
Abian termenung, apa iya selama ini dia kurang peka terhadap Delia?
"Terus Abian yang salah gitu maksud Papa?" Tanya Abian seakan tak terima dengan nasihat papanya.
"Memang sejak tadi ada kata-kata Papa nyalahin kamu? Nggak ada kan?"
Abian menggaruk pelipisnya, "Iya, emang Papa nggak nyalahin Abian, tapi dari bicara Papa kesanya disini Abian yang salah. Banyak faktor Abian meminta Delia untuk tetap dirumah, bukan hanya semata agar kami cepat dapat anak, sebagai lelaki kesanya Bian nggak sanggup memenuhi kebutuhan Delia, sampai dia harus kerja, pendapat Bian nggak didengar, belum lagi kalau Delia kerja, dia banyak bertemu laki-laki lain yang bisa saja tertarik sama Delia," ujar Abian dengan alasan yang sudah merembet kemana-mana.
Hahaha, papa tertawa terbahak, "pelan-pelan Abian, nggak semudah itu, jadi banyak sekali ya masalahnya." Papa terkekeh.
Abian menoleh kebelakang, mengintip keberadaan mama lewat jendela "Apa mama dulu kerja Pa? Gimana papa bisa buat mama dirumah?"
"Emmm gimana ya, Mama dulu kerja sebelum menikah sebagai ground staff dibandara, mama nikah sama Papa umur mama dua puluh dua, setelah menikah mama memutuskan sendiri untuk nggak kerja, bukan Papa yang minta. Sama seperti kamu, mama juga tidak langsung hamil, cuma beda permasalahan, malah kebalikan kamu," pandangan Papa menerawang kedepan.
"Dulu, almarhum nenek kamu masih ada, kamu tahu kan? Nenek itu cerewet sekali dulu, dia bilang mama nggak kerja karena malas, cuma mengandalkan pendapatan dari Papa. Padahal mama ingin fokus pada keluarga, tapi nenek salah menilai. Mama juga sempat minta pisah, karena nenek suka ikut campur. Papa jadia pusing, yang satu istri, yang satu orang tua, pilihan yang sulit, tapi Papa tidak mau menyakiti keduanya, memberi penjelasan sama nenek itu nggak mudah, butuh waktu panjang, sampai Arumi lahir, baru nenek berhenti mengomentari mama. Dua tahun Abian, masalah sekecil itu baru selesai, Papa sampai menganggap diri Papa bodoh. Bukan Papa yang tersiksa, tapi kedua wanita berharga itu,"
"Tapi Abian bukan Papa yang bisa sebijak itu Pa."
"Pelan-pelan Abian, lakukan yang menurut kamu benar, asal jangan campur emosi. Papa nggak minta kamu buat seperti Papa, cuma segala sesuatu nggak bisa grasak-grusuk, jangan sampai kita kalah dengan keadaan, karena yang namanya penyesalan itu sering datang belakangan. Ada masanya, saat kita sedang merenung, kita ingat dengan dosa-dosa kita, kesalahan kita yang sampai membuat orang lain sakit hati." Papa berdiri "Yuk, mumpung masih pagi, Papa sudah lama tidak joging bareng kamu, kita joging, pulangnya makan bubur didepan gang, pasti enak." Papa menyudahi obrolan keduanya, karena sifat Abian yang tak mau kalah dan salah, papa mulai pusing memberi masukanya, tapi dia percaya, jika suatu saat Abian akan mengerti dengan sendirinya.
"Pa, apa Papa bisa bantu Bian buat selalu bikin jadwal Delia sama dengan Abian?" Tanya Abian disela-sela lari pagi mereka.
"Bisa, bisa saja, tapi tidak bisa sering-sering, kita tidak bisa melewati prosedur yang berlaku. Walau Papa memiliki wewenang, performance perusahaan akan menurun jika kita terlalu mengistimewakan salah satu pegawai. Apalagi maskapai kita belum lama ini menyabet penghargaan The word's Best Cabin crew . Butuh usaha dan kerja keras kita mendapatkan itu, selama dua puluh tahun maskapai kita mengudara, itu pencapaian pertama kita."
Abian mendesah, dia yang tadinya semangat, kini kembali lemas.
Papa Abian tersenyum, menepuk-nepuk pundak Abian, "semangat, Papa doakan Delia segera hamil, Papa mau lihat cucu dari kamu," Papa kembali berlari kecil.
Abian tak tahu, jika sejak tadi Delia menghubunginya, Delia kembali dibuat risau dan dibumbung rasa bersalah atas jadwalnya kali ini, tiba-tiba saja jadwalnya berubah, dia yang harusnya terbang ke Manado, dan dijadwalkan kembali ke ibu kota, harus ditukar harus terbang ke Tokyo.
* * *
"Delia," panggil seseorang, membuat Delia menoleh. Dia dan beberapa crew cabin sedang berjalan dilorong hotel menuju kamar masing-masing.
"Daniel," gumam Delia.
"Hei, kamu jadwal flight ke Tokyo, menginap dihotel ini?" Delia mengangguk kecil sebagai jawaban "Wahhh kebetulan sekali, kenapa bisa sama ya? Aku sedang ada perjalanan bisnis." Jelas Daniel tanpa ditanya.
"Kalau begitu saya permisi Pak," Pamit Delia enggan mengobrol terlalu lama dengan mantan suami adiknya ini. Lagi pula dia memang harus menjaga jarak dengan Daniel, karena jika Abian tahu, akan jadi masalah besar nantinya.
Sedang para crew lainnya sudah masuk kekamar mereka masing-masing.
"Ada apa?"
Daniel menggaruk tengkuknya, dia jadi kikuk sendiri, sekarang Delia adalah mantan kakak iparnya, tapi dia masih memiliki debaran saat bertemu Delia "Boleh aku minta waktu kamu sebentar? Mumpung disini, ada yang ingin aku bahas mengenai Denisa, semenjak aku menikah dengannya, kita belum pernah membicarakan hal ini. Aku tidak mau kita jadi salah paham."
"Sepertinya semua sudah jelas Pak, anda sudah menceraikan adik saya, saya juga tau, ini kesalahan adik saya, jadi menurut saya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan." Delia berbicara dengan bahasa formalnya,
"Ini untuk masa depan Denisa, aku mohon Delia, izinkan aku menjelaskan kesalah pahaman ini semua," lirih Daniel memelas.
"Kita bahas jika sudah sampai jakarta saja pak, ada suami saya, dan adik saya yang sebentar lagi akan melahirkan."
"Kamu menolakku untuk bertemu Delia? Hanya sebentar kamu tidak mau?"
"Maaf Pak, jika bukan urusan pekerjaan saya tidak bisa."
"Berarti jika urusan pekerjaan kamu mau?"
"Maaf Pak, saya harus istirahat."
"Datanglah malam ini mewakili papa Abian yang tidak bisa datang, dalam rangka agenda tahunan kerja sama maskapai kita dengan pihak Tokyo, Papa Abian sakit, makanya dia berhalangan hadir, tidak sopan bukan jika papa Abian atau perwakilan tidak ada yang datang?"
"Itu bukan rana saya Pak, maaf saya tidak bisa."
Daniel menggeram, Delia terlalu takut dan tunduk pada Abian, Daniel seolah kalap, dia menarik Delia untuk dibawanya kekamarnya.
"Pak lepaskan saya, jika ada yang melihat ini bisa jadi salah paham." Teriak Delia, namun Daniel seolah tuli, dia tetap membawa Delia memasuki kamarnya, banyaknya masalah yang menekanya membuat Daniel seperti menumpulkan pikirannya yang selalu bersikap hati-hati.
Denisa yang menjebaknya, hingga membuatnya harus bertanggung jawab dengan menikahi Denisa, dan saat perceraian, kedua orang tuanya menyalahkanya, dan kini Delia menolaknya, padahal Daniel hanya butuh teman berbagi atas masalah yang dihadapinya.
"Daniel kamu jangan gila, lepaskan aku Daniel." Akhirnya Delia menyebut nama itu juga.
Namun tetap Daniel tak mengindahkan teriakan Delia, dia terus menarik tangan Delia erat kekamarnya. Pintu kamar Daniel terbuka, dihempasnya Delia keatas tempat tidur, lalu mengunci pintu kamarnya. Mata Daniel sudah memerah, memandangi Delia seperti mangsa yang siap disantap.
.
.
.
.