
"Kak Daniel mau pesan makan apa?" Denisa menyodorkan buku menu pada Daniel. Setelah Daniel duduk dan menyampirkan jasnya di sandaran kursi.
"Tujuan kita kesini untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara kalian bukan? Jadi tidak perlu pesan makan. Istri saya pesan makanan karena kami sudah menunggu sejak tadi. Kamu dari rumah kan Denisa? Kamu pasti sudah makan kan? Kita tidak bisa berlama-lama disini." Abian melipat tangannya didepan dada, terus menatap Daniel.
Daniel tertawa kecil, sedang Delia dan Denisa hanya saling pandang. Mereka sudah merasakan suasana atmosfer panas disekitarnya.
"Oke," Daniel meletakkan buku menu itu, melipat tangannya diatas meja, balas menatap Abian, "sepertinya rahasia ini sudah diketahui orang lain, dan ada yang melanggar perjanjian," pandangan Daniel berpindah ke Delia yang duduk berhadapan dengan Denisa, sedang dia duduk berhadapan dengan Abian.
"Tidak usah melihat istriku, wajar dia terbuka pada suaminya."
Daniel semakin tertawa melihat keposesifan Abian terhadap Delia, hal itu malah memancing keegoisan didalam diri Daniel yang selama ini dipendamnya.
"Iya, terima kasih, jadi aku juga punya alasan yang tepat untuk mengatakan pada mama alasan aku menceraikan Denisa, sesuai perjanjian awal pernikahan kami."
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, Denisa sedang hamil anak kamu brengsek, tega kamu menceraikan dia? Apa kamu tidak memikirkan masa depan anak kalian?"
"Anda orang baru yang masuk dalam masalah orang lain hei Captain Abian, jika istrimu sudah mengatakan yang sesungguhnya setidaknya kamu tahu alasan aku menikahi Denisa, kurang tanggung jawab apa aku?"
Mendengar ucapan Daniel Abian meradang, dia berdiri hendak menarik kerah kemeja Daniel namun Delia mencekal pergelangan tangan Abian. Dia meminta Abian duduk dan tenang.
"Biar aku yang bicara Bi," Delia menarik nafas, setelah Abian duduk, dia kemudian melihat Denisa yang terus menunduk, Denisa seakan pasrah pada nasibnya, hati Delia terasa pilu, apa diusia Denisa yang masih sangat muda ini akan menyandang status janda?. Keputusanya ada ditangan Daniel.
"Kamu tidak mau mempertimbangkan masalah ini lagi?" Delia ingat, dia tidak akan menyebut nama Daniel didepan Abian "Denisa sekarang tengah mengandung anak kamu, dia butuh sosok ayah untuk kedepannya, aku tahu Denisa salah, tapi apa tidak ada kesempatan untuk Denisa? Aku lihat, dia juga sudah berusaha menjadi istri yang baik, dia sampai menunda kuliahnya." Delia bicara begitu hati-hati, takut sampai menyebutkan nama Daniel.
Daniel mengangguk-anggukan kepala "Aku paham maksud kamu Delia," Daniel mulai bicara serius, "tapi aku tidak bisa memaksakan hatiku, maaf Delia. Denisa sudah aku anggap sebagai adik sendiri, aku tetap pada keputusan awal, jika aku menikahinya hanya untuk menyelamatkan statusnya nanti. Selama Denisa hamil aku juga memenuhi semua kewajiban ku, mengantarnya periksa, memenuhi semua kebutuhannya, tidak ada kekurangan. Dan aku juga tidak akan meminta hak asuh, jika bayi itu lahir, aku tetap memberinya nafkah. Jangan khawatir soal itu."
"Kamu pikir dengan memenuhi semua kebutuhan materinya kamu sudah cukup membahagiakan anak kamu?" Ucap Abian sedikit meninggikan suaranya.
"Aku tidak minta pendapat mu Captain Abian, tapi jika memang kamu butuh kejelasan, seharusnya aku tidak menikahi Denisa, apa kamu mau dengar rekaman cctv malam itu?" Daniel menyeringai, karena tanpa sengaja saat dia mengecek kamar tempatnya tidur dengan Denisa, ternyata ada penyadapnya, dan saat dia mendengar rekaman itu sepanjang percintaanya dia menyebutkan nama Delia, bukan Denisa.
"Jangan Kak, jangan," Denisa seketika panik, dia yang tadi menunduk mendongakkan kepalanya melihat Daniel disebelahnya, dan memegang tangan Daniel memohon, jangan sampai Daniel memberikan rekaman kejadian itu pada Abian, dia tidak mau rumah tangga kakaknya ikut berantakan. "Denisa sudah menerima ini, semua memang kesalahan Denisa, maaf, maaf jika kehadiran Denisa membuat kalian jadi repot. Untuk Kak Daniel, aku berterima kasih, karena Kakak sudah mau bersedia menikahi Denisa."
Abian menyipitkan matanya, merasa curiga dengan rekaman yang dimaksud Daniel.
Perlahan Daniel melepaskan tangan Denisa "Kalian dengar sendiri bukan? Jadi perceraian ini sudah disepakati oleh kedua belah pihak, tidak ada yang dirugikan sama sekali disini, seharusnya aku bisa menuntut Denisa, karena telah merugikanku dalam hal ini, walau demikian, aku tetap bertanggung jawab, dan memenuhi segala kebutuhan kuliah Denisa, juga keperluan kuliahnya sampai tamat."
"Kak, biarlah kami berpisah, Kakak jangan khawatir, aku bisa menjaga anak aku sampai lahir, memang sudah seharusnya begini. Biarlah Denisa menebus kesalahan Denisa sendiri." Lirih Denisa, membuat hati Delia bagai teriris, sedang Daniel membuang muka, ada rasa iba namun dia juga tidak bisa memaksakan hatinya, sampai saat ini dia belum bisa mencintai Denisa.
Sekuat tenaga Delia menahan air matanya, dia tidak bisa memaksakan ini, Daniel benar, dan posisi adiknya salah.
"Baiklah, jika memang ini sudah keputusanya, aku berterima kasih, karena selama ini kamu sudah menjaga adik aku dengan baik. Tapi maaf, untuk kebutuhan Delia dan anaknya, aku sebagai kakak bisa menyanggupi itu, jadi kamu tidak perlu repot-repot," ucap Delia.
"Kenapa? Kamu ingin istriku menyebut nama kamu? Aku tidak mengizinkan dia menyebut nama kamu sama sekali." Jawab Abian langsung karena mengerti maksud Daniel.
Daniel mendengus, Abian tak sadar jika apa yang diucapkannya membuat Daniel sakit hati dan itu akan membahayakan dirinya dan juga Delia.
"Mulai hari ini, biarlah Denisa pulang bersama kami langsung, biar aku yang mengantarnya pulang kerumah mama." Delia memutus obrolan kedua laki-laki yang kembali memanas.
"Aku masih menjadi laki-laki bertanggung jawab Delia, aku yang akan mengantar Denisa sendiri pulang kerumah mama, memintanya baik-baik, juga mengembalikannya baik-baik, serta aku berkewajiban membiayai kebutuhan anakku, walau kamu Kakak kandung Denisa, tapi ikatan ku lebih kuat dengan anakku, jadi kamu tidak berhak melarang ku untuk membiayai anakku sendiri." Entah apa yang mendasari Daniel berkata demikian? Semua itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Mau tak mau Delia menerima itu, karena apa yang dikatakan Daniel benar adanya.
"Kak, aku mau ketoilet sebentar." Pamit Denisa pada Delia.
"Aku antar." Tanpa menunggu persetujuan adiknya, Delia berdiri menggamit tangan Denisa menuju toilet, takut terjadi apa-apa pada Denisa.
Sepeninggal kedua wanita kakak beradik itu, Daniel melihat Abian yang kini fokus pada ponselnya.
"Apa Delia belum hamil?" Abian bergeming, enggan menanggapi pertanyaan Daniel "Apa kamu butuh bantuan ku agar Delia cepat hamil? Kamu lihat Denisa langsung ada hasil wal-."
Bugghhh
Bugghhh
Bugghhh
Daniel tak bisa melanjutkan ucapannya karena Abian langsung melayangkan pukulan diwajahnya, membuat tubuh Daniel terhuyung, minuman dan makanan Delia diatas meja langsung tumpah terkena dorongan tubuh Abian yang maju.
Tentu saja Daniel tak terima begitu saja, ini untuk ketiga kalinya Abian menyerangnya, tapi kali ini dia tidak bisa tinggal diam, dia harus membalas pukulan Abian. Saat Abian menunduk ingin menarik kerah bajunya, Daniel menendang perut Abian, sampai Abian mengaduh sambil memegangi perutnya, mereka terus saling membalas satu sama lain, mengundang kerumunan pengunjung lainnya, ada beberapa pengunjung laki-laki yang coba melerai keduanya, hingga tak lama Delia dan Denisa datang.
"Biiiii."
"Kak Daniel."
Keduanya berlari menghampiri Abian yang kini berada diatas tubuh Daniel sambil memukul wajah laki-laki itu.
"Abian Stop." Delia memegang tangan Abian, "Apa yang kamu lakuin Bi? Masalah kita sudah selesai, kenapa kamu terus memukul Daniel?" Marah Delia pada Abian karena Delia merasa Abian kekanak-kanakan.
Delia mengambil tasnya, lalu membawa Abian keluar restoran, "Denisa, kamu antar Daniel pulang dulu, nanti kamu pulang kerumah Kakak," teriak Delia pada Denisa sebelum pergi.