Flight Attendant, Take Me Fly Captain

Flight Attendant, Take Me Fly Captain
Jadwal Yang Tak Sama



"Sudah bergosipnya?"


Delia berjalan santai mendekati dua orang yang berdiri didepan wastafel, salah satu wajah pramugari itu memucat ketakutan, tanganya menyikut teman sebelahnya seraya berbisik, "dia istri Captain Abian," ujarnya berbisik memberi tahu, membuat temannya itu terlejut, wajahnya berubah pucat pasi dan menunduk takut, padahal tadi dia sempat memuji didalam hati, jika pramugari senior didepanya ini sangat cantik.


"Siapa tadi yang penasaran sama istrinya Captain Abian?" Delia memandangi name tag keduanya, kemudian menarik name tag itu satu persatu, "taukan masuk kesini tuh susah? Tau nggak orangtuanya habis uang berapa buat biaya kalian biar bisa jadi pramugari?" dipandanginya kedua pramugari itu, "kira-kira kalau orang tua kalian berdua tau kelakuan anaknya, reaksi mereka apa ya?" Delia menggertak, karena yang terlintas didalam benaknya malah mengingatkannya pada kenakalan Denisa.


Delia berjalan mendekati wajah keduanya hingga wajah mereka berhadapan, membuat kedua FA itu makin menunduk takut.


"Maafkan kami Kak," lirih keduanya bersamaan, hanya itu yang keluar dari mulut keduanya, mulut mereka seolah terkunci, sulit untuk dibuka.


Delia menarik nafas "Sebenarnya aku malas ngeladeni masalah receh begini, nggak penting, seharusnya kalian bersyukur bisa masuk kesini, tidak ada yang namanya senioritas, walau ditempat kerja manapun hal itu sering terjadi. Terus apa kalian bilang tadi? Aku pencemburu? Wajarkan? Istri mana yang nggak cemburu suaminya dekat dengan wanita lain? Tentang kehamilan ku, aku harap kalian tidak merasakan apa yang aku rasain, setelah kalian menikah, langsung diberi momongan, tanpa harus berjuang untuk mendapat garis dua. Kalian perempuan, kok bisa sih ngomong begitu."


Kedua wanita itu masih menunduk, tak berani menatap Delia, entah lari kemana sifat angkuh keduanya tadi.


"Niatkan beraangkat kerja itu buat nyenengin orang tua, buat bahagian mereka, bukan buat nyari kekurangan orang lain, biar berkah, nggak habis gitu aja setelah gajian. Kalau orang tua kalian bahagia karena keberhasilan kalian, sudah pasti doa mereka membuka lancar rejeki kalian, dan diberikan jodoh yang baik sesuai keinginan kalian, jadi nggak perlu sirik sama jodoh orang lain."


Delia sebisa mungkin untuk tidak menarik urat saat menghadapi kedua pembenci yang ada didepanya ini, mereka memang terlihat seperti takut dan menyesali perkataan mereka, mana tau setelah dari sini lambe mereka akan kembali bergosip kesana sini.


Delia sadar, mau dia membela diri seperti apa, jika orang sudah tidak suka padanya, sudah pasti apapun yang dilakukannya akan tetap salah. Sekarang, dia akan tetap membentengi dirinya seperti dulu, jika memang benar yang dikatakan kedua juniornya ini jika tidak semua awak cabin menyukai dirinya, dia harus lebih berhati-hati. Dan tak akan percaya pada siapapun, kecuali temannya, Cecilia dan Voni, mereka yang tak pernah menggunjing dirinya dibelakang. Eh satu lagi, Dewi.


"Nih, ambil name tag kalian, lain kali kalau mau bergosip harus lebih rapi, biar nggak bikin malu diri sendiri, bisa saja aku laporin kalian sama suamiku yang genteng tiada tara itu, dan buat kalian dipecat, tapi aku masih punyai hati, yang aku pikirkan bukan nasib kalian sih, tapi orang tua kalian."


Delia lalu pergi meninggalkan keduanya "Ceramah nggak dibayar malah bikin tenggorokan kering," gerutu Delia "buang-buang waktu aja."


Untung penerbangan kali ini Delia kembali dijadwalkan dengan Dewi, hatinya sedikit lega, karena bisa bertukar cerita dengan Dewi, sayangnya, jadwal penerbangannya, tidak sama dengan Abian, Delia kembali dijadwalkan empat kali landing diempat kota yang berbeda, membuatnya tak bisa pulang, walah ragu, Delia harus mengabari suaminya. Delia yakin, Abian pasti akan marah lagi.


Benar saja, ketika Abian menerima pesan dari Delia, dia menjadi tidak semangat, sudah pasti malam ini dia akan kembali sulit tidur, karena tidak diusap-usap dulu oleh Delia, dan dia akan kelaparan, karena dia malas makan sendiri.


* * *


Satu hari berlalu, setelah mendarat di bandara Soeta, Abian kembali menerima pesan dari istrinya, jika hari ini Delia tidak pulang, Abian meremas ponselnya, apa yang bisa dilakukannya jika sendirian, kenapa jadwal Delia lebih sibuk darinya? Abian memutuskan untuk kerumah mamanya saja.


"Om Biannn, yeayyyy ada Om Biaaannn." Abian merentangkan kedua tangannya menyambut Arsyi yang berlari kearahnya, biasanya dia kesal jika pulang ada keponakanya, sekarang dia senang, setidaknya ada yang menjadi temannya bermain, dan Arsyi bisa dimanfaatkan untuk memijit kakinya "Om Bian nggak sana tante yang bisa kasih dedek bayi?" Abian tertawa, sebutan Arsyi untuk Delia tidak berubah.


"Tantenya masih kerja, besok baru pulang." Abian menggendong Arsyi, lalu ikut bergabung dengan yang lainnya diruang keluarga. Ada mama, papa dan Arumi disana.


Abian menurunkan Arsyi dari gendonganya, dan Arsyi langsung duduk dipangkuan granfa-nya.


"Hai Bi, cieee semenjak nikah nggak pernah kesini. Kita mau main kesana takut ganggu, takut lagi ina-ina." Ceplos Arumi, rasanya dia sangat rindu menggoda adik bungsunya.


"Bagus, kalau tahu diri," ujar Abian, ia mengambil duduk disebelah kakaknya, Abian melihat perut Arumi yang sudah besar. "Udah berapa bulan nih perut?" Tanyanya melirik sekilas perut Arumi.


"Dua puluh delapan minggu," jawab Arumi.


"Jawab yang bener sih bisa nggak?"


"Mama anaknya norak, tujuh bulan Bi," Arumi menoleh kesamping, melihat wajah lelah Abian yang menyandar di kepala sofa, "sini mau aku injek nggak kakinya? Biar cepet nular ke Delia."


Abian sontak menarik kakinya yang terjulur "Ogah, apa hubungannya injek kaki sama hamil?"


Mama dan papa Abian tergelak melihat anaknya yang jika bertemu, selalu saja ada yang diperdebatkan.


"Ya adalah, sini aku injek." Arumi mengayunkan kakinya hendak menginjak, Abian sigap menghindar.


"Mitos, nggak ada hubungannya sama sekali ya, bilang aja Kakak ngidam kangen aku, biarin anaknya encesan."


"Bi, percaya deh, Kakak nggak bohong."


Abian enggan menanggapi lagi kakaknya yang suka aneh-aneh tingkahnya. Dia memilih berdiri, dan mengatakan pada mamanya, jika malam ini dia ingin bermalam disini, kemudian Abian menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.