cari bakso sampai malam."
"Bu, ini mangga muda dan buah yang lain taruk dimana?" Minah membuka tas yang dibawanya.
"Ehh mangga muda? Abian mau donk Ma, kupasin sekalian juga ya Mba, bikinin sambel yang pedes, Bian pengen makan rujak sekarang."
Amanda dan Bi Minah saling pandang, pasalnya, saat dijalan tadi mereka sudah berdebat dan menebak, jika Abian minta rujak pagi sekali, berarti Delia sedang ... Ahhh rasanya mama dan Bi Minah sudah mau teriak dan berkata, "Bian, coba suruh Delia tespeck, atau Delia sudah telat berapa minggu?" Namun lidah keduanya terasa keluh, takut prediksi mereka salah, malah akan membuat kedua pasangan yang baru berdamai dengan keadaan ini kembali ribut.
"Katanya mual? Emang makan kue sama rujak nggak mual?"
Abian menggeleng, "kalau bayangin nasi, Abian baru mual Ma, dari semalam maunya yang segar-segar. Atau camilan aja. Padahal Delia semalam buat spagetthy udang, tapi Bian nggak mau, nggak suka bau saosnya."
Amanda dan Minah kembali saling lirik dan tersenyum, rasa bahagia langsung menelusup dalam hati Amanda, kesabaran anak dan menuntunya akan membuahkan hasil.
"Spagetthy kan makanan kesukaan kamu loh Bi, kok bisa nggak suka gitu?" pancing mama.
Abian mengendikkan bahunya "Mba, bikinin kopi buat mang Mul, kasihan jam segini kalian sudah sampai disini."
"Biar saya bikin sendiri den, santai. Tadi juga dipasar sudah ngopi dan dibelikan kue sama Ibu," sahut mang Mul yang kini membantu Minah mengupas buah.
Diatas, Delia meraba ranjang kosong sebelahnya, dia membuka mata, ternyata Abian sudah tak ada. Delia bergegas lari ke kamar mandi, takut Abian kembali memuntahkan isi perutnya, namun tak ada. Delia segera turun, mencari keberadaan Abian.
"Mama!" Delia terkejut sekaligus malu, sepagi ini mama Abian sudah dirumahnya, dan tertangkap dia baru bangun, "kamu kok nggak bangunin aku sih Bi, aku malu ada mama baru bangun."
"Mama disuruh Bian kesini?"
"Iya, katanya ada yang minta dibelikan kue."
"Maaf ya Ma, jadi merepotkan." Delia dibuat terkejut karena sekarang Abian malah memakan mangga muda dicocol sambal gula merah yang terlihat begitu pedas yang baru diletakkan Bi Minah.
"Bi, kamu makan rujak? Ini masih pagi buta loh? Nanti perut kamu masih sakit, gimana?"
Bukan hanya Delia, mama, Minah dan Mul nampak menahan ngilu melihat Abian yang begitu asik menggigit buah mangga yang terlihat masih hijau, air ludah mereka juga keluar dengan sendirinya melalui cela gigi mereka.
"Ini enak sayang, kamu harus coba." Abian kembali mengambil potongan mangga, mencoleknya pada sambal, lalu memasukkan kedalam mulutnya. "Mang Mul, Mba Minah, kalian harus coba, ini enak."
Sontak Mul dan Minah menggeleng cepat, menolak.
Delia mengambil air hangat untuk Abian, lalu duduk disebelah Abian "Bi, hati-hati ihh, nanti perut kamu sakit lagi." Abian tak menghiraukan kekhawatiran istrinya, dia terus memakan rujak itu hingga tandas sendiri, membuat yang lain menggeleng heran.
* * *
"Minah, Mul, ini hadiah taruhan kita tadi." Amanda memberikan uang lima lembar uang merah pada masing-masing asisten rumah tangganya saat mereka sedang dijalan arah pulang.
"Bu, kita kan kalah, tebakan yang tepat tebakan Ibu." Tolak Minah merasa tak enak.
"Iya Bu, bagaimana kalau meleset?" sahut Mul ikut menimpali.
"Doakan saja Delia beneran hamil, aku merasa sangat senang, dan yaakin sekali kalau Delia sedang mengandung cucu saya."
"Terima kasih ya Bu, semoga Ibu panjang umur dan sehat selalu," Minah merasa terharu, keluarga Abian begitu baik padanya.
"Aamiin." Ucap Amanda dan Mul.
"Bu, kenapa tadi non Delia nggak ditanya langsung dan disuruh tespeck saja, siapa tahu non Delia beneran positif."
"Memang positif Minah, gelagat Abian itu seperti papanya dulu waktu saya hamil Abian, yang ngebet pengen punya anak lagi itu dulu bapak, jadi yang ngidam dia. Nah sama seperti Abian, dia yang ngebet pengen cepat-cepat punya anak, jadi dia yang ngidam. Sama persis, maunya kue subuh pasar senen, dan rujak," Amanda mengenang saat-saat suaminya ngidam dulu, dia menyeka sudut matanya yang basah, tak terasa kini anaknya juga merasakan hal yang sama.
"Doakan Minah, Mul, doakan yang baik-baik untuk Abian dan Delia, mereka anak-anak ku yang baik. Biarlah mereka menyadari sendiri kalau mereka sudah dititipkan sesuatu yang sangat mereka inginkan, aku tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka saat ini, aku berharap ini kabar baik untuk mereka."
Amanda semakin mengharu, dunia seakan begitu baik padanya, dikaruniai anak-anak yang baik, suami yang baik dan penyayang, dan kehidupan yang dilimpahkan banyak kesenangan.