
Selama kehamilan, Abian dan Delia sama-sama sibuk, semenjak Delia memutuskan berhenti bekerja, Abian memperkenalkan Delia pada bisnis clothing linenya. Delia belajar bagaimana mengelola bisnis, dan ditemani teman Abian, serta Attaya, yang memohon-mohon agar diperkerjakan lagi, sebab dia kesulitan mencari pekerjaan atas skandal yang menjeratnya.
Delia belajar bagaimana menjual produk, memasarkan, dan cara mengelola keuangan.
Karena hal itu, mereka jadi lupa belanja keperluan anak mereka, bukan tanpa sengaja, Abian mengalihkan itu semua, agar istrinya tidak terlalu banyak memikirkan berat badannya yang naik mencapai 40x2. Luar biasa memang. Dan karena hal itu pula, tekanan darah Delia kerap naik turun, pikiran dan berat badannya sangat memengaruhi, tapi itu semua telah berlalu, anak mereka telah lahir, Delia dan anaknya sehat.
Tiga hari selama berada dirumah sakit, selain fokus Delia pada kesehatannya, dia kini disibukkan dengan air asi-nya yang tak kunjung mau keluar.
"Akutuh nggak becus banget sih Bi, jadi anak dan istri, bisanya cuma nyusahin kamu. Udah lahiran caesar, sekarang aku nggak bisa kasih asi buat anak-anak kita." Delia tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Tangannya merasa pegal, sejak tadi memompa sumber asinya, memancing, agar dapat memproduksi makanan untuk kedua anaknya.
Delia meletakkan begitu saja alat untuk memompa itu diatas tempat tidurnya.
"Hei, udah donk. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, setiap wanita itu berbeda sayang, tidak semua harus sempurna. Melahirkan normal, bisa menyusui, itu memang impian semua wanita. Tapi ini juga bukan kemauan kamu sendiri kan? Udah, aku nggak mau dengar kamu ngeluh ini itu lagi, fokus pada kesehatan kamu saja. Kalau kamu seperti aku akan marah, karena itu berpengaruh pada pertumbuhan dan kesehatan anak kita." Abian mulai lelah, dengan keluhan Delia, tapi dia tetap mencoba bersabar.
"Aku nggak pernah nuntut apa-apa loh sayang. Nggak nuntut kamu harus langsing, nggak nuntut kamu harus lahiran normal, dan juga nggak nuntut kamu ini itu. Tapi aku mohon, fokuskan kamu sama kesehatan kamu dan anak kita, nggak usah mikirin yang lain, kesehatan anak-anak adalah yang utama. Anak kita masih bisa minum susu kok, lihat mereka lahap minum susunya." Abian memperlihatkan anaknya yang kini dalam gendonganya yang sedang minum susu.
Mulut mungil bayi itu tak henti menyedot susu dari botol, terlihat sangat kehausan takut direbut oleh saudara kembarnya yang kini sedang tidur. Hati Delia merasa teriris melihat anaknya sejak tiga hari ini meminum susu dari botol, bukan dari miliknya. Tapi, mendengar semua nasihat Abian, Delia mulai berdamai dengan hatinya.
"Makasih ya Bi, kamu selalu sabar hadepin aku."
"Sama-sama sayang, kita harus bekerja sama mengurus anak kita, dan tugas ku sebagai suami, harus bisa menenangkan hati kamu. Kamu juga selama ini sudah bersabar menghadapi sifat jutek ku." Abian mengecup pipi tembam sang istri, "kamu mau gendong anak kita?"
"Iya, dari tadi aku pengen gendong dia Bi." Abian meletakkan anak mereka ditangan Delia, mengajari Delia menggendong anak yang benar dan nyaman.
"Kamu kok lebih lues dan cekatan sih Bi?"
"Iya donk sayang, sudah waktunya aku mandiri, dan saatnya memanjakan kamu."
Delia kembali dibuat berkaca-kaca, jika ada yang mau tukar tambah Abian dengan laki-laki lebih tampan dan lebih mapan, Delia akan menolak, belum tentu laki-laki tampan dan kaya itu bisa lebih perhatian dan sayang padanya.
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, Delia dan kedua putranya sudah diperbolehkan pulang, Delia merasakan sedih sebab tak ada yang menjemput kepulangan mereka atau sekedar membantu membawakan barang-barang dan segala keriwetan mereka. Baik Amanda, Arini, dan Arumi, tak ada datang lagi menjenguknya setelah hari kelahirannya, dibantu seorang art baru, mereka akhirnya sampai rumah.
Rumahpun nampak sepi, hati Delia kembali merasa tak nyaman, apakah kehadiran kedua anaknya tidak terlalu dibutuhkan? Hmmm sejak melahirkan, Delia seperti mengalami baby blues yang dibuatnya sendiri, baperan dan mudah sekali mellow.
Abian dengan cekatan segera turun, membawa barang-barang mereka kedalam rumah, membiarkan Delia dan kedua putranya menunggu didalam mobil. Untung kedua anaknya merupakan bayi yang anteng, sejak dari rumah sakit, keduanya nyaman dalam tidurnya.
"Mama bahkan belum menyiapkan apa-apa untuk kalian nak, tenang, sebulan kedepan kita belanja dan mempersiapkan kamar baru kalian." Delia membelai pipi lembut selembut kapas itu. "Terima kasih atas kehadiran kalian sayang, kalian jadi pelengkap hidup ayah dan mama."
"Sayang, ayo aku bantu turun." Abian membawa kursi roda untuk Delia, kemudian dia meletakkan satu anak mereka untuk Delia gendong, dan satu lagi dia bersamanya sambil mendorong kursi roda istrinya.
"Bi, coba waktu itu kamu izinin aku buat beli semua keperluan anak kita, pasti dirumah sudah lengkap."
"Semua sudah aku pikirkan sayang, kamu jangan khawatir akan hal itu." Ujar Abian menuju merumah mereka.
"Taraaaa, welcome home baby boys and mom."
Duarrrrr
Duarrrrr
Suara ledakan pinata bertabur pita mengudara menyambut kehadiran Delia dan kedua bayinya. Ternyata semua telah berkumpul dirumahnya, termasuk Dania dan mamanya.
"Mama," lirih Delia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Suamimu tega, tidak mengizinkan Mama untuk menjenguk langsung kerumah." Ujar mama mencium anaknya. Kemudian mengambil cucunya yang dalam gendongan Delia. "Dua hari Mama disini cuma jalan-jalan ke mall tanpa cucu Nenek." Mama mencium pipi cucunya gemas.
"Ya ampun, gemes banget pengen gendong dari kemaren, ayahnya rese kita nggak boleh jenguk, malah dipalakin suruh beli perlengkapan semua kebutuhan dan merenovasi kamar kalian." Arumi mengambil alih bayi dari gendongan Abian.
Delia mendongak, menatap suaminya mendengar celotehan Arumi yang tak bisa pernah bisa direm.
"Mereka selalu menghabiskan uangku sayang, saatnya mereka menghabiskan uangnya untuk anak kita, mereka tidak punya anak laki-laki, anggap saja ini pemberian untuk anak laki-laki mereka."
"Tapi kamu menyiksa Mama anak nakal," Amanda memukul bahu Abian, mengambil bayi yang masih tertidur nyaman dalam gendongan Arumi. "Uluh-uluh cucu handsome grandma, grandma kangen banget, pengen sekali grandma sunat ayah kalian."
"Grandma sudah menyiapkan nama untuk kalian berdua, sekarang giliran grandma yang menyiksa ayah kalian, dia tidak ada hak memberi nama," ujar Amanda kemudian menatap Delia dan Abian. "Angkasa dan Awan, yang grandma gendong adalah Angkasa, dan yang bersama nenek adalah Awan, ini keputusan mutlak, tidak boleh diganggu gugat. Ini hasil perundingan nenek-nenek ya," Ucap Amanda tegas, kemudian membawa cucunya kekamar baru mereka.
Delia didorong Abian untuk melihat kamar anak mereka, kamar bernuansa biru muda yang digambar banyak macam-macam pesawat beserta jenis dan tipenya menjadi tema kamar itu. Langit-langit kamarnya didominasi warna biru tua, dengan awan dan dua buah pesawat yang sedang mengudara.
Dua keranjang tempat tidur berwarna putih dengan dua lemari khusus tempat pakaian dan seluruh kebutuhan anak mereka disisi tempat tidur itu.
"Ini tema yang waktu kak Arini tanyakan?" tanya Delia.
"Iya Del, maaf ya meski tanpa izin kamu, tapi tema kamarnya sesuai yang kamu mau," jawab Arini "Suami kamu nggak mau keluar modal sama sekali." Lanjut Arini.
"Iya donk, anak akutuh cucu pertama dikeluarga kita, baik dari keluarga aku maupun keluarga kamu sayang. Niat akutuh baik loh, memberi kesempatan buat mereka, gimana rasanya punya anak laki-laki itu." Abian telah berbaring diatas tempat tidur yang telah disediakan untuk Delia beristirahat setelah mengurus anak mereka.
Bugghhh
Abian mendapatkan lemparan bantal khusus ibu menyusui dari Arumi "eh, gue bisa juga ya bikin anak cowok, belum waktunya aja."
Setelah melihat kamar anaknya, kini Delia didorong menuju kamar mereka yang terhubung langsung dengan kedua anaknya. Dan sekarang kamar itu juga langsung terhubung pada kolam baru mereka.
"Bi, kapan ini dibuatnya?" Delia dibuat takjub dengan kamar barunya.
"Apa dikamar anak kita juga ada pintu yang terhubung kekolam Bi?"
"Tidak, untuk kekamar anak kita cuma ada dua pintu, pintu utama dan pintu dari kamar kita. Apa kamu senang dengan hadiah kecilku Delia?"
"Senang Bi, aku senang, terimakasih atas semua kejutan yang kamu beri untuk aku, kamu sudah bekerja keras Ayah."
Abian mengulas senyum, menghampiri Delia "Aku jadi ayah, dan kamu jadi Mama sayang, penantian kita terbayar dengan kebahagiaan tiada terkira, tetaplah disisi ku, karena kalian adalah nafasku sekarang." Abian menatap mata Delia, menyalurkan rasa sayang satu sama lain, hingga perlahan Abian menempelkan benda lembut mereka, saling berbalas mencurahkan rasa bahagia yang kini menghampiri mereka.
*
*
*
Kini kesibukan sebagai ayah baru begitu Abian nikmati, dia menanggalkan sifat manjanya, dan berubah menjadi ayah siaga dan suami siaga. Setiap pagi, setelah menjemur kedua anaknya dipinggir kolam, dia memandikan kedua anaknya, setelah keduanya bersih, Abian memakaikan bedak dan pakaian. Walau saat ini dirumah mereka ada para nenek-nenek, Abian tidak mengizinkan para nenek itu kerepotan pada anaknya, biarlah setiap pagi mereka berolahraga, setelah itu mengobrol bersama sambil minum teh.
Delia terkekeh saat melihat bentuk Abian yang basah dan dipenuhi bedak diwajahnya.
"Sayang, yang mandi anak kamu, bukan kamu. Kenapa yang jadi ondel-ondel ayahnya." Delia terkekeh-kekeh.
"Tadi waktu aku mau pakein diapersnya, air mancurnya keluar sayang, kena muka aku."
"Lagian pakein diapers dulu, baru kamu bedakin dan pakein baju."
"Aku lupa." Abian membawa kedua anaknya keluar sekaligus, memberikan pada nenek-neneknya.
"Hai hiburan kalian sudah bersih dan wangi." Amanda, mama Delia dan papa Abian menoleh pada Abian yang datang.
"Ihhh cucu grandma sudah wangi dan ganteng." Amanda dan mama Delia mengambil satu-satu cucu mereka.
"Sudah minum susu Bi?" tanya mama Delia.
"Belum Ma, tadi sebelum dijemur sudah habis sebotol."
"Eh tapi sepertinya mereka sudah haus lagi." Spechless mama Delia melihat Awan yang mendekatkan tangannya yang sudah dipakaikan sarung tinju mereka kedalam mulut.
Dan kini giliran Delia yang dimanjakan oleh Abian, Abian mendudukkan Delia diatas kursi untuk istrinya duduk, dia sudah menyiapkan air hangat yang telah ditetesi aroma terapi untuk merilekskan tubuh istrinya. Dengan telaten, setiap hari Abian membersihkan punggung dan tubuh istrinya.
"Empat puluh hari masih lama ya sayang?" Abian melampirkan wajah muramnya.
"Hahaha lagian kamu ngapain mandiin aku tiap pagi gini, jadi kesiksa sendiri kan?" Delia tertawa tertahan, sebab jaitan paska operasi masih terasa.
"Ini sudah menjadi tugasku, Delia. Oh ya sayang, aku memutuskan untuk pensiun dini dari pilot, apa kamu setuju?"
"Kenapa? Bukannya itu duniamu?"
"Aku ingin setiap hari dirumah bersama kalian, jika masih menjadi pilot, waktuku untuk kalian pasti berkurang, dan aku tidak mau membuat kamu terus kepikiran jika aku sedang ada penerbangan luar atau dalam negeri."
"Terserah kamu Bi, semua keputusan ada ditangan kamu, aku serahkan semua sama kamu. Kamu tau yang terbaik."
"Terima kasih sayang, aku berencana untuk menjadi asisten papa sementara waktu, sebelum papa benar-benar cuti dari masa kerjanya." Kemudian gosokan Abian berhenti pada dada istrinya. "Jika anak kita tidak minum dari sini, berarti ini memang milik aku sepenuhnya Delia." Mata Abian sudah berkabut melihat dada istrinya "Bolehya icip-icip disini doang? Aku nggak kuat." ujarnya dengan suara parau, membuat dada Delia menegang dan itu cukup mengundang reaksi sebagian tubuh Abian.
Abian mendekatkan wajahnya pada dada sang istri, kemudian kembali mengambil alih tempat yang seharusnya milik kedua anaknya, namun sepertinya itu sudah ditakdirkan menjadi hak paten miliknya. Suara lembut Delia mengudara saat bibir itu bermain lama didadanya, dan Abian mengambil tangan istrinya untuk membantu mengeluarkan cairan susu kental manis miliknya yang entah sejak kapan tidak pernah disalurkan lagi. Tapi tetap, Abian melakukannya perlahan tanpa menyakiti perut sang istri.
*
*
*
Daniel keluar dari ruangan tempatnya istirahat, menemui Attaya yang datang menjenguk.
"Daniel, maaf, aku tidak bisa menemukan adik Delia, aku sudah mengirim mata-mata dirumah mereka, tapi sepertinya adik Delia sudah lama disembunyikan. Semenjak aku kembali ke clothing line membantu Delia, dia sama sekali tidak terpancing setiap aku menanyakan tentang saudaranya." Aku Attaya apa adanya, kini dia benar-benar sudah berada dijalan yang lurus berkat bantuan Daniel.
"Bahkan dia pergi membawa anakku?"
"Sepertinya, sekarang keluarganya sedang berada dirumah Delia, tapi tak ada tanda-tanda mereka membawa anakmu, itu berarti, adik Delia pergi bersama anakmu juga."
Tangan Daniel mengepal, dia tahu dia salah, apa harus dia dihukum seperti ini? Untuk melihat wajah anaknya saja dia kesulitan.
"Dimana kamu Denisa? Aku berjanji, setelah aku bebas, aku pasti bisa menemukan kalian." Gumam Daniel dalam hati.
"Semoga saja, saat acara syukuan anak Abian dan Delia nanti, ada adik Delia datang." Attaya coba memberi harapan pada Daniel.
"Tapi kamu tidak mendengar kabar kematian mereka kan Attaya."
Deghhh
"Aku bahkan tidak terpikirkan kesana Daniel."